Tampilkan postingan dengan label readie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label readie. Tampilkan semua postingan
Rabu, 04 Mei 2016
RABUku: Belajar Seks sejak Dini tanpa Heboh
Kalau baca berita akhir-akhir ini sedang ngeri-ngerinya ya, jangan-jangan memang betul bahwa Indonesia sudah darurat keamanan terutama untuk anak-anak dan wanita dengan banyaknya kasus perkosaan yang terjadi. Bagi mereka yang paham kondisi ini, berbagai cara dilakukan para orangtua untuk melindungi anak-anaknya, salah satunya adalah mengajari seks pada anak sejak dini.
Hah, kecil-kecil diajari seks? Seks itu alamiah. Itu yang saya pernah dengar terucap dari salah satu tokoh. Hehehe ... mungkin banyak yang tidak tahu bahwa kata ‘seks’ tidak melulu berarti ‘hubungan intim’. Seks itu adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan tubuh pada umumnya dan alat kelamin pada khususnya.
Bahkan dalam agama pun sebenarnya juga sudah ada semacam pendidikan seks sejak dini. Seperti memisahkan tempat tidur anak dari orangtua paling lambat di usia 7 tahun, memisahkan ranjang anak perempuan dan anak laki-laki bahkan sesama anak perempuan tidak boleh tidur dalam satu selimut. Dan masih banyak lagi.
Dr. Boyke Dian Nugraha dan Dr. Sonia termasuk dari mereka yang peduli bahwa sudah saatnya bagi masyarakat Indonesia untuk menyadari pentingnya pendidikan seks bagi anak. Jika seorang anak memahami arti tubuhnya maka dia pun akan menghargai tubuh orang lain sehingga masing-masing pihak saling menjaga. Mulai dari mengenali tubuhnya sendiri, hingga bisa melindungi dan menghargai tubuhnya. Hal itu niscaya akan mengurangi drastis tingkat pelecehan bahkan perkosaan.
Oleh sebab itu beberapa waktu lalu, buku “Adik Bayi Datang dari Mana?” diluncurkan. Dengan mengundang Maia Estianty sebagai endorser, Dr. Boyke dan Dr. Sonia ingin ke depannya anak-anak ini akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan menghargai satu sama lain.
Sejak kapan sih pendidikan seks harus diajarkan? Begitu si anak bisa berbicara, menurut Dr. Boyke, sewaktu saya bertanya dalam proses penulisan bukunya . Bagi para orangtua pasti mengalami kan ketika si anak mulai bertanya yang ‘aneh-aneh’ seperti “dari mana adik bayi berasal?”. Nah pada tahap ini sangat tidak disarankan berbohong tetapi juga bukan berarti vulgar. Nah, gimana caranya? Itulah gunanya buku ini.
Buku ini bisa digunakan baik untuk orangtua pun untuk anak karena memiliki lembar khusus di tiap bagian. Lembar orangtua dan lembar anak. Hal-hal yang dibahas dapat dikonsumsi untuk balita hingga remaja, mulai dari perihal mandi bareng, hingga menstruasi pertama. Bisa digunakan untuk anak laki-laki dan perempuan, mulai dari apakah anak laki-laki boleh main boneka hingga tumbuhnya jakun. Semuanya dibahas dengan pendekatan pengalaman pribadi alih-alih teori semata.
Sungguh menyenangkan saat saya diajak terlibat dalam penulisannya. Waktu itu saya tengah hamil besar anak ketiga dan banyak dari pertanyaan yang saya ajukan berasal dari pengalaman pribadi karena saya sudah punya sepasang anak laki-laki dan perempuan. Walau saya termasuk orangtua yang terbuka tapi ketika melihat anak-anak mau ciuman karena hendak meniru adegan Anna dan Kristoff di Frozen, saya pusing juga. Dan hal-hal lain yang mungkin kelihatannya sepele atau lucu ternyata bisa menjadi cikal bakal pelecehan jika tidak ditangani sejak dini.
Buku ini akan sangat bermanfaat untuk para orangtua yang peduli pada masa depan anak-anak dan untuk Indonesia yang lebih aman bagi semua.
Buku yang diterbitkan oleh Noura Books Publishing ini bisa didapatkan secara online di toko buku terdekat dengan harga Rp.59000,-. Selamat membaca ^^
Minggu, 31 Mei 2015
(Bukan) RABUku: Show Your Work - Austin Kleon
"Bagi seorang seniman, masalah terbesar yang harus diatasi adalah bagaimana caranya menarik perhatian." Honoréde Balzac
Ini bukan buku yang menuliskan tentang cara mempromosikan Anda atau karya Anda, melainkan bagaimana Anda atau karya Anda mudah ditemukan. Sekarang ini banyak sekali orang-orang yang bertitel selebriti sosial media dan kebanyakan dari mereka tidak dengan sengaja mempromosikan diri mereka melainkan sekadar menunjukkan karya atau kegiatan mereka dan kemudian sebuah komunitas pun terbentuk dan tak perlu waktu lama jadilah mereka selebriti sosial media.
Ya, sekarang bukanlah lagi zamannya bersembunyi di goa kemudian berkarya lalu menutup rapat-rapat terkait hal itu. Jika Anda artis ngetop seperti BIGBANG sih tak apa. Eh, walau sudah ngetop pun para artis ini tak segan menampilkan teaser-teaser walau tidak langsung merujuk ke hasil akhir. Membuat para penggemar menanti-nanti hingga penasaran itulah seninya. Justru, dari sinilah kemudian terukur berapa besar animo masyarakat.
Namun, jangan sembarangan unggah. Semua ada tata tertibnya, jadi pastikan rumah kreasi Anda baik di dunia maya atau nyata bebas dari kontroversi apalagi skandal. Jadi, apa saja sih yang harus ditunjukkan?
