Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2015

RABUku: Bliss The Bliss Bakery Trilogy #1



foto ini diambil dari www.mizanstore.com

Rose selalu terbangun di tengah malam dan kemudian mengendap-endap ke dapur mengintip ibunya tengah membuat kue. Bukan sembarang kue, Rose melihat ibunya memasukkan halilintar ke dalam mangkuk! Kita pasti penyihir kue.

Namun, meski dia dan ketiga saudaranya selalu diikutkan ketika kedua orangtuanya harus mencari benda-benda aneh yang dimasukkan dalam stoples biru, Rose tak kunjung diberi tahu soal resep-resep ajaib milik kedua orangtuanya itu.

Rose adalah anak kedua dari empat bersaudara. Sebagai anak perempuan tertua, Rose kerap dimintai tolong untuk membantu kedua orangtuanya, Albert dan Purdy, di toko roti mereka, Bliss. Tapi hanya untuk pekerjaan biasa. Sejak Rose melihat cara-cara aneh ibu bapaknya membuat kue, dia tidak sabar untuk segera menjadi penyihir kue. Hingga kemudian kesempatan itu datang dengan sendirinya.

Albert dan Purdy mendadak harus keluar kota selama satu minggu untuk menyelamatkan penduduk yang terkena flu parah. Hal yang selalu mereka lakukan diam-diam di tempat tinggal mereka, Calamity Falls. Mereka kemudian memberikan Rose kunci ke ruang rahasia dan berpesan, “Jangan pernah membuka buku ini kecuali saat kebakaran.”

Cookery Booke adalah buku berisi resep-resep rahasia. Sudah lama Rose ingin membacanya tapi kedua orangtuanya tidak mengizinkannya. Namun, sekarang, ah kenapa tidak mencoba satu atau dua resep?

Bersama saudara tertuanya, Ty, mereka pun membuat kue-kue ajaib. Hanya muffin cinta dan cookie kebenaran harusnya tidak jadi masalah, kan?

Tapi kemudian seluruh penduduk kota pun bertingkah laku aneh. Belum lagi ada tante misterius yang mendadak datang dan membuat semua orang terpesona itu sepertinya hendak mencuri Cookery Booke. Rose benar-benar kebingungan.

Bliss adalah novel trilogi tentang keajaiban dari sepotong kue. Keajaiban yang melibatkan bahan-bahan aneh seperti hembusan napas, angin, suara burung, dan lain-lain. Si tokoh utama, Rose ,  adalah anak tengah yang  seringkali merasa diabaikan oleh orangtua dan saudara-saudaranya. Ty si anak sulung sibuk membanggakan ketampanannya, Sage, si anak ketiga, sibuk meniru Ty, dan Leigh, ah dia kan masih tiga tahun. Meski begitu Rose bangga bisa membantu kedua orangtuanya dan tidak sabar untuk menjadi penerus penyihir kue selanjutnya.

Membaca karya Katherine Littlewood ini membuat perut perlahan-lahan bereaksi hingga kemudian memberontak. Seperti itu pula konflik yang terjadi, awalnya kecil lama-lama menjadi besar. Dan semakin besar masalahnya, semakin lapar perut kita dibuatnya. Siapkan camilan dan air putih saat membacanya, kita tidak mau menjadi gemuk hanya karena membacanya, kaaan.




Minggu, 31 Mei 2015

(Bukan) RABUku: Show Your Work - Austin Kleon

"Bagi seorang seniman, masalah terbesar yang harus diatasi adalah bagaimana caranya menarik perhatian." Honoréde Balzac
Ini bukan buku yang menuliskan tentang cara mempromosikan Anda atau karya Anda, melainkan bagaimana Anda atau karya Anda mudah ditemukan. Sekarang ini banyak sekali orang-orang yang bertitel selebriti sosial media dan kebanyakan dari mereka tidak dengan sengaja mempromosikan diri mereka melainkan sekadar menunjukkan karya atau kegiatan mereka dan kemudian sebuah komunitas pun terbentuk dan tak perlu waktu lama jadilah mereka selebriti sosial media.

Ya, sekarang bukanlah lagi zamannya bersembunyi di goa kemudian berkarya lalu menutup rapat-rapat terkait hal itu. Jika Anda artis ngetop seperti BIGBANG sih tak apa. Eh, walau sudah ngetop pun para artis ini tak segan menampilkan teaser-teaser walau tidak langsung merujuk ke hasil akhir. Membuat para penggemar menanti-nanti hingga penasaran itulah seninya.  Justru, dari sinilah kemudian terukur berapa besar animo masyarakat.

