Rabu, 29 Maret 2017

RABUku: Buku Anak Hasil Homemade Noura Publishing


Buku anak produksi Noura publishing ini dikerjakan seluruhnya oleh orang dalam loh. 


I always like the idea of editor who also writes books. Karena konon, akan menjadi sulit bagi seorang editor untuk menulis buku karena senantiasa dikoreksi. Sebenarnya sudah ada beberapa kawan editor yang menulis novel, tapi saya belum baca karyanya hehehe maafkeun ... 

Dua buku ini tak direncanakan dibeli secara bersamaan dan ternyata berasal dari orang dalam Noura Publishing sendiri. 


Serial Cican: Ups! Cican Menjatuhkan Vas!
Karya Lian Kagura 
Suatu hari, ketika Cican sedang melakukan tugas piket di kelas, tak sengaja dia memecahkan vas bunga. Apa yang akan dilakukan Cican? Mengaku? Menunjuk orang lain? Atau pura-pura tidak tahu? 

Penulisnya adalah salah satu asisten editor di Noura Publishing. Waktu membeli buku ini, saya tidak sadar karena tidak membaca nama penulisnya. Begitu hendak dibaca di rumah, baru saya ngeh. Seperti saya kenal niy .... 
Salah satu judul dari serial Cican ini adalah kerjasama dengan KPK loh. Dalam rangka mencegah tindakan korupsi sejak dini. Ketika membacanya, ga bakal nyangka deh kalau ini tentang antikorupsi. 


Serial Noura: Saat Aku Senang
Karya S. Shinta
Ini adalah buku tentang pengenalan emosi. Emosi memang keluar secara alami dari dalam diri, tetapi apakah setiap orang mengenali emosinya? Seringnya tidak. 

Pengenalan emosi lazimnya dilakukan ketika anak berusia dua tahun. Tahun yang sering disebut trouble two, karena anak-anak sedang mengeksplor emosinya secara liar. Nah, buku ini dapat membantu orangtua dalam mengajarkan anak-anak mengenali untuk kemudian dapat menyalurkan dan mengendalikan emosinya. Ada loh, anak-anak yang mukanya lempeng. Kalau difoto disuruh senyum, malah ga ada ekspresinya. 

Nah inilah Noura yang akan menceritakan apa yang dia rasakan ketika merasa senang dan alasan Nomura merasa senang hari itu. 

Ketika saya tahu bahwa teman saya menerbitkan buku ini, i was like saying, "Wah, ini shinta banget." Karena anaknya ini suka banget tertawa. Jadi, dia ini suka lupa hal-hal yang sebenarnya kalau dikumpul itu bisa bikin gondok hati. Semuanya diketawain. Cucok lah .... 
Buku ini juga memiliki judul-judul lain, seperti: Saat Aku Sedih, Saat Aku Marah, dan Saat Aku Takut. 

Kedua buku ini dikemas dalam hardcover sehingga cocok dijadikan hadiah untuk anak-anak usia 2-5 tahun. Apalagi harganya di bawah Rp50000,- Jadi ga berat lah jika dijadikan koleksi perpustakaan kelas playgroup atau PAUD. Kalimat yang pendek dan ilustrasi yang minimalis memudahkan anak-anak fokus dalam cerita saat dibacakan atau membaca mandiri. Semoga juga bisa seheboh serial Odong-odong Dongeng ya .... 



Minggu, 26 Maret 2017

SENINfo: Rasa dalam Penulisan Travel Blog





Baper. Itulah yang saya rasakan belakangan ini ketika melihat nasib kolom di blog saya, JJS alias Jumat Jelang Sore yang isinya terkait jalan-jalan. It has been like forever since the last time I wrote something about it. Udah lama banget ga keiisi ... huhuhu ... Belum lagi melihat tulisan-tulisan terakhir kenapa terasa kering, oh kenapaaa ...



Suasana sebelum Arisan Ilmu KEB di fx Senayan dimulai

Setelah beberapa minggu mengalami kebuntuan dan mulai melakukan pengaktifan otak kanan, alhamdulillah diberi jodoh untuk bergabung dalam Arisan Ilmu Komunitas Emak-emak Blogger yang akhirnya kembali diadakan di Jakarta. Topiknya tentang travel blogging pulak. Yah, walaupun niche saya ga spesifik di traveling, tapi jalan-jalan termasuk dalam sub-sub-sub tema traveling kan hehehe. 

Foto bareng Marischka Prue, biar tertular semangat travelling.


Dari sekian banyak yang dibagi oleh Marischka Pruedence sebagai narasumber, ada satu hal yang membuat saya merinding. Rasa. 

Ada saat ketika saya beralasan tidak menulis tentang jalan-jalan lagi adalah bahwa saya tidak pergi ke tempat-tempat keren seperti yang bertebaran di timeline media sosial saya. Yap, ngiri itu penyakit saudara-saudara.  