Austin Kleon, yang juga penulis Steal Like an Artist, hendak menunjukkan pada Anda sepuluh cara agar karya Anda dikenal masyarakat luas, yaitu:
1. Tak perlu menjadi genius
2. Pikirkan proses, bukan hasil
3. Berbagilah hal kecil, setiap hari
4. Buka koleksimu
5. Ceritakan yang baik-baik saja
6. Ajarkan yang kamu tahu
7. Jangan jadi manusia penyampah
8. Belajarlah menerima pukulan
9. Juallah
10. Bertahanlah
Jadi maksudnya bagaimana?
Nah, lengkapnya baca sendiri ya. Berguna banget buat kalian yang mau memanfaatkan jaringan. Bukunya bisa langsung dibeli di bukupedia koook.
"Menciptakan sesuatu adalah proses panjang, tak menentu. Seorang pencipta harus menunjukkan karyanya," Austin Kleon
Ini bukan buku yang menuliskan tentang cara mempromosikan Anda atau karya Anda, melainkan bagaimana Anda atau karya Anda mudah ditemukan. Sekarang ini banyak sekali orang-orang yang bertitel selebriti sosial media dan kebanyakan dari mereka tidak dengan sengaja mempromosikan diri mereka melainkan sekadar menunjukkan karya atau kegiatan mereka dan kemudian sebuah komunitas pun terbentuk dan tak perlu waktu lama jadilah mereka selebriti sosial media.
Ya, sekarang bukanlah lagi zamannya bersembunyi di goa kemudian berkarya lalu menutup rapat-rapat terkait hal itu. Jika Anda artis ngetop seperti BIGBANG sih tak apa. Eh, walau sudah ngetop pun para artis ini tak segan menampilkan teaser-teaser walau tidak langsung merujuk ke hasil akhir. Membuat para penggemar menanti-nanti hingga penasaran itulah seninya. Justru, dari sinilah kemudian terukur berapa besar animo masyarakat.
Namun, jangan sembarangan unggah. Semua ada tata tertibnya, jadi pastikan rumah kreasi Anda baik di dunia maya atau nyata bebas dari kontroversi apalagi skandal. Jadi, apa saja sih yang harus ditunjukkan?
foto diambil dari sini
Austin Kleon, yang juga penulis Steal Like an Artist, hendak menunjukkan pada Anda sepuluh cara agar karya Anda dikenal masyarakat luas, yaitu:
1. Tak perlu menjadi genius
2. Pikirkan proses, bukan hasil
3. Berbagilah hal kecil, setiap hari
4. Buka koleksimu
5. Ceritakan yang baik-baik saja
6. Ajarkan yang kamu tahu
7. Jangan jadi manusia penyampah
8. Belajarlah menerima pukulan
9. Juallah
10. Bertahanlah
Jadi maksudnya bagaimana?
Nah, lengkapnya baca sendiri ya. Berguna banget buat kalian yang mau memanfaatkan jaringan. Bukunya bisa langsung dibeli di bukupedia koook.
"Menciptakan sesuatu adalah proses panjang, tak menentu. Seorang pencipta harus menunjukkan karyanya," Austin Kleon
Jumat, 24 Januari 2014
(readie's project): Paquita dan Pangeran Bianglala karya Citra Rizcha Maya
Mendadak saya memutuskan mampir ke rumah mama setelah awalnya hendak melihat salah satu TK Aisyiyah lain di Tebet. Dan saya senang melihat bungkus tiki sudah nangkring di nakas kamar saya. Novel Paquita & Pangeran Bianglala ini juga termasuk pemenang unggulan di lomba cerpen yang diadakan penerbit qanita romance. Dan sudah lama pula ingin saya angkat kisah di balik layarnya karena menyangkut teknis penulisan.
"Aku sudah bertemu dengan jodohku di masa depan."
Paquita, seorang gadis remaja, tak mau mengisi cinta remajanya dengan kisah cinta monyet. Bukan karena dia sudah begitu dewasa pemikirannya, melainkan karena dia menantikan pertemuan kembali dengan pangeran yang pernah dia temui saat usianya masih sembilan tahun.
Bukan, ini bukan mau menyamakan dengan kisah Candy Candy dan pangeran Candy-nya. Percaya deh. Baca dulu, nanti kaget. Kalau dikasih tahu sekarang spoiler banget soalnya.
Dan karena si spoiler itulah mungkin yang menjadikan salah satu alasan bagi juri untuk menunjuk novel ini sebagai kisah dengan ide twist yang menarik.
Saya banyak terlibat diskusi dengan penulisnya saat mengeditnya. Dalam garis besar diskusinya, saya mengutip perkataan salah seorang pemenang lomba cerpen ini kala peluncuran tiga buku pemenang, Shabrina WS, pemilik karya Always be in Your Heart, di salah satu kafe di dekat IKJ "Endapkan naskahmu, jangan langsung dikirim usai menuliskannya. Maka kamu akan menemukan banyak hal yang bisa ditambah, dikurangi, atau diperindah saat membacanya kembali." Dengan kata lain, diedit.
Memang sih setiap penerbit pasti punya editor, mereka dong yang bertugas memperbaiki. (seandainya ada yang berpikir seperti itu). Saya sebagai mantan editor in chief dan kini editor freelance pun lebih memilih naskah yang tidak memerlukan banyak perbaikan dengan ide sederhana ketimbang ide brilian dengan cacat tulisan di mana-mana.
Apakah naskah ini awalnya banyak kecacatan? Nope. Kalau iya, ga bakal kepilih sebagai salah satu unggulan dong. She just needed a little bit time out.
