Tampilkan postingan dengan label murah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label murah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Desember 2015

RABUku: Harta Karun di Obral Buku

Barang obral tidak selamanya tidak pantas dikonsumsi, bagi dunia perbukuan, banyak sekali alasan buku bagus bisa masuk daftar buku yang diobral. Status halus dari kata lain, ga laku. Makanya, terkadang saya sangat menantikan judul-judul baru di kolom obralan di berbagai toko buku online. Emang kenapa sih buku bagus bisa ga laku?

Salah Desain Sampul
Don’t judge the book by its cover? Di Indonesia, sampul adalah yang utama. Buku dengan tampak punggung doang? Ucapkan selamat tinggal. Pada floor alias lantai toko buku untuk buku-buku baru terdapat sekian puluh judul. Nah, kiranya apakah yang akan membuat calon pembeli berhenti lalu mengambil sebuah buku? Sampulnya. Perlu desain sampul yang outstanding untuk terlihat mencolok-colok di mata pengunjung. Kenapa? Karena kebanyakan pengunjung toko belum tahu mau beli apa di toko buku. Dan buku-buku bagus dengan  sampul yang tidak tepat akan menjadikan dia kawanan obral buku. Dan ketika hal itu terjadi, saya merasa tengah mendapat harta karun.

Salah Finishing Kemasan
Inilah akibat mouth to mouth marketing. Buku bagus tapi cepat bredel itu cepat banget nyebar ke calon pembeli. Niscaya buku yang mungkin melejit di penjualan awal bisa langsung ngedrop penjualannya walaupun di cetakan kedua sudah memperbaiki kualitas kemasan. Too late, bung. Buat saya? Kalau untuk buku anak-anak yaaah ga papalah hehehe ... nanti di-scan or difoto saja biar jadi e-book pribadi.

Salah atau Kehilangan Momen
Buku bagus yang keluar di saat yang tidak tepat juga bisa masuk ke daftar obral dalam waktu singkat. Bukannya apa-apa, tentu tahulah dominasi toko buku di Indonesia, kalau ga bisa buat awal yang baik, melorot sudah jatah penampakannya di toko buku. Dari floor, ke rak dgn tampak depan. Lalu tahu-tahu ada di data komputer tapi ga ada di rak, nah ini yang bikin nyesek. Dan ga semua buku dapat kesempatan kedua untuk semacam re-launch di momen yang lebih baik. Akhirnya, ke manakah buku itu pergi? Ke obralan.

Tema Tidak Populer
Saya termasuk pengggemar buku dengan penggemar spesifik. Setiap penerbitan buku memiliki minimal oplah saat dicetak, nah banyak juga saking spesifiknya, itu buku lammaaaaa banget habisnya. Padahal bukunya bagus sangat. Jadi saya biasanya menambahkan kuota sabar saya. Sabaaaar bentar lagi obraaal.


oplah terlalu Banyak
Nah ini biasa terjadi pada buku bagus yang dipromosikan laku tapi ternyata cetaknya terlalu banyak serinya, sering terjadi pda seri cerita atau aktivitas anak-anak. Akhirnya ada judul-judul yang tidak terserap sama banyak, nah itu dia harta karun saya.

So, siapa yang mau hunting obralan bukuuuu? Akhir tahun banyak yang obral buku loh, tapi jangan sampai akhir bulan banget, kan mau tutup buku juga mereka ^.^



Jumat, 11 Desember 2015

JJS: Nyaman di Hotel Tibera Bandung




Kunjungan ke Bandung di saat suami juga sedang bertugas di sana selama beberapa hari beberapa bulan lalu memang bukan yang pertama kalinya. Hanya saja saya waktu itu baru dua minggu usai melahirkan. Dan karena suami masih bekerja selama kami di sana, hotel yang dia pilih pun yang berdekatan dengan lokasi kerjanya. Tidak hanya letaknya yang menjadi pertimbangan,  harga pun harus bersahabat karena kami biasanya pakai kamar yang paling besar (pertimbangan bawa dua balita dan satu bayi, dan istri yang gampang komplen hehehe), jadi ga mungkin pakai hotel budget yang space-nya juga budget banget hehehe ... Untuk ukuran Deluxe seperti yang saya pesan ini sekarang sedang promo Rp400000/malam loh.


