Rabu, 30 April 2014

Kenangan dan Harapan di Museum Tsunami Aceh



sumber: http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/poi/Museum%20Tsunami%20Aceh%20-%20Gallery%20(10).jpg


Sejak kecil, setiap kali ayah saya mudik ke Aceh, dia akan kembali ke Jakarta dengan membawa tiga rasa dari Aceh. Rasa historis, rasa budaya, dan rasa agamis. Ketiga rasa ini seolah tak pernah berpisah dalam keadaan apa pun. Bahkan ketika tsunami melanda pada 2004 lalu. Saya ingat bahkan pada 2008 ketika hendak melihat-lihat perlengkapan pelaminan Aceh, si pemilik berujar, “Sekarang sudah tidak ada lagi yang membuat. Korban tsunami.”


Dalam sekejap, Aceh yan g berpuluh tahun menyandang status sebagai daerah konflik, daerah tidak aman, berubah menjadi daerah yang luluh lantak diterjang ombak. Banyak orang mengira, habis sudah riwayat Aceh sebagai Daerah Istimewa. Namun, banyak pula yang lupa bahwa ombak pun sejatinya menjadi bagian dari kebudayaan Aceh. Tari saman adalah filosofi deburan ombak dan zikir yang mengalun di antaranya. Jadi ketika tsunami terjadi, di tengah tangisan pilu, adalah zikir tiada putus yang selalu berkumandang dalam setiap siaran televisi. Agaknya itulah salah satu bukti bahwa cahaya harapan itu belum padam sepenuhnya.


Aceh sungguh kian berbenah setelah bencana itu. Salah satunya adalah mengadakan lomba desain gedung terkait tsunami. Dan sungguh terharu rasanya ketika seorang dosen ITB, yang kini menjadi Walikota Bandung, memenangkan lomba desain untuk sebuah bangunan bernama Museum Tsunami Aceh. Bagaimana dia menciptakan sesuatu yang merupakan perwakilan dari semua aspek yang dimiliki Aceh dengan citarasa modern.


Museum Tsunami Aceh terletak di Jl. Iskandar Muda, Banda Aceh. Museum ini buka setiap hari, kecuali hari Jumat, dari pukul 10.00-12.00. Bentuknya mencolok, seperti kapal Nabi Nuh yang ada di puncak gunung. Itulah fungsi lain Museum Tsunami Aceh, sebagai escape building jikalau hal serupa terjadi (naudzubillah mindzalik).   Dari samping bentuknya memang menyerupai kapal dengan geladak luas lengkap dengan cerobongnya. Kapal juga merupakan kawan dekat rakyat Aceh sebagai masyarakat pesisir. Sedangkan penyangganya mengambil ciri khas rumoh panggung Aceh.  Sedangkan jika dilihat dari atas, museum ini memiliki pola gelombang tsunami.


Interiornya tidak kalah menonjol. Museum ini menegaskan bahwa walaupun Museum Tsunami Aceh merupakan destinasi wisata tsunami, tetapi ini bukanlah wisata yang bisa dianggap remeh. Malah, lebih pas disebut bagian dari perjalanan rohani. Lorong Gelap Tsunami adalah lorong masuk dengan efek air jatuh di dinding. Tsunami kala itu memang membawa gelombang air berwarna hitam pekat. Aceh saat itu seketika gelap gulita semalaman karena terputusnya aliran listrik. Wajarlah ada anjuran bagi mereka yang memiliki fobia atau trauma untuk tidak menggunakan jalan ini.


Lalu ada Ruang Penentuan Nasib. Sebuah ruangan berbentuk cerobong  dengan tulisan lafaz Allah di bagian puncaknya. Di sepanjang dinding cerobong itu terpatri nama-nama korban tsunami. Ini adalah cerobong doa, semoga para korban diterima amal ibadahnya di sisi Allah Swt. Dan bagi yang selamat senantiasa diberikan jalan/petunjuk menuju arah yang benar.


Dan “jalan yang benar” menurut versi Museum Tsunami adalah sisi selanjutnya yang bernama Jembatan Harapan. Harapan untuk selamat muncul ketika para survivor mencapai dataran yang lebih tinggi. Ketika lebih banyak uluran tangan yang terjuntai, yang digambarkan dengan bendera 52 negara.


Apakah yang dilakukan orang ketika berada di puncak? Dalam keadaan normal mungkin untuk menikmati matahari terbit lalu kemudian turun lagi. Namun, saat tsunami, mereka yang selamat mencapai dataran tinggi, juga tak berlama-lama menatap langit karena mereka meninggalkan kenangan seumur hidupnya di bawah sana. Dan akan tiba waktunya bagi mereka untuk turun, mengais sisa-sisa kenangan, menapaki jejak-jejak kerinduan yang mungkin sudah tidak sama lagi bentuknya. Mereka turun untuk menangis, berduka, merayap, untuk kemudian bangkit kembali.


