Tampilkan postingan dengan label jjs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jjs. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 September 2017

JJS: Nyaris Terdampar di d'Kandang Farm


Setelah dipikir-pikir sepertinya sudah lama sekali kami tidak pergi ke tempat yang bukan mal jika akhir pekan datang. Kalau ga ke rumah nenek, ya ke rumah nenek hehehe .... atau mentok-mentok nongkrong di rumah dengan bujukan ke anak-anak bakal diizinkan main di Funworld. Lagian bingung juga mau nge-mal. Kalau buat makan-makan doang mah ga aci lah buat anak-anaknya Pak Hery. Akhirnya datang juga inisiatif dari Suami untuk mengajak kami sekeluarga ke d’Kandang Farm yang berlokasi di Depok.

Bukannya apa-apa, kalau saya yang usul, seringnya ditolak. Jadi yah mending tunggu kesiapan dari si pemegang duit, bukan?
Tarif belum mencapai Rp.100000,- saat saya mengorder taksi online untuk perjalanan dari Kalibata City ke d’Kandang Farm. Soalnya ketika dijalani, itu rutenya membingungkan hahaha. ... bersyukurlah ada GPS karena rambu-rambu menuju d’Kandang Farm menurut saya kurang banyak dan kurang representatif.


1. Meutia kena charge HTM


Letak d’Kandang Farm sendiri agak masuk ke perkampungan dan mojok. Jadi dari lahan parkir,  masih jalan sekitar 100-200 meter sebelum tiba di loket. Ternyata HTM telah diberlakukan sesuai tinggi badan. Dan Meutia berada di pas 80 cm, sehingga ikut membayar tiket masuk sebesar Rp.10000,-  Sudah termasuk dengan satu botol yogurt homemade untuk masing-masing tiket. Sebenarnya kalau datang lebih pagi antara jam 6-9 pagi di hari Minggu masuknya gratis loh.




2. Cocok untuk Piknik dan konten Instagram


Oleh karena tidak ada larangan membawa makanan, maka tempat ini enak banget kalau dijadikan area piknik. Saya bersyukur karena walau tidak bawa makanan, masih ada satu mobil saudara yang datang belakangan dan bawa makan. Nebeeeeeng! Mungkin karena banyak yang piknik, spot kuliner di sini tidak terlalu menonjol ya. Banyak rumah-rumah kayu yang berjudul warung makan tapi isinya kosong. Kalau mau makan pun cukup nyaman karena ada beberapa gazebo disediakan di sana. Namun, tetap jaga kebersihan yaaa ....

Nah, selain untuk piknik, bagi saya tempat ini cukup instagramable. Penataan taman yang ciamik dan tidak berlebihan menyediakan spot foto buatan, membuat d’Kandang Farm masih terlihat asri.



Untuk anak-anak? Ga usah ditanya. Saya bahkan begitu masuk langsung memberi peringatan, tidak boleh main air. Hal itu dikarenakan kami langsung disambut oleh spot air mancur yang memang dimanfaatkan oleh pengunjung kecil untuk bermain air. Main air bisa di mana aja lah. Saat ini, saya lagi ga mau ngurusin anak-anak dengan baju basah. Ada juga arena rumah bermain dari plastik , tapi karena pengunjung banyak kayanya ga seimbang deh. Toh, di rumah juga ada yang begituan hihihiy ...

Jadi lebih baik langsung ke wahana yang memang disiapkan oleh d’Kandang saja.

3. Rabbiton
Setiap wahana rupanya ada bayarannya. Ya iyalaaaah ....


Bisa terusan, bisa ga. Saya pilih yang ketengan saja. Seperti misalnya di arena Rabbiton yang dibayarkan hanya pakan, jadi mau berapa pun orang yang masuk ga masalah. Si bontot masih bisa menikmati lihat-lihat kelinci, kambing, ayam, burung kalkun, hingga kebo bule walau dia takut memberi makan mereka. Tidak seperti kakaknya, dua ember ludess sekejap.



4. Memberi Susu ke Anak Kambing


Bagi anak-anak, memberi susu ini hal baru. Tantangannya adalah, anak-anak kambing ini agresif. Jadi begitu masing-masing anak diberi botol yang sudah berisi susu formula, anak-anak kambing itu langsung menyerbu si pemegang botol.  Sontak hal ini membuat anak laki satu-satunya ngibrit sambil melempar botol susunya. ^^ Beda sama kakaknya ...