A. A Writing Competition is not a Blog Contest
Usai membaca naskahnya pertama kali sebelum mulai mengedit, saya melihat ada kesan buru-buru dalam pengerjaannya. Dialog yang silih berganti tanpa keterangan sebelum atau sesudahnya. Adegan yang melompat tak kalah cepat. Yang kemudian menghasilkan beberapa hal terlewat, tertukar, terlupakan dll.
Saat saya tanyakan hal ini pada Icha, dia mengakui bahwa dia memang tidak benar-benar membaca lagi naskahnya. Mungkin karena deadline. Namun dia menginformasikan bahwa dirinya sering menulis fiksi dan mempublikasikannya di blog.
Saya jadi teringat diri saya beberapa tahun lalu sewaktu masih menjadi editor kantoran. Saya masih menyempatkan diri menulis di blog. Dan kata 'menyempatkan' memang benar-benar singkat, alias di jam istirahat kerja. Hasilnya? Tulisan yang dibuka dan ditutup dengan tema yang berbeda.
Sebuah fiksi sejatinya dibuat dengan pemikiran mendalam, mulai dari ide, pengaturan alur, hingga twist yang dipilih. Ini berlaku bagi fiksi dalam bentuk cerpen atau novel ya. Sekarang ini, tulisan mendalam tidak berlaku untuk lomba cerpen mini atau fanfict atau lomba blog.
Menulis untuk lomba blog disesuaikan dengan daya tahan si pembacanya. Rasanya tidak manusiawi memberikan 10 halaman cerita dalam satu jendela. Belum-belum si pembaca akan merasa terintimidasi. Biasanya hal ini diatasi dengan membagi-bagi tulisan tersebut. Seolah memberikan pilihan, yang suka cerita ini silahkan lanjut, yang nggak ya boleh berhenti.
Karya Icha ini memang tidak ada yang melenceng dari tema hanya saja kurang hiasannya. Contoh sederhananya adalah penambahan keterangan sebagai pendamping dialog.
Mungkin bagi banyak orang merasa penambahan keterangan ini membosankan. Bayangkan saja harus memikirkan variasi dari, 'ujarnya', 'katanya', 'jawabnya', 'kilahnya', dll. Namun, saya katakan padanya untuk membaca karya Rhein Fathia.
Harus saya akui, saya bukan penggemar karya lokal, tetapi begitu mengedit naskah Rhein Fathia saya tertarik dengan caranya mengubah frase membosankan tadi dengan banyak keterangan lain. Dia menulis seolah dirinya tengah membuat skenario plus notulensi sutradara. Detailnya tidak membosankan melainkan turut membangkitkan emosi. Saya diskusikan tentang dia nanti ya.
Nah, begitulah sebuah cerpen. Memainkan emosi pembaca dengan naik turun keterangan, yang membuat pembaca perlahan juga harap-harap cemas saat membalikkan halamannya helai demi helai.
Jadi, take your time. Endapkan naskahmu. Lalu kembali dengan pikiran yang segar usai proses kreatif yang jelas menguras jiwa dan raga, dan mulailah memoles.
B. Latar Belakang Bukan Hanya Soal Tempat
Nah yang ini agak spoiler ya. Sesuai dengan judul dan gambar sampulnya, si bianglala ini jadi bahasan serius di chat kami melalui whatsapp. Ada adegan ketika Paquita jatuh dari bianglala ketika dia berdiri.
Saya memutar otak, bagaimana teknisnya dia bisa berdiri lalu jatuh dari bianglala yang seperti kubus itu? Setelah beberapa kali tidak nyambung, saya tanyakan lagi, bentuk bianglala seperti apa yang tengah dia bicarakan?
Dan jawabannya adalah bianglala seperti di film 'Notebook'. Dia bahkan menyebutkan adegan menit ke berapa. Penggemar berat rupanya dan memudahkan saya saat langsung mengecek di youtube. Handphone zaman sekarang, oh kamu keren banget.
Rupanya itu naked bianglala. Bukan berupa kubus. Mungkin kaya becak dipasangin di situ, hanya tanpa roda-roda. Saya buka sejarahnya. Rupanya bianglala model itu populer di Amerika tahun '70 an, setara dengan latar si film 'Notebook'. Nah, saya tidak yakin, apakah model ini juga populer di Indonesia. Karena bagi saya model bianglala paling jadul adalah yang kita temukan di pasar malam.
Saya pun menawarkan beberapa alternatif, perubahan besar atau perubahan kecil tapi rumit. Icha menolak beberapa alternatif karena dia tidak mau mengikatkan diri dengan latar belakang yang menurutnya akan menghilangkan unsur romantisnya.
Oleh karena melihat Icha yang sejak awal sangat kooperatif, saya menampik dugaan bahwa saya tengah berhadapan dengan penulis pemula yang ga mau dikasih tahu demi alasan orisinalitas. Saya harus cari jalan keluar.
Ketika saya pelajari lagi opsi saya, rasanya
terlalu berlebihan jika harus mengubah alur cerita. Agak lama hal itu menggantung di pikiran saya. Hingga kemudian saya putuskan memberi sejarah bagi si bianglala. Dan ternyata hanya membutuhkan beberapa kalimat. =D
Menurut pengalaman saya saat menjadi mahasiswi Ismail Marahimin, latar belakang punya faktor penting. Tidak melulu tentang tempat tetapi juga tentang benda bahkan manusia.
Jadi ketika si penulis bersikukuh tidak menjelaskan latar belakang kisahnya, pilihan nama karakternya menjelaskan setidaknya itu terjadi di Indonesia. I mean, we are not talking about Alice in Wonderland dengan setting yang luar biasa ajaib dan tentu saja pilihan nama karakternya.
Lalu kemudian pertanyaan selanjutnya, bagaimana bianglala tahun 70-an ala Amerika bisa nemplok di Indonesia dengan segala catatan sejarah yang terjadi saat itu? Nah, di situlah tugas saya. Mempertanyakan semuanya untuk kemudian mencari solusinya. Bersyukur, Icha menerima penambahan itu. And I hope you will hard to find it. Hehehe ...