Itulah yang Anda akan lihat usai melewati Jembatan Harapan. Setiap dokumentasi akan tsunami. Diorama tsunami. Ruang bersantai dengan kolam berisi ikan hias. Toko suvenir. Toko makanan khas Aceh. Semua itu menunjukkan bahwa Aceh tidak mati. Jangan lupa untuk memasuki area yang berisi informasi dan simulasi lengkap tentang tsunami dan gempa berbasis iptek. Oleh karena sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang beriman, dan sebaik-baiknya orang beriman adalah mereka yang berilmu.


Yang menarik adalah, Museum Tsunami Aceh bukanlah “penghuni” pertama. Di bagian belakang museum ini ada komplek kuburan Belanda bernama Kerkhof. Sekali lagi, kedua sejarah ini menjadi bagian dari rasa historis khas Aceh.


Bencana ini memang kenangan yang menyakitkan. Namun, jadikanlah ini sebagai pembelajaran bagi kita semua. Bahwa Allah senantiasa memberikan kemudahan dalam setiap kesulitan. Karena  ombak akan senantiasa tercipta dalam bahtera kehidupan manusia. Pintar-pintarnya kita untuk mampu bertahan dalam kapal kita.


Jadi, jika Anda merasa menjadi orang paling menderita di seluruh dunia, datanglah ke Aceh. Masuki Museum Tsunami Aceh. Maka Anda akan memahami bagaimana seharusnya kita menghargai kehidupan.


Sumber: http://m.kompasiana.com/post/read/476854/ada-apa-di-dalam-museum-tsunami-aceh.html


 

Kelas Inspirasi Jakarta #3 (part 3): D Day


Dan hari itu datang juga. Setelah sekian banyak diskusi via whatsapp di antara ketiga belas relawan, setelah sempat survei ke SDN 1 Pagi Balimester, saatnya saya menghadapi anak-anak itu. Bersyukur juga jadi minoritas di kelompok ini (baca: ibu-ibu), jadi saya bisa dapat dispensasi ketika meminta izin tidak bisa datang sejak pagi sekali. Yah, urusan taruh anak-anak di daycare.

 


Saya pun baru tidur sekitar pukul empat pagi. Semalaman mengerjakan persiapan prakarya. Ya, memang harusnya dicicil, tetapi kemarin-kemarin dah nyicil kok, nyicil tidur. Bukan hal baru kalau saya suka meremehkan dan akhirnya keteteran. Toh, saya bersyukur juga suami lagi di luar kota, mayan deh malam panjang dimanfaatkan sendirian. Segala sesuatunya sudah saya siapkan, itu kemajuan loh. Akan ada tiga prakarya hari itu. Satu, kartu cupcake, nyontek dari buku Malika yang Mister Maker. Dua, cupcake cita-cita. Dua lembar karton besar digambar cupcake raksasa yang nanti akan ditempeli  sprinkels kertas warna berbagai bentuk. Ketika, replika cupcake. Cupcase mini disumpal kertas koran, ditutup sterofoam bulat, ditempeli kertas warna warni bulat, lalu ... yah rencananya mau tempelin sprinkle kertas kecil-kecil dan  kemudian ditambah gambar karakter kartun yang ditusuk di tusuk gigi. Tapi, ga punya tusuk gigi rupanya. Karakter kartunnya juga ga di-print. Ya sudahlah, pakai origami saja. 

 

Ga hanya itu, belum bikin kue. Puding sudah kelar. Kuenya baru dibikin begitu pagi menjelang. Ketan hitam kukus, baru nyoba. Bahkan kukusan masih menyala saat saya mengantar anak-anak ke daycare. Masih di dalam loyang saat dibawa. Ternyata ga enak, huehehehe .... maaf yak yang sudah nyoba. Inilah akibatnya kalau bikin buru-buru.

 

Jam sudah menunjukkan pukul 8 saat saya bergegas keluar dari unit. Saya memang giliran jam 08.30, tapi kayanya mepet banget gue jalannya. Saat di tengah jalan, saya teringat sesuatu. OMG, karton bergambar cupcake raksasa saya!! Sembari menghapalkan lagu Terhebat-nya CJR yang konon mau dinyanyikan saat closing ceremony, saya mengingat-ingat. Kayanya mereka ga punya toko ATK. Sekolah gratis gitu loh. Mata saya kemudian jalang mencari tempat fotokopi. Syukurlah hanya gambar cupcake raksasa, bisalah saya bikin on the spot. Akhirnya ketemu! Dan karton berbungkus plastik berdebu itu segera saya bayar.