5. Naik Delman


Kalau yang ini paket murah meriah karena bisa ramai-ramai. Ada juga naik kuda perorangannya. Tracknya juga lumayan, lewat jalan yang ga akan dilewati orang-orang umum jadi bisa melaju kencaaang ^^

6. Yang  Tidak Dikunjungi
Ada juga wahana yang tidak kami kunjungi karena satu dan lain hal, seperti: panahan, naik kerbau, flying fox, menangkap ikan, dan arena permainan rumah balon. Soalnya waktu sudah sore dan d’Kandang ini tutup jam 4 sore. Jadi kami memanfaatkan waktu dengan bermain bebas. Keponakan bahkan mengeluarkan inline skate-nya, sedangkan anak-anak saya mencari binatang lain yang tidak dikandangi, seperti ... kucing. Suami sempat cari tempat makan, tapi hanya satu yang masih buka dan hanya tersisa nasi goreng. Rupanya kurang banyak kami  makan siang tadi karena anak-anak turut minta nasi goreng. Saya? Foto-fotolah ....



Tempat shalatnya juga nyaman, hanya becek banget di tempat wudhu perempuannya. Lokasinya juga ada beberapa, yang nyaman yang terletak di ‘dataran’ atas karena berada di atas kolam ikan.  Ada beberapa gazebo besar yang  sepertinya memang bisa digunakan untuk paket-paket gathering gitu.



7. Kok Ga Ada Taksi Ya?
Saat para sapi sudah kembali ke kandang (tapi masih bisa ditengokin), para sepupu masih asyik panahan di penghujung hari, kami berlima pun pulang. Jalan kaki menuju jalan raya sambil terus mencoba order taksi online, dan gagal .... lalu kami di tepi jalan itu berharap ketemu taksi atau angkot yang bisa membawa kami ke jalan yang lebih ramai, tetap saja, nihil. Si anak cowo sudah tidur terduduk memeluk tungkai ayahnya yang menggendong si bontot. Oh tidak, apakah kami terdampar di sini?



Tapi rupanya seorang anak ABG yang sedari tadi nongkrong bercandaan cekakak cekikik bersama teman-temannya menghampiri kami. Rupanya di daerah situ, sudah tidak ada lagi angkutan umum yang lewat jika sudah sore. Lalu dia menawarkan diri mengantarkan dengan motornya. Ojek dadakan. Bersama motor kawannya akhirnya kami bisa menemukan taksi yang sedang berhenti di tepi jalan. Ah, anak alay ini, ternyata Allah titipkan bantuan melalui mereka  ... terima kasih yaaa sudah melaju pelan-pelan dan mengingatkan kawannya juga untuk hati-hati karena bawa anak-anak.

Depok sore itu macet sangat. Mungkin itu sebabnya taksi online enggan mengambil. Yah sudahlah, lain kali bareng mobil rombongan saja biar tidak bingung pulangnya hehehe....


Jumat, 21 April 2017

JJS: 1 Ami dan 3 Anak di Big Bad Wolf Jakarta 2017


Kalau tidak dapat tiket VIP, ya ga datang.
Begitu saya membatin. Antara mau datang atau tidak. Maklum lokasinya jauh tenan, kayanya ongkos sama belanjaan bisa nyaris sama. Namun kurang dari seminggu dari acara preview Big Bad Wolf Jakarta 2017, saya mendapatkan email, tidak hanya satu tapi dua email yang menyatakan bahwa saya mendapatkan 1 tiket VIP. Artinya saya dapat 2 tiket yang berlaku masing-masing tiket untuk dua orang. Namun, karena teman-teman pecinta buku pun sudah dapat tiket VIP, jadilah hanya saya dan tiga anak yang meluncur ke ICE BSD City. 