Hotel Tibera terletak di jalan Taman Cibeunying Selatan No. 7, Bandung Wetan.  Posisinya dikelilingi oleh banyak rumah makan dengan tema old fashioned. Maklum masih daerah cagar budaya. Dengan berjalan kaki atau naik becak, bisa mampir ke Museum Geologi dan makan di Yogurt Cisangkuy. Namun memang, jalur hotel ini tidak persis dilalui angkot, sebagai moda angkutan paling praktis di Bandung hehehe ... Cari becak pun harus jalan sekian ratus meter. Bagi yang tidak terbiasa sih mungkin terasa jauh, tetapi alhamdulillah masih didukung dengan trotoar yang mulus dan pohon-pohon besar di kiri kanan jalan. Adem di siang hari, tapi emang gelap banget kalau malam hahaha .... 


Hotel ini terdiri dari tiga lantai tanpa lift. Kami menempati kamar di lantai tiga, untung ga bawa stroller ^^. Hanya dua kamar di situ, keduanya seri deluxe, tapi hanya kamar kami yang menggunakan bathtub. Ya, bathtub cukup untuk memuaskan kesenangan anak-anak bermain air. Jadi, kami biasanya tidak wajib menyewa hotel dengan kolam renang. Toh, biasanya ada berderet tempat yang hendak dikunjungi di luar hotel.  


Namun, ada dua kolam di sini. Satu kolam ikan-ikan kecil dengan dominan rumput air, yang satunya lagi kolam koi. Pojok anak menjadi menarik ketika tengah menanti jemputan. Biasa kan, anak-anak suka tidak sabar mau ke sana dan ke sini. Sedangkan ketika suami masih harus bertemu klien atau kawan di tengah malam, ada kafe di depan hotel yang menurut suami, kopinya enak.

Dari depan pintu kamar kami sih pemandangannya rada ga enak. Alias ketemu atap. Mungkin tingkat tiga ini ekstra yang baru terpikir belakangan kali ya. Hal ini sepertinya disadari oleh pihak pengelola karena ada pojok duduk-duduk yang nuansanya lebih manis. 

Makan pagi disediakan di lantai dua. Ruangannya tidak besar tapi apik. Secara keseluruhan saya memang suka dengan dekorasi yang mereka pilih. Not too much, sweet, light ... semacam itulah. Maklum, bawa anak-anak pecicilan, jadi kalau banyak perintilan tuh malah bikin senewen. 

Kesimpulannya? It's a nice hotel untuk mereka yang suka sesuatu yang asri, tidak ramai, tapi masih di tengah kota Bandung. Hotel Tibera juga menyediakan opsi long staying jadi mungkin bisa kaya kontrakan yang bagus banget kali ya ... Kalau tertarik bisa di-book via applikasi jalan-jalan kesukaan kalian atau telepon langsung ke (022) 7100236. So, mau kemana akhir pekan nanti? 