 

Sesampai di sana, konon tepat waktu. Tapi saya tiba dalam keadaan tersengal-sengal. Bad strategy. Anak kelas 6 yang jadi korban pertama saya, sebelum kelas 4 dan 5. Harusnya mereka mendapat prakarya replika cupcake, tapi otak saya belum bisa improvisasi untuk kekurangan materi di prakarya tersebut. Akhirnya saya kasih kartu cupcake saja. Anak kelas 5 yang dapat replika cupcake. Sedangkan kelas 4, sesuai rencana, cupcake cita-cita.

 

Saat pertama bicara, saya akhirnya menyadari bahwa saya seharusnya bicara to the point saja. Maksudnya, banyak bicara dengan gambar dan segera berkarya. Kalau ga, anak-anaknya pada kabur. Hahahaha, saya buruk sekali soal bicara di depan publik begini, untung gue bawa prakarya. Kalau sudah saatnya prakarya baru deh pada ngerubung, sampai-sampai saya lupa foto-foto mereka punya karya. Ga sempat juga. Karena rada malu, jadi pengen cepet-cepet keluar hehehe.

 

Dari tiga kelas yang saya masuki, saya mau tidak mau jadi berpikir, kapan ya mereka terakhir kali berurusan dengan ketrampilan? SD Negeri memang mengusung belajar mandiri, dan ketika saya pernah tanyakan saat survei, kegiatan ketrampilan itu hanya mencakup menggambar dan menyanyi. I mean, banyak dari mereka yang ga paham saat saya tunjukkan membuat segitiga dari kertas warna bujur sangkar. Oia, si origami akhirnya saya pakai topping pinguin origami yang kebetulan ada step by stepnya di bungkus kertas warna. Tiba-tiba saya merasa orisinil hehehe....

 

Atau ketika mengisi cupcake cita-cita. Ada yang kesal karena salah satu temannya memasang terlalu banyak cita-cita sehingga tidak muat di cupcake-nya. Saya bilang saja, “baguslah punya banyak cita-cita. Lagian masih bisa dipasang di luar gambar, nanti dibuat penghubung, seolah-olah toping tusuk.”  Dan tiba-tiba, anak-anak yang lain, berebut minta sprinkle lain untuk dipasang.

 

Ada juga ketika prakarya replika cupcake. Saya membawa satu koran utuh. Dan rupanya anak-anak cowok itu tertarik dengan salah satu lembar koran. Lembar selebriti. Yang ada pose artis seksi. Hadeeeuuuh .... salah gue deh. Jadilah si anak cowo berulang kali meminta saya lembar koran itu.

“Mau lihat saja, Bu.” Jawabnya sambil cengangas-cengeges.

Awalnya saya jawab, “Ih, norak, ih“ Lama-lama saya jawab, “Mau lihat? Sana mandi berdua sama ibu kamu. Sama aja.”

“Hiiiiiiiiy ....!!” sontak mereka menjawab. Dan tidak bertanya lagi.

 

Keriuhan anak-anak saya anggap sebagai Malika dan Safir yang berkloning banyak. Yah, karena anak orang lain, toleransinya masih 10. Saya biarkan saja mereka mengerubung, berebut, asal jarinya tidak kena gunting saja saat saya memotongkan selotip.

 

Secara umum sih saya membicarakan bahwa cita-cita itu ga melulu dokter. Ada juga yang lucu-lucu. Oh iya, saya mengenalkan diri sebagai cake decorator. Sebenarnya, anak-anak berharap saya bawa kue betulan. Awalnya saya memang mau semacam cake decorating class, tapi saat briefing saya jadi berpikir bagaimana jika nanti ada food war? Baiklah di demokan saja, lalu dibagi-bagi satu kelas. Tapi ada aturan tidak boleh memberi gimmick pada murid. Lagian ternyata saya pegang tiga kelas. Mabok bawanya. Syukur juga tidak jadi bawa kue betulan untuk dihias, karena ketika saya tunjukkan fondant dan mengatakan itu bisa dimakan, mereka berebut. Padahal fondantnya Cuma sebesar penghapus. Kebayang dong kalau ada kue betulan.

 

Fiuuuuh ... Dan closing ceremony pun tiba. Diakhiri dengan pelepasan balon, sisa ultah Malika. Masih disisakan untuk Safir nanti hehehe. Tidak jadi nyanyi CJR, padahal sudah hapal. Dan kemudian dijamu soto oleh para guru. Yang lama malah, ngasonya. Sembari nunggu giliran video dan foto. Kebayang, guru-guru itu, guru-guru saya, teman-teman yang jadi guru, setiap hari capek begini. Kalian ... luar biasa.

