Kata kerja 'pulang' dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pergi ke rumah atau ke tempat asalnya. Atau bisa juga menggunakan kata 'kembali (ke)', atau 'balik (ke)'.
Dulu, saya bergantian menggunakan pilihan kata di atas ketika berpamitan dengan teman-teman saya. Menyudahi percakapan ringan yang menari-nari di udara menemani perjalananku pulang. Kata 'pulang' saya tujukan pada rumah orangtua saya di Tebet yang telah saya tinggali sejak usia empat tahun. Sejak saya TK, Sekolah Dasar, SMP, SMU, hingga kuliah dan kemudian bekerja, saya selalu pulang ke Tebet. 'Pulang' bagi saya adalah kembali ke kamar saya. Istana imajinasi saya.
Hingga kemudian saya segera menyetujui usulan petinggi kantor untuk dipindahkan ke lini penerbit lain yang bermarkas di Bandung. Waktu itu saya berumur 25 tahun. Tidak pernah melakukan perjalanan dinas lebih jauh dari Bandung. Hanya satu kali travel ke luar kota dalam rangka liburan bersama teman. Apalagi nge-kost.
Sebuah kondisi yang agak ironi mengingat kedua orangtua saya menghabiskan belasan tahun merantau di negeri orang. Sedangkan anak-anaknya baru keluar rumah induk setelah menikah, kecuali saya.
Toh, keberanian ini juga muncul bukan tanpa alasan. Saat itu saya patah hati. Dan berada di Jakarta sama dengan berada di dekat dengan sumber patah hati. Saatnya menutup buku. Berharap memulai lagi dari halaman nol di buku yang kosong.
Lalu pergilah saya ke daerah yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibunya. Hal yang membuat saya serasa pemeran Lost in Translation. Di Bandung, saya merasa seperti berada di Jakarta versi mobile. Ketika satu acara bisa dihadiri oleh sebagian besar warga Bandung. Tidak seperti Jakarta. Sepenuh apa pun tempat acara berlangsung, itu hanya sebagian kecil. Acara besar berdampingan dengan acara kecil, tentukan sendiri komunitasmu. Ya, di Bandung saya bisa mendaftarkan diri dalam komunitas tertentu dengan mudah. Tidak ada sela-sela hampa nan lelah. Bandung memang kotanya anak muda, tempat jiwa kreatif meluap dengan gembira. Dan usai mengekspresikan jiwa lepas itu, di malam hari saya beralih ke kamar kos saya yang berada di pinggir kota Bandung. Tempat bintang bersinar lebih terang, terlihat lebih ramai. Kelipnya seolah mengikuti nada gemerisik padi yang melambai berat juga gemulai. Membelai kuping saya dengan nyanyian Neverland. Membuat saya terbuai dan mimpi indah.
"Mau balik dulu ke Bandung," ujar saya saat mencium tangan orangtua. Rasanya seperti berkhianat. Meruntuhkan pujian akan sebuah rumah dengan menggunakan kata "balik" untuk sebuah kamar sewaan kecil. Namun, toh mungkin memang sudah takdirnya, karena ketika saya bertolak ke Bandung kamar saya ditempati oleh sepupu sebaya saya yang tengah menjalani kemoterapi untuk kedua kalinya. Dia, kakaknya, dan ibunya. Mengungsi dari tempat tinggalnya di Bekasi agar lebih dekat dengan lokasi pengobatan.
Sepupu saya menjadi alasan saya tidak larut dalam patah hati ketika kembali ke Jakarta. Dia menikmati setiap cerita saya sebagai 'turis' di Bandung. Dia pun sejatinya masih mengurus skripsi di Semarang. Tawanya baru terdengar jika saya ada. Seolah menertawakan keudikan kami sebagai warga kota padat penduduk.
Tidak seperti dua kakak saya yang bertolak ke Inggris dan Australia lalu menetap di sana selama bertahun-tahun, saya hanya perlu tujuh bulan untuk kembali ke Tebet. Kali ini, kepulangan saya terasa berbeda. Bukan. Bukan dari barang bawaannya. Bukan dari sumber patah hati yang sudah menghilang. Melainkan melihat kamar saya yang kosong. Ya, sepupu saya telah berpulang ke pelukan pencipta-Nya. Sang agen travel akhirat, malaikat Jibril, telah mengantarkannya ke rumah sejati. Pulang ke tempat jiwa-jiwa suci berada. Amin.
Ketika saya kembali membuat cerita baru di Jakarta, sepupu saya tak perlu lagi terkatung-katung dalam titik tertentu. Pun dia tak perlu lagi kembali ke titik nol, karena dia sudah mencapai tanda tak hingga. Selamanya.
Selasa, 25 Februari 2014
Minggu, 23 Februari 2014
Belajar Rendah Hati dari Guru
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, anak mama, Dara dan Ati. Mama bersyukur kepada Allah dan berterima kasih atas bantuan kalian pada Sabtu. Semoga Allah membalas perbuatan kalian berlipat ganda dan terima kasih pada suami-suami kalian."
Ini isi sms dari mama saya malam ini. Dua puluh lima tahun yang lalu, saya tidak terpikir bahwa ibu saya akan sanggup mengatakan hal semacam ini pada anak-anaknya. Apa pasal?
Dalam lima bulan belakangan kedua orangtua saya yang selalu saya ceritakan sebagai sosok otoriter saat kecil, menunjukkan aksi dan reaksi yang tidak saya sangka akan mereka lakukan. Maklum, saking otoriternya, kami bersaudara sudah biasa melakoni monolog dengan tema "apa yang akan mama/papa katakan". Saking sudah ketebaknya.
Dan ucapan 'terima kasih' yang ditulis khusus itu juga terlihat istimewa karena Mama nyaris tidak pernah mengatakannya. Atau mungkin sudah pernah, hanya saja kenangan lain menimpanya. Saya dibesarkan dengan doktrin, ANAK HARUS MEMBALASBUDI KE ORANGTUANYA DAN SEJATINYA AMALAN ORANGTUA PADA ANAKNYA TAK TERBALAS. Saya dulu speechless mendengarnya, malah jadi sewot, "maksud lo, gue jadi budak?"
Lalu saya memutar balik ingatan saya perlahan. Mencari tahu kapankah titik balik ini terjadi. Satu hal yang pasti adalah dipicu ketika papa saya berhenti bekerja sedangkan mama sudah mendekati masa pensiun dan masih ada saya, si bungsu, yang hendak masuk SMU. Mungkin di sini masa klimaksnya.
Saat itu saya baru melihat mama mengucap alhamdulillah pada beberapa lembar uang lima ribuan yang dia terima usai mengantar susu kedelai buatan sendiri pada rekan-rekannya di bekas kantornya (mencari sepeser uang yang kemudian bahkan saya teruskan ketik saya bekerja). Padahal belum lama berlalu, mama adalah peraih gaji tertinggi di antara rekan-rekannya itu. Seorang kepala perawat yang disegani puluhan anak buahnya, dihormati para dokter.
You know, mengucap hamdalah itu memerlukan kerendahan hati loh. Jadi, saat itu saya merasa itu agak berbeda dari pencitraan mama selama ini.
Lalu kemudian, hal-hal remeh temeh yang tidak terduga mulai muncul di kedua orangtua saya. Saya jadi penasaran.
Dan setelah melakukan 'riset-risetan', saya tiba di sebuah kesimpulan, bahwa citra 'rendah hati' ini muncul dan awet karena kedua orangtua saya mulai ikut pengajian.
Sebelum berhenti kerja pun sebenarnya mereka sudah ikut pengajian, terutama papa. Namun, hasilnya dulu lebih terlihat negatif di saya. Bisa jadi itu karena posisi yang mereka sandang berdampingan dengan status orangtua dari empat anak.
Seperti saya saat ini. Well, minus jabatan. Sebagai orangtua, saya mau tak mau harus jadi orang yang paling-paling. Kan, katanya ibu adalah sumber ilmu pengetahuan pertama. Namun, saya kok merasa, jika saya terus mempertahankan status saya ini, saya akan lupa diri. Dan ketika sudah lupa diri, siapa yang akan tahu akan jadi apa anak-anak saya nanti.
Ikut pengajian dengan seorang guru (yang benar) memang dianjurkan. Malah kalau perlu beberapa guru, untuk memperluas wawasan. Apalagi orang-orang tua seperti mama papa saya tidak terpapar berita setiap detiknya.