Saya harap Anda menikmati bacaan ini. Sebuah kisah yang bisa membuat dirimu iseng bertanya pada diri sendiri, 'diakah pangeran impianku di masa lalu?'
I know he does. =)
"Aku sudah bertemu dengan jodohku di masa depan."
Paquita, seorang gadis remaja, tak mau mengisi cinta remajanya dengan kisah cinta monyet. Bukan karena dia sudah begitu dewasa pemikirannya, melainkan karena dia menantikan pertemuan kembali dengan pangeran yang pernah dia temui saat usianya masih sembilan tahun.
Bukan, ini bukan mau menyamakan dengan kisah Candy Candy dan pangeran Candy-nya. Percaya deh. Baca dulu, nanti kaget. Kalau dikasih tahu sekarang spoiler banget soalnya.
Dan karena si spoiler itulah mungkin yang menjadikan salah satu alasan bagi juri untuk menunjuk novel ini sebagai kisah dengan ide twist yang menarik.
Saya banyak terlibat diskusi dengan penulisnya saat mengeditnya. Dalam garis besar diskusinya, saya mengutip perkataan salah seorang pemenang lomba cerpen ini kala peluncuran tiga buku pemenang, Shabrina WS, pemilik karya Always be in Your Heart, di salah satu kafe di dekat IKJ "Endapkan naskahmu, jangan langsung dikirim usai menuliskannya. Maka kamu akan menemukan banyak hal yang bisa ditambah, dikurangi, atau diperindah saat membacanya kembali." Dengan kata lain, diedit.
Memang sih setiap penerbit pasti punya editor, mereka dong yang bertugas memperbaiki. (seandainya ada yang berpikir seperti itu). Saya sebagai mantan editor in chief dan kini editor freelance pun lebih memilih naskah yang tidak memerlukan banyak perbaikan dengan ide sederhana ketimbang ide brilian dengan cacat tulisan di mana-mana.
Apakah naskah ini awalnya banyak kecacatan? Nope. Kalau iya, ga bakal kepilih sebagai salah satu unggulan dong. She just needed a little bit time out.
A. A Writing Competition is not a Blog Contest
Usai membaca naskahnya pertama kali sebelum mulai mengedit, saya melihat ada kesan buru-buru dalam pengerjaannya. Dialog yang silih berganti tanpa keterangan sebelum atau sesudahnya. Adegan yang melompat tak kalah cepat. Yang kemudian menghasilkan beberapa hal terlewat, tertukar, terlupakan dll.
Saat saya tanyakan hal ini pada Icha, dia mengakui bahwa dia memang tidak benar-benar membaca lagi naskahnya. Mungkin karena deadline. Namun dia menginformasikan bahwa dirinya sering menulis fiksi dan mempublikasikannya di blog.
Saya jadi teringat diri saya beberapa tahun lalu sewaktu masih menjadi editor kantoran. Saya masih menyempatkan diri menulis di blog. Dan kata 'menyempatkan' memang benar-benar singkat, alias di jam istirahat kerja. Hasilnya? Tulisan yang dibuka dan ditutup dengan tema yang berbeda.
Sebuah fiksi sejatinya dibuat dengan pemikiran mendalam, mulai dari ide, pengaturan alur, hingga twist yang dipilih. Ini berlaku bagi fiksi dalam bentuk cerpen atau novel ya. Sekarang ini, tulisan mendalam tidak berlaku untuk lomba cerpen mini atau fanfict atau lomba blog.
Menulis untuk lomba blog disesuaikan dengan daya tahan si pembacanya. Rasanya tidak manusiawi memberikan 10 halaman cerita dalam satu jendela. Belum-belum si pembaca akan merasa terintimidasi. Biasanya hal ini diatasi dengan membagi-bagi tulisan tersebut. Seolah memberikan pilihan, yang suka cerita ini silahkan lanjut, yang nggak ya boleh berhenti.
Karya Icha ini memang tidak ada yang melenceng dari tema hanya saja kurang hiasannya. Contoh sederhananya adalah penambahan keterangan sebagai pendamping dialog.
Mungkin bagi banyak orang merasa penambahan keterangan ini membosankan. Bayangkan saja harus memikirkan variasi dari, 'ujarnya', 'katanya', 'jawabnya', 'kilahnya', dll. Namun, saya katakan padanya untuk membaca karya Rhein Fathia.
Harus saya akui, saya bukan penggemar karya lokal, tetapi begitu mengedit naskah Rhein Fathia saya tertarik dengan caranya mengubah frase membosankan tadi dengan banyak keterangan lain. Dia menulis seolah dirinya tengah membuat skenario plus notulensi sutradara. Detailnya tidak membosankan melainkan turut membangkitkan emosi. Saya diskusikan tentang dia nanti ya.
Nah, begitulah sebuah cerpen. Memainkan emosi pembaca dengan naik turun keterangan, yang membuat pembaca perlahan juga harap-harap cemas saat membalikkan halamannya helai demi helai.
Jadi, take your time. Endapkan naskahmu. Lalu kembali dengan pikiran yang segar usai proses kreatif yang jelas menguras jiwa dan raga, dan mulailah memoles.
B. Latar Belakang Bukan Hanya Soal Tempat
Nah yang ini agak spoiler ya. Sesuai dengan judul dan gambar sampulnya, si bianglala ini jadi bahasan serius di chat kami melalui whatsapp. Ada adegan ketika Paquita jatuh dari bianglala ketika dia berdiri.