Jumat, 06 Februari 2015

JJS: 5 Area Bermain Favorit di Mal


Hujan-hujan begini kalau mau berakhir pekan di area terbuka kayanya agak berisiko ya. Apalagi kebanyakan tempat bermain terbuka, sama sekali tidak menyediakan area teduh alias kalau kehujanan ya masalah lo :P So, kalau sudah kehabisan opsi dan anaknya butuh outing (terutama yang ga sekolah formal) biasanya kami bawa ke mal. Bicara soal area bermain di mal sih, lebih nyaman memang di hari kerja, ga rame gituh. Tapi kalau terlampau sepi, anak-anak juga suka cepat mati gayanya. Hehehe ...
Berikut area bermain favorit saya di mal. Mungkin berbeda dengan para orangtua lain. Biasa, saya suka pilih-pilih terutama terkait harga dan kepadatan yang bermain di tempat tersebut. Sengaja pilih yang berbayar, biar beda. Yang gratisan kan setiap hari juga bisa dinikmati di Kalibata City. Dan karena saya tinggal di Kalibata, kebanyakan berada di area Jakarta Selatan.
  1. Funworld di Grand Indonesia
    Sejak bulan puasa lalu, saya sudah kepingin banget tulis tentang tempat ini. Rekomen deh. Awalnya saya menemani suami berbuka puasa bersama rekan kerjanya di kantor lama. Tepatnya di Warung Podjok Grand Indonesia. Saya sudah pikir-pikir, anak-anak bakal main di mana ya. Maklum, ga bisa deh duduk tenang di resto dan makan-makan, selepas itu mereka pasti inginnya main. Seingat saya memang ada wahana Funworld, tapi saya rada grogi dengan harganya dan kualitas permainannya. Soalnya pernah ke tempat dedengkotnya Funworld di MOI kok malah saya merasa banyak kecewanya. Selain tidak variatif permainannya-walau banyak, banyak wahana yang tidak bisa digunakan anak-anak saya. Belum lagi area softplaynya terlarang bagi orangtua. Tempatnya sih tertutup, tapi saya malah parno meninggalkan anak-anak di situ.
    Nah sampailah kami di Warung Podjok yang rupanya memang bersebelahan dengan area bermain anak. Ada semacam area duduk-duduk anak-anak di antara Warung Podjok dan studio foto anak di sana, jadi yah freestyle deh, terserah mereka mau apa, yang penting ga ganggu orang.
    Rupanya area Funworld di sana memang tidak banyak, hanya menyisakan yang besar-besar saja. Maksudnya tidak ada wahana bermain ding dong yang bising itu. Jadi hampir semuanya belum pernah dicoba Malika dan Safir. Dan semua itu hanya terdiri dari lima wahana . Misal, ada kereta gantung, mini kayak, dan kereta.

    Nah, usai berbuka  puasa, Malika dan nge-tek tuh area softplay. Ya suds, saya siapin diri buat nemenin anak-anak. Setelah menggesek kartu Funworld seharga Rp65000,- per orang plus kaos kaki- saya selalu lupa bawa kaos kaki, di tempat kasir, saya pun mendaftar. Setelah melihat-lihat orang-orang yang antri, rupanya orangtua tidak perlu ikut masuk. Saya hanya perlu mendaftar kedua anak saya dan meninggalkan nomor HP jikalau saya bermaksud meninggalkan tempat tersebut. Posisinya pun terbuka dalam artian, dia diapit dua wahana, tapi saya bisa melihat dari depan di mana anak-anak saya berada. Jadi tidak ada spot tersembunyi. Anak-anak yang keluar masuk pun tidak bisa sembarangan. Ada dua penjaga yang menjaga di pintu masuk atau keluar. Anak-anak pun diberi name tag sendiri.
    Saya pikir, weleh kebetulan. Saya ga jadi duduk bosan di sana.
    Awalnya Safir bingung, minta ditemani Amynya. Maklum, kakaknya sudah ngacir duluan. Akhirnya saya pastikan terlebih dahulu apakah Malika ‘megang’ adiknya  atau ga. Setelah itu baru saya tinggal. Eh, rupanya saya jadi bingung mau ngapain hehehe ....
  2. Sandworld di Pejaten Village
    Mau main pasir di pantai tapi khawatir hujan? Ke Pejaten Village aja. Lokasi ini termasuk dekat dari tempat tinggal saya. Banyak orang tidak tahu keberadaan area main pasir ini. Wajarlah, tempatnya mojok di belakang dan biasanya orang-orang berhenti di area bermain softplaynya. Yang terpenting adalah tempat ini sepi. Softplaynya sebenarnya ga buruk, hanya saja kalau ramai itu kok kaya benauwd banget.
    Biasanya hanya ada satu atau paling banyak dua anak di area pasir. Malika dan Safir betah berlama-lama di sana walau awalnya suka agak geli gitu injak-injak pasir. Walau pasirnya tidak benar-benar solid sehingga tidak benar-benar bisa membuat istana pasir, tapi ga tahu tuh  anak-anak, ada saja yang dimainkan di situ.