Guru menjadikan mereka rendah diri. Berbeda dengan atasan yang selalu meminta kinerja maksimal dan merasa bahwa semua uang yang telah mereka berikan adalah impas. Toh, ternyata tidak. Seorang guru sejati terlihat lebih banyak memberi dengan ilmunya ketimbang infak yang kita berikan padanya. Apalah lagi seorang guru agama.
Yah, memang siy ada masa-masa noraknya. Ingatkah kita sewaktu SD, semua perkataan guru kita dipatuhi sekali, walau orangtua sebenarnya juga mengatakan hal yang sama. "kata bu guru .... " Rasanya bangga bukan main jika berlaku seperti yang diajarkan guru kita.
Seperti mama sekarang. Masuk semua
perkataan ustad-ustad yang terutama muncul di radio suka ga jelas. Itu loh, yang semua dikaitkan dengan isu agama. Yah, macam itu lah. Dan jika saya balas, mama akan menganggap saya tidak agamis. Saya sudah tidak heran, papa dulu juga begitu. Beliau paling hapal di mana cari ATM pahala.
Hehehe, saya mungkin merasa geli melihat orangtua saya, bisa jadi di luar sana ada yang menertawakan saya pula karena imannya masih cetek tapi sok belagu.
Ya saya menikmati semua prosesnya saja. Dan semoga kedua orangtua saya mendapatkan usia yang sarat berkah dan Allah selalu melindungi setiap napas mereka dari bisikan setan.
Ini isi sms dari mama saya malam ini. Dua puluh lima tahun yang lalu, saya tidak terpikir bahwa ibu saya akan sanggup mengatakan hal semacam ini pada anak-anaknya. Apa pasal?
Dalam lima bulan belakangan kedua orangtua saya yang selalu saya ceritakan sebagai sosok otoriter saat kecil, menunjukkan aksi dan reaksi yang tidak saya sangka akan mereka lakukan. Maklum, saking otoriternya, kami bersaudara sudah biasa melakoni monolog dengan tema "apa yang akan mama/papa katakan". Saking sudah ketebaknya.
Dan ucapan 'terima kasih' yang ditulis khusus itu juga terlihat istimewa karena Mama nyaris tidak pernah mengatakannya. Atau mungkin sudah pernah, hanya saja kenangan lain menimpanya. Saya dibesarkan dengan doktrin, ANAK HARUS MEMBALASBUDI KE ORANGTUANYA DAN SEJATINYA AMALAN ORANGTUA PADA ANAKNYA TAK TERBALAS. Saya dulu speechless mendengarnya, malah jadi sewot, "maksud lo, gue jadi budak?"
Lalu saya memutar balik ingatan saya perlahan. Mencari tahu kapankah titik balik ini terjadi. Satu hal yang pasti adalah dipicu ketika papa saya berhenti bekerja sedangkan mama sudah mendekati masa pensiun dan masih ada saya, si bungsu, yang hendak masuk SMU. Mungkin di sini masa klimaksnya.
Saat itu saya baru melihat mama mengucap alhamdulillah pada beberapa lembar uang lima ribuan yang dia terima usai mengantar susu kedelai buatan sendiri pada rekan-rekannya di bekas kantornya (mencari sepeser uang yang kemudian bahkan saya teruskan ketik saya bekerja). Padahal belum lama berlalu, mama adalah peraih gaji tertinggi di antara rekan-rekannya itu. Seorang kepala perawat yang disegani puluhan anak buahnya, dihormati para dokter.
You know, mengucap hamdalah itu memerlukan kerendahan hati loh. Jadi, saat itu saya merasa itu agak berbeda dari pencitraan mama selama ini.
Lalu kemudian, hal-hal remeh temeh yang tidak terduga mulai muncul di kedua orangtua saya. Saya jadi penasaran.
Dan setelah melakukan 'riset-risetan', saya tiba di sebuah kesimpulan, bahwa citra 'rendah hati' ini muncul dan awet karena kedua orangtua saya mulai ikut pengajian.
Sebelum berhenti kerja pun sebenarnya mereka sudah ikut pengajian, terutama papa. Namun, hasilnya dulu lebih terlihat negatif di saya. Bisa jadi itu karena posisi yang mereka sandang berdampingan dengan status orangtua dari empat anak.
Seperti saya saat ini. Well, minus jabatan. Sebagai orangtua, saya mau tak mau harus jadi orang yang paling-paling. Kan, katanya ibu adalah sumber ilmu pengetahuan pertama. Namun, saya kok merasa, jika saya terus mempertahankan status saya ini, saya akan lupa diri. Dan ketika sudah lupa diri, siapa yang akan tahu akan jadi apa anak-anak saya nanti.
Ikut pengajian dengan seorang guru (yang benar) memang dianjurkan. Malah kalau perlu beberapa guru, untuk memperluas wawasan. Apalagi orang-orang tua seperti mama papa saya tidak terpapar berita setiap detiknya.
Guru menjadikan mereka rendah diri. Berbeda dengan atasan yang selalu meminta kinerja maksimal dan merasa bahwa semua uang yang telah mereka berikan adalah impas. Toh, ternyata tidak. Seorang guru sejati terlihat lebih banyak memberi dengan ilmunya ketimbang infak yang kita berikan padanya. Apalah lagi seorang guru agama.
Yah, memang siy ada masa-masa noraknya. Ingatkah kita sewaktu SD, semua perkataan guru kita dipatuhi sekali, walau orangtua sebenarnya juga mengatakan hal yang sama. "kata bu guru .... " Rasanya bangga bukan main jika berlaku seperti yang diajarkan guru kita.
Seperti mama sekarang. Masuk semua
perkataan ustad-ustad yang terutama muncul di radio suka ga jelas. Itu loh, yang semua dikaitkan dengan isu agama. Yah, macam itu lah. Dan jika saya balas, mama akan menganggap saya tidak agamis. Saya sudah tidak heran, papa dulu juga begitu. Beliau paling hapal di mana cari ATM pahala.
Hehehe, saya mungkin merasa geli melihat orangtua saya, bisa jadi di luar sana ada yang menertawakan saya pula karena imannya masih cetek tapi sok belagu.
Ya saya menikmati semua prosesnya saja. Dan semoga kedua orangtua saya mendapatkan usia yang sarat berkah dan Allah selalu melindungi setiap napas mereka dari bisikan setan.
Jumat, 21 Februari 2014
Nonton Konser di MEIS? Hadooooh ...
Bruno Mars mau datang Maret ini? Yes! Terus, Juni nanti Taylor Swift datang ke Indonesia? Yuhuuu, yess!! Di mana, di mana? Di MEIS!!! ck, damn ... :-/
Bagi sebagian besar orang, nonton konser adalah hal menyenangkan yang kudu dilakukan sebelum menikah. Nah, saya terbalik. Menikah, biar gampang kalau mau nonton konser. Maklum, mantan pacar dulu reporter kolom lifestyle.
namun, dunia berputar. Si mantan pacar tidak lagi reporter lifestyle. Dan kini jika si istri hendak pergi, pertanyaan pertama adalah 'anak-anak bagaimana?' -_-
Guess, tidak semua bisa dipaksakan kehendaknya. Dua tahun lalu, saking ngebetnya nonton konser untuk pertama kali, demi boyband Korea, BIGBANG, saya kasih full service buat suami sebagai penjaga dua bocah. Hasilnya? Gue bangkruut ... Itu karena konsernya di MEIS, Ancol.
MEIS atau Mata Elang International Stadium adalah versi indoor-nya pantai festival. Itu loh tempat dugem-dugem di pantai kalau ada DJ luar negeri konser. Tempat ini entah kenapa paling mulus di acc para artis luar negeri buat konser di sana. Padahal dari lokasi, ga ramah ibu-ibu banget! Ini alasannya:
1. Jauh
Ya, jauh banget. Ga hanya jauh dari pusat tapi juga jauh dari jalan raya. Jadi kalaupun mau menggunakan angkutan umum selain taksi bisa dibilang 'masuk bisa keluar sulit'. Taksi yang nongkrong pun mencurigakan semua. Ada kek pool resmi, blue bird kek, gamya kek, taxiku kek ... Kan kasihan para alay-alay yang nonton konser kudu jadi cabe-cabean dulu biar bisa pulang.
Ada sih yang nekat jalan kaki keluar Ancol, ya macet juga di dalam. Tapi di luar itu juga horor. Ancol dikelilingi jalur flyover dengan kali-kali dengan air hitam membentang di kiri-kanan jalan. Dan ... Minim pencahayaan. Ada siy tempat yang ramai lampu di dekat situ ... Night club .. Beuuh ...