Saya memutar otak, bagaimana teknisnya dia bisa berdiri lalu jatuh dari bianglala yang seperti kubus itu? Setelah beberapa kali tidak nyambung, saya tanyakan lagi, bentuk bianglala seperti apa yang tengah dia bicarakan?
Dan jawabannya adalah bianglala seperti di film 'Notebook'. Dia bahkan menyebutkan adegan menit ke berapa. Penggemar berat rupanya dan memudahkan saya saat langsung mengecek di youtube. Handphone zaman sekarang, oh kamu keren banget.
Rupanya itu naked bianglala. Bukan berupa kubus. Mungkin kaya becak dipasangin di situ, hanya tanpa roda-roda. Saya buka sejarahnya. Rupanya bianglala model itu populer di Amerika tahun '70 an, setara dengan latar si film 'Notebook'. Nah, saya tidak yakin, apakah model ini juga populer di Indonesia. Karena bagi saya model bianglala paling jadul adalah yang kita temukan di pasar malam.
Saya pun menawarkan beberapa alternatif, perubahan besar atau perubahan kecil tapi rumit. Icha menolak beberapa alternatif karena dia tidak mau mengikatkan diri dengan latar belakang yang menurutnya akan menghilangkan unsur romantisnya.
Oleh karena melihat Icha yang sejak awal sangat kooperatif, saya menampik dugaan bahwa saya tengah berhadapan dengan penulis pemula yang ga mau dikasih tahu demi alasan orisinalitas. Saya harus cari jalan keluar.
Ketika saya pelajari lagi opsi saya, rasanya
terlalu berlebihan jika harus mengubah alur cerita. Agak lama hal itu menggantung di pikiran saya. Hingga kemudian saya putuskan memberi sejarah bagi si bianglala. Dan ternyata hanya membutuhkan beberapa kalimat. =D
Menurut pengalaman saya saat menjadi mahasiswi Ismail Marahimin, latar belakang punya faktor penting. Tidak melulu tentang tempat tetapi juga tentang benda bahkan manusia.
Jadi ketika si penulis bersikukuh tidak menjelaskan latar belakang kisahnya, pilihan nama karakternya menjelaskan setidaknya itu terjadi di Indonesia. I mean, we are not talking about Alice in Wonderland dengan setting yang luar biasa ajaib dan tentu saja pilihan nama karakternya.
Lalu kemudian pertanyaan selanjutnya, bagaimana bianglala tahun 70-an ala Amerika bisa nemplok di Indonesia dengan segala catatan sejarah yang terjadi saat itu? Nah, di situlah tugas saya. Mempertanyakan semuanya untuk kemudian mencari solusinya. Bersyukur, Icha menerima penambahan itu. And I hope you will hard to find it. Hehehe ...
Saya harap Anda menikmati bacaan ini. Sebuah kisah yang bisa membuat dirimu iseng bertanya pada diri sendiri, 'diakah pangeran impianku di masa lalu?'
I know he does. =)
Kamis, 16 Januari 2014
readie project: Her Beautiful Eyes karya Rien Dj
Sekarang mau rajin share hasil kerjaan atas nama Readie ah. Yang paling gres diterima di rumah mama adalah buku Her Beautiful Eyes karangan Rien Dj.
Buku ini masuk sepuluh besar dalam lomba penulisan yang diadakan oleh qanita romance.
Buku ini berkisah tentang cinta segitiga antara dua orang difabel dan seorang lelaki normal.
Adalah Tiara yang menjadi tokoh utamanya. Seorang gadis yang ahli komputer tetapi 'apes' didatangi virus polio sejak kecil sehingga harus berlawan dengan sebuah tongkat penyangga. Bersama sahabatnya yang hanya bisa duduk di kursi roda, dia aktif di Komunitas Difabel Solo. Namun, hatinya bolak balik teringat atasannya. Lelaki bermata laguna dengam senyum secerah matahari. Dialah Hakam Cahyaningrat.
Sekilas seperti sebuah cerita yang mudah ditebak akhir ceritanya. Namun, bukan itu yang mau saya bahas. Kisah yang mudah ditebak ini, pada kenyataannya memiliki banyak faktor dramatis. Kenyataannya, orang mungkin masih mau berteman dengan mereka yang difabel tetapi lain ceritanya jika dijadikan pasangan hidup.
Mungkin ada yang ingat kisah seorang gadis difabel yang tidak memiliki kedua tangan tetapi kemudian wajah cantiknya terpajang bersama seorang lelaki tampan yang 'sempurna' dalam sebuah foto prawedding. Dilalah, lelaki itu adalah putra pejabat BI. Bak kisah cinderella.
Mungkin saja ada yang berkomentar, "Walau tidak punya tangan tapi kan mukanya cantik. Ya, ga bakal kesulitan lah." Tapi coba deh dipikir-pikir, wajah boleh cantik, tetapi ketika kita lagi di sebuah restoran mewah lalu si cantik ini mengangkat kakinya ke meja dan meraih sendok untuk kemudian menyuapi dirinya sendiri, ngaku deh, pasti rasanya janggal. Dan tatapan janggal itu melesat lebih cepat dari cahaya. Memberi sejuta arti bagi si objek yang ditatap.
Itu baru bicara soal pandangan dan anggapan orang 'normal'. Itu saja sudah mampu mengobrak-abrik kepercayaan diri seseorang. Belum lagi bicara soal fasilitas. Komunitas difabel sering kali menjadi kalangan 'reject' sehingga keberadaannya seakan ditunggu kadarluarsanya.
Seumur hidup saya, saya hanya mengenal tiga orang difabel yang kemudian tetap aktif menjalani kehidupannya. Namun itu bukan tanpa kerja keras. Lebih keras dari mereka yang 'lengkap'. Saya ingat teman saya bercerita tentang bapaknya yang juga terikat di kursi roda. Otot tangannya setelah sekian puluh tahun dipaksa bekerja ganda menggantikan fungsi kaki mengalami perkapuran lebih cepat. Dalam cerita ini saya mengetahui bahwa penderita polio sejatinya harus menjaga berat tubuhnya karena tidak banyak melakukan aktivitas dengan berdiri dan agar beban kerja tangannya tidak semakin berat.