Namun, jangan sembarangan unggah. Semua ada tata tertibnya, jadi pastikan rumah kreasi Anda baik di dunia maya atau nyata bebas dari kontroversi apalagi skandal. Jadi, apa saja sih yang harus ditunjukkan?


foto diambil dari sini


 Austin Kleon, yang juga penulis Steal Like an Artist, hendak menunjukkan pada Anda sepuluh cara agar karya Anda dikenal masyarakat luas, yaitu:
1. Tak perlu menjadi genius
2. Pikirkan proses, bukan hasil
3. Berbagilah hal kecil, setiap hari
4. Buka koleksimu
5. Ceritakan yang baik-baik saja
6. Ajarkan yang kamu tahu
7. Jangan jadi manusia penyampah
8. Belajarlah menerima pukulan
9. Juallah
10. Bertahanlah

Jadi maksudnya bagaimana?

Nah, lengkapnya baca sendiri ya. Berguna banget buat kalian yang mau memanfaatkan jaringan. Bukunya bisa langsung dibeli di bukupedia koook. 

"Menciptakan sesuatu adalah proses panjang, tak menentu. Seorang pencipta harus menunjukkan karyanya," Austin Kleon

Rabu, 13 Mei 2015

RABUku: Holland, One Fine Day in Leiden

Aku tidak berada di sini untuk jatuh cinta.

Itulah janji Kara saat menginjakkan kaki di bandara Schippol, Amsterdam. Dan janji itu berulangkali dia ingatkan pada dirinya sendiri kala seorang lelaki bermata biru mulai mengisi hari-harinya.

Kara bukannya tidak punya hati hanya saja hati itu sudah lama membisu, terlalu lama. Sejak dia melihat sang ibu pergi meninggalkannya. Walau sang nenek dan kakek selalu menyediakan banyak cinta tetapi selalu sudut yang kosong dan menularkan kehampaannya juga mendorong instingnya secara tidak sadar untuk mencari.

Hanya negara ini yang terlintas dalam pikiran Kara  saat memutuskan melanjutkan kuliah. Ya, negeri kincir angin itu terasa sangat familiar. Dia dibesarkan dengan banyak kenangan akan Belanda walau saat itu kali pertamanya dia ke sana.

Saat Kara terseok-seok memulai cerita baru hidupnya, sebuah kotak tua mengais ingatannya.

Ibu yang pergi, Kara yang mencari.     



Selain fenomena fan fiction, novel berbasis travelling juga mulai menjamur. Saking menjamurnya hingga redaksi bukune membuat seri khusus novel berlatarbelakang luar negeri dan buku inilah salah satunya.

Jika bicara tentang luar negeri, alangkah janggalnya jika tidak ada kisah berlatar negeri yang kini dipimpin oleh Raja Willem Alexander ini. Selain didekatkan dengan sejarah, Belanda masih memegang rekor penerima mahasiswa Indonesia.

Latar belakang Belanda sebenarnya banyak digunakan pada literatur Indonesia tahun 70-an, yang kemudian trennya bergeser ke negara Eropa lain atau benua lain pada tahun 2000-an (ingat kan boomingnya Eiffel, I’m in Love?). Hingga kemudian buku Negeri van Oranje terbit. Dan Belanda rasa baru pun turut muncul.

Si penulis, Feba Sukmana, pun awalnya menjabat mahasiswa S2 saat menginjakkan kaki di Belanda hingga kemudian dalam perjalanannya dia menemukan pasangan hidupnya lalu menetap di sana. Inilah karya pertamanya yang diterbitkan secara utuh setelah sebelumnya turut berpartisipasi dalam sebuah tentalogi, Jika.  Rupanya tinggal di negeri orang tak menyurutkan semangatnya untuk tetap menancapkan sebagian dari dirinya di Indonesia.

Holland, One Fine Day in Leiden seolah sebuah judul yang janggal ketika disandingkan dengan bahasa Inggris. Berbeda dengan novel berlatar Korea yang dengan PDnya memasang kalimat Korea bahkan kalau perlu dalam aksara Hanggeul. Tapi tak apa, warga Belanda sendiri sudah terbiasa dikelilingi tiga bahasa sekaligus, Belanda, Inggris, dan Prancis.