1. Perbekalan
Saya menyadari bahwa biasanya di book fair semacam itu tidak boleh membawa makanan dan mnuman, jadi saya menghindari membawa berkotak-kotak fastfood untuk disantap. Jadi, saya siapkan bekal makanan berat di tas sekolah anak-anak agar mereka cukup diberi bekal untuk di perjalanan yang menurut google map akan tercapai dalam 1 jam 20 menit. Susu dan jus plus air mineral juga disediakan. Diumpet-umpetin sama tumpukan baju ganti, biar kalau diperiksa, ga ketahuan hehehe ... Strateginya  berhasil untuk anak 1 dan 2, sedangkan yang batita, terlewat jam makan siangnya dan akhirnya, muntaaah .... 


2. BSD itu Serpong ya ... Bukan Bintaro
Oke, ini mah sayanya aja yang dodol hehehe .... Pengemudi taksinya pun tidak mengerti bahasa Inggris. Saya bilang Ice BSD, dia pikirnya Ace B ... halah ... Dan karena ga nyambung inilah, taksi biru itu keluar di tol Bintaro. Dikasih google maps, ga paham. Gedubrak. 
Kenapa saya pilih taksi ketimbang taksi online? Yah, ga kenapa-napa sih, lebih gampang ketemu aja. Lagipula seringkali, anak-anak sok-sokan mau duduk di baris ke-3 tapi kemudian satu-satu balik ke baris tengah dengan muka pucat dan keluhan pusing ^^


Simak baik-baik aturan di BBW JAKARTA 2017 ya

3. Siang itu Jam Padat
Finally, kami sampai. Waktu menunjukkan pukul 1. BBW diselenggarakan di hall 7—10 Ice BSD City dan ada tiga acara yang digelar di Ice BSD. Saya sarankan, masuk ke hall 6 tempat Disney On Ice, jika menggunakan taksi online, karena pintu masuknya di hall 7. Kalau mengikuti marka jalan, kita akan berhenti di hall 10. 

Sesampai di sana, saya ambil tiket di stan Mandiri dan ternyata masih termasuk 25 orang pertama yang mendapatkan voucher RP50000,- untuk belanja di BBW. Alhamdulillah. Anggap aja diskon taksi offline hehehe

Lalu saya ambil lagi tiket di lobi BBW. Walau anak di bawah 12 tahun sebenarnya tidak pelu menggunakan tiket VIP pass, tapi ya saya tebus saja, siapa tahu dapat info (atau goodiebag) tambahan ^^

Setelah mengosongkan kantong kemih, waktunya anak-anak makan camilan sebelum masuk, sekalian melemaskan kaki setelah lama duduk di taksi. 


4. Baru berhenti Saat Keranjang Sudah Sering Jatuh
Begitu kami masuk, waaaah .... ini toh Big Bad Wolf. Rasanya ingin berenang-renang di antara buku-buku. Baru masuk, sudah menemukan yang menarik. Ada yang cemberut karena tidak langsung dapat yang disuka. Mereka bingung juga saat disuruh mencari buku tapi kenapa banyak sekali mejanya. Apalagi ketika saya beritahu bahwa buku anak yang terletak paling jauh dari pintu masuk itu, bermula dari belakang hingga ujung dekat kasir. Tapi senyum anak-anak merekah, ketika saya bilang, "Ambil saja mana yang suka, masukkan keranjang." Biarin deh, biar merasakan namanya belanja kalap. Tapi mereka yang dorong keranjangnya. 

Tadinya saya mau sok-sok an buka jastip buku, tapi ya ... yang datang ke preview itu banyak banget ya orangnya. Ini mah namanya curi start buka pameran hehehe .... orang lalu-lalang. Setiap kali saya memfoto buku untuk satu (ya, satu saja cukup) orang teman saya, saya pasti akan celingak celinguk menghitung anak. Yang di stroller juga dipastikan masih di tempatnya. Jangan sampai kalap buku, anak ga tahu nyantol di mana. 

Moral of tarik keranjang sendiri adalah, anak-anak itu jadi capek sendiri. Lelah, tak mau ambil buku lagi. Dan pada saat itulah, saya tanyakan kesungguhan mereka, mana yang lebih mereka pilih untuk dibeli. Tak lama, keranjang saya berkurang separuhnya. 

Awalnya saya menawarkan anak-anak untuk sekadar minum-minum di area makan di ujung lain dari kasir, tapi karena keranjang harus 'parkir' di dekat area bouncing (ya, ada tempat main di situ, seharga Rp60000 per orang) dan anak-anak jadinya malah mau main, saya pikir ah sudahlah langsung mengantri saja.