Nah, kudu nunggu sampai pagi?
2. Berat di Ongkos
Oleh karena bawa keluarga, saya jadi banyak pengeluaran lain-lain. Ya penginapan (konon kalau ada yang konser di Ancol, hotel di sepanjang jalan Gunung Sahari pada penuh), sewa mobil (biar saya bisa pulang dengan selamat pascakonser), dan biaya lain-lain yang jumlahnya bisa sama dengan harga tiket yang sudah dibeli lewat calo. Malah lebih. Duh, benar-benar deh pengalaman pertama saya =).
Seharusnya pihak Ancol menyediakan angkutan internal yang tetap beroperasi hingga tengah malam. Biar sama-sama enak gitu.
3. Rugi Beli Seat di Balkon
Saya agak terkejut ketika mengetahui bahwa yang namanya seat di balkon itu benar-benar bagian balkon yang posisi duduknya tidak seperti stadium alias tidak miring. Jadilah para penonton meninggalkan kursi mereka dan merapat di pagar balkon. Untung gue ga beli di situ. Festival is the best lah.
4. Sistem Pintu Masuk dan Keluar yang Aneh
Waktu itu saya datang terlambat. Sudah jantung mau copot karena takut kebagian tempat yang ga bakal kelihatan TOP BIGBANGnya, saya jadi keder sama pintu masuknya. Mobil berhenti di lobi, tapi yang nonton kudu ambil pintu dari samping. Jadilah saya yang sudah lama sekali tidak olahraga, berlari masuk keluar cari pintu masuk. Dan MEIS itu settingannya mal. Mungkin ketika belum masuk, sengaja dibuat panjang rutenya biar muat.
Dan ketika konser usai, kita semua keluar dari berbagai pintu tapi begitu turun hanya bisa menggunakan satu akses. Ada satu sisi dengan dua eskalator dan tangga yang lebar di tengahnya. Anehnya, si tangga ditutup. Jadilah kita mengantri eskalator yang sempit dan ga dinyalain pulak. Sengaja dilamain kali ya, biar artisnya bisa aman tentram keluar venue =P
Bagi ibu-ibu kaya saya sudah sibuk lihat jam. Waktu itu, anak yang kecil belum 6 bulan jadi masih bangun tiap 2-3 jam. Jadi, walau konsernya tepat waktu mulai dan selesainya, drama ngantri ini yang bikin malam terasa lammmaaaa ....
Ini sudah alhamdulillah, masih di Jakarta. Lha Justin Bieber? Sentul boook!
Nah yang kaya begini rasanya ingin coba nonton konser BIGBANG di luar negeri. Yang ga ada calo, akses transportasi umum oke (biar jauh dr pusat tapi transportasi oke mah ga masalah), pasti harganya ga beda jauh deeeh ...
Dan ketika saya lihat dua artis muda ini sudah konfirmasi mau datang dan manggung di MEIS, saya hanya bisa tarik pipi ... Siapa yang mau bayarin dan anterin gue, yak =D
*ikutan lomba blog aja dulu kali aaah ...
Bagi sebagian besar orang, nonton konser adalah hal menyenangkan yang kudu dilakukan sebelum menikah. Nah, saya terbalik. Menikah, biar gampang kalau mau nonton konser. Maklum, mantan pacar dulu reporter kolom lifestyle.
namun, dunia berputar. Si mantan pacar tidak lagi reporter lifestyle. Dan kini jika si istri hendak pergi, pertanyaan pertama adalah 'anak-anak bagaimana?' -_-
Guess, tidak semua bisa dipaksakan kehendaknya. Dua tahun lalu, saking ngebetnya nonton konser untuk pertama kali, demi boyband Korea, BIGBANG, saya kasih full service buat suami sebagai penjaga dua bocah. Hasilnya? Gue bangkruut ... Itu karena konsernya di MEIS, Ancol.
MEIS atau Mata Elang International Stadium adalah versi indoor-nya pantai festival. Itu loh tempat dugem-dugem di pantai kalau ada DJ luar negeri konser. Tempat ini entah kenapa paling mulus di acc para artis luar negeri buat konser di sana. Padahal dari lokasi, ga ramah ibu-ibu banget! Ini alasannya:
1. Jauh
Ya, jauh banget. Ga hanya jauh dari pusat tapi juga jauh dari jalan raya. Jadi kalaupun mau menggunakan angkutan umum selain taksi bisa dibilang 'masuk bisa keluar sulit'. Taksi yang nongkrong pun mencurigakan semua. Ada kek pool resmi, blue bird kek, gamya kek, taxiku kek ... Kan kasihan para alay-alay yang nonton konser kudu jadi cabe-cabean dulu biar bisa pulang.
Ada sih yang nekat jalan kaki keluar Ancol, ya macet juga di dalam. Tapi di luar itu juga horor. Ancol dikelilingi jalur flyover dengan kali-kali dengan air hitam membentang di kiri-kanan jalan. Dan ... Minim pencahayaan. Ada siy tempat yang ramai lampu di dekat situ ... Night club .. Beuuh ...
Nah, kudu nunggu sampai pagi?
2. Berat di Ongkos
Oleh karena bawa keluarga, saya jadi banyak pengeluaran lain-lain. Ya penginapan (konon kalau ada yang konser di Ancol, hotel di sepanjang jalan Gunung Sahari pada penuh), sewa mobil (biar saya bisa pulang dengan selamat pascakonser), dan biaya lain-lain yang jumlahnya bisa sama dengan harga tiket yang sudah dibeli lewat calo. Malah lebih. Duh, benar-benar deh pengalaman pertama saya =).
Seharusnya pihak Ancol menyediakan angkutan internal yang tetap beroperasi hingga tengah malam. Biar sama-sama enak gitu.
3. Rugi Beli Seat di Balkon
Saya agak terkejut ketika mengetahui bahwa yang namanya seat di balkon itu benar-benar bagian balkon yang posisi duduknya tidak seperti stadium alias tidak miring. Jadilah para penonton meninggalkan kursi mereka dan merapat di pagar balkon. Untung gue ga beli di situ. Festival is the best lah.
4. Sistem Pintu Masuk dan Keluar yang Aneh
Waktu itu saya datang terlambat. Sudah jantung mau copot karena takut kebagian tempat yang ga bakal kelihatan TOP BIGBANGnya, saya jadi keder sama pintu masuknya. Mobil berhenti di lobi, tapi yang nonton kudu ambil pintu dari samping. Jadilah saya yang sudah lama sekali tidak olahraga, berlari masuk keluar cari pintu masuk. Dan MEIS itu settingannya mal. Mungkin ketika belum masuk, sengaja dibuat panjang rutenya biar muat.
Dan ketika konser usai, kita semua keluar dari berbagai pintu tapi begitu turun hanya bisa menggunakan satu akses. Ada satu sisi dengan dua eskalator dan tangga yang lebar di tengahnya. Anehnya, si tangga ditutup. Jadilah kita mengantri eskalator yang sempit dan ga dinyalain pulak. Sengaja dilamain kali ya, biar artisnya bisa aman tentram keluar venue =P
Bagi ibu-ibu kaya saya sudah sibuk lihat jam. Waktu itu, anak yang kecil belum 6 bulan jadi masih bangun tiap 2-3 jam. Jadi, walau konsernya tepat waktu mulai dan selesainya, drama ngantri ini yang bikin malam terasa lammmaaaa ....
Ini sudah alhamdulillah, masih di Jakarta. Lha Justin Bieber? Sentul boook!
Nah yang kaya begini rasanya ingin coba nonton konser BIGBANG di luar negeri. Yang ga ada calo, akses transportasi umum oke (biar jauh dr pusat tapi transportasi oke mah ga masalah), pasti harganya ga beda jauh deeeh ...
Dan ketika saya lihat dua artis muda ini sudah konfirmasi mau datang dan manggung di MEIS, saya hanya bisa tarik pipi ... Siapa yang mau bayarin dan anterin gue, yak =D
*ikutan lomba blog aja dulu kali aaah ...
Label:
akses,
ancol,
Bigbang,
bruno mars,
ibu,
Konser,
MEIS,
perempuan,
taylor swift
(mencoba) Baca Aturan Pakai
Salah satu kelemahan (atau kemalasan) saya adalah membaca aturan. Semua yang serba urut. Tata tertib, resep, cara pakai, dan semacamnya. Jadi seringlah saya kena tegur di milis yang berbeda-beda untuk aturan yang berbeda-beda pula. Dan karena beda milis/komunitas beda aturan, jadilah saya makin bingung dan makin ga mudeng, satu aturan bercampur dengan yang lain.