Sekilas seperti membicarakan tentang cinta. Cinta antara orangtua dan anak, atau cinta pada lawan jenis. Namun, bagi saya pribadi, kisah ini lebih  banyak menceritakan tentang keberanian. Keberanian Kara untuk me-nghadapi kenyataan. Bahwa memang kadang segala sesuatu tidak berjalan sesuai yang diharapkan, tetapi bisa jadi itu menggiring kita ke sesuatu yang lebih baik. Karakter Kara yang suka galau sendiri terkadang membuat saya gemas, tapi bukankah itu yang biasanya terjadi pada kita? Seringkali sebuah masalah hanya menjadi besar di kepala kita sendiri.

Namun, karena terlalu real, unsur twist-nya jadi kurang terasa. Konflik Kara dengan karakter lain tidak serumit konfliknya dengan dirinya sendiri. Meski begitu, ada beberapa adegan yang cukup menyentuh emosi saya. Saya tidak akan beritahu yang mana, hehehe ….

Layaknya genre romansa, umumnya penikmat tahu bahwa kisah itu akan berakhir bahagia. Dan walau begitu, para pembaca tetap penasaran dengan cara penulis membuat pembacanya menebak-nebak bagaimana akhir bahagia itu tercipta.

Bisa jadi penulis hendak mempertahankan kisah manis tapi tidak lebay dan tidak terperangkap kenangan akan kisah-kisah di sinetron. Hanya saja, saya yang terperangkap dalam kisah-kisah yang lazim muncul di drama Korea (lha Korea lagi). Ketika kami dibuat begitu terikat pada karakter pasangan di drama tersebut hingga membuat kami tidak rela jika si penulis naskah memberikan adegan secuil pun yang membuat pasangan itu bersedih atau berpisah.

Toh, novel ini tetap menjadi kawan yang pas untuk di perjalanan dan selesai dibaca saat tiba di tujuan tanpa merasa lelah secara emosi dan kemudian semangat menjalani hari.

Buku ini bisa didapat dengan mudah di bukupedia dengan harga Rp54000,-.  Tinggal klik, tak lama buku sudah siap dibaca.  


Rabu, 04 Februari 2015

RABUku: Mengenal ‘Anak-anak di Sekeliling Rasulullah SAW’


Kayanya  biasa ya kita melihat judul-judul Kisah-kisah Nabi dan Rasul juga sahabat. Jadi ketika ada seri ‘Anak-anak di Sekeliling Rasulullah SAW’ saya tertarik juga. Walau sebenarnya ketika anak-anak itu dewasa juga disebut sahabat Rasul.

Serial Anak-anak di sekeliling Rasulullah SAW ini menceritakan tentang mereka yang telah hidup berdampingan dan melihat ajarannya sejak kecil. Tidak banyak memang yang mendapat kesempatan ini. Mungkin itulah keisitimewaannya.

Seperti biasa, saya beli dua seri. Kisah Aisyah r. a. untuk Malika dan Kisah Zaid bin Tsabit untuk Safir. Awalnya saya agak ragu pilih Aisyah karena takut harus berhadapan dengan pertanyaan terkait istri muda tapi kebetulan yang kisah Fatimah tidak ada di toko buku itu. Ya sudahlah, whatever  happen happened.

 

(foto diambil dari FB Tiga Serangkai)


Judul: Aisyah r. a (Seri Anak-anak di Sekeliling Rasulullah saw.)

Penulis: M. Luqman Arifin

Penerbit: Tiga Ananda, 2012

Jumlah Halaman: 35

Harga: Rp19000,-

 

Aisyah adalah salah seorang gadis beruntung yang bisa melihat sendiri ajaran Rasulullan dari sisi paling intim. Sejak lahir, dia sudah dididik secara Islam, karena orangtuanya, Abu Bakar as-shiddiq termasuk orang yang paling awal masuk Islam. Bahkan sebelum dinikahkan dengan Rasulullah pun, dia sudah sering mendapatkan pengajaran langsung dari Rasulullah. Hasilnya, Aisyah menjadi salah satu periwayat hadits dengan 2210 hadits. I guess, everything did come for a reason. Coba bayangkan kalau hendak bertanya soal kewanitaan atau hubungan intim suami istri? Ga mungkin diriwayatkan Bukhari, kan?