 

Akhir kata wanna say thank you untuk Kelas Inspirasi atas inspirasinya. Renny sebagai supervisor kelompok 41. Viringga si Ketua yang juga mengajar anak jalanan di Museum Bank Mandiri—lo keren. Desy si tangan kreatif yang jauh-jauh dari Cibubur berangkat saat subuh tapi masih bisa pasang bulu mata—serius deh, itu tepuk tangan banget. Putri yang tak kalah jauh dari Semarang tapi kok ya ga bawa sambal jualannya (inget sambal, inget Karai Sambal). Abbit, si ahli bumi, thank you tebengannya. Falah, makaseeeh yak gue ga dimasukkin ke pideo (LOL). Juraij, Thank you sudah membuat hati pilu akibat tidak ada dalam video ini terhiburkan :P. Mande, gue jadi bisa pasang profile picture baru. Pak Imam, Anda mengingatkan saya pada banyak orang hebat yang saya pernah saya kenal, always happy, pak. Sesaria, ibu dokter yang lagi hamil (kecil) tapi sudah tiga kali ikutan KI, semoga si jabang bayi turut tertular inspirasinya. Mba Novi, bu guru untuk anak kebutuhan khusus, Anda pasti sabar bukan main. Dan teman-teman lain yang tidak tersebutkan, jangan marah, saya nge fans dengan kalian semua.

 

Kelas Inspirasi memang bikin nagih. Tapi tunggu anak-anak sekolah aja dulu yak. Cukup kehebohannya hehehehe ....

 

 

Kelas Inspirasi Jakarta #3 (part 2): Ketika Amy Cuti


Kalimat yang sangat ditegaskan saat awal mendaftar sebagai relawan Kelas Inspirasi Jakarta #3 adalah, “Bersedia cuti pada tanggal 23 April 2014”. Tanggalnya sendiri berubah menjadi 24 April karena sebagai sekolah masih mengadakan try out. Dalam hati saya berkata, lah kalau saya minta cuti ke siapa?

 


Menjadi ibu rumah tangga yang kadang-kadang dapat duit dari hasil utak utik kompor atau laptop, istilah teknis seperti “cuti” kayanya memang asing. Dan mau tidak mau, hanya suami yang bisa saya anggap sebagai “bos” untuk urusan cuti ini.

 

Saya sengaja tidak banyak cerita tentang Kelas Inspirasi. Bahkan saat izin untuk ikut briefing-nya saja, saya hanya berkata sekilas. Sebenarnya saya menghindari perkataan, “kenapa ga nanti-nanti saja sih?” Saya dan suami memang memiliki perbedaan definisi perihal penempatan waktu.

 

Jadi, ketika seminggu sebelum hari H, dia mengkonfirmasi akan ke luar kota dari 20-24 April, saya diam-diam saja. Awalnya, saya hendak mendelegasikan suami yang mengantar anak-anak ke daycare saat saya bertugas. Supaya saya bisa datang lebih pagi, dan kemudian meminta izin pulang lebih cepat. Tapi, kalau dia baru pulang tanggal 24, ya sudah pasti saya tidak bisa berangkat pagi. Syukurlah keadaan ini dimaklumi sama rekan-rekan relawan KI.

 

Sejak beberapa hari sebelumnya, saya sudah bicarakan pada Malika bahwa akan ada satu hari di mana dia akan menunggu di sekolah bersama adiknya. Dia sih tidak keberatan. Tapi ga tahu ya. Saya menghindari drama bangun tidur sebenarnya. Sesuatu yang bisa bikin jadwal molor beberapa jam. I guess, itulah definisi Amy cuti. Cuti dari drama. Hehehehe ...

 

Semuanya santai-santai saja hingga waktu tidur. Saya sudah kondisikan tidur siang yang tidak terlalu sore agar bisa berangkat tidur jam 9. Eh, bocah-bocah itu malah melek sampai jam 11 malam. Saya sendiri sudah menyepi di kamar lain untuk menyiapkan prakarya sejak jam 9. Si bocah-bocah cakidut itu sibuk becanda cekakak cekikik. Amy yang tadinya berusaha konsentrasi berpikir positif, lama-lama senewen juga. Begitu jarum jam mencapai angka 11, saya marah-marah juga. Dan mereka tidur seketika.

 

Saya hanya bisa berdecak. Tidur jam segini mau bangun jam berapa, neng?

