Tampilkan postingan dengan label abang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label abang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 November 2015

RABUku: Mamomics part 2 – 9 Bulan Menanti Keajaiban


Ini adalah bentuk bayar utang setelah sebelumnya membuat review Papomics karena ada abang saya sebagai salah satu kontributornya, sedangkan di saat yang hampir bersamaan, Mamomics 2 pun terbit dan ada nama-nama yang merupakan sahabat abang saya dalam dunia perkomikan lagi-lagi menjadi kontributornya.


Dari dua seri Mamomics yang terpajang di rak toko buku, saya pilih yang kedua karena tema yang lebih spesifik juga terbitan yang lebih baru daaan saya yang juga baru lahiran anak ketiga #uhuk

Cerita kehamilan dan melahirkan selalu luar biasa bahkan dalam keadaan biasa-biasa saja. Namanya juga berpartisipasi langsung dalam proses penciptaan, itu kan sesuatu yang luar biasa, sehingga jika badan pun bereaksi luar biasa, itu wajar. Sebagai ibu beranak tiga, rasanya malu banget mau membanggakan diri. I mean, hamil dan melahirkan itu kan bukan prestasi. Walau perasaannya memang fantastis. Membaca cerita dari empat ibu dan satu lajang yang keibu-ibuan ini sebenarnya lebih menekankan betapa kita harus saling berempati dan bertoleransi setidaknya antarsesama perempuan. Jadi, ini bukan ajang pamer siapa yang paling menderita atau siapa yang paling gampang. Semuanya ada porsinya.

Setidaknya itu bagi saya pribadi.

Saat hamil anak ketiga, saya rasanya payah banget karena keluhan fisik yang tak kunjung usai. Namun, ketika baca cerita kehamilan Mba Harley yang ga hanya mual-mual dkk tapi juga sebentar-sebentar pingsan, i guess semua ada kesulitan dan kemudahan. Untuk mba Harley yang suka pingsang, senantiasa ada suami yang baik hati dan sigap menangkap. (eh iya tak?). Coba kalau saya yang begitu? Kebayang dong pingsan di antara dua bocah pecicilan di apartemen. >.< btw, abang saya jadi cameo di komiknya Bu Harley ini hihihiy ... telat banget ya.

Ketika saya agak sombong bercerita pergi ke RS naik ojek sendiri jelang melahirkan, rasanya saya mau edit ucapan saya ketika membaca kisah Dydy yang tidak hanya naik kereta tapi juga jalan kaki menuju RS sambil mules dan melahirkan sendiri karena sang suami menemani anak pertama yang sedang sakit. Maklum, tengah merantau di negeri orang. Kalau bagi sebagian orang, melahirkan ditemani suami itu rasanya ingin mencakar-cakar mukanya, bagi saya melahirkan ditemani suami itu ekstra kekuatan—ini kata seorang ibu di bus ketika saya hamil anak pertama. Jadi kalau ada yang melahirkan sendirian itu ...  hadeeeuh ...

Jika saya merasa beraaat hamil sambil ngurus dua balita, nah bayangkan ketika ada dua bocah di dalam perut seperti pengalaman kehamilan kedua mba Dyotami ... ga mau bayangin ah, linu perutkuuuh. Hamilnya pe er. Melahirkannya pe er. Ngurusnya apalagiiiih ....

Dan kalau menyimak komik hasil ga sengaja dengar dari ruang bersalin di sebelah Mba Ani usai melahirkan dengan segala kehebohan saat mengedan, lagi-lagi saya berucap alhamdulillah Cuma perlu satu kali buka jalan selebihnya menggelosor dengan sendirinya. Mulas? Ya iyalah. Mau hanya setengah jam seperti saya atau semalaman, yang namanya mulas mau melahirkan ya sakit.

Setelah melahirkan beberapa kali, saya suka ingat-ingat dulu ketika masih lajang apakah saya sudah sebijak Neng  Lia Hartati dalam memandang kehamilan dan ibu hamil secara umum? Ah, mungkin belum. Waktu itu saya belum banyak bergaul sama ibu-ibu sih, jadi bawaannya ingin komentar, “ah, ibu hamil lemes itu Cuma perasaan aja” dan bla bla bla omong kosong penuh kesombongan. Yak, sampai saya ketemu  hamil payah tanpa bisa saya hindari.

Akhir kata saya tak habis terkagum-kagum dengan ibu-ibu pengomik ini. Nemu di mana sih waktu ekstranya? Ngiri euy bisa gambar bagus ^^ Ada yang sederhana, ada yang detail, semuanya istimewa .... selanjutnya kira-kira temanya apa ya?

(eh beli dulu yang seri pertama hehehe ...)


Sabtu, 19 April 2014

Seandainya Semua Tinggal di Kalibata City

Tidak perlu di tower yang sama, Bang. Mungkin di tower seberang agar kami bisa mampir jelang sore di akhir pekan untuk sekadar minum teh atau berbagi kue resep baru. Atau menodong komik baru untuk kubaca. Basa basi yang kemudian mengantarmu ke rumahku, membereskan semua yang rusak yang tadi aku ceritakan.  Tidak perlu menunggu tahunan dan tiket puluhan juta untuk urusan stem gitar.


Seandainya yang tinggal di samping unitku bukan gerombolan penghibur amatir tapi kamu, Kak. Pasti aku terbiasa bertelanjang kaki mengetuk pintumu subuh-subuh untuk meminta sedikit bawang merah. Tidak perlu menunggu usai semua jadwal anak sekolah.  Aku tahu pasti tidak akan menerima segenggam bawang melainkan lauk siap makan untuk beberapa hari mendatang.


Seandainya kau tetap menjadi seorang pekerja lepas, Bang. Yang setiap kali aku tidak enak badan, akan meneleponmu dan kamu akan datang. Tidak hanya untuk menemani anak-anak tetapi juga merapikan semua yang tidak bisa aku sentuh. Saat ketika aku merasa kau orang paling flexibel sedunia. Ah, mungkin itu akan segera berakhir ketika si jodoh datang.


Tapi tak ada yang selamanya ada. Jarak dari kamar ke kamar yang kemudian menjauh menjadi rumah ke rumah bahkan negara ke negara adalah bukti bahwa hidup adalah dinamis. Terkadang aku merasa tidak terbiasa. Inilah si bungsu yang selalu membawa kalimat permintaan setiap kali dia melongokkan kepalanya di pintu kamar kakak-kakaknya.

Tapi mungkin benar kata orang, jika dekat saling bermusuhan, saat jauh saling merindukan. Well, kami tidak pernah benar-benar bermusuhan sih, tapi yah mungkin Tuhan hendak menjaga romansa di antara kami. Ah, sok teu deh kamyuuu ....

*Dan aku kembali dalam lamunan hampa.