Dari teman saya itu pula saya mengetahui soal modifikasi mobil yang disesuaikan dengan kebutuhan si bapak. Pastinya manual. Jangan harap mobil keren yang ada di drama Jepang Life is Beautiful, serba otomatis. Jangankan mobil, rumah pun disesuaikan, mulai dari lebar pintu, tata letak furnitur, hingga lebar lorong. Apa kabar dunia luar? Rasanya pasti gila banget.
Saya saja yang seorang pedestrian sejati, jarang bisa menikmati trotoar yang lapang, rata, dan bebas motor. Apalagi begitu punya dua anak dan berharap bisa sekadar jalan-jalan sambil dorong stroller tandem. Masih syukur tinggal di superblok, masih bisa lah hasrat itu terpenuhi. Tapi kalau mau ke mal sebelah, beuuh ... Begitu keluar sudah semrawut motor sana sini, lalu harus ketemu perlintasan kereta dan hadangan mobil wuih pokoke ribetlah. Jadi kalaupun mau ke mal sebelah di hari kerja ya artinya satu bocah digendong, yang satunya lagi digandeng.
Bicara soal fasilitas mal saja sepertinya baru mengalami perbaikan bukan karena kesadarannya akan komunitas difabel, melainkan karena arus modernitas yang menyebabkan banyak orangtua membawa stroller ke pusat perbelanjaan. Mal yang bagus akan menyediakan lift yang lapang di tempat mencolok. Bukan lift sempit seperti di Pasaraya Blok M. Bukan lift barang yang entah di belakang apa seperti di ITC Kuningan.
Saya jadi ingat saat kuliah juga ada salah satu mahasiswi yang menggunakan kursi roda. Gedung FIB hanya tiga lantai sehingga tidak menggunakan lift dan jadilah si mahasiswi menanti digendong teman-temannya saat harus mengikuti kuliah di lantai dua atau tiga. Dosennya pun mencari cara agar mata kuliah yang diikutinya tetap di lantai dasar. Namun mau sampai kapan dia harus menanti uluran tangan orang? Adakah yang tahu bahwa mungkin dirinya juga ingin naik sendiri. Menjadi orang yang harus selalu menunggu bantuan itu tidak menyenangkan. Dan sikap itu memang harus dipertahankan.
Suka kesel kalau menghadiri resepsi di gedung mewah tapi area lobinya tangga semua. Ga ada sisi landainya. Memang sih terlihat keren tapi kok mayoritas banget sih. Ini terasa banget saat ke Monas yang di mana-mana tangga. Waktu ke sana memang ga bawa stroller tapi pegel gendong bocah-bocahnya juga. Kalaupun bawa pasti kaya orang salah alamat gitu.
Bayangkan ada berapa banyak kesempatan komunitas difabel untuk beraksi di dunia luar yang kemudian terlindas oleh kepongahan mereka yang 'normal'?
Jadi singkatnya, mengedit naskah ini membuat saya teringat pada mereka-mereka itu. Mereka yang ternyata lebih mengoptimalkan yang ada dalam dirinya ketimbang saya. Mereka yang tidak menyerah pada keadaan. May God bless you always.
Jadi sebagai penutup, beli deh bukunya =) Ini bukan kisah cinta biasa.
Buku ini masuk sepuluh besar dalam lomba penulisan yang diadakan oleh qanita romance.
Buku ini berkisah tentang cinta segitiga antara dua orang difabel dan seorang lelaki normal.
Adalah Tiara yang menjadi tokoh utamanya. Seorang gadis yang ahli komputer tetapi 'apes' didatangi virus polio sejak kecil sehingga harus berlawan dengan sebuah tongkat penyangga. Bersama sahabatnya yang hanya bisa duduk di kursi roda, dia aktif di Komunitas Difabel Solo. Namun, hatinya bolak balik teringat atasannya. Lelaki bermata laguna dengam senyum secerah matahari. Dialah Hakam Cahyaningrat.
Sekilas seperti sebuah cerita yang mudah ditebak akhir ceritanya. Namun, bukan itu yang mau saya bahas. Kisah yang mudah ditebak ini, pada kenyataannya memiliki banyak faktor dramatis. Kenyataannya, orang mungkin masih mau berteman dengan mereka yang difabel tetapi lain ceritanya jika dijadikan pasangan hidup.
Mungkin ada yang ingat kisah seorang gadis difabel yang tidak memiliki kedua tangan tetapi kemudian wajah cantiknya terpajang bersama seorang lelaki tampan yang 'sempurna' dalam sebuah foto prawedding. Dilalah, lelaki itu adalah putra pejabat BI. Bak kisah cinderella.
Mungkin saja ada yang berkomentar, "Walau tidak punya tangan tapi kan mukanya cantik. Ya, ga bakal kesulitan lah." Tapi coba deh dipikir-pikir, wajah boleh cantik, tetapi ketika kita lagi di sebuah restoran mewah lalu si cantik ini mengangkat kakinya ke meja dan meraih sendok untuk kemudian menyuapi dirinya sendiri, ngaku deh, pasti rasanya janggal. Dan tatapan janggal itu melesat lebih cepat dari cahaya. Memberi sejuta arti bagi si objek yang ditatap.
Itu baru bicara soal pandangan dan anggapan orang 'normal'. Itu saja sudah mampu mengobrak-abrik kepercayaan diri seseorang. Belum lagi bicara soal fasilitas. Komunitas difabel sering kali menjadi kalangan 'reject' sehingga keberadaannya seakan ditunggu kadarluarsanya.