    Bawa baju ganti ya, soalnya main pasir tapi ga pakai tidur-tiduran di pasir ga seru. Harga masuknya ... lupa saya. Ga sampai  rp30000 per orang/sepanjang hari.
  3. Softplay area di D’Amazin Carribean Kota Kasablanka
    Saya sebenarnya suka malas kalau ke mal besar, biasanya tempat mainnya mihil, seperti lolipop atau chipmunks. Saya sih kalau harga segitu mending ke Phinisi Pasaraya, lebih variatif area bermainnya. Dan ke Kota Kasablanka pun sebenarnya lebih karena penasaran saja ingin ikutan pergaulan (ceilee).
    Tidak seperti Lotte Shop Avenue, saya akhirnya ketemu spot bermain murah meriah buat anak-anak. Itu pun ga sengaja. Gara-gara kuciwa lihat daftar harga Lollipop, kami bawa anak-anak ke D’Amazin Carribean. Sebuah area bermain dingdong. Dingdongnya banyak juga. Yang bisa dimainkan anak-anak balita juga banyak. Eh tapi saya caught a spot, di sudut, rupanya ada area softplay. Spesifikasinya pas buat balita, tidak terlalu besar, tidak terlalu tinggi, dan tidak terlalu ramai. Dan di sebelah area softplay itu rupanya ada semacam bioskop 3d-baru tahu.

    Bayar Rp50000,- per anak sudah termasuk orangtua dan bisa masuk deh. Tapi pakai kaos kaki ya baik anak dan pendamping. Kalau ga bawa ya bayar lagi Rp6000,-.
    Isinya ada area terowongan dan panjatan hingga tiga tingkat, perosotan dari yang mudah hingga yang ulir, dan ada juga main mandi bola. Kondisinya buat saya sih cukup terawat dan bersih. Jadi sekarang saya ga mati gaya lagi kalau ke Kokas hahaha ....
  4. Phinisi Pasaraya Blok M
    Ah, this is my favorite. Okelah harganya mihil, Rp170000,- per anak, beda tipis sama lollipop. Tapiiii ... selain mereka juga punya area panjatan bin terowongan tinggi-tinggi dan naik kereta sepuasnya, carrousel sepuasnya, mereka juga punya area lain. Ada bioskop yang rutin jadwalnya, ada pentas teater, ada kelas menari, melukis, membatik, bagi mereka yang sudah di atas 5 tahun, ada area batita yang luwas sehingga bisa  leluasa kasih makan anak atau sekadar ngobrol sama teman-teman kalau datang ke sana berkelompok—biasanya untuk breaktime  saya bawa anak-anak ke sana, lalu ada wall climbing, dan ada pojok kreativitas seperti melukis layang-layang, kreasi kertas lipat, dan mewarnai. Pokoknya ke sana dari pagi sampai sore pun ga merasa rugi. Kalau kehabisan makanan, ada kafetarianya juga kok. Toilet anak-anaknya juga ramah anak. Love it! Oh iya, jangan lupa, kaos kaki.

  5. Dino Park di Kalibata
    Dan kalaupun hujan sudah turun sejak malam hingga pagi lalu lanjut ke siang, agak malas ya mau ke mana-mana yang jauh. Nah, saya kembalilah ke andalan tempat tinggal saya. Dino Park. Sebenarnya ada dua Dino Park yang letaknya bersebelahan, satu di Kalibata City Square, dan yang lain di Plaza Kalibata. Nah, kalau ini murah meriah sajalah, Rp25000,- per orang dan harga hari biasa. Yah perawatannya ga kelas satu siy. Bola-bola di mandi bola sudah pada penyok dan kotor. Jaring-jaringnya sudah ada yang putus. Pencahayaannya kayanya kurang. Tapi so far masih aman. Lumayanlah dari pada bosan ga ke mana-mana saat akhir pekan. Maklum, emang belum pada sekolah, jadi ingatnya kalau akhir pekan bisa jalan-jalan hehehe. ....
    Yak, segitulah info dari saya. Mungkin ada yang jadi favorit anak-anak Anda?