 

Yah, saya anggap rezeki lah. Pagi-pagi bisa mandi dengan tenang. Menyiapkan yang perlu dibawa anak-anak, yang perlu saya bawa, jadi nanti tinggal angkut usai mengantar anak ke daycare. Dan Malika baru bangun jam 7an. Melihat saya sudah berganti baju. Awalnya lupa. Tapi kemudian dia yang menyuruh saya bergegas. Safir masih tidur saat saya angkat ke stroller. Pakai stroller karena mereka pasti masih malas jalan. Lumayan, 15 menit jaraknya.

 

Awalnya mereka sih happy-happy saja ke sekolah. Safir pikir kita sedang mengantar kakaknya. Eh ternyata dia ditinggal juga. Nangislah dia. Hehehe Safir memang tidak saya briefing. Begitu melihat Safir mengejar ke arah pintu, saya bergegas ambil langkah seribu. Kabuuuur.

 

Jadwalnya setengah hari di daycare, tapi belakangan saya jadikan full karena jam 12 kami masih belum rampung. Sampai di Kalibata nyaris jam 3, saya juga shalat dulu, sedikit beberes, baru kemudian ke daycare. Maunya sih tidur-tiduran dulu, tapi kepikiran si Safir yang pasti sebentar-sebentar nangis. Apalagi jam tidur begini. Malika sih menurut laporan sangat kooperatif.

 

Eh benar saja. Lagi nangis dia. Biasa deh, Amy ditagih kendi. Nyusu sebentar, dah happy lagi dia. Eh  Malika yang jadi minta gendong melulu. Begitu diajak pulang, Safirnya yang ga mau. Dia maunya nyusu di daycare. Lha... piye iki.

 

So, jadilah drama si kakak digendong, si adik nangis-nangis tarik-tarik kaki Amynya sepanjang perjalanan pulang yang lewat mal itu.

 

“Amy ga boleh kerja,” kata Safir setiba di rumah.

Saya sih cengar-cengir saja. Ga kerja, Cuma pengen jalan-jalan aja kok. Kata saya dalam hati.

Okelah, kegiatan selanjutnya tunggu anak-anak masuk SD kali yaaa. ...

Kelas Inspirasi Jakarta #3 (part 1): Anak-anak Muda Itu ....


Akhirnya ikutan Kelas Inspirasi juga. Setelah tahu informasi ini dari teman yang mengikuti Kelas Inspirasi di Bandung beberapa tahun lalu, saya memang sudah lama ingin ikut. Hanya saja, ingatan tentang ini baru muncul lagi setelah (lagi-lagi) ada teman di Bandung yang ikut ambil bagian di Kelas Inspirasi. Dan ketika akhirnya saya menaiki Metro Mini 640 untuk briefing Kelas Inspirasi di LIPI, saya bertanya dalam hati, eh ini beneran ya?

 


Sebenarnya bukan lazim saya mengikuti sesuatu yang tidak ada barengannya. Namun, kali ini saya bahkan tidak memikirkan akan bertemu dengan siapa nanti. Pokoknya anak-anak sudah aman sama ayahnya. Itu sudah lebih dari cukup.

 

Dalam gambaran awal, saya membayangkan akan bertemu beberapa puluh orang yang sudah matang usianya. Namun, saya banyak salahnya. Ketika hendak masuk, saat mencari-cari ruangan pertemuan, saya melihat banyak orang mengerubungi sebuah papan tulis putih. Oh, mungkin itu data kelompok. Saya memang kesulitan mengaksesnya lewat ponsel, jadi sepertinya papan tulis itu adalah pos pertama yang harus saya datangi. Saya terkejut melihat daftar namanya seperti melihat daftar lulus SNMPTN (zaman saya dulu sih namanya UMPTN). Banyak sekali barisan namanya. Puluhan kelompok. Saya mencari nama keren saya dengan saksama. Eh, ga ketemu. Cari lagi. Lalu saya curiga dengan kaki-kaki yang terlihat di balik papan tulis. Seriously? Sampai belakang juga ada? Dan akhirnya saya menemukan nama saya di kelompok 41.

 

Saya akhirnya menuju ruangan temu sambil mengingat nomor kelompok, dan jeeeeng ... banyak banget  orangnya. Kaya lagi kondangan. Malah lebih seru karena masing-masing bawa makanan sendiri-sendiri. Ah, jadi ajang Home Made Fiesta NCC. Dan belakangan baru saya tahu, peserta yang tercatat sejumlah 991 relawan. Belum termasuk panitia dan para wakil sekolah yang datang saat itu ya.

 

Saat saya tiba, sedang sesi SKJ. Saya langsung menemukan nomor kelompok saya yang ternyata tepat di depan pintu masuk. Saya salah kostum. Kaos lebar tapi pendek dan celana yang selalu bermula di panggul. Ah, ga bebas ini mau. gerak-gerak. Ya, sudahlah, agak jaim dikit jogetnya. Walau saya sebenarnya agak khawatir perut ga seksi ini bakal terlihat. Tapi karena ga seksi, mungkin bisa mengurangi kadar dosanya?