Atau ketika hendak ikut lomba blog apalagi SEO, saya yang banyak mengandalkan hp untuk menulis, jadi memutuskan untuk menuliskan kembali segala macam aturan dan link yang harus dipenuhi di buku tulis. Biar mudah ceklisnya.
Konon inilah fenomena men are from mars women are from venus. Ketika wanita dianggap tidak bisa baca peta (eh saya bisa, asal bukan yg online) dan tidak bisa baca manual book (bisa kok, cuma malas tingkat dewa aja *ngeles).
Yang parah adalah ketika urusan orderan kue. Sotoy sudah hapal resepnya, eh ternyata ada yang terlewat. Ya bahannya lah, ya langkahnya lah. Ini efek kebiasaan speed reading juga sih. Padahal resep mah ga pakai aturan induksi atau deduksi. Dan sebenarnya bukan itu yang paling parah, melainkan ketika salah dosis kasih obat ke anak. Syukur dosisnya kurang bukan kelebihan. >.<
Belum lagi urusan elektronik. Hape sudah setahun lebih dibeli mungkin baru tahu 70% fungsinya dan hanya menggunakan 50% fiturnya. Bahkan baru ngeh sudah ada 18 update aplikasi di ponsel, entah sejak kapan.
Mesin cuci baru tahu tata cara isi air, deterjen, kocok, baru masukin kain, setelah setahun dipakai. Selama ini stres sendiri lihat deterjen bergumpal-gumpal. Baru tahu kalau cairan semprotan setrikaan itu tidak boleh digunakan untuk bahan kaos. Masih belum tahu juga cara menghentikan setting alarm di jam tangan. Entah sudah berapa alarm selalu berbunyi di jam 11 siang dan 12 malam. Mungkin sudah setahun. Duh.
Suatu hari abang saya mengirimkan auto tuner sebagai alat bantu menyetem gitar. Dengan tekad bulat, menyiapkan otak untuk memahami aturan pakai dalam bahasa Inggris eh ternyata tidak ada. Tanya ke yang ngirim, bilangnya, "lihat di youtube ajaaa..."
Oke, youtube memang tutorial yang sangat membantu untuk buta cara pakai seperti saya. Maunya diajarin langsung. Seperti membuka tutup botol plastik air minum, saat itulah peran lelaki sangat diperlukan =D
Youtube sudah jadi rekanan saya untuk masalah yang perlu tutorial audio visual. Pertama kali saya menggunakannya sebagai panduan tata cara adalah ketika membeli car seat untuk bayi dan hebatnya tidak ada lembaran cara pakainya. Setelah itu, dia sahabat maya kedua saya. Bukan hanya soal resep dan decorating, saya bahkan memotong rambut sendiri berdampingan dengan video youtube. Para kontributor youtube, you are the best lah. Walau kadang merasa tak percaya diri bertanya soal remeh temeh di youtube.
Ah, jadi pengen upload tutorial di youtube (finding a path to become youtube star =P). Seandainya bisa pakai ponsel ... Eh bisa ga sih?
Atau ketika hendak ikut lomba blog apalagi SEO, saya yang banyak mengandalkan hp untuk menulis, jadi memutuskan untuk menuliskan kembali segala macam aturan dan link yang harus dipenuhi di buku tulis. Biar mudah ceklisnya.
Konon inilah fenomena men are from mars women are from venus. Ketika wanita dianggap tidak bisa baca peta (eh saya bisa, asal bukan yg online) dan tidak bisa baca manual book (bisa kok, cuma malas tingkat dewa aja *ngeles).
Yang parah adalah ketika urusan orderan kue. Sotoy sudah hapal resepnya, eh ternyata ada yang terlewat. Ya bahannya lah, ya langkahnya lah. Ini efek kebiasaan speed reading juga sih. Padahal resep mah ga pakai aturan induksi atau deduksi. Dan sebenarnya bukan itu yang paling parah, melainkan ketika salah dosis kasih obat ke anak. Syukur dosisnya kurang bukan kelebihan. >.<
Belum lagi urusan elektronik. Hape sudah setahun lebih dibeli mungkin baru tahu 70% fungsinya dan hanya menggunakan 50% fiturnya. Bahkan baru ngeh sudah ada 18 update aplikasi di ponsel, entah sejak kapan.
Mesin cuci baru tahu tata cara isi air, deterjen, kocok, baru masukin kain, setelah setahun dipakai. Selama ini stres sendiri lihat deterjen bergumpal-gumpal. Baru tahu kalau cairan semprotan setrikaan itu tidak boleh digunakan untuk bahan kaos. Masih belum tahu juga cara menghentikan setting alarm di jam tangan. Entah sudah berapa alarm selalu berbunyi di jam 11 siang dan 12 malam. Mungkin sudah setahun. Duh.
Suatu hari abang saya mengirimkan auto tuner sebagai alat bantu menyetem gitar. Dengan tekad bulat, menyiapkan otak untuk memahami aturan pakai dalam bahasa Inggris eh ternyata tidak ada. Tanya ke yang ngirim, bilangnya, "lihat di youtube ajaaa..."
Oke, youtube memang tutorial yang sangat membantu untuk buta cara pakai seperti saya. Maunya diajarin langsung. Seperti membuka tutup botol plastik air minum, saat itulah peran lelaki sangat diperlukan =D
Youtube sudah jadi rekanan saya untuk masalah yang perlu tutorial audio visual. Pertama kali saya menggunakannya sebagai panduan tata cara adalah ketika membeli car seat untuk bayi dan hebatnya tidak ada lembaran cara pakainya. Setelah itu, dia sahabat maya kedua saya. Bukan hanya soal resep dan decorating, saya bahkan memotong rambut sendiri berdampingan dengan video youtube. Para kontributor youtube, you are the best lah. Walau kadang merasa tak percaya diri bertanya soal remeh temeh di youtube.
Ah, jadi pengen upload tutorial di youtube (finding a path to become youtube star =P). Seandainya bisa pakai ponsel ... Eh bisa ga sih?
Selasa, 18 Februari 2014
Galau Ikut Lomba Blog
Masih pemula jadi peserta lomba blog nih. Awal-awal semangat lihat info lomba. Hampir semua info lomba pasti ditindaklanjuti. Lama kelamaan makin militan cari infonya dan mulai dihadapkan dengan pilihan-pilihan dari yang yakin ga semisi sampai ke sesuatu yang bikin galau.
Awalnya saya ga terlalu suka ikut lomba, terutama SEO, yang barangnya ga saya pakai. Yah, kaya Alicia Keys jadi desainer blackberry terbaru tapi eksis banget di instagram yang terlihat diunggah dari iphone miliknya. Soalnya saya ga pintar meyakinkan orang. Makanya saya kuliah sastra, bukan periklanan =). Walau sering menggunakan kalimat mengajak setiap kali menulis sinopsis buku yang hendak terbit, tetapi buku itu adalah pilihan saya sendiri dan kami menjalani banyak proses hingga ketemu di proses membuat sinopsis. Ada faktor emosionallah.
Jadi, ketika saya mulai lebih menggali blog info lomba blog, saya jadi mulai pilih-pilih. SEO judi online? Oh God, no. Lomba blog dari perusahaan mobil? Aih, ga punya mobil. Perusahaan motor? Bukan pendukung penambahan motor. Bisnis online? Mulai gamang. Takut menggiring netizen ke lembah penipuan. Online shop? Kalau hadiahnya voucher ga mau ah, ntar ga ada yang bisa kebeli. Pokoknya mulai belagu deh. Serasa artis. Tiba-tiba kangen sama lomba resensi, biar ada alasan beli buku eh tapi dari penerbit mana dulu niy? Hadoooh ...
Dan kegamangan saya mulai beranjak menjadi galau ketika ada lomba blog dengan tema smart dan menarik tapi ... Ah ... Harus tulis profil si investor alias pejabat. Duh, hari gini, jelang Pemilu, pasti banyak sogokan macam ini. Ga benar-benar sogokan sih, pan kita usaha nulisnya. Tapi kalau harus tulis profil ... Hadeeeu ... Gue golput menahun, paaak! Tapi hadiahnya menggiurkan, Pak!