Minggu, 18 Januari 2015

HOMYnggu: Merindukan Pasar Kaget




Hari Minggu begini biasanya kami sekeluarga tidak ada jadwal jalan-jalan. Istirahat di rumah saja alias malas-malasan. Namun, seandainya di hari Sabtu kami pun sudah tidak ke mana-mana, kami sedikit mengganti acara makan pagi. Biasanya ketika suami ngopi (sekalian ‘ngasap’) di bawah, anak-anak ikut dan kami akan main lebih lama dari hari biasa. Berganti-ganti tower, mencoba berbagai jenis playset berbeda, hingga pukul 10. Nah, kalau hal ini sudah dilakukan di hari Sabtu, berarti hari Minggu adalah saatnya ke ... Pasar Kaget.


Pasar kaget Kalibata mengambil jalan mulai dari persis belokan ke arah STEKPI (sekarang namanya Universitas Trilogi) dan meneruskan cabang jalan mengelilingi komplek DPR. Pasar kaget ini semakin ramai penjual dan pembeli terutama disebabkan dengan populasi Kalibata City memang besar. Banyak yang mengajak keluarga sarapan pagi sambil jalan pagi bersama keluarga ke sana. Memang lebih enak ke sana pagi-pagi karena pasar kaget sudah kosong dan bersih ketika jam menunjukkan pukul 3 sore dan karena belum terlalu padat pengunjung—biasanya mereka makan dulu baru lihat-lihat. Namun, beberapa minggu lalu, setelah saya mengendap-endap keluar unit mumpung anak-anak masih tidur hendak menuju pasar kaget, kagetlah saya. It’s gone! Bahkan tenda-tendanya pun tak ada. Apakah karena hari itu hujan? Ah, tapi kan biasanya tenda sudah dibangun pada malam minggu.


Dengan kecewa tak membawa satu kresek plastik pun, saya tanya ke teman sekaligus tetangga. Oh rupanya sudah beberapa minggu pasar kaget tidak beroperasi bahkan lokasinya dijaga oleh Satpol PP. Kenapa oh kenapa?



Walau saya termasuk orang yang taat aturan, tapi saya kehilangan pasar kaget. Pasalnya di sana menyediakan barang-barang murah. Yah ibarat ITC pindah lah. Soalnya PGC saja masih lebih mahal daripada ITC Kuningan. Dan masih banyak barang-barang pasar. Di sini memang dekat pasar, tapi jalan ke sananya horor, ituloh motornya seliweran ga jelas. Kalau di pasar kaget kan agak steril. Dibilang agak karena suka ada saja motor (teteup ya motor) nyelip-nyelip lewat situ. Entah pedagang entah penghuni di belakang komplek DPR. Mau fashion murah meriah, ada. Kapan lagi bisa beli celana main anak-anakseharga Rp5000,-? Atau frame ala minimalis Rp10000,-? Atau Rp8000,- bisa pilih dua jenis mainan. Mau yang second juga ada. Biasanya yang bermerk. Atau bisa nemu mahasiswa buka koper sambil jualin bajunya. Hery saja, yang minimal beli baju kudu di distro, malah nyari kemeja kerja di sana. Ketemu lagi. Sedangkan untuk baju anak-anak update bingit, malah jadi susah kalau sedang mencari kaos bergambar karakter yang sedang tidak populer. Semisal, demam angry bird, di mana-mana gambar burung. Beberapa bulan kemudian berganti demam minion, pasar kaget tetiba cerah. Kuning semua, bo! Atau ketika booming Hello Kitty, pinky poll deh! Kaya sekarang nih, frozen aja lagi, susah mau cari baju cowo jadinya. Padahal nunggu tema Big Hero 6 ada kek yang nongol.


Pasar kaget sendiri sempat happening banget tahun lalu. Ketika bulan ramadhan, pasar kaget tidak hanya buka sejak minggu pagi, melainkan sejak Sabtu sore hingga Minggu sore. Sayangnya saya baru tahu beberapa hari menjelang lebaran, hahaha .... godaannya ....