 

Selain memuji keberanian saya datang sendirian, saya kagum dengan pemandangan di sekitar saya. Banyak sekali anak-anak muda. Beneran deh, walau saya berJIWA muda, kok saya malah merasa tua berada di sekitar para relawan dan panitia. Memang sih, ada yang bapak-bapak dan ibu-ibu, tapi kalau melihat para mas-mas dan mbak-mbak yang saya yakini baru ketemu usia dua puluh tahunan, saya jadi minder. Umur segitu, gue dah apa ya?

 

Ini seperti yang saya rasakan ketika melihat lomba cover dance kpop di Kalibata City. Saya pikir akan melihat pertunjukan joget alay-alay yang lemes-lemes, eh tapi ga loh. Atau ketika ada performance grup beatbox yang dari kaos kupluknya bisa ketebak masih SMU, saya pikir masih ada alternatif untuk para remaja ini untuk membuat kreasi yang positif. Sedikit harapan lah buat saya yang ibu-ibu ini.

 

OK, back to briefing Kelas Inspirasi. Again, selain relawannya saya juga terpaksa bengong-bengong ketika ada sharing dari salah satu Pengajar Muda. Salah satu program Indonesia Mengajar yang mengirim relawan untuk mengajar di pedalaman selama satu tahun. Walau status masih melajang, raihan yang sudah dia capai bagi saya sudah banyak sekali. Ke mana aja gue selama ini?

 

Atau ketika seorang lulusan psikolog yang dalam kalimatnya saat hendak mengajak kita olahraga tepuk tangan, “Berhasil untuk 1500 orang di Afganistan!” Wait, dia sudah ke Afganistan segala buat ngajarin cara presentasi yang fun? Ah, kamu keren.

 

Ya, sekeren salah satu blogger make up yang baru saya lihat beberapa waktu lalu. Masih kenyes-kenyes begitu.

 

Usai empat jam briefing dari jam 1300-1700, saya mengantungi satu informasi. SDN 1 Balimester Jatinegara. Alhamdulillah, dekat rumah. Aku kan datang.

Saya pulang dengan satu pikiran. Malika, Safir, semoga program ini masih ada saat kau remaja nanti, Amy akan pastikan kalian juga berpartisipasi.

Eh, itu pemaksaan ya. Hmm ... amy akan pastikan kalian mendapat informasi yang cukup sebagai wadah kalian berbagi. Karena hidup akan terasa hampa jika tidak berbagi terhadap orang lain.

Selasa, 22 April 2014

Reuni dengan Kantor Pos

Zaman sekarang jika bicara soal pengiriman barang pasti deh langsung nyambungnya ke T***. Apa kabar tukang pos, ya? Saya bahkan masih menggunakan jasa pos untuk mengirim lamaran kerja sepuluh tahun lalu. Pas zamannya lagu "Surat Cintaku", kita biasanya sudah akrab dengan si pengirim pos. Namanya surat akan dikirim oleh petugas pos di area terdekat dengan alamat tuju, jadi wajarlah bisa kenal baik sama petugas pos. Orangnya itu-itu saja kok.
Berbeda dengan layanan antar. Mukanya ganti-ganti. Wong cabangnya banyak begitu. Dan kayanya sekarang ga ada stiker bertuliskan, "Trims Pak Kurir". Layanannya lebih dipilih tapi hubungannya ga seromantis dengan petugas pos. Film "Postman Pat" mungkin sudah ga nyambung sama anak zaman sekarang kali ya. Anak-anak di kota besar di Indonesia terutama.


Waktu kerja saya masih ada lah bersinggungan sama pos Indonesia. Yaitu saat-saat saya menanti buku review dari penerbit luar negeri. Satu hal yang saya kangeni bekerja di penerbitan. Orang luar negeri memang lebih mapan bidang posnya. Jadi kalau kiriman dari luar negeri, saya lebih memilih pos ketimbang jasa kurir, pasti aman. Lain halnya vice versa. Masih belum pede kirim ke luar negeri pakai pos, habis citranya kadung buruk.

Papa saya dulu juga bekerja di kantor pos di ... Belanda. Bukan sebagai petugas posnya, melainkan sebagai karyawan pos yang bertugas menyortir surat sesuai daerah tujuan. Kerjaannya buruh, tapi masih dikasih tunjangan flat tuh. Dan sekarang menikmati uang pensiun bulanan dari sana. Kalau petugas pos Indonesia bagaimana?