 

Judul: Zaid bin Tsabit r. a (Seri Anak-anak di Sekeliling Rasulullah saw.)

Penulis: M. Luqman Arifin

Penerbit: Tiga Ananda, 2012

Jumlah Halaman: 35

Harga: Rp19000,-

 

 

Sedangkan untuk Safir, saya memang sengaja pilih buku ini, karena nama belakangnya mengambil nama dari Zaid bin Tsabit.Anak kecil yang berani mendatangi Rasulullah dengan pedang yang masih lebih besar dari pada tubuhnya, meminta diajak berperang. Rasulullah tidak menolaknya mentah-mentah, bahkan beliau memberikan tantangan lain bagi bocah yang memang terlihat cerdas ini. Walau hanya disebutkan dalam satu kalimat, saya sebenarnya salut pada ibu Zaid bin Tsabit sebagai pengajar dan support group bagi Zaid. Dia kan ga mendadak belajar sendiri. Dan karena itulah dia berhasil menjawab tantangan Rasulullah dan kemudian mendapatkan jalan lain berjihat di samping Rasulullah. Salah satu karya fenomenalnya adalah, dialah ketua pengumpul ayat-ayat yang turun dan kemudian dijilidkan dan diperbanyak dan hingga kini mudah-mudahan senantiasa ada di rumah-rumah keluarga muslim. Al-Quran.

Judul-judul Lain dalam Seri Ini:

  • Ibnu Abbas r. a.
  • Ibnu Ummar r. a.
  • Fatimah r. a.
  • Husain bin Ali r. a.
  • Usamah bin Zaid r. a.
  • Ali r. a.
  • Anas bin Malik r. a.
  • Hasan bin Ali r. a.
     

Buku ini termasuk cukup light reading. Again, saya suka terganggu kalau terlalu banyaknya fakta tahun-tahun sejarah untuk bacaan batita or balita. Hanya saja  memang banyak nama di sini. Maklum lah, kisah anak-anak ini pun mengambil kesaksian dari orang-orang lain di sekitarnya. Jadi ya mau tak mau banyak nama-nama Arab.

Materinya sendiri saya pikir ada kendala sumber. Jadi, pada beberapa kisah sepertinya sumbernya tidak sebanyak jatah halaman yang disiapkan. Sehingga muncullah pernyatan-pernyataan berulang. Seperti yang saya lihat di buku Aisyah. Entah berapa kali tersebut, “sungguh Aisyah sangat mulia.” Saking seringnya menurut saya, saya suudzon, jangan-jangan untuk memenuhi kuota kalimat saja. Soalnya di kisah Zaid bin Tsabit ga begitu-begitu amat.

I love the illustrations. Bersih, lucu, halus,sederhana.  Nice pic lah.

 

#IndonesiaMoslemReadingChallenge

#IMRC

#TokoMuslimKoe

 

Rabu, 28 Januari 2015

RABUku: Kisah-kisah Hewan yang Disebut dalam Al Quran


Selain para nabi dan Rasul, hewan-hewan juga banyak disebut dalam al-Quran, bahkan di antaranya menjadi judul surah. Walau perannya tidak selalu signifikan, seperti misalnya ikan Nun atau burung Hud-hud, tetapi tidak menjadikan hewan kurang penting dalam ajaran agama. Ada banyak kisah yang mengambil latar belakang para hewan ini dalam menerapkan ajaran Islam.
Buku ini masih kategori nilai 6. Ok, tapi bisa lebih baik. Walau dikemas dalam dwibahasa Indonesia dan Inggris, konten bahasa Inggrisnya kok ya rasa Indonesia, gitu? Agak gimana gitu, ketika membacakan untuk anak. Buku ini termasuk yang menganut paham tidak menggambar nabi manapun, jadi ya kebanyakan ilustrasinya adalah pemandangan. Pada akhir cerita terdapat daftar kosa kata khusus Indonesia-Inggris dan Kotak Pertanyaan. Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan masih sulit dimengerti oleh balita, berbeda dengan serial Thomas, walau jumlah penceritaannya lebih sedikit.
Tapiii walau saya merasa isinya agak membosankan karena tidak ada variasi kalimat atau penyebutan subjek, anak-anak malah suka. Mungkin karena binatang kali yaaa. ... Ya sudahlah, mungkin sudut pandangnya berbeda. Dan siapa tahu misi si penerbit menjadikan buku ini sebagai Character Education for Young Learners, tercapai.
Lagi-lagi untuk buku anak, saya sangat suka memerhatikan perihal penjilidan. Nah, ini salah satu yang saya suka dari buku ini. Walau hanya terdiri kurang dari 30 halaman, tapi serial softcover ini menggunakan jilid lem, jadi tidak mudah bredel.