Bukan hanya fashion murah dan jajanan, pasar kaget juga menyediakan hiburan lain. Ada arena bermain kecil-kecilan, mandi bola dan kereta rute mini alias muter-muter doang juga ada. Penjual ikan saja mampu menyedot kerumunan anak-anak karena mereka bisa ambil sendiri ikannya dengan tongkat jala di kolam karet ukuran kecil. Binatang juga dijual di sana, tapi saya malah ga tega lihat anak ayam dan keong diwarna-warniin. Kalau sudah sumpek di dalam pasar kaget tapi masih ingin main, nah naik delman gih. Ada yang mangkal di sana. But again, enak pagi, kalau sudah siang kasihan kudanya jadi ikutan ngantri macet.


Macet? Oh iya. Tapi bukan macet karena orang jualan di pinggir jalan, karena area jalanan protokol bersih. Hanya saja saking banyaknya yang datang, jadi ya mobil harus melambatkan laju untuk penyeberang jalan (Cuma di satu spot juga bisa nyebrangnya) dan angkot yang sengaja lelet buat ambil penumpang. Parkiran? Awalnya motor banyak diparkir di pinggir jalan, tetapi kemudian ditertibkan akhirnya semua motor harus parkir di area kosong di samping kali. Masih macet juga. Padahal ga banyak mobil parkir loh. Seperti yang saya bilang sebelumnya, pasar kaget mungkin banyak dikunjungi penghuni Kalibata City dan sekitarnya, jadi ga perlu mobil, tinggal jalan kaki (atau naik motor).


Ah, saya harap pasar kaget dibuka lagi.  Soalnya lagi menata ulang kamar anak. Mau beli walldeco stiker yang Cuma rp15000,- an itu (emang sih di pasar gembrong ada, tapi ke sana kan pakai ongkos, cuy) sama sprei anak-anak yang gambarnya lebih cepat updatenya ketimbang toko online. Hmmm ... kira-kira hari sudah buka belum, ya?


#kangen

Minggu, 24 Agustus 2014

HOTEL REVIEW: NEW METRO HOTEL SEMARANG

Kalau dipikir-pikir enak juga ya punya saudara atau teman yang asli daerah tertentu. Jika sedang ada rezekinya bisa jadi alasan untuk keluar kota bareng keluarga. Kali ini, tujuan pernikahan di Semarang. Ini kali kedua datang ke Semarang untuk alasan pernikahan. Dan sudah tiga kali saya ke Semarang, hanya saja baru kali ini saya menginap di hotel.

Suami yang carikan. Urusan hotel memang saya serahkan padanya. Urusan saya adalah apa yang harus dibawa selama beberapa hari di Semarang. Mana yang lebih ribet? Ah, ga usah dihitung hehehe.



Metro Hotel Semarang terletak di Jl. Haji Agus Salim 2-4 Semarang 500139. Secara posisi, hotel ini berada di persimpangan. Di depannya ada pasar Johar dan tidak jauh dari situ ada Masjid Agung Semarang (beda loh ya dengan Masjid Agung Provinsi). Alasan suami memilih di situ adalah walau letaknya sebenarnya ujung ke ujung dari lokasi pernikahan yang berada di daerah Sumurboto atau biasa disebut bagian atas atau Selatan Semarang, tetapi kami akan pulang menggunakan kereta pada minggu pagi. Nah, karena pagi-pagi banget, ga mau lah kita ketinggalan kereta macam di Bandung tempo hari. Maklumlah bawa bocah-bocah. Nah, hotel ini tidak jauh dari Stasiun Tawang, pakai becak pun bisa. Sebenarnya ada sih hotel di seberang stasiun Tawang, tapi daerah di depannya suka banjir rob dan akses ke tempat wisatanya ga semudah di Metro Hotel.