Penggila buku ya ketemunya di acara buku. Reuni singkat dengan Kak Aio


5. Ngantrinyaaa #auuwsome
Berdasarkan informasi dari tetangga yang sudah datang dari pagi, BBW yang juga disponsori sangat oleh Mandiri, menyediakan fastrack bagi pengguna mandiri debit atau kredit. Tapi ... ada caranya niy bapak-bapak, ibu-ibu ... Datangi stan mandiri yang terletak tidak jauh dari tempat antri, antri di sana untuk mendapatkan nota fast track dengan menukarkan poin fiesta Anda. Sebenarnya fiesta poin itu juga bisa digunakan untuk ditukar dengan buku-buku yang disediakan di stan Mandiri tersebut. Nah setelah dapat nota fasttrack, mengantrilah di tempat yang disediakan.

Kenyataannyaaaaa .... lorong fast track itu ga dijaga sehingga bercampurlah orang-orang antri di situ sehingga jadi puanjaaaaaang sekali. Banyak yang mengira bahwa mengantri di fastrack hanya cukup memiliki mandiri debit. Bukan oh bukan. Akhirnya saya stuck 2,5 jam ngantri. 

Saya teringat ibu-ibu hamil yang ketika sudah hampir mencapai lorong fast track barulah muncul petugas yang menanyakan apakah dia sudah memiliki nota fast track. Dilalah, ketika dia bilang tak punya dan hendak mengambil nota tersebut, layanan notanya sudah tutup. Ya ampuuun ... setelah dua jam ngantri tapi ga bisa masuk? 


Anak-anak? Hmm dari semangat maju sedikit demi sedikit. Lalu mulai usil masuk-masuk kolong meja. Nyanyi-nyanyi ga jelas. Saling bertengkar. Kelaparan, dan akhirnya saya keluarkan semua perbekalan di dalam tas. Suapin nasi, susu. Daripada jadi pada masuk angin. Karena AC  nya dingin juga loh walau dihuni begitu banyak orang. Cobaan banget niy buat anak n emaknya.

Cobaan tidak berhenti di situ. Setelah hampir sampai kasir setelah dua jam, anak-anak mulai mengeluh tidak senang, menganggap ini semua cobaan setan, meminta sesuatu yang ga jelas apa karena belum  bisa ngomong dan di antara keluhan itu ada yang pup aja gitu di popok ... Eeeaaa ... 

Walau kasir di depan mata saja, bisa lama loh ngantrinya. Ya, yang belanja bisa beberapa troli dan keranjang sekaligus, sedangkan kasirnya tuw kaya bagian kasir khusus layanan tunai dan keranjang. Ambil barang, ambil scanner, ketik spasi, taruh scanner, ah banyak geraknya. Plus jangan samakan dengan belanja bulanan ya, yang ada beberapa item yang sama. Kebanyakan dari belanjaan orang-orang yang beraneka ragam, jadi yah serasa manual lah. Belum lagi, sebentar-sebentar di sana –sini kasirnya melambaikan kartu SUPPORT. Komputer Error. Lelah menerima terlalu banyak uang hehehe ... 


6. Kamar Ganti Bayinya Mana? 
Alhamdulillah kelar juga bayar membayar. Alhamdulillah juga bawa stroller, belanjaan tinggal dicantel. Walau ada yang menyewakan sih troli gede dan ada porternya segala loh. Lalu ada juga layanan TIKI, yang habis belanja tinggal kirim, ga perlu tenteng-tenteng lagi. 