Oke kembali ke pos Indonesia. Sebulan ini saya akhirnya reuni sama pos berlogo orange ini. Apa pasal? Ikutan undian. Halah. Itu loh undian Indomilk pergi ke Legoland. Saya sih tahu 'tangannya bau' untuk urusan undian. Cuma berhasil waktu hamil Malika, ya dapat doorprize video cam, voucher tas bayi yang masih dipakai sampai sekarang, tiket nonton, dll. Seumur hidup, saya jarang beruntung untuk urusan beginian. Tapi karena toh barangnya emang diminum sama anak-anak ya saya iseng saja ikutan. Alasan lain adalah karena alamatnya PO BOX. mau ga mau harus ke kantor pos dong. Ide PO BOX ini mungkin jadi salah satu investasi yang paling berhasil buat Pos Indonesia. Telegram sudah punah, wesel rada sekarat kalau tidak ditopang dana pensiun, PO BOX yang rada gaya dikit. Walau ga sering, tapi masih ada saja undian yang mengharuskan mengirim kemasan. Hmmm ... Mungkin saja beberapa tahun mendatang PO BOX ini jadi ga efektif karena tergusur sama lomba selfie yang modal media sosial. Makanya saya makin semangat kumpulinnya. Setidaknya bisa jadi saksi sejarah pos (apa sih?).

Nah di Kalibata City ini cuma ada satu kantor pos. Gabung sama jasa travel. Tapi kalaupun ada orang yang ngantri di dalam sana, buat urus tiket. Sedangkan petugas posnya duduk kebosanan hehehe ... Saya sudah suudzon aja, bahwa penanganannya bakal jadul. Kira-kira harus beli perangko yang harga berapa ya? Lumayan bisa kasih tahu ke Malika n Safir soal perangko. Eh, rupanya sekarang modelnya kaya T*** gitu. Diketik, di print. Jadi kita punya notanya. Dulu kan suka ga mau pakai pos karena tidak bisa dipertanggungjawabkan. Petugasnya sendiri bilang, perangko kian sulit dicari. Wuih, mulai langka. Inget gak sih, zaman dulu di koran selalu ada update seri perangko? Jadi mungkin sekarang posnya hanya perlu cap seharga Rp5000,-. Mungkin ga diplastikin seperti T***, makanya saya sudah tulis dengan bolpen, biar ga luntur. Maklum, undian sih, setidaknya harus benar-benar sampai ke tujuan. Dan ... Menang ... Amiin.

Hmm ... Kira-kira mau kirim apalagi ya via pos?

Minggu, 20 April 2014

Amy's Story: Serasa Punya Tiga Anak

Per tanggal 31 Maret lalu, abang pertama saya akhirnya bisa liburan ke Jakarta lagi bersama istri dan anaknya setelah tiga setengah tahun tidak pulang-pulang dari negeri One Direction. Dari dua puluh harinya mereka, orangtua saya kebagian ketemu cucu di seminggu pertama. Yah, namanya juga punya mertua, harus dibagi-bagi kebersamaannya.  Saya memboyong anak-anak ke Tebet, Malika libur dulu sekolahnya biar bisa main sama si kakak Khansa tanpa harus bolak balik, lumayan ongkosnya Bos.

Biasanya menginap di Tebet ada satu kelebihan, ada abang saya yang kedua. Setidaknya tugas saya menemani bocah-bocah main tidak terlalu melelahkan. Namun, sejak abang saya itu memiliki pekerjaan tetap alias kantoran, praktis privilege itu jadi berkurang. Jadi, adalah saat-saat di mana saya berada di antara tiga bocah dan salah satunya berbahasa Inggris.

Dulu, kala ada orang yang bilang, "punya satu anak aja repot. Aktif banget anaknya." saya akan berujar sendiri, coba deh punya dua baru berasa kalau punya satu anak itu lowong waktunya. Nah, sekarang saya dikerubungi tiga bocah. Ok, pusing ngobrolnya.

Kalau saya beri kegiatan aktivitas, Khansa anteng, Malika harus disupervisi, Safir? Terabaikan. Pertama, kegiatan aktivitasnya ga selevel. Kedua, Safir juga sebenarnya perlu disupervisi, tapi karena mungkin saya lebih condong ke Malika, dia biasanya nontonin saja, atau menghancurkan lembar aktivitas-yang juga harus diberi reaksi/ekspresi menghargai, atau kemudian dia main yang lain. Ga papa deh, selama ga nangis.

Pernah saat Ibunya Khansa bertemu janji dengan temannya di Oakwood, saya bawa anak-anak melihat air mancur kecil di lantai bawah. Ya, karena hanya ada air mancur sebagai hal yang mendekati hiburan anak, jadilah itu yang kami jadikan mainan. Awalnya, main titian air mancur itu. Tiga anak dengan speed fisik dan otak yang berbeda.