Padahal yang membedakan satu tulisan dengan tulisan yang lain itu bukan semata-mata topik kekinian melainkan rasa yang kita tebarkan dalam tulisan itu. It's like cooking something and you decided to use one brand of instant seasoning for all kind of food. Percaya deh, anak-anak ga akan suka. Mereka malah merindukan masakan minim bumbu, dan hanya diiris-iris, buatan ibunya sendiri. 

Rasa berasal dari pribadi kita sendiri. Itulah yang membedakan tulisan blogger dengan reportase. Ada pengalaman pribadi, ada pendapat pribadi yang membuat pembaca dekat dengan tulisan kita. Rasa ini dapat dibantu dengan penggunaan foto. Foto dapat membangkitkan kembali rasa saat kita mengalami perjalanan tersebut. Hal-hal kecil yang mungkin awalnya tidak dianggap penting. Oleh sebab itu, rasa tidak hanya berlaku pada tulisan inti melainkan juga dalam caption foto. Apalagi, pengolahan caption foto yang tepat akan memudahkan tempatnya di laman pencarian.  Duh, rasanya ingin segera minta cuti satu hari buat renovasi postingan blog. I feel like an old lady who hasn't brush her hair for years. I need a makeover.  

Prue, begitu dia biasa dipanggil, saya mengetahui tentang dirinya agak terlambat. Sepertinya ketika dia memenangkan lomba foto sebuah minuman kaleng, deh. Saat dirinya ditanya, mengingat dirinya yang memang seorang travel blogger pastinya akan mengalami pergi ke suatu tempat untuk ke sekian kalinya. Lalu bagaimana cara dia meningkatkan kualitas penulisannya?
Again, rasa. 

Perhatikan bahwa satu subjek dapat menghasilkan banyak ide tulisan blok



Gairah kita akan rasa mampu mendorong kita ke sudut pandang yang berbeda, walau dalam satu destinasi yang serupa. Kita akan terkejut mengetahui bahwa ada begitu banyak hal yang dapat dieksplor dalam satu destinasi.  Hal yang mungkin kemudian membuat kita kewalahan harus memulai dari mana. Beruntungnya, wadah blog memungkinkan kita membuat beragam postingan walau hanya dari satu topik. Karena karakter pembaca blog yang kebanyakan menggunakan ponsel untuk blogwalking, lebih memilih postingan yang tidak terlalu panjang dan tidak terlalu banyak hal yang dibicarakan. Semakin spesifik, lebih baik. Bisa-bisa jatah postingan untuk satu minggu habis hanya dari satu subjek. 

Memangnya ada yang mau baca? Apalagi kalau terlampau terpecah temanya, bisa-bisa ada artikel recehan. 

Hei, recehan is fun. Kata Prue.

Segala macam tulisan selalu ada pembacanya. So don't worry. Write it and don't forget to share it. 

Share adalah pintu yang membuka banyak kesempatan dan peluang. Jadi harus selalu percaya diri dengan tulisan sendiri. Selama sudah diberi tag yang sesuai dan di-edit sebelum di-posting. Ingat, etika penulisan tetap dijaga tanpa mengurangi kesenangan pribadi dalam menulis. 

Pulang dari Arisan Ilmu KEB yang diselenggarakan di fx Senayan, saya terisi kembali. I said, okelah, saya mungkin belum ke tempat-tempat keren dan kekinian itu, tetapi hidup di masa kini itu adalah being alive in wherever you are, right now. And I would bring that alive feeling in my posts. 

Semangaaaaat!!!! 

Rabu, 15 Maret 2017

RABUku: Menolak Lupa Pak Raden



Kabar meninggalnya Pak Raden 2015 lalu, menyisakan kegundahan di hati saya. Bagaimanakah nasib karya-karyanya nanti? Saya merasa sayang karena anak3 belum pernah merasakan fenomena Pak Raden, si pencerita yang jago menggambar. Apalagi dokumen saat saya berkegiatan bersama beliau di komunitas KPBA tidak ada. Yah, walau kenangan itu selalu melekat di hati. 

Lalu kemudian, salah satu kawan editor di penerbit Noura memberi kabar bahwa buku karya Suyadi alias Pak Raden akan diterbitkan kembali. Hati senang bukan kepalang. Walau mengaku sebagai penikmat Pak Raden dan dongengnya, sewaktu kecil saya malah tidak pernah baca karya-karyanya kecuali dalam bentuk buku pelajaran. Ingat buku 'ini budi'? 

Dan ketika penerbit Noura Books membuka preorder, saya segera mengantri. Inilah kesempatan saya meneruskan warisan Pak Raden ke anak3 .... because he was that good.



Ada dua judul yang menjadi comeback pak Raden, yaitu Seribu Kucing untuk Kakek dan Pedagang Peci Kecurian. 