Metro Hotel adalah salah satu hotel tertua di Semarang, jadi maklum gedungnya jadul. Beda jauh dengan banyak sekali hotel baru di Semarang yang dari desainnya sangat modern. Lampu luarnya dominan kuning, temboknya coklat, jadi yah sephia gitu deh. Interior lobinya lebih banyak menggunakan pendekatan Tionghoa ketimbang Belanda. Namanya juga Semarang.

Kami mendapat kamar superior karena diketahui membawa dua anak. Harganya Rp398000,- per malam (sudah termasuk tax kayanya). Begitu kami masuk ke kamar 2224 itu, saya cukup terkesan. Yah, walau katanya hotel tua tapi baunya ga tua. Bahkan ketika saya leyeh-leyeh di karpetnya pada dini hari sambil nge-net, ga tercium sedikit pun bau apek.

Lagi-lagi kami mendapat kamar hotel yang ukurannya lebih besar dari unit kami di Kalibata (itu mah tempat saya aja yang kekecilan). Ada satu tempat tidur ukuran gede banget. Dan sebuah sofabed. Tadinya suami akan tidur di sofa, tapi karena kasurnya pun lebar, kita berempat muat loh tidur di situ dan masih terasa lega. Beda ya bo, sama di rumah. Aih noraklah saya.
Kamar mandinya cukup praktis alias sempit. Pas bathtub, kloset dan wastafel. Emang dicari hotel yang ada bathtubnya, buat hiburan anak-anak.

Yang saya suka dari hotel lama adalah, AC nya ga kelihatan. Jadi saya ga perlu lihat boks AC karena mereka menggunakan AC tanam. Awalnya malah bingung bagaimana mengatur suhunya karena dingin banget. Ternyata dipasang di suhu 5 derajat Celcius, eh bujug. Ketika sudah dinaikkan ke 25 derajat Celcius pun saya kedinginan pada dini hari. Ya suds, saya matikan saja. Dan dinginnya masih mengendap hingga siang.

Penempatan lampunya juga efisien. Jadi yah ga model minimalis modern yang bentar-bentar pasang lampu kecil. Maklum, agak bete kalau terlalu kekuning-kuningan. Yang rada ga sepakat sih channel tivinya. Pakai kabel tv sih, tapi sedikit. Disney pun tak ada. Starworld apalagi. Adanya channel dewasa seperti HBO dan FOX. Nah yang ini masih mending di rumah deh walau remotenya lagi rusak hehehe ....

Sayangnya, karena mendapat kamar di lantai dua, view dari jendela yang lebar itu ga cantik. Terlalu dekat dengan kanopi hotel. Sehingga pandangan kami setara dengan tinggi kabel-kabel listrik yang melintang di jalan. Padahal kalau dari sisi, ini sisi yang tepat untuk melihat matahari tenggelam.

Secara umum menyenangkan lah. Hanya sempat kejadian salah informasi, dikiranya kami hanya menginap semalam, jadilah kami tidak bisa mengakses kartu kamar usai pulang jalan-jalan. Saya sendiri tidak sempat mengeksplor bagian lain dari hotel ini karena mengambil paket nonbreakfast.

Tempat ini rupanya juga dijadikan tempat acara wisuda. Mungkin ruang serba gunanya cukup luas untuk itu.

Oh iya, ada satu kejutan. Saat check out, kami ga jadi naik becak karena hotel memberikan pelayanan antar ke stasiun. Gratis. Aih, terima kasih.

Bolehlah balik lagi ke sini ^^

Sabtu, 16 Agustus 2014

Hobiku Tak Lagi di Atas Kertas

Dalam suatu pertemuan, seorang pengajar memberi perintah, "bangun dan temukan orang yang telapak tangannya sama besar dengan Anda. Beri salam lalu katakan nama dan hobi Anda." PRIIIT.
Saya pun bangkit dan mulai mencari, "Halo, nama saya Melati dan hobi saya menulis."
"Halo, saya ****. Hobi saya jalan-jalan."
"Eh, saya juga suka jalan-jalan ... " mata lawan bicara saya berbinar "tapi ga pernah ..." lawan bicara saya pun kemudian terlihat seolah ketiban seember air mata.