Tapi yang terpenting saat ini adalah toilet lagiii .... Si kakak kebelet pipis, yang anak tengah juga tapi begitu lihat antrian dan kenyataan bahwa anak cowo satu-satunya itu harus buang air kecil di kamar mandi wanita membuat dia urung. Jadi saya suruh si kakak antri dan urus sendiri sementara itu saya di luar ruang toilet mengganti popok di bungsu. Sambil ngumpet-ngumpet di balik stroller. Untung pup nya mudah dibersihkan (dengan menggunakan banyak sekali tisu basah ^^'). Si anak tengah saya minta memberi info kalau-kalau kakaknya sudah masuk toilet, karena sistem  toiletnya yang diputar keluar semprotan langsung ke arah ybsitu loh. Buat anak-anak kan suka ga pas ya. Jadi seusai urusan popok, saya langsung cari si sulung yang ternyata baru masuk dan akhirnya bisa bantu, sementara anak tengah jaga adiknya di stroller di salah satu pojokan toilet (ribet ya bok!). Si tengah kemudian saya paksa juga buang air kecil, di situ, Cuma yah basahin tisu deh. Daripada nyemprot ke muka ... Hadeuh, pe er banget ya nyediain toilet untuk anak-anak. 


7. Makan Malam Sekadarnya
Perjalanan pulang masih jauh, jadi saya pikir mau makan dulu. Tapi stan makanan di area lobi itu Cuma satu, So Nice. Begitu juga stan minuman. Ya sudahlah, daripada ga makan. Walau kayanya tema hari ini sosis dari pagi sampai malam hehehe .... Dan anak-anak on lagi. Jumpalitan ke  sana kemari. Sayanya? Lelaaah. 

BBW juga bekerja sama dengan Grab, jadi ga usah khawatir pulang ya. Tapi semalam saya naik taksi offline lagi, karena sempat ga ada yang mau ambil order saya. Begitu saya masuk taksi eh malah ditelepon sama driver Grab. Lah, ternyata belum tuntas saya cancel-nya. 


8. Kapok? 
Tahun ini, cukup ya ke BBW nya hehehe ... Nabung lagi untuk tahun depan. Memang sih ngantrinya bikin kapok, tapi buku yang didapat memang sesuai bayangan saya. Yang terjangkau, interaktif untuk anak-anak, dan unik buat kado hehehe dan selalu ada koleksi klasik yang memanggil-manggil saya untuk dibeli hihihi ... Percaya atau tidak, saya hanya beli koleksi Enyd Blyton untuk diri saya sendiri. Novel ga dilirik dulu, padahal banyak edisi boxset yang harganya waw murah banget. 

Next year, ke BBW nya sama orang dewasa aja deh. Biar begitu masuk langsung ada yang ngantri hhehe tinggal saya lari-lari cari buku. 

Jumat, 04 Maret 2016

JJS Jumat Jelang Sabtu: Nyemplung di Kandank Jurank Doank


Pada Februari lalu, anak-anak ikut outbound. Sebenarnya sih itu acara dari TKnya Malika tapi karena saya sebagai pendamping juga bawa dua anak yang lain, jadi Safir pun saya daftarkan ikut biar ga bengong-bengong. Lagipula usianya bisa gabung dengan anak-anak playgroup dari TK nya Malika. Saat itu saya diminta menambah bayaran Rp135000,- untuk Safir dan sudah termasuk makan siang. Sedangkan saya hanya bayar Rp100000,- untuk HTM dan makan siang.

Outbond kali ini mengambil tempat di Kandank Jurank Doank Ciputat. Pagi yang hujan sudah menyambut kami saat kumpul di sekolah. Anak-anak diminta membawa jas hujan, makanan ringan tambahan, dan sepatu boot. Khusus untuk sepatu boot, saya tanya lagi ke gurunya wajib atau tidak. Maklum, saya harus beli dua pasang nih, dan harga boot kan ga murah. Karena kata gurunya itu hanya bersifat menyarankan, saya tanya ke anak-anak sekiranya mereka mau ga si opsi sepatu boot diganti sepatu karet yang murah meriah itu. Lagipula saya sudah tahu di tempat-tempat seperti itu, anak-anak saya lebih suka ga pakai apa-apa. Dan mereka setuju dengan sepatu karet murah meriah, yes!

Pagi yang hujan sudah menyambut kami di sekolah. Saat perjalanan saya khawatir juga dengan cuaca. Begitu sampai di sana, dengan jalur akhir yang sempit banget buat bus segede gambreng itu, hujan berhenti.

Sebagai pemanasan, tiga fasilitator memimpin permainan dalam satu kelompok besar. Setelah 15 menit baru dikelompokkan sesuai kelas; TK B, TK A2, dan PG. Safir yang sedari awal nempelin kakaknya melulu jadi terpisah deh hehehe ... Tak hanya itu, anak-anak diminta melepaskan alas kaki. Nah, kaaan ... Ga perlu-perlu amat kan boot-nya. 