Oh haruskah saya menjadi profesional dan mengubah blog saya menjadi blog komersil? Bukannya memang itu tujuannya? Buhuhuhu ... Saya bingung. Apa alih profesi dulu jadi ikutan lomba foto? Belum bisa pakai kameranyaaa ...
Dan saya pun hanya sibuk men-scroll laman tersebut padahal sudah berderet bookmark lomba blog minta ditindaklanjuti. Masih ngarep kayanya gue =).
Sudahlah, kerjain saja yang ada sekarang.... Dan kembali terpekur menghadap ponsel.
Awalnya saya ga terlalu suka ikut lomba, terutama SEO, yang barangnya ga saya pakai. Yah, kaya Alicia Keys jadi desainer blackberry terbaru tapi eksis banget di instagram yang terlihat diunggah dari iphone miliknya. Soalnya saya ga pintar meyakinkan orang. Makanya saya kuliah sastra, bukan periklanan =). Walau sering menggunakan kalimat mengajak setiap kali menulis sinopsis buku yang hendak terbit, tetapi buku itu adalah pilihan saya sendiri dan kami menjalani banyak proses hingga ketemu di proses membuat sinopsis. Ada faktor emosionallah.
Jadi, ketika saya mulai lebih menggali blog info lomba blog, saya jadi mulai pilih-pilih. SEO judi online? Oh God, no. Lomba blog dari perusahaan mobil? Aih, ga punya mobil. Perusahaan motor? Bukan pendukung penambahan motor. Bisnis online? Mulai gamang. Takut menggiring netizen ke lembah penipuan. Online shop? Kalau hadiahnya voucher ga mau ah, ntar ga ada yang bisa kebeli. Pokoknya mulai belagu deh. Serasa artis. Tiba-tiba kangen sama lomba resensi, biar ada alasan beli buku eh tapi dari penerbit mana dulu niy? Hadoooh ...
Dan kegamangan saya mulai beranjak menjadi galau ketika ada lomba blog dengan tema smart dan menarik tapi ... Ah ... Harus tulis profil si investor alias pejabat. Duh, hari gini, jelang Pemilu, pasti banyak sogokan macam ini. Ga benar-benar sogokan sih, pan kita usaha nulisnya. Tapi kalau harus tulis profil ... Hadeeeu ... Gue golput menahun, paaak! Tapi hadiahnya menggiurkan, Pak!
Oh haruskah saya menjadi profesional dan mengubah blog saya menjadi blog komersil? Bukannya memang itu tujuannya? Buhuhuhu ... Saya bingung. Apa alih profesi dulu jadi ikutan lomba foto? Belum bisa pakai kameranyaaa ...
Dan saya pun hanya sibuk men-scroll laman tersebut padahal sudah berderet bookmark lomba blog minta ditindaklanjuti. Masih ngarep kayanya gue =).
Sudahlah, kerjain saja yang ada sekarang.... Dan kembali terpekur menghadap ponsel.
Seks Bebas Itu Pemerkosaan
Lagi-lagi tulisan terkait kasus Sitok Srengenge. Berhubung pelakunya seniman tulis, jadilah banyak tulisan tentang kasus ini. Sebenarnya sudah lama mau ikutan nulis, tapi tertunda terus. Minggu ini mulai hangat lagi, semacam desakan untuk segera memenjarakan Sitok Srengenge dan mengubah tuntutannya menjadi pemerkosaan alih-alih perbuatan tidak menyenangkan.
Perbuatan tidak menyenangkan? Cuih, apa tuh? Kalau gue tuntut suami atas dakwaan perbuatan tidak menyenangkan karena menaruh benih tanpa kesepakatan yang menyebabkan kehamilan pada istri sendiri, nah itu baru betul.
Pemerkosaan sering harus dibarengi dengan visum selaput dara sobek. Lha, kalau janda, piye? Kalau bukan janda? Ah berarti lo nya aja yang bitchy, begitu? Tabok aja dah.
Belum lagi komentar orang, "dah hamil berarti menikmati dooong." lha kata siapa proses kehamilan ada hubungannya sama kenikmatan? Itu cuma masalah sperma sampai ke indung telur dengan selamat. Dan itu ga pakai otot sadar, lo pikir main football management? Suka esmosi deh lihat komennya, tapi buru-buru tarik napas, karena banyak dari mereka dibutakan oleh anggapan patrialis ini.
Ada banyak link bertebaran soal hal ini. Saya sendiri jadi cenderung hati-hati. Awal kasus ini terkuak, saya adalah salah satu yang ketawa-ketiwi mengomentari hal ini. "servisnya ga memuaskan kali, makanya nuntut." atau "dikiranya anak sastra pasti mau-mau aja, ternyata ada yang ga mau. Salah target dia." hal semacam itulah. Lalu kemudian saya membaca pernyataan salah satu senior saya yang notabene laki-laki dan kemudian membaca soal kondisi si korban, saya jadi menahan diri. God, ternyata banyak pernyataan saya yang justru tidak ramah korban. Padahal ngakunya korban pelecehan seksual dini =/.
Lalu kemudian ada beberapa komentar yang keluar bahwa jika pemerkosaan kenapa juga si korban masih mendatangi Sitok? Sampai hamil lagi. Dan dari situ barulah saya mengingat kembali status saya sebagai korban pelecehan seksual. Untuk masalah ini, bahkan di luar negeri pun masih tidak sensitif. Oprah bahkan harus kampanye khusus akan hal itu. Mengapa? Karena ada jerat di dalam kasus pelecehan dan pemerkosaan. Dan itu tidak hanya bisa terjadi pada anak-anak tetapi juga orang dewasa yang katanya sudah punya pemikiran sendiri.
Coba deh, ada berapa kasus KDRT yang tidak dilaporkan? Buanyaaak. Pernikahan bertahan bertahun-tahun dan masih nambah anak pula. Dan yang termudah bagj masyarakat adalah ... Menyalahkan wanitanya. Menyalahkan korbannya. Dan sedihnya tudingan ini bahkan diucapkan juga oleh kaum wanita. "salah sendiri, lo kok mau aja dipukulin?" "Lo diperkosa? Pulangnya malem sih." bah, kalau gitu sekalian aja pasang plang, WANITA DILARANG MELINTAS SETELAH PUKUL 8 MALAM. KALAU TIDAK, DIPERKOSA.
Jerat semacam ini seringkali hanya bisa dipahami oleh sesama korban. Kenapa saya bilang jerat? Karena walau saya ingin sekali menghampiri kerabat saya yang adalah pelaku pelecehan seksual terhadap saya dan bilang, "Fuck you!" Saya justru menghampiri mereka dengan senyum dan bahkan cipika cipiki. Can you explain that? Saya juga ga bisa. Maka dari itu, jika ada seorang wanita yang kemudian mengambil langkah hukum, sejatinya dia sudah melewati halangan psikologis yang sangat besar. Makanya, dukungan itu penting
.
Kenapa ga mau dinikahi? Coba ya, baca ketentuan pilih suami. Dari agamanya. Bukan dari apakah dia sudah 'bolongin'. Banyak yang berpikir, jika mau dinikahi maka urusan sejatinya selesai. Well, bukan selesai lebih tepatnya melainkan tertutupi dan kemudian menjadi urusan keluarga. Suami perkosa istri? Urusan keluarga. KDRT? Urusan keluarga. Saya kemudian membaca kasus perkosaan bocah di Malaysia. Karena salah satu pihak pelaku terus mendatangi keluarga korban, mendesak untuk menikahkan anaknya, akhirnya jadilah bocah itu menikah dengan pemerkosanya sendiri. Hasil akhir, bocah itu mengalami penyiksaan oleh keluarga mertuanya. Sudah digigit harimau, dimasukin lagi ke kandang yang berisi lebih banyak harimau. Apa yang bisa diharapkan dari seseorang bermental pemerkosa?
Lalu ada yang mengaitkan dengan komunitas Salihara pimpinan Ayu Utami yang sejatinya disebut feminis. Wait, who? Ayu Utami? Bukankah dia bukan penganut pernikahan? Itu yang saya baca di majalah ketika dia memutuskan tinggal bersama kekasihnya. Dengan kata lain, menghalalkan seks asal MAU SAMA MAU. Seperti yang terjadi di mana-mana.
Mau sama mau. Lama-lama saya sebal dengan kata-kata ini.