 Setelah beberapa kali, Khansa mengupgrade level permainan, dia membuat kuis. Hal yang membuat dia bisa melawan bosan secara efektif sepertinya. Permainannya adalah menyebutkan sebanyak mungkin nama hewan laut di setiap tingkat air mancur itu. Air mancur itu memanjang, yang mancur hanya di satu sisi, selebihnya air mengalir yang dibuat berjenjang.

Oleh karena Khansa berkomunikasi dengan bahasa Inggris, saya berdiri lebih dekat ke dirinya agar saya bisa menangkap penuh perkataannya dan kemudian mengomunikasikannya ke Malika. Jadi ketika saya dan Khansa berlomba menyebut nama-nama hewan laut, Malika beberapa langkah di depan berteriak, "fish! Fish!fish!" Dia mah pede aja yang penting nimbrung. Safir? Ngacir ke jalanan. Hiyaaaa!!!!

Atau ketika kami berempat sedang ngobrol-ngobrol di rumah. Saya meladeni dua gadis bicara dengan dua topik berbeda dan bahasa yang beda pula. Khansa seperti biasa membuat kuis, di mana saya harus buat pertanyaan. Malika sibuk tanya ini itu. Tahu-tahu Safir berucap, "Amy ga boleh ngomong sama kakak Khansa."

Mendengar ini Khansa langsung cemberut, "it's not fair." Akhirnya dibuatlah percakapan ga jelas ritmenya untuk tiga bocah.

Atau ketika mereka bertiga main ayunan. Ada dua yang minta didorong, tapi letaknya tidak berdekatan, jadilah saya olahraga. Kalau tidak sengaja mendorong yang tidak mau didorong, kena rengekan deh si Amy. Dua anak sepertinya cukup =)

Ah, ya, tapi cuma itu saja kok. Kebersamaannya singkat rupanya. Belum lagi si Amy PMS ^^'. Masih ingin main lagi sih, terlebih sudah kelar masa PMSnya, tapi yah sepertinya masih harus diusahakan rezekinya. Si Olaf itu kembali ke UK hari ini. Walau sudah tidak ketemu sejak sepuluh hari lalu, tapi tahu bahwa mereka sudah akan pergi lagi, saya menghela napas juga.

Yah, nanti ya Malika. Mungkin ketika Malika sudah bisa bilingual bahasanya, ada lagi rezeki bagi kita bertemu ampunwa Nurul, bude Ita, dan kakak Khansa =)

Sabtu, 19 April 2014

Seandainya Semua Tinggal di Kalibata City

Tidak perlu di tower yang sama, Bang. Mungkin di tower seberang agar kami bisa mampir jelang sore di akhir pekan untuk sekadar minum teh atau berbagi kue resep baru. Atau menodong komik baru untuk kubaca. Basa basi yang kemudian mengantarmu ke rumahku, membereskan semua yang rusak yang tadi aku ceritakan.  Tidak perlu menunggu tahunan dan tiket puluhan juta untuk urusan stem gitar.


Seandainya yang tinggal di samping unitku bukan gerombolan penghibur amatir tapi kamu, Kak. Pasti aku terbiasa bertelanjang kaki mengetuk pintumu subuh-subuh untuk meminta sedikit bawang merah. Tidak perlu menunggu usai semua jadwal anak sekolah.  Aku tahu pasti tidak akan menerima segenggam bawang melainkan lauk siap makan untuk beberapa hari mendatang.


Seandainya kau tetap menjadi seorang pekerja lepas, Bang. Yang setiap kali aku tidak enak badan, akan meneleponmu dan kamu akan datang. Tidak hanya untuk menemani anak-anak tetapi juga merapikan semua yang tidak bisa aku sentuh. Saat ketika aku merasa kau orang paling flexibel sedunia. Ah, mungkin itu akan segera berakhir ketika si jodoh datang.


Tapi tak ada yang selamanya ada. Jarak dari kamar ke kamar yang kemudian menjauh menjadi rumah ke rumah bahkan negara ke negara adalah bukti bahwa hidup adalah dinamis. Terkadang aku merasa tidak terbiasa. Inilah si bungsu yang selalu membawa kalimat permintaan setiap kali dia melongokkan kepalanya di pintu kamar kakak-kakaknya.

Tapi mungkin benar kata orang, jika dekat saling bermusuhan, saat jauh saling merindukan. Well, kami tidak pernah benar-benar bermusuhan sih, tapi yah mungkin Tuhan hendak menjaga romansa di antara kami. Ah, sok teu deh kamyuuu ....

*Dan aku kembali dalam lamunan hampa.