Begitu anak-anak dibawa ke arena outbound, para ibu dan pendamping melakukan kegiatan outbound ringan dipandu oleh salah satu instruktur. Nah, karena ga bisa memonitor anak-anak jadi reportasenya berdasarkan laporan ibu guru dan anaknya ya ...


MALIKA 


"Malika, bu ... Ya ampuuun ..." kalimat pertama yang dilontarkan gurunya saat melihat saya.
Saya sudah terbayang apa yang sudah dia lakukannya. 

"Ga ada takutnya. Masuk sawah langsung ciprat-cipratin kaki." 

Sesi pertama Malika adalah memandikan kerbau, memberi makan, lalu menanam padi. Semua dalam satu area yang berdekatan. Setelah itu mereka lanjut naik perahu ban.
"Waktu di perahu, aku cemplungin aja kaki ke air." 

Lalu beranjak ke kolam ikan kecil, disuruh ambil ikan dari kolam.
"Ikannya ga keliatan, jadi aku ambil aja yang di ember. Katanya disuruh masukin lagi ke kolam." Pas di sini, ini anak sudah kuyup dari atas sampai bawah.
 
Sesi terakhir adalah flying fox.
"Wah pas meluncur seru banget. Aku teriak kenceng-kenceng. Aaaaaaaa!!!"

Lain kakak lain adik.


SAFIR
"Bu, Safirnya takut, bu." Lapor seorang ibu guru pada saya. 

"Dia dieeem aja. Pas flying fox. Saya tanya, 'Safir takut?'. Dia angguk-angguk, terus tandem deh sama saya. Pas mandiin kerbau juga begitu." 

Kebetulan saya sudah menghampiri Safir saat sesi di kolam ikan dan benar saja dia jadi tidak mau naik perahu, minta ditemani. Padahal di saat yang bersamaan, kakaknya mau flying fox. Emaknya perlu motret niy ^^ jadi yah suds saya tinggal saja, biarlah dia marah daripada jadi kumat manjanya. 

"Waktu di flying fox, aku liat sungai di bawah. Aku pikir mau mati. Langsung aku lecek baju ibu guru (pegang erat-erat maksudnya)." 

"katanya tadi Safir diam saja karena takut," pancing saya.
"Aku bengong-bengong aja tadi. Nyari-nyari 'mana kakak, mana kakak'" Maklumlah ya, dia ga kenal siapa-siapa di kelompoknya.
Rupanya kelompok PG ini rada apes, sesi pertamanya justru flying fox. Ya iyalah pada jiper ^^' 

"Tadi pas nyari ikan aku bingung nangkepnya. Makanya aku buang-buangin air keluar kolam, biar kering." Eaaa mau sampai kapan? 

"Trus pas naik perahu aku lecek bajunya Pak Ali. Aku kira ada buaya." 

"Safir naik kerbau juga, ga?" tanya saya.
"He eh, tapi aku cium bau pup."
"Memang kamu duduk di depan, di tengah, atau di belakang?"
"Paling belakang." Ya iyalaaaaah ^^

Setelah semua sesi selesai dijalani, giliran saya yang dilatih. Pas memandikan anak-anak, pancurannya banyak. Ada yang di dalam ruangan, ada yang di luar ruangan. Saya pilih di luar biar ga kepleset, berhubung saya sambil bawa bayi di gendongan. Anak pertama selesai mandi, cus ganti baju. Eh pas ganti baju, hujan turun sederas-derasnya. Safir yang dah kuyup juga lagi di pancuran. Kedinginan pula. Akhirnya sambil tutupin kepala si bayi, saya sabuni Safir dan menyuruh Malika mengikuti para ibu-ibu ke tempat istirahat. Hujan-hujanan memakaikan bajunya Safir, lalu hujan-hujanan pula ke tempat istirahat. Mantap nih pilek baru mau sembuh, alamat kumat lagi. Tapi saya masih bertahan. Setidaknya hingga acara selesai, anak-anak diberi suvenir sekantung ikan mas kecil yang mati dua hari kemudian. 