Feminisme ala Ayu Utami berbeda dengan Saras Dewi. sepanjang ketidaktahuan saya, feminisme Ayu Utami adalah feminisme ala Madonna. (CMIIW yak, jangan jadi alih isu). Ketika wanita lebih berani bicara seks.
Jika menonton Carrie Diaries, isu Madonna ini sangat diangkat. Masa itu adalah masa wanita saat one night stand bisa sama posisinya dengan lelaki. Saya berkuasa akan vagina saya, jadi saya bisa pilih lelaki yang saya suka
.
Dan jika ditelaah lebih dalam, inilah akibat pemerkosaan derajat perempuan oleh laki-laki sejak ratusan tahun lalu. Salah kaprah soal seks. Siapa yang berkuasa akan seks, dialah yang hebat. Oleh karena laki-laki menganggap seks sebagai simbol kejantanan dan karena itu dia berkuasa atas banyak hal termasuk wanita, lalu kemudian terpaksalah muncul perempuan yang berpikir seperti itu demi mendapatkan tempat di dunia. Dan itulah yang disebut pemerkosaan pikiran.
Mungkin ada yang mau membedakan diri dengan menyebut dirinya hanya memberikan seks pada orang yang dicinta. Well to me, tidak akan ada murninya cinta jika belum akad nikah. Dan pastikan nikahnya karena Tuhan, bukan yang lain.
Sebelum saya menikah, dengan beragam pervert menghampiri entah dengan status pacar atau tidak, saya sampai pada pemikiran these men are just treating me like bitch. Saya tidak peduli mereka bilang cinta, karena sebelum menikah kata cinta itu hanya omong kosong. And I let them do that, because I consider myself as a bitch. Because I wasn't the pure one. Dan ada berapa perempuan yang berpikir seperti saya? Banyak. Siapa yang bisa menolong? Hmm ...
Bagi kaum wanita yang memberikan seks sebagai tanda cinta, tanda kuasa, tanda modernitas, tanda apa pun tetapi tidak diawali dengan tanda tangan surat nikah, maka sejatinya Anda adalah korban pemerkosaan. Jangan bangga dengan hal itu. Kenapa? Karena Anda telah memudahkan seorang pria masuk ke lahan yang hanya akan menjadi objek. Tidak pernah menjadi subjek. Mirip kelakuannya sama penyogok proyek. Kasih izin bikin proyek ga ramah lingkunga. Uang sogokan habis, lahan sudah rusak. Siapa yang selaput daranya sobek? Siapa yang hamil? Siapa yang harus aborsi, keguguran, melahirkan? Dan lagi, di antara laki-laki dan perempuan, siapa yang lebih cepat puas? Tips yang beredar lebih banyak soal memuaskan perempuan bukan laki-laki. Kita cuma berbaik hati pada kalian, terlalu baik hati malah.
Tuhan sudah kasih alurnya. Ga usah diubah-ubah. Wong ikut alur saja bisa salah kok (bicara tentang pemerkosaan domestik).
Nah, sekarang gimana? Saya tidak peduli atas alasan apa perbuatan Sitok itu. Ketika dia sudah merayu perempuan lain tanpa izin istrinya hingga bahkan melakukan hubungan intim sebelum menikah, maka MAU TIDAK MAU Sitok harus ditangkap atas pemerkosaan. Bahkan kalau perlu atas pemerkosaan terhadap istrinya yang seharusnya tidak mau hal ini terjadi.
Perbuatan tidak menyenangkan? Cuih, apa tuh? Kalau gue tuntut suami atas dakwaan perbuatan tidak menyenangkan karena menaruh benih tanpa kesepakatan yang menyebabkan kehamilan pada istri sendiri, nah itu baru betul.
Pemerkosaan sering harus dibarengi dengan visum selaput dara sobek. Lha, kalau janda, piye? Kalau bukan janda? Ah berarti lo nya aja yang bitchy, begitu? Tabok aja dah.
Belum lagi komentar orang, "dah hamil berarti menikmati dooong." lha kata siapa proses kehamilan ada hubungannya sama kenikmatan? Itu cuma masalah sperma sampai ke indung telur dengan selamat. Dan itu ga pakai otot sadar, lo pikir main football management? Suka esmosi deh lihat komennya, tapi buru-buru tarik napas, karena banyak dari mereka dibutakan oleh anggapan patrialis ini.
Ada banyak link bertebaran soal hal ini. Saya sendiri jadi cenderung hati-hati. Awal kasus ini terkuak, saya adalah salah satu yang ketawa-ketiwi mengomentari hal ini. "servisnya ga memuaskan kali, makanya nuntut." atau "dikiranya anak sastra pasti mau-mau aja, ternyata ada yang ga mau. Salah target dia." hal semacam itulah. Lalu kemudian saya membaca pernyataan salah satu senior saya yang notabene laki-laki dan kemudian membaca soal kondisi si korban, saya jadi menahan diri. God, ternyata banyak pernyataan saya yang justru tidak ramah korban. Padahal ngakunya korban pelecehan seksual dini =/.
Lalu kemudian ada beberapa komentar yang keluar bahwa jika pemerkosaan kenapa juga si korban masih mendatangi Sitok? Sampai hamil lagi. Dan dari situ barulah saya mengingat kembali status saya sebagai korban pelecehan seksual. Untuk masalah ini, bahkan di luar negeri pun masih tidak sensitif. Oprah bahkan harus kampanye khusus akan hal itu. Mengapa? Karena ada jerat di dalam kasus pelecehan dan pemerkosaan. Dan itu tidak hanya bisa terjadi pada anak-anak tetapi juga orang dewasa yang katanya sudah punya pemikiran sendiri.
Coba deh, ada berapa kasus KDRT yang tidak dilaporkan? Buanyaaak. Pernikahan bertahan bertahun-tahun dan masih nambah anak pula. Dan yang termudah bagj masyarakat adalah ... Menyalahkan wanitanya. Menyalahkan korbannya. Dan sedihnya tudingan ini bahkan diucapkan juga oleh kaum wanita. "salah sendiri, lo kok mau aja dipukulin?" "Lo diperkosa? Pulangnya malem sih." bah, kalau gitu sekalian aja pasang plang, WANITA DILARANG MELINTAS SETELAH PUKUL 8 MALAM. KALAU TIDAK, DIPERKOSA.
Jerat semacam ini seringkali hanya bisa dipahami oleh sesama korban. Kenapa saya bilang jerat? Karena walau saya ingin sekali menghampiri kerabat saya yang adalah pelaku pelecehan seksual terhadap saya dan bilang, "Fuck you!" Saya justru menghampiri mereka dengan senyum dan bahkan cipika cipiki. Can you explain that? Saya juga ga bisa. Maka dari itu, jika ada seorang wanita yang kemudian mengambil langkah hukum, sejatinya dia sudah melewati halangan psikologis yang sangat besar. Makanya, dukungan itu penting
.
Kenapa ga mau dinikahi? Coba ya, baca ketentuan pilih suami. Dari agamanya. Bukan dari apakah dia sudah 'bolongin'. Banyak yang berpikir, jika mau dinikahi maka urusan sejatinya selesai. Well, bukan selesai lebih tepatnya melainkan tertutupi dan kemudian menjadi urusan keluarga. Suami perkosa istri? Urusan keluarga. KDRT? Urusan keluarga. Saya kemudian membaca kasus perkosaan bocah di Malaysia. Karena salah satu pihak pelaku terus mendatangi keluarga korban, mendesak untuk menikahkan anaknya, akhirnya jadilah bocah itu menikah dengan pemerkosanya sendiri. Hasil akhir, bocah itu mengalami penyiksaan oleh keluarga mertuanya. Sudah digigit harimau, dimasukin lagi ke kandang yang berisi lebih banyak harimau. Apa yang bisa diharapkan dari seseorang bermental pemerkosa?
Lalu ada yang mengaitkan dengan komunitas Salihara pimpinan Ayu Utami yang sejatinya disebut feminis. Wait, who? Ayu Utami? Bukankah dia bukan penganut pernikahan? Itu yang saya baca di majalah ketika dia memutuskan tinggal bersama kekasihnya. Dengan kata lain, menghalalkan seks asal MAU SAMA MAU. Seperti yang terjadi di mana-mana.
Mau sama mau. Lama-lama saya sebal dengan kata-kata ini.
Feminisme ala Ayu Utami berbeda dengan Saras Dewi. sepanjang ketidaktahuan saya, feminisme Ayu Utami adalah feminisme ala Madonna. (CMIIW yak, jangan jadi alih isu). Ketika wanita lebih berani bicara seks.