"Gaji lo pasti gede ya, jalan-jalan ke luar negeri melulu." tukas saya suatu hari pada sahabat saya yang update statusnya selalu share foto di luar negeri. Dalam hati ingin menambahkan, kok gue ga pernah ditraktir sih?
"yah, elo, itu paket murah kali. Makanya sering-sering lihat situs AirAsia, suka ada promo. Ke Thailand bisa cuma dengan ratusan ribu."
Eh? Iya ya? Kok ga beda jauh sama harga tiket terbang domestik?

Saya memang bukan orang yang suka memantau harga tiket karena ga selalu terkoneksi internet. Lagi-lagi ini hanya alasan saya. Karena ketika saya akhirnya mem-follow twitter AirAsiaID, saya  disodorkan dengan berbagai tawaran menggiurkan. Aiiih ... Pantesan ajaaa ... Sekarang yang susah bukan cari tiket murah, tapi cari jadwal cuti =P


Mama saya pun turut kecipratan informasi ini. Maklum sejak tak lagi bisa menggunakan armada bus pilihannya menuju kampung kelahirannya di Lintau, Sumatera Barat, kondisi mama mirip seperti saya. Terkurung dalam stigma bahwa tiket pesawat itu mahal dan tiba-tiba bengong sendiri melihat adik-adiknya mondar-mandir Padang-Jakarta-Padang.

Bagi saya bisa mudik dengan harga promo AirAsia mah bukan sekadar penghematan, melainkan banyak hal yang tidak bisa diukur dengan uang. Pertama, tidak ketemu jalanan rusak khas lintas Sumatra. Kedua, ga was-was saat melewati perkebunan karet terutama saat menjelang magrib. Ketiga, saya tidak perlu membawa obat anti mual saat menghadapi rute penuh kelok dan konsisten ngebut. Penting banget itu. Apa enaknya berada dalam perjalanan yang ingatannya timbul tenggelam akibat efek mengantuk dari obat tersebut?

Ya, saya tidak pernah mabuk udara. Saya sangat menikmati terbang dengan segala turbulensinya. Merasakan keriuhan lalu lintas udara. Bergaul lebih dekat dengan awan dan alam mimpi. Tidak sabar untuk membawa anak-anak menikmati perjalanan dengan pesawat terbang untuk pertama kalinya. AirAsia yang akan jadi saksi bisunya =) Seperti seorang kakak (hanya beda 6 tahun dengan usia si sulung).

AirAsia sudah membuat sebuah kemewahan terasa kian wajib dengan harga murahnya. Kini, saya bisa patungan dengan beberapa teman untuk sebuah hadiah perkawinan seorang sahabat berupa tiket liburan ke negara tetangga. Sering terjadi, sebelum tiket gratis di tangan maka what so called continuously travelling tidak akan pernah terjadi. AirAsia menjadi pemikat sekaligus candu pun kemudian sahabat sejati saat hendak melakukan petualangan baru atau sekadar pulang.

Kini tidak ada lagi momen 'bokis' ketika SD terulang. Saat kita mengisi kolom favorit, misalnya makanan favorit, saya yakin banyak dari kita yang menuliskan berbagai jenis makanan aneh dengan selera internasional. "makanan favoritku, spageti, pizza dan burger." Ini yang lagi hits waktu saya duduk di bangku sekolah dasar. Halah, ketahuan jadulnya. Padahal sehari-hari makan semur ayam dan bayam, hehehe ... Gimana mau jadi favorit kalau hanya dimakan setahun sekali? 

Begitu pula dengan hobi. Dan bersyukur AirAsia telah menyadarkan saya bahwa jika mengaku hobi jalan-jalan ya harus sering jalan-jalan dong ^.^ Ada AirAsia ini. Ke mana-mana jadi lebih muraaah. Dan setelah sekian puluh tahun berlalu kini hobi saya tak lagi sekadar keterangan profil di atas kertas tetapi sudah mewujud menjadi cerita-cerita perjalanan dan petualangan yang mengiringinya.