Seumur hidup saya, saya hanya mengenal tiga orang difabel yang kemudian tetap aktif menjalani kehidupannya. Namun itu bukan tanpa kerja keras. Lebih keras dari mereka yang 'lengkap'. Saya ingat teman saya bercerita tentang bapaknya yang juga terikat di kursi roda. Otot tangannya setelah sekian puluh tahun dipaksa bekerja ganda menggantikan fungsi kaki mengalami perkapuran lebih cepat. Dalam cerita ini saya mengetahui bahwa penderita polio sejatinya harus menjaga berat tubuhnya karena tidak banyak melakukan aktivitas dengan berdiri dan agar beban kerja tangannya tidak semakin berat.
Dari teman saya itu pula saya mengetahui soal modifikasi mobil yang disesuaikan dengan kebutuhan si bapak. Pastinya manual. Jangan harap mobil keren yang ada di drama Jepang Life is Beautiful, serba otomatis. Jangankan mobil, rumah pun disesuaikan, mulai dari lebar pintu, tata letak furnitur, hingga lebar lorong. Apa kabar dunia luar? Rasanya pasti gila banget.
Saya saja yang seorang pedestrian sejati, jarang bisa menikmati trotoar yang lapang, rata, dan bebas motor. Apalagi begitu punya dua anak dan berharap bisa sekadar jalan-jalan sambil dorong stroller tandem. Masih syukur tinggal di superblok, masih bisa lah hasrat itu terpenuhi. Tapi kalau mau ke mal sebelah, beuuh ... Begitu keluar sudah semrawut motor sana sini, lalu harus ketemu perlintasan kereta dan hadangan mobil wuih pokoke ribetlah. Jadi kalaupun mau ke mal sebelah di hari kerja ya artinya satu bocah digendong, yang satunya lagi digandeng.
Bicara soal fasilitas mal saja sepertinya baru mengalami perbaikan bukan karena kesadarannya akan komunitas difabel, melainkan karena arus modernitas yang menyebabkan banyak orangtua membawa stroller ke pusat perbelanjaan. Mal yang bagus akan menyediakan lift yang lapang di tempat mencolok. Bukan lift sempit seperti di Pasaraya Blok M. Bukan lift barang yang entah di belakang apa seperti di ITC Kuningan.
Saya jadi ingat saat kuliah juga ada salah satu mahasiswi yang menggunakan kursi roda. Gedung FIB hanya tiga lantai sehingga tidak menggunakan lift dan jadilah si mahasiswi menanti digendong teman-temannya saat harus mengikuti kuliah di lantai dua atau tiga. Dosennya pun mencari cara agar mata kuliah yang diikutinya tetap di lantai dasar. Namun mau sampai kapan dia harus menanti uluran tangan orang? Adakah yang tahu bahwa mungkin dirinya juga ingin naik sendiri. Menjadi orang yang harus selalu menunggu bantuan itu tidak menyenangkan. Dan sikap itu memang harus dipertahankan.
Suka kesel kalau menghadiri resepsi di gedung mewah tapi area lobinya tangga semua. Ga ada sisi landainya. Memang sih terlihat keren tapi kok mayoritas banget sih. Ini terasa banget saat ke Monas yang di mana-mana tangga. Waktu ke sana memang ga bawa stroller tapi pegel gendong bocah-bocahnya juga. Kalaupun bawa pasti kaya orang salah alamat gitu.
Bayangkan ada berapa banyak kesempatan komunitas difabel untuk beraksi di dunia luar yang kemudian terlindas oleh kepongahan mereka yang 'normal'?
Jadi singkatnya, mengedit naskah ini membuat saya teringat pada mereka-mereka itu. Mereka yang ternyata lebih mengoptimalkan yang ada dalam dirinya ketimbang saya. Mereka yang tidak menyerah pada keadaan. May God bless you always.
Jadi sebagai penutup, beli deh bukunya =) Ini bukan kisah cinta biasa.
Sabtu, 11 Januari 2014
My Story: My FAQ
Ok, this is my narcism edition. I don't have millions of follower that make me do this. But if you try to accomplish your #my500words mission, then you need to talk about almost everything. Well, I am sorry if this post would make you sick of me =D but this is just for fun.
These are my most frequently asked questions, enjoy:
1. Why #hpmelati
Most people would found something wrong in my name (and emails, facebook, twitter's ID). In Indonesia, people uses HandPhone to name their cellphones. And my name makes them ask whose H(and)P(hone)? Or perhaps they would think this was some kind of joke. You know, cute name. But this is my real name, in acronym.
My fullname is Hasanah Putri Melati. My childhood's group would call me Ati (the shortcut of MELATI). I began to promote the name MELATI When I was an editor in chief for business books. Meeting some businessmen made the name 'Ati' was not so ellegant to introduce. Especially when you have a popular comedian named Mpok Ati. That's why I said Melati. But this name is actually kind of flirty if you meet a man. I can see their face a little bit changed.
Well anyway, why did I shorten my name? It has its own history. Many years before, when I was in highschool, preparing for the big test to enter a public university, my mentor told us to not waste time filling hole for your long name. Make it short. Then you will have more time to do the questions.
But why did I have shorten my first names. Well, it simply because I was called by my last three alphabets. And ... There was a love story behind it. That time I was crush on my junior and he used HP as his nickname. So, as teenage, I felt that this was going to be a sweet separation memory.
I tought I won't see that name anymore after I've finished doing my test. But a couple months later, I saw that name on the newspaper. I passed the test.
And I was still not using that memorable name, untill ... The millenium bugs came. Yes, I was class of 1999. ^^ And this 2k thing made the computer were not able to identify me as the UI's student. And since then, I was forced to use that name, FOREVER.
instead of seeing it as a curse, I tried to accept it as sign that this name will become my stage name. This name will make stories. And here I am.
2. What is #koekieku?
www.Koekieku.com is my baking's brand. Because I was born in DenHaag and was a student for Dutch Linguistic, I like to combine words. Like an art. "Koekie" means cookie and "ku" means "my".
I like how it sound rythm with these KKK thing.
I am still trying to become the first at the search engine. Fighting.
3. What is #readie
I don't talk much about Readie, unlike koekieku. While readie is actually my main income as a freelance editor, translator, and writer. Yup readie is my brand, but people who ordered me usually had known me in person.
So this readie is still under the spotlight of hpmelati. It's ok. This brand is quite down to earth.
4. What is #Amy?
Amy is the name that my kids use to call me. Not mama, nor ibu, nor bunda, nor mommy, nor mami, nor umi, but Amy (ah-mee). Where did I get that name?
Well actually I think I found it in a cartoon movie called The Lost Atlantis. But I can't prove it because I don't have it anymore. And I can't found it on youtube. Maybe you could help.
It was the very first scene, the prologue, about the people of Atlantis when there was a baby called his mother's spirit with 'AMI'. I don't know whether it was true or not. I just like it.
Some people tought it is an acronym of Ati becoming Umi, or Mommy. Something like that. But most people would say, 'yeah it was you and your weird thing.'
5. Anything else?
I stil want to have another stage name. On the music stage. There was one day, I was dreamed of becoming one of producers of YG entertainment. And BIGBANG's GD would ask me in the record room, 'What do you want to be named in record album?"
And in my imagination, I was thinking. I tought that I was going to use Jasmine as my international name (Melati means Jasmine) but after dealing with lots of disney's character I think that name was too sweet.
So I was thinking about being called "Jazzy". Oh, one day.
then my mind wandering, maybe it would be more cool to be called Mrs. TOP as me and BIGBANG's TOP make a n unit group (or perhaps the other kind of group =P).
Ok, it's getting late. My husband is out of town and I was dreaming about the hottest guy on earth (LOL). time to go to sleep now.
#justbeyou
#my500words
These are my most frequently asked questions, enjoy:
1. Why #hpmelati
Most people would found something wrong in my name (and emails, facebook, twitter's ID). In Indonesia, people uses HandPhone to name their cellphones. And my name makes them ask whose H(and)P(hone)? Or perhaps they would think this was some kind of joke. You know, cute name. But this is my real name, in acronym.
My fullname is Hasanah Putri Melati. My childhood's group would call me Ati (the shortcut of MELATI). I began to promote the name MELATI When I was an editor in chief for business books. Meeting some businessmen made the name 'Ati' was not so ellegant to introduce. Especially when you have a popular comedian named Mpok Ati. That's why I said Melati. But this name is actually kind of flirty if you meet a man. I can see their face a little bit changed.
Well anyway, why did I shorten my name? It has its own history. Many years before, when I was in highschool, preparing for the big test to enter a public university, my mentor told us to not waste time filling hole for your long name. Make it short. Then you will have more time to do the questions.
But why did I have shorten my first names. Well, it simply because I was called by my last three alphabets. And ... There was a love story behind it. That time I was crush on my junior and he used HP as his nickname. So, as teenage, I felt that this was going to be a sweet separation memory.
I tought I won't see that name anymore after I've finished doing my test. But a couple months later, I saw that name on the newspaper. I passed the test.
And I was still not using that memorable name, untill ... The millenium bugs came. Yes, I was class of 1999. ^^ And this 2k thing made the computer were not able to identify me as the UI's student. And since then, I was forced to use that name, FOREVER.
instead of seeing it as a curse, I tried to accept it as sign that this name will become my stage name. This name will make stories. And here I am.
2. What is #koekieku?
www.Koekieku.com is my baking's brand. Because I was born in DenHaag and was a student for Dutch Linguistic, I like to combine words. Like an art. "Koekie" means cookie and "ku" means "my".
I like how it sound rythm with these KKK thing.
I am still trying to become the first at the search engine. Fighting.
3. What is #readie
I don't talk much about Readie, unlike koekieku. While readie is actually my main income as a freelance editor, translator, and writer. Yup readie is my brand, but people who ordered me usually had known me in person.
So this readie is still under the spotlight of hpmelati. It's ok. This brand is quite down to earth.
4. What is #Amy?
Amy is the name that my kids use to call me. Not mama, nor ibu, nor bunda, nor mommy, nor mami, nor umi, but Amy (ah-mee). Where did I get that name?
Well actually I think I found it in a cartoon movie called The Lost Atlantis. But I can't prove it because I don't have it anymore. And I can't found it on youtube. Maybe you could help.
It was the very first scene, the prologue, about the people of Atlantis when there was a baby called his mother's spirit with 'AMI'. I don't know whether it was true or not. I just like it.
Some people tought it is an acronym of Ati becoming Umi, or Mommy. Something like that. But most people would say, 'yeah it was you and your weird thing.'
5. Anything else?
I stil want to have another stage name. On the music stage. There was one day, I was dreamed of becoming one of producers of YG entertainment. And BIGBANG's GD would ask me in the record room, 'What do you want to be named in record album?"
And in my imagination, I was thinking. I tought that I was going to use Jasmine as my international name (Melati means Jasmine) but after dealing with lots of disney's character I think that name was too sweet.
So I was thinking about being called "Jazzy". Oh, one day.
then my mind wandering, maybe it would be more cool to be called Mrs. TOP as me and BIGBANG's TOP make a n unit group (or perhaps the other kind of group =P).
Ok, it's getting late. My husband is out of town and I was dreaming about the hottest guy on earth (LOL). time to go to sleep now.
#justbeyou
#my500words
Langganan:
Postingan (Atom)