foto diambil dari www.gadingmedia.com
  1. Kambing Menjadi Korban (The Lamb Offered in Sacrifice)
    Penerbit: Little Khalifa,  PT. Penerbitan Pelangi Indonesia
    Hlm: 16
    Harga: Rp25000,-
    Inilah kisah legendaris yang selalu diceritakan dalam perayaan Idul Adha. Kisah Nabi Ibrahim yang harus menyembelih anaknya, Ismail. Padahal saat perintah itu turun Nabi Ibrahim baru saja bertemu lagi dengan Ismail setelah bertahun-tahun yang lalu Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan istrinya, Siti Hajar, dan Ismail yang masih bayi di sebuah tanah gersang yang kemudian dinamakan Mekah.
  2. Kambing Betina (The Female Goat)
    Penerbit: Little Khalifa, PT. Penerbitan Pelangi Indonesia
    Hlm: 16
    Harga: Rp25000,-
    Pada zaman pemerintahan Nabi Daud as., terdapat banyak peternak kambing. Tidak jarang Nabi Daud as harus menyelesaikan perselisihan di antara para peternak kambing ini. Suatu hari, dua malaikat menyamar menjadi peternak kambing yang bertengkar dan datang ke istana. Bagaimana Nabi Daud as. menyelesaikan masalah ini? Apakah beliau mampu melewati ujian Allah lewat para malaikatnya?
    Judul-judul Serial Ini Lainnya
    Hud-hud dan Nabi Sulaiman as.
    Semut yang Bisa Bicara
    Katak dengan Raja Firaun
    Keajaiban Burung Tanah Liat
    Kuda Nabi Sulaiman as.
    Keledai Nabi Uzair as.
    Unta dan Kambing menjadi Korban
    Pasukan Tentara Allah Swt
    Burung-burung dan Nabi Daud
    #indonesianmoslemreadingchallenge
    @tokomuslimkoe

RABUku: Beraktivitas Bersama Sahabat Rasulullah SAW


Biasanya buku aktvitas bertema agama dikemas dalam bentuk majalah. Hal yang memiliki kerugian terutama dalam segi daya tahan. Majalah-majalah aktivitas anak biasanya akan cepat bredel hanya dalam hitungan jam. Apalagi jika bicara batita dan balita.

Awalnya saya membeli Teka-teki Sahabat Rasulullah karena mengira isinya akan bercerita tentang tebak-tebakan yang dilakukan oleh para sahabat. Mungkin sejenis cerita Abu Nawas. Ternyata, ini adalah buku aktivitas yang tidak melibatkan aksi mewarnai, menggunting, dan menempel. Misalnya, mencari kantung uang yang digunakan Abu Bakar untuk menebus Bilal bin Rabah atau mencari orang yang bersembunyi di pasar karena takut dengan Umar bin Khattab, dll. Jadi tidak melibatkan pena atau pensil pun tidak masalah. Buku tetap bersih dan penjilidannya cukup kuat karena menggunakan kertas glossy per halamannya.  Ceritanya sendiri menurut saya cukup easy reading mengingat orang yang saya bacakan masih balita. Easy reading-nya karena tidak berkutat dengan tahun dan nama walau terkait dengan sejarah. Selain itu, kontennya aman anak-anak, jadi walaupun mengeluarkan serial tentang Bilal, tidak ada tuh pose legendaris alias yang ditiban dengan batu besar. Cocoklah untuk pengenalan awal pada anak-anak. Tentu saja saya beli dua, karena bocahnya ada dua hehehe.