1. Seribu Kucing untuk Kakek
Pak Raden dan kucing itu sahabat sepanjang zaman, maka tidak heran jika salah satu bukunya melibatkan kucing. Berawal dari seorang kakek yang tidak memiliki anak cucu, ingin memelihara anak kucing. Dibantu istrinya, dia meminta anak kucing ke siapa pun yang dijumpai, tapi nihil. Keesokan paginya, kakek nenek itu terbangun oleh suara kucing. Bukan satu kucing, tapi banyaaak sekali. Haduh, bagaimana ini?

Cerita ini selain memunculkan rasa iba tapi juga bagaimana kakek memecahkan masalahnya dengan cara yang cerdas dan menyenangkan semua pihak yang terkait. Dan di akhir cerita, si kakek nenek pun mendapat berkah tambahan atas kemurahan hatinya. 

Buku ini lebih tebal dari kebanyakan buku anak-anak bergambar. Jadi saya lumayan ambil napas panjang sebelum membacakan untuk anak-anak. Ilustrasi kucingnya membuat si bontot gemas, apalagi ada 'seribu' kucing dengan berbagai corak dan polah. 

Walau settingnya di kampung dan mungkin tempo dulu sehingga masih bertelanjang kaki (hal yang sangat disukai anak3 saya hehehe), tetapi ceritanya tak lekang oleh waktu. Love it. 

2. Pedagang Peci Kecurian
Seorang pedagang peci memutuskan untuk beristirahat di sebuah pohon rindang di hutan. Namun, ketika tertidur, sekelompok monyet mengobrak-abrik peci dagangan dan kemudian dipakai. Terbangun dan kaget, si pedagang mendapati monyet-monyet itu di atas ranting pohon yang tinggi dengan mengenakan peci-pecinya. Apa yang akan dilakukan pedagang demi mendapatkan kembali pecinya?

Lagi-lagi melibatkan binatang dan bagaimana ide cerdas tetap bisa mengalir di keadaan apa pun. Walau digambarkan si pedagang marah, tapi tidak terucap kata-kata negatif di dalamnya. Sehingga suasananya tetap cenderung jenaka. Biasanya, anak3 saya ketika dibacakan cerita yang subjeknya ada yang dikerjai, mereka akan marah. Nah, di buku ini, mereka turut tertawa. Istilahnya, emosi terjaga lah. Ga pakai drama-drama atau becandaan slapstik. 


Looking forward for the next titles. Hanya sedikit usaha dari saya untuk berterima kasih pada beliau karena telah hadir di masa kecil saya. Dan ketika dewasa berkesempatan bertatap langsung dengan Pak Suyadi, yang bagi saya dia bak sosok kakek yang tak pernah saya rasakan. Saya tak akan lupa. Dan semoga anak3 saya pun juga begitu. 

Launching buku ini akan diadakan hari ahad ini, tanggal 19 Maret 2017 di perpustakaan kemendikbud senayan mulai pukul 9 pagi loh. Yuk ketemuan di sana. 

Rabu, 08 Maret 2017

RABUku: Duet Motivasi dari Noura Books



It's been a while since the last time I bought book for myself. Biasanya buku-buku anak yang memang pada dasarnya koleksi juga, hingga akhirnya 'dianiaya' sama anak3. 

Sejak pertemuan terakhir di Indonesia International Bookfair 2016 lalu, saya memang sudah menantikan buku dari Pak Rhenald Kasali. Walau Pak Rhenald sendiri malah mengatakan, hati-hati loh sama buku kumpulan kutipan. 

Penulis buku kedua malah sudah lamaaaaaa sekali tidak berjumpa. Ya, Gobind Vashdev. Dulu, saya yang kelola buku pertamanya, Happiness Inside. Begitu saya mengundurkan diri, kami tak bersua lagi.  Singkat kata, saya yang punya terlalu banyak alasan hehehe .... Membeli buku dari dirinya langsung saya maknai sebagai cara menjalin silaturahmi sekalian beli arang untuk dimasak bersama nasi karena mas Gobind juga buka lapak atas nama wisdom shop.


Nah, langsung ke laporan bukunya deh.


BAPER
by Rhenald Kasali

Eh jangan baper duluan. Ini tuw, Bawa Perubahan. Sejalan dengan buku-buku Rhenald Kasali sebelumnya, tema berubah masih dipakai oleh Pak Rhenald. Penekanannya adalah, "apakah Anda mau tetap jadi passenger atau driver?"

Menjadi seorang driver berarti kita didorong untuk mampu berinisiatif dan akhirnya berkreasi. Terbayang dong ya analogi sopir ini. Jadi sopir kan ga bisa pasif. 

Cara latihan menjadi seorang driver adalah traveling sendirian. Yak, sendirian. Dan jangan ngandelin paket tur yaa ... 

Hahaha ini masalah saya banget sebagai tukang nyasar. Jadi ketika harus bepergian jauh sendiri-which is baru satu kali kayanya-saya mendadak mengeluarkan segala radar reminder. Lelaah. Ya memang, walau sering protes karena merasa diatur-atