Tampilkan postingan dengan label bukupedia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bukupedia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Mei 2015

(Bukan) RABUku: Show Your Work - Austin Kleon

"Bagi seorang seniman, masalah terbesar yang harus diatasi adalah bagaimana caranya menarik perhatian." Honoréde Balzac
Ini bukan buku yang menuliskan tentang cara mempromosikan Anda atau karya Anda, melainkan bagaimana Anda atau karya Anda mudah ditemukan. Sekarang ini banyak sekali orang-orang yang bertitel selebriti sosial media dan kebanyakan dari mereka tidak dengan sengaja mempromosikan diri mereka melainkan sekadar menunjukkan karya atau kegiatan mereka dan kemudian sebuah komunitas pun terbentuk dan tak perlu waktu lama jadilah mereka selebriti sosial media.

Ya, sekarang bukanlah lagi zamannya bersembunyi di goa kemudian berkarya lalu menutup rapat-rapat terkait hal itu. Jika Anda artis ngetop seperti BIGBANG sih tak apa. Eh, walau sudah ngetop pun para artis ini tak segan menampilkan teaser-teaser walau tidak langsung merujuk ke hasil akhir. Membuat para penggemar menanti-nanti hingga penasaran itulah seninya.  Justru, dari sinilah kemudian terukur berapa besar animo masyarakat.

Namun, jangan sembarangan unggah. Semua ada tata tertibnya, jadi pastikan rumah kreasi Anda baik di dunia maya atau nyata bebas dari kontroversi apalagi skandal. Jadi, apa saja sih yang harus ditunjukkan?


foto diambil dari sini


 Austin Kleon, yang juga penulis Steal Like an Artist, hendak menunjukkan pada Anda sepuluh cara agar karya Anda dikenal masyarakat luas, yaitu:
1. Tak perlu menjadi genius
2. Pikirkan proses, bukan hasil
3. Berbagilah hal kecil, setiap hari
4. Buka koleksimu
5. Ceritakan yang baik-baik saja
6. Ajarkan yang kamu tahu
7. Jangan jadi manusia penyampah
8. Belajarlah menerima pukulan
9. Juallah
10. Bertahanlah

Jadi maksudnya bagaimana?

Nah, lengkapnya baca sendiri ya. Berguna banget buat kalian yang mau memanfaatkan jaringan. Bukunya bisa langsung dibeli di bukupedia koook. 

"Menciptakan sesuatu adalah proses panjang, tak menentu. Seorang pencipta harus menunjukkan karyanya," Austin Kleon

Rabu, 13 Mei 2015

RABUku: 30 Paspor di Kelas Professor


Kebayang tidak, tugas akhir kuliahmu adalah pergi ke luar negeri, sendirian, dalam waktu 1,5 bulan ke depan? Tidak hanya mahasiswa yang dibuat kaget, bahkan para orangtua pun dosen sejawat juga terkejut dengan keputusan sang professor, Rhenald Kasali. Bagaimana tidak, itu adalah mata kuliah Pemasaran Internasional, apa hubungannya dengan jalan-jalan?

Sekilas seperti tugas yang borju, yang hanya bisa dilakukan oleh para mahasiswa yang tidak memiliki masalah finansial. Namun, karena keterdesakannya sebagai tugas wajib kuliah, justru mereka yang harus berjuang sejak awallah yang mampu menghasilkan pengalaman-pengalaman hidup yang berbobot. Bukan sekadar laporan perjalanan.

Hal yang menarik adalah, pada zaman tiket pesawat sudah semakin terjangkau dan liburan ke luar negeri bukanlah hal asing bagi banyak orang, rupanya hanya sedikit orang yang pernah mengalami bepergian sendirian. Benar-benar sendirian, bukan ikut rombongan atau apa pun. Bahkan untuk usia mahasiswa pun, bepergian jauh sendiri menjadi pengalaman baru.


foto diambil dari bukupedia

Bepergian sendiri ke negeri orang mendorong seseorang untuk beradaptasi, menghadapi masalah-masalah seperti tersasar, ditipu, dan lain-lain sendirian tetapi justru pada saat itu pertolongan pun akan datang tanpa diduga-duga. Walau tetap saja, semua berawal dari tekad menghadapi semua itu sendirian dengan tegar. Itulah yang  sejatinya dibutuhkan para calon sarjana itu usai menyelesaikan kuliahnya. Tidak serta merta teori.

30 Paspor di Kelas Professor terbagi menjadi dua jilid oleh penerbit Noura Books, itu artinya ada 60 kisah mahasiswa  yang berbagi pengalaman berlibur di negeri orang. Ada yang tertinggal pesawat karena tertahan di bagian imigrasi akibat dikira teroris, ada yang mendadak jadi calo tiket demi mendapat uang transportasi dan akomodasi ke salah satu negeri termahal, Dubai, ada yang terpaksa main ‘aman’ karena walau sudah sering ke luar negeri, orangtuanya tidak mengizinkan anak gadisnya bepergian sendiri, ada yang ditipu di India, dan masih  banyak lagi.

Tentu dalam penulisannya juga terdapat ragam cara. Namun, bagi mereka yang mengalami kisah yang menarik, cerita itu akan mengalir begitu saja sambil memicu debaran jantung para pembacanya. Ada juga yang terjebak pada laporan perjalanan ketimbang makna yang dia ambil dari situ. Sehingga bertebaranlah nama-nama tempat yang mungkin tidak pula dideskripsikan secara detail.


foto diambil dari bukupedia


Namun, tetap buku yang dieditori J. S. Khairen ini menginspirasi bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Dan tentu saja membuat saya ingin menambah cap imigrasi di paspor saya. Bagi yang sudah sering jalan-jalan, mungkin akan tertantang untuk pergi sendirian. Dan yang paling saya ingin terapkan pada anak-anak adalah memberikan kesempatan pada mereka untuk melakukan perjalanan sendiri, sedini mungkin karena di situlah kemandiriannya teruji. Agar tidak seperti ibunya yang selalu tersasar karena takut bertanya pada orang.  Agar tidak menjadi orang yang tidak takut akan perubahan, menghadapi rintangan, dan kemudian menjadi individu yang mampu berpikir cepat dalam mengatasi masalah.


Sementara itu, baca bukunya dulu deh. Jilid 1 dan 2 tersedia di bukupedia dengan harga Rp64000,-. Siap-siap menatap tanggal merah, merancang petualanganmu sendiri. 

RABUku: Holland, One Fine Day in Leiden

Aku tidak berada di sini untuk jatuh cinta.

Itulah janji Kara saat menginjakkan kaki di bandara Schippol, Amsterdam. Dan janji itu berulangkali dia ingatkan pada dirinya sendiri kala seorang lelaki bermata biru mulai mengisi hari-harinya.

Kara bukannya tidak punya hati hanya saja hati itu sudah lama membisu, terlalu lama. Sejak dia melihat sang ibu pergi meninggalkannya. Walau sang nenek dan kakek selalu menyediakan banyak cinta tetapi selalu sudut yang kosong dan menularkan kehampaannya juga mendorong instingnya secara tidak sadar untuk mencari.

Hanya negara ini yang terlintas dalam pikiran Kara  saat memutuskan melanjutkan kuliah. Ya, negeri kincir angin itu terasa sangat familiar. Dia dibesarkan dengan banyak kenangan akan Belanda walau saat itu kali pertamanya dia ke sana.

Saat Kara terseok-seok memulai cerita baru hidupnya, sebuah kotak tua mengais ingatannya.

Ibu yang pergi, Kara yang mencari.     



Selain fenomena fan fiction, novel berbasis travelling juga mulai menjamur. Saking menjamurnya hingga redaksi bukune membuat seri khusus novel berlatarbelakang luar negeri dan buku inilah salah satunya.

Jika bicara tentang luar negeri, alangkah janggalnya jika tidak ada kisah berlatar negeri yang kini dipimpin oleh Raja Willem Alexander ini. Selain didekatkan dengan sejarah, Belanda masih memegang rekor penerima mahasiswa Indonesia.

Latar belakang Belanda sebenarnya banyak digunakan pada literatur Indonesia tahun 70-an, yang kemudian trennya bergeser ke negara Eropa lain atau benua lain pada tahun 2000-an (ingat kan boomingnya Eiffel, I’m in Love?). Hingga kemudian buku Negeri van Oranje terbit. Dan Belanda rasa baru pun turut muncul.

Si penulis, Feba Sukmana, pun awalnya menjabat mahasiswa S2 saat menginjakkan kaki di Belanda hingga kemudian dalam perjalanannya dia menemukan pasangan hidupnya lalu menetap di sana. Inilah karya pertamanya yang diterbitkan secara utuh setelah sebelumnya turut berpartisipasi dalam sebuah tentalogi, Jika.  Rupanya tinggal di negeri orang tak menyurutkan semangatnya untuk tetap menancapkan sebagian dari dirinya di Indonesia.

Holland, One Fine Day in Leiden seolah sebuah judul yang janggal ketika disandingkan dengan bahasa Inggris. Berbeda dengan novel berlatar Korea yang dengan PDnya memasang kalimat Korea bahkan kalau perlu dalam aksara Hanggeul. Tapi tak apa, warga Belanda sendiri sudah terbiasa dikelilingi tiga bahasa sekaligus, Belanda, Inggris, dan Prancis.

Sekilas seperti membicarakan tentang cinta. Cinta antara orangtua dan anak, atau cinta pada lawan jenis. Namun, bagi saya pribadi, kisah ini lebih  banyak menceritakan tentang keberanian. Keberanian Kara untuk me-nghadapi kenyataan. Bahwa memang kadang segala sesuatu tidak berjalan sesuai yang diharapkan, tetapi bisa jadi itu menggiring kita ke sesuatu yang lebih baik. Karakter Kara yang suka galau sendiri terkadang membuat saya gemas, tapi bukankah itu yang biasanya terjadi pada kita? Seringkali sebuah masalah hanya menjadi besar di kepala kita sendiri.

Namun, karena terlalu real, unsur twist-nya jadi kurang terasa. Konflik Kara dengan karakter lain tidak serumit konfliknya dengan dirinya sendiri. Meski begitu, ada beberapa adegan yang cukup menyentuh emosi saya. Saya tidak akan beritahu yang mana, hehehe ….

Layaknya genre romansa, umumnya penikmat tahu bahwa kisah itu akan berakhir bahagia. Dan walau begitu, para pembaca tetap penasaran dengan cara penulis membuat pembacanya menebak-nebak bagaimana akhir bahagia itu tercipta.

Bisa jadi penulis hendak mempertahankan kisah manis tapi tidak lebay dan tidak terperangkap kenangan akan kisah-kisah di sinetron. Hanya saja, saya yang terperangkap dalam kisah-kisah yang lazim muncul di drama Korea (lha Korea lagi). Ketika kami dibuat begitu terikat pada karakter pasangan di drama tersebut hingga membuat kami tidak rela jika si penulis naskah memberikan adegan secuil pun yang membuat pasangan itu bersedih atau berpisah.

Toh, novel ini tetap menjadi kawan yang pas untuk di perjalanan dan selesai dibaca saat tiba di tujuan tanpa merasa lelah secara emosi dan kemudian semangat menjalani hari.

Buku ini bisa didapat dengan mudah di bukupedia dengan harga Rp54000,-.  Tinggal klik, tak lama buku sudah siap dibaca.