  1. Teka-teki Umar bin Khattab
    Penulis: Nelfi Syafrina
    Hlm: 24
    Penerbit: Tiga Ananda
    Harga: Rp25000,-
    Umar bin Khattab adalah khalifah kedua setelah Rasulullah wafat. Dia sangat tegas dan berani. Dia memimpin umat Islam dengan adil. Bahkan, dia tak segan menghukum bawahannya jika ketahuan menzalimi rakyatnya.
  2. Teka-tekai Bilal bin Rabah
    Penulis: Nelfi Syafrina
    Hlm: 24
    Penerbit: Tiga Ananda
    Harga: Rp25000,-
    Bilal bin Rabah adalah salah satu sahabat yang disayangi Rasulullah SAW. Rasulullah memberikan kehormatan kepada Bilal untuk menjadi muadzin pertama dalam sejarah Islam. Tidak mudah bagi Bilal untuk beribadah kepada Allah karena dia seorang budak dari majika kejam bernama Umayah.
    Judul-judul Serial Teka Teki lainnya:
    Abu Dzar al-Ghifary
    Abdurrahman bin Auf
    Saad bin Abi Waqqash
    Shalahuddin al-Ayubi

/Catatan: foto diambil dari www.gramediaonline.com dan www.smartmomways.com
#Indonesiamoslemreadingchallenge

@tokomuslimkoe

Rabu, 21 Januari 2015

RABUku: JIP dan JANEKE (Annie M. G. Schmidt)


Suatu hari kunjungan saya ke toko buku di mal sebelah seolah melemparkan saya ke masa lalu. Itulah saat saya melihat deretan serial JIP dan JANEKE versi Bahasa Indonesia! Yeay! Saking semangatnya, saya ambil seri pertama sebagai hadiah untuk salah satu keponakan. Sekadar menunjukkan ini loh buku anak bermutu sepanjang masa. Hehehehe, saya memang suka serial ini, jauh sebelum buku ini menjadi tugas ‘lezen’ alias membaca saat kuliah di Program Studi Belanda, FIB UI. Pada awal-awal ketibaan saya dan keluarga ke Jakarta, mama sempat rutin membawa kami ke sebuah lorong ajaib berisi buku-buku menjulang tinggi ke atap alias perpustakaan di Erasmus Huis. Mungkin karena kakak-kakak saya masih menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa utamanya. Saya ingat melihat salah satu buku JIP dan JANEKE walau tidak mengerti bahasanya (dan karena memang belum bisa baca juga). Baru benar-benar bacanya ya waktu jadi mahasiswa, sekitar 18 tahun kemudian?
 
Maka semangatlah saya melakukan jadwal kunjungan berikutnya ke toko buku. Kali ini membawa bujet khusus untuk serial yang seharga Rp37500,- itu. Maklum, saya lihat sudah ada setidaknya 4 seri yang terpajang di rak paling bawah itu. Sedih rasanya ketika mengetahui saya kehilangan seri pertamanya. Ya sudslah, ambil saja yang kedua dulu. Dan begitu membelinya, saya merasa tengah mendapatkan alasan kembali untuk mengoleksi buku-buku anak keren. Gimana ga keren, JIP dan JANEKE diklaim sebagai salah satu literasi klasik sepanjang zaman dan sudah diterbitkan dalam 14 bahasa dunia. Ga usah dihitung berapa eksemplar yang sudah terjual hehehe.
 
Lama buku itu tersimpan berbungkus plastik. Berbulan-bulan. Karena saya klaim sebagai milik saya, bukan anak-anak. Ketika dibuka pun, saya tidak serta merta menawarkan pada anak-anak. Malika sendiri yang minta karena melihat ternyata itu buku anak-anak. Ilustrasinya lucu karena menggambarkan JIP dan JANEKE berkulit (bahkan berambut) hitam sepenuhnya. Tentu ini bukan terkait ras tertentu, hanya bagian dari seni menggambar.
 
JIP dan JANEKE adalah sahabat yang juga bertetangga. Mereka saling mengunjungi satu sama lain. Dan ketika bermain, mereka bisa disebut partner in crime karena permainannya ga pernah benar-benar sesuai kaidah. Hmm it reminds me of two little kids at home. Tak jarang, ulah mereka itu tidak hanya membuat para ibu melotot tapi juga membuat Jip dan Janeke kena batunya.
 
Seperti ketika Jip bosan menemani Janeke bermain manik-manik, padahal dia ingin bermain lari-lari. Akhirnya manik-manik milik Janeke dia masukkan ke sepatu ayahnya, ke panci nasi, ke botol selai, dan terakhir, ke dalam hidungnya. Barulah saat itu dia panik, untunglah ibu selalu mendengar teriakan tolong Jip dan kemudian mengeluarkan manik-manik dari dalamnya.
 
Ada 40 cerita dalam setiap serinya. Kelucuan mereka sebenarnya tergolong dalam batas aman. Jadi tidak mendorong anak-anak dalam fantasi yang terlalu liar bin heboh, yang walau di akhir cerita ditampilkan kesialannya tetapi faktor ‘fun’nya lebih mendominasi.
 
Namun sayang, cerita ini jadi kurang menarik ketika saya membacakannya untuk Malika. Berulang kali saya berharap menggunakan kalimat saya sendiri. Oh my God terjemahannya. Betul sih, saya bisa membayangkan bahasa Belandanya, tapi ga pas di tata bahasa Indonesia. Padahal bisa dibuat lebih luwes. Kayanya proses penerbitannya tidak melibatkan editor deh, dari penerjemah langsung. Atau jangan-jangan ini hasil terjemah JIP dan JANEKE versi jadul yang masih berjudul TINI dan TONO? Entahlah. Saya curiga karena penerjemahnya menggunakan kata ‘saya’ di percakapan anak-anak itu. Sebuah tren masa dulu. Saya ingat ibu saya lebih menilai sopan untuk sebutan ‘saya’ ketimbang ‘aku’ dari ucapan cucu-cucunya.  Jangan-jangan itulah alasan serial tersebut menempati rak terbawah? Aih, sayang sekali.
 
Ah, saya jadi rindu fotokopian JIP en JANEKE yang ada di rumah mama.
 
Fotodiambil dari www.goodreads.com

Selasa, 26 November 2013

RESENSI 12 MENIT: Jika Musik Bicara Lantang tentang Hidup dan Keluarga

Dua belas menit ini yang akan menentukan apakah kita akan juara. Dua belas menit ini yang akan menetukan apa yang akan kita kenang seumur hidup.

12 Menit mengambil latar Bontang, sebuah kota kecil yang hanya bisa dicapai lebih cepat menggunakan pesawat kecil dari Balikpapan, Kalimantan Barat. Dari seratus tiga puluh anggota marching band Vincero ini kisah ini berputar pada empat tokoh. Rene, sang pelatih asal Jakarta, yang memiliki berbagai prestasi gemilang baik sebagai pemain dan pelatih, merasa di atas angin ketika diminta melatih ke Kalimantan. Rupanya di Bontang, dia justru diragukan kehebatannya, baik oleh pihak investor maupun oleh anggotanya, bahkan kemudian oleh dirinya sendiri. Lalu ada Tara, juga asal Jakarta, penabuh drum berbakat tetapi kini harus berjuang dari nol pascakecelakaan yang menewaskan ayahnya dan menurunkan kemampuan mendengarnya hingga sepuluh persen. Elaine, lagi-lagi murid pindahan Jakarta, sang pemain biola yang bermimpi menjadi seorang field commander. Walau memiliki kepintaran luar biasa di bidang musik dan akademis, Elaine justru dihambat oleh keinginan ayahnya untuk memiliki anak seorang ilmuwan. Dan akhirnya, rasa pribumi dihadirkan oleh Lahang, laki-laki asal Dayak yang menjadi penari. Namun, dia senantiasa ragu karena harus meninggalkan ayahnya yang sakit demi latihan.

Dengan tiga tokoh utama asal Jakarta, rupanya Oka Aurora tidak membuat cerita ini didominasi masalah tipikal anak Jakarta. Karakter orang-orang Kalimantan yang cenderung tertutup rupanya dilakoni juga oleh Tara yang terus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ayahnya dan Elaine yang terpaksa latihan diam-diam demi menghindari murka ayahnya yang seorang Direktur di salah satu perusahaan gas di Bontang. Maka jadilah kisah yang bhineka tunggal ika seperti halnya Bontang sebagai tempat kecil dengan ragam ras dan agama berkumpul di sana.

Marching Band merupakan orkestra musik kolosal yang tidak hanya menampilkan harmonisasi musik tetapi juga kostum, konfigurasi bentuk, dan tentu saja adu tenaga. Bagaimana tidak, mereka tidak bermain musik sambil duduk tenang, melainkan berjalan mengitari lapangan dan tidak boleh hilang napas sedetik pun karena akan membuat nada miring di sana-sini. Semua itu dilakukan dalam 12 menit pertunjukan dan ratusan jam latihan.