Jika menonton Carrie Diaries, isu Madonna ini sangat diangkat. Masa itu adalah masa wanita saat one night stand bisa sama posisinya dengan lelaki. Saya berkuasa akan vagina saya, jadi saya bisa pilih lelaki yang saya suka
.
Dan jika ditelaah lebih dalam, inilah akibat pemerkosaan derajat perempuan oleh laki-laki sejak ratusan tahun lalu. Salah kaprah soal seks. Siapa yang berkuasa akan seks, dialah yang hebat. Oleh karena laki-laki menganggap seks sebagai simbol kejantanan dan karena itu dia berkuasa atas banyak hal termasuk wanita, lalu kemudian terpaksalah muncul perempuan yang berpikir seperti itu demi mendapatkan tempat di dunia. Dan itulah yang disebut pemerkosaan pikiran.
Mungkin ada yang mau membedakan diri dengan menyebut dirinya hanya memberikan seks pada orang yang dicinta. Well to me, tidak akan ada murninya cinta jika belum akad nikah. Dan pastikan nikahnya karena Tuhan, bukan yang lain.
Sebelum saya menikah, dengan beragam pervert menghampiri entah dengan status pacar atau tidak, saya sampai pada pemikiran these men are just treating me like bitch. Saya tidak peduli mereka bilang cinta, karena sebelum menikah kata cinta itu hanya omong kosong. And I let them do that, because I consider myself as a bitch. Because I wasn't the pure one. Dan ada berapa perempuan yang berpikir seperti saya? Banyak. Siapa yang bisa menolong? Hmm ...
Bagi kaum wanita yang memberikan seks sebagai tanda cinta, tanda kuasa, tanda modernitas, tanda apa pun tetapi tidak diawali dengan tanda tangan surat nikah, maka sejatinya Anda adalah korban pemerkosaan. Jangan bangga dengan hal itu. Kenapa? Karena Anda telah memudahkan seorang pria masuk ke lahan yang hanya akan menjadi objek. Tidak pernah menjadi subjek. Mirip kelakuannya sama penyogok proyek. Kasih izin bikin proyek ga ramah lingkunga. Uang sogokan habis, lahan sudah rusak. Siapa yang selaput daranya sobek? Siapa yang hamil? Siapa yang harus aborsi, keguguran, melahirkan? Dan lagi, di antara laki-laki dan perempuan, siapa yang lebih cepat puas? Tips yang beredar lebih banyak soal memuaskan perempuan bukan laki-laki. Kita cuma berbaik hati pada kalian, terlalu baik hati malah.
Tuhan sudah kasih alurnya. Ga usah diubah-ubah. Wong ikut alur saja bisa salah kok (bicara tentang pemerkosaan domestik).
Nah, sekarang gimana? Saya tidak peduli atas alasan apa perbuatan Sitok itu. Ketika dia sudah merayu perempuan lain tanpa izin istrinya hingga bahkan melakukan hubungan intim sebelum menikah, maka MAU TIDAK MAU Sitok harus ditangkap atas pemerkosaan. Bahkan kalau perlu atas pemerkosaan terhadap istrinya yang seharusnya tidak mau hal ini terjadi.
Senin, 17 Februari 2014
Celemek Hadiah Itu ....
Kayanya sudah menjadi tren di ibukota atau kota besar bahwa yang keren itu adalah wanita bekerja. Kebalik dari zaman saya dulu. Ketika saya SD, teman-teman yang ibunya bekerja malah bisa dihitung dengan jari. Rasanya aib banget disebut 'anak mbak'.
Nah karena tren ibu bekerja itulah, ketika si ibu ini memutuskan untuk berhenti apalagi masih belum menjabat apa-apa, ada saja yang mandang kasihan. Seolah sedang lengser sebelum waktunya. Dan ketika si ibu bekerja ini 'lengser' dan mencoba bisnis di rumah, pun sulit mengangkat kembali derajatnya. Terutama di keluarganya sendiri.
Ah, guenya aja kali yang lebay =P
Ceritanya mau bicara soal awal tahun kemarin. Awalnya serius menyandang titel tambahan selain sebagai editor atau penerjemah lepas juga seorang pengukus kue di bawah bendera www.koekieku.com (maklum, belum punya oven).
Orangtua sih lihatnya yaaaah usaha kecil-kecilan ... Kayanya sampai sekarang pun mama ga mau pesan gratisan, buat arisan kek, pengajian kek ... Dalihnya sih, "Kasihan kamu, repot." Lha, saya emang minta direpotkan kok. Justru sebagai pemula, butuh banget eksis di mana-mana. Nah, karena waktu itu saya juga ga gaul, jadi ceritanya mau ngarep dari mama, mumpung masih serumah. Ah, rupanya mama lebih pilih pesan di tetangga. "Kasihan, orang ga mampu."
Yah sudaah, mungkin saja kualitasku belum masuk fit n proper test. Kataku sendiri. Pundung.
Dan kalimat ga mau ngerepotin itu juga diucapkan kakak saya. Dalam hati, muka gue keliatan melas banget apa, ya? Padahal senang hati saya tanyain anaknya ultah mau dibikinin kue tema apa? Atau mau kasih goodiebag ga? Kaga minta dibayarin loh, suerrr! Cuma butuh kerumunan.
Ah, tapi mungkin selama ini kue gue ga cucok sama lidah mereka ...
Emang sih, saya sering underpressure kalau buat keluarga sendiri. Biasa, ambisi terlalu heboh. Addaaa aja yang lupa. Ganache keenceran. Kue kemanisan (buat lidah sumatra yg berbumbu itu). Gosong lah. Bikin serbet baru mama terbakar lah. Dan yang terakhir yang rada bodoh adalah gagal total. Gara-gara sotoy mau buat kue beras pelangi ala korea tapi kekeuh ga pakai tepung beras korea yang lebih basah. Kirain sunnah, ternyata wajib. Padahal niatnya baik loh, kue beras adalah kue yang lazim digunakan untuk perayaan serupa pernikahan dan kelahiran karena dipercaya mengandung keberuntungan (karena saat bikinnya, si pembuat sambil berdoa untuk keselamatan dan kesejahteraan). Dan juga untuk mengakomodasi permintaan kakak saya yang katanya mau kue yang tidak pakai krim, tidak ada topping, maunya rasa bluberi. Jadi, saya rada sebel juga ketika kakak saya bilang kenapa juga saya ga bikin kue biasa trus kasih selai bluberi. Well, emang sih sayanya yang mikirnya kejauhan, tapi maksudnya kan biar istimewaaaah. Again, yah sudahlah.
Namun kemudian saya senang lagi ketika abang saya yang di Inggris minta dibuatin kue ultah. Dia cuma mau dikirim gambarnya saja. Pusiiing cari idenya. Maklum saya bingung mencari gambaran yang tepat untuk komikus pecinta musik rock dan doyan di depan kompi tapi lama jadi bapak rumah tangga utk putri semata wayangnya (nah loh, panjang bener nih kalimat). Eh kemudian dapat kue yang simpel. Kue jampang mengadaptasi komik seri miliknya "Si Eneng dan Bang Jampang" yang beredar di FB. Syukur alhamdulillah si abang seneng (bang, seneng ga? Oooy ..) mungkin karena ga nyobain juga kali hehehe ...
Ga usah jauh-jauh di luar rumah deh. Suami sendiri aja begitu. Ga ada ramah-ramahnya lihat tumpukan loyang, plastik-plastik isi bahan kue, segala botol, wadah, dll. Iyalah ... Siapa juga yang seneng lihatnya. Apalagi kalau masih sibuk dekor tapi anak sudah bangun. Beuuh ... Apalagi kalau telat. Apalagi kalau diminta foto pakai kamera saku. Dan banyak apalagi lainnya ...
Tapi kemudian saya mulai jual-jual barang urusan kue yang ternyata emang kebanyakan. Mulai atur manajemen perkuean dan selalu selesai sebelum subuh. Dan kemudian suami beli kamera baru. Nah ... Baru deh dia rada seneng dapat obyekan. Tapi dengan catatan, kelar sebelum anak-anak bangun dan kopi juga sudah siap.
Lalu kemudian, Desember lalu dia minta deh dibuatin kue ultah untuk dibawa ke kantornya. Jiaaah ... Tumben amat. Biasanya ogah banget bawa kue hasil uji resep ke kantor. Ribetlah. Inilah. Itulah. Dan masoh ada lagi, ketika dia sempat ke Bali untuk urusan kerjaan, dibawakanlah istri oleh-oleh. Padahal sudah saya bilangin ga usah. Oleh-olehnya ternyata ... Celemek. Dibuat dari bahan organik. Gue banget ga seeeh. Eco green themenya sih memang masuk, tapi yang mengejutkan adalah pilihan objeknya. "Buat Amy hias kue," katanya. Kalau diulang-ulang kata-kata itu di kepala kenapa mata saya jadi berkaca-kaca dan pipi saya menghangat, ya? =P ssst jangan bilang-bilang Suami yak.
Sebenarnya minggu ini mama memberanikan hati meminta saya menyediakan puding cup untuk arisan dengam teman-teman Belanda, Sabtu nanti. Saya tahu, untuk urusan teman Belanda ini mama rada ga pede. Maklumlah, banyak dari anak buahnya saat menjabat perawat di Belanda ini lebih sejahtera perekonomiannya. Jadi mungkin rada high risk baginya minta ke saya, hehehe, suka bikin yang aneh-aneh soalnya.
Dan emang iya, saya dari minggu lalu sibuk cari resep yang bisa aman buat tante-tante yang sudah jadi oma-oma itu. Begitu dah mantap di pilihan dan belum diuji coba (kebiasaan), eh pesanan batal. Alasannya sudah banyak sumbangan ponclot nya. :-(
Tapi saya tidak mau mundur lagi. Ga boleh ada orang yang keluar dari rumah ibu saya tanpa produk koekieku. So, saya berencana memberikan suvenir cupcake ke mereka. Pssst ... Jangan bilang-bilang lagi ya. Sekarang lagi mau survey cupcake tema Belanda dan perawat neeeh. Doakan saya semoga berhasil =D.
Nah karena tren ibu bekerja itulah, ketika si ibu ini memutuskan untuk berhenti apalagi masih belum menjabat apa-apa, ada saja yang mandang kasihan. Seolah sedang lengser sebelum waktunya. Dan ketika si ibu bekerja ini 'lengser' dan mencoba bisnis di rumah, pun sulit mengangkat kembali derajatnya. Terutama di keluarganya sendiri.
Ah, guenya aja kali yang lebay =P
Ceritanya mau bicara soal awal tahun kemarin. Awalnya serius menyandang titel tambahan selain sebagai editor atau penerjemah lepas juga seorang pengukus kue di bawah bendera www.koekieku.com (maklum, belum punya oven).
Orangtua sih lihatnya yaaaah usaha kecil-kecilan ... Kayanya sampai sekarang pun mama ga mau pesan gratisan, buat arisan kek, pengajian kek ... Dalihnya sih, "Kasihan kamu, repot." Lha, saya emang minta direpotkan kok. Justru sebagai pemula, butuh banget eksis di mana-mana. Nah, karena waktu itu saya juga ga gaul, jadi ceritanya mau ngarep dari mama, mumpung masih serumah. Ah, rupanya mama lebih pilih pesan di tetangga. "Kasihan, orang ga mampu."
Yah sudaah, mungkin saja kualitasku belum masuk fit n proper test. Kataku sendiri. Pundung.
Dan kalimat ga mau ngerepotin itu juga diucapkan kakak saya. Dalam hati, muka gue keliatan melas banget apa, ya? Padahal senang hati saya tanyain anaknya ultah mau dibikinin kue tema apa? Atau mau kasih goodiebag ga? Kaga minta dibayarin loh, suerrr! Cuma butuh kerumunan.
Ah, tapi mungkin selama ini kue gue ga cucok sama lidah mereka ...
Emang sih, saya sering underpressure kalau buat keluarga sendiri. Biasa, ambisi terlalu heboh. Addaaa aja yang lupa. Ganache keenceran. Kue kemanisan (buat lidah sumatra yg berbumbu itu). Gosong lah. Bikin serbet baru mama terbakar lah. Dan yang terakhir yang rada bodoh adalah gagal total. Gara-gara sotoy mau buat kue beras pelangi ala korea tapi kekeuh ga pakai tepung beras korea yang lebih basah. Kirain sunnah, ternyata wajib. Padahal niatnya baik loh, kue beras adalah kue yang lazim digunakan untuk perayaan serupa pernikahan dan kelahiran karena dipercaya mengandung keberuntungan (karena saat bikinnya, si pembuat sambil berdoa untuk keselamatan dan kesejahteraan). Dan juga untuk mengakomodasi permintaan kakak saya yang katanya mau kue yang tidak pakai krim, tidak ada topping, maunya rasa bluberi. Jadi, saya rada sebel juga ketika kakak saya bilang kenapa juga saya ga bikin kue biasa trus kasih selai bluberi. Well, emang sih sayanya yang mikirnya kejauhan, tapi maksudnya kan biar istimewaaaah. Again, yah sudahlah.
Namun kemudian saya senang lagi ketika abang saya yang di Inggris minta dibuatin kue ultah. Dia cuma mau dikirim gambarnya saja. Pusiiing cari idenya. Maklum saya bingung mencari gambaran yang tepat untuk komikus pecinta musik rock dan doyan di depan kompi tapi lama jadi bapak rumah tangga utk putri semata wayangnya (nah loh, panjang bener nih kalimat). Eh kemudian dapat kue yang simpel. Kue jampang mengadaptasi komik seri miliknya "Si Eneng dan Bang Jampang" yang beredar di FB. Syukur alhamdulillah si abang seneng (bang, seneng ga? Oooy ..) mungkin karena ga nyobain juga kali hehehe ...
Ga usah jauh-jauh di luar rumah deh. Suami sendiri aja begitu. Ga ada ramah-ramahnya lihat tumpukan loyang, plastik-plastik isi bahan kue, segala botol, wadah, dll. Iyalah ... Siapa juga yang seneng lihatnya. Apalagi kalau masih sibuk dekor tapi anak sudah bangun. Beuuh ... Apalagi kalau telat. Apalagi kalau diminta foto pakai kamera saku. Dan banyak apalagi lainnya ...
Tapi kemudian saya mulai jual-jual barang urusan kue yang ternyata emang kebanyakan. Mulai atur manajemen perkuean dan selalu selesai sebelum subuh. Dan kemudian suami beli kamera baru. Nah ... Baru deh dia rada seneng dapat obyekan. Tapi dengan catatan, kelar sebelum anak-anak bangun dan kopi juga sudah siap.
Lalu kemudian, Desember lalu dia minta deh dibuatin kue ultah untuk dibawa ke kantornya. Jiaaah ... Tumben amat. Biasanya ogah banget bawa kue hasil uji resep ke kantor. Ribetlah. Inilah. Itulah. Dan masoh ada lagi, ketika dia sempat ke Bali untuk urusan kerjaan, dibawakanlah istri oleh-oleh. Padahal sudah saya bilangin ga usah. Oleh-olehnya ternyata ... Celemek. Dibuat dari bahan organik. Gue banget ga seeeh. Eco green themenya sih memang masuk, tapi yang mengejutkan adalah pilihan objeknya. "Buat Amy hias kue," katanya. Kalau diulang-ulang kata-kata itu di kepala kenapa mata saya jadi berkaca-kaca dan pipi saya menghangat, ya? =P ssst jangan bilang-bilang Suami yak.
Sebenarnya minggu ini mama memberanikan hati meminta saya menyediakan puding cup untuk arisan dengam teman-teman Belanda, Sabtu nanti. Saya tahu, untuk urusan teman Belanda ini mama rada ga pede. Maklumlah, banyak dari anak buahnya saat menjabat perawat di Belanda ini lebih sejahtera perekonomiannya. Jadi mungkin rada high risk baginya minta ke saya, hehehe, suka bikin yang aneh-aneh soalnya.
Dan emang iya, saya dari minggu lalu sibuk cari resep yang bisa aman buat tante-tante yang sudah jadi oma-oma itu. Begitu dah mantap di pilihan dan belum diuji coba (kebiasaan), eh pesanan batal. Alasannya sudah banyak sumbangan ponclot nya. :-(
Tapi saya tidak mau mundur lagi. Ga boleh ada orang yang keluar dari rumah ibu saya tanpa produk koekieku. So, saya berencana memberikan suvenir cupcake ke mereka. Pssst ... Jangan bilang-bilang lagi ya. Sekarang lagi mau survey cupcake tema Belanda dan perawat neeeh. Doakan saya semoga berhasil =D.
Langganan:
Postingan (Atom)