Well, it was fun, right? Bahkan dua minggu setelahnya ada cerita baru. Saya sakit hahaha ...

Jadi yang mau ke Kandank Jurank Doank ga rugi loh. Bayar Rp135000,- bahkan sudah termasuk donasi untuk kelas menggambar di sana yang diadakan setiap hari Minggu pagi. Tuh, kaaan. Ga sia-sia kan saya kehujanan hehehe

Selasa, 20 Januari 2015

Tema Harian Saya


Jelang tahun baru saya mendapat semacam inspirasi dari salah satu Emak keren di komunitas KEB, yaitu mencanangkan tema harian di blognya. Saya memang sempat terpikir untuk membuat blog saya ini lebih terjadwal dan terstruktur dan tema harian ini rupanya jawabannya. Awal membaca postingan Emak Maureen, saya sempat tidak percaya diri, “serius nih, mau tiap hari tulis blog sesuai tema?” Eh ternyata tema harian itu tidak selalu bermakna, setiap hari harus nulis. Emak Maureen sendiri hanya mengusung tiga hari dalam satu minggu. Salah satu alasannya adalah agar hari lain bisa digunakan untuk tema-tema lain yang tidak berhubungan dengan tema harian reguler. Kalau saya, itulah alasan saya bisa libur dari kegiatan blog. Soalnya ga selalu bisa bangun dini hari sih. Hehehe ....

 

Jadi, setelah beberapa hari posting dengan tema, barulah saya menjelaskan arti-arti singkatan di awal judul.

 

RABUku: Mari memulai hari dengan buku di hari Rabu. Saya lahir di hari Rabu, jadi yah Rabu itu lebih istimewa dari hari lain. Dan senang rasanya ketika kata ‘Rabu’ bisa bersanding bunyi dengan satu tema lain yang saya sukai, buku. Jadilah RABUku.  Isinya tentang buku tentu saja. Review buku yang saya beli sendiri (yang beberapa tahun belakangan didominasi dengan buku-buku anak untuk anak-soalnya amynya juga suka buku anak) dan hasil READIE project alias buku hasil editan saya. Mudah-mudahan bisa setiap minggu-soalnya banyak buku yang numpuk tapi belum pernah direview hehehe ...  yah kali aja sejak itu bisa tiap minggu dapat buku baru #modus

 

KAMYstory: mayoritas dari isi blog saya adalah tentang saya sendiri. Saya sebagai ibu dua bocah dan saya sebagai individu. Dulu saya bedakan judul antara MY story dengan AMY’s Story, sekarang sama saja, judulnya saya. Jadi deh KAMYstory (my story di hari Kamis).

 

JJS: secara singkatan yang ini agak berbeda dengan singkatan tema lainnya. Ini agak mentok hehehe. Awalnya mikir karena hari Jumat mungkin ada baiknya saya bicara soal agama, menyebarkan satu ayat. Tapi kok ya ga pede, ya? Saya kan masih pelajar. Jadi saya gunakan momen ini untuk membuat review tempat yang bisa dikunjungi saat akhir pekan. Entah itu tempat makan, tempat bermain, atau bahkan tempat kawinan. Yah, namanya juga Jumat Jelang Sabtu. Biasanya orang-orang sering searching lokasi menarik. Hope I could help J

 

HOMYnggu: Sabtu istirahat dulu yeee ... Balik lagi di hari Minggu. Kenapa homy? Apakah sama saja dengan my story. Well more or less sih. Ini untuk menunjukkan bahwa saya penghuni Kalibata City sejati hahaha .... Isinya lebih banyak terinspirasi dari berkehidupan di Kalibata City, jadi bisa tentang tempat makan baru, apa yang lagi ngetren, kegiatan menarik di hari tertentu, review sekolah di area ini, dan bahkan bisa ngomongin resep di dapur saya. Pokoknya terkait review dan tips di seputaran Kalibata City. Penting ga sih? Penting dong. Mengingat semakin banyak saja hunian vertikal, jadi siapa tahu kita bisa saling berbagi.

 

Nah, segitu dulu saja deh. Ga sanggup banyak-banyak. Ini juga ngerjainnya nyicil hihihihiy ... Hope you like it.