Saya sendiri baru memahami marching band dari dekat ketika menjadi mahasiswi di Universitas Indonesia, Depok. Dan saya terkejut begitu melihat teman saya mendaftar. Bagaimana tidak, profilnya tidak seperti pencinta musik seperti saya yang sudah menjadi anak sanggar dan berposisi sebagai gitaris sewaktu SMA. Gadis pemalu itu kemudian kebagian menjadi peniup terompet kecil, alat musik yang mungkin tidak pernah dia impikan selama 18 tahun hidupnya. Lalu ada teman saya yang bertubuh pendek dan chubby dan ingin menjadi penari. Hanya marching band itulah yang mampu mewujudkannya tanpa dihina melainkan hanya dukungan besar antaranggotanya.  Dan ketika saya dan teman-teman menyaksikan pertunjukkan mereka di stadiun Soemantri Kuningan, yang saya rasakan adalah betapa manisnya buah dari sebuah kerja keras. Bahwa mereka juga mencintai musik seperti saya.

Itu pula yang hendak diceritakan Oka Aurora dalam 12 Menit. Membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada, mereka yang buta alat musik menjadi terpatri dengan alat musik itu. Tentu saja, seperti kata salah seorang pelatih tari di sebuah ajang idola penyanyi Korea,  “Tidak semua orang berbakat menari, tapi semua orang bisa menari. Kuncinya, latihan. Yang keras.”

 Walau menggunakan formula umum dalam naskah-naskah berlatar kelompok musik, saya terkesan bagaimana satu karakter dapat saling melengkapi dialog karakter lain dalam adegan yang berbeda. Seperti ketika Yoshuke, ayahanda Elaine habis kesabaran ketika mengetahui putri satu-satunya lebih memilih mengikuti kompetisi marching band ketimbang Olimpiade Fisika, dia berseru pada Rene, “Apa yang tidak penting bagi saya, tidak penting bagi Elaine!”

Sedangkan di dipan dalam sebuah rumah panggung sederhana, Lahang justru enggan mengikuti kompetisi karena ingin mendampingi ayahnya yang sakit kanker otak. Dalam sakitnya, si bapak berkata, “Nak, selama ini saya menyiapkanmu untuk menjalani hidupmu. Hidupmu.”

Dan dua dialog itu ditengahi apik di kepala saya dengan ucapan Rene pada Yoshuke, “Saya jadi menyadari betapa bersyukurnya saya memiliki ayah yang menginginkan saya jadi diri sendiri.”

Kemudian saya teringat Tara yang walau mendapat dukungan penuh dia senantiasa merasa sendiri. Pasca ayahnya meninggal dia justru dipindahkan ke kota kecil bersama oma opanya sedangnya ibundanya melakoni studi S2 di Inggris. Dan pada malam sebelum keberangkatan ke Jakarta si ibu hanya mampu memberi dukungan lewat text message. Mama datang atau tidak, Tara tetap harus memberikan yang terbaik. Si anak menjawab tak kalah mengabdi, Mama datang atau tidak, Tara tetap akan bermain untuk mama.

Harus saya akui, sosok Titi Rajo Bintang yang saya ketahui sebelumnya berperan sebagai Rene dalam filmnya, woro wiri dalam imajinasi saya. Memang itu seharusnya hal terlarang bagi seorang pembaca sejati, tetapi saya tidak bisa mengelak bahwa Titi RB justru adalah sosok paling tepat yang bisa ditemukan. Dia menunjukkan kekerenannya dalam bermusik saat menggarap musik untuk film Garuda di Dadaku. Menunjukkan sisi lain keseniannya kala beradu peran di film. Dan kini, di film 12 Menit, dia seolah tengah melakoni otobiografinya sendiri.

Buku ini sukses membuat saya banjir air mata hampir di setiap babnya. Mungkin karena saya sudah menjalani ketiga fase yang terhampar di cerita ini. Remaja labil, wanita mandiri, dan menjadi orang tua. Dan bahkan walau sudah begitu, tetap ada kalimat yang bergaung-gaung di kepala saya. Kalimat lama yang diucapkan Rene pada Elaine juga Lahang, Selesaikan apa yang sudah kamu mulai. Dan selesaikan sampai berhasil. Ya, hidup memang belum berakhir. Maka hiduplah seperti orang hidup, jangan seperti orang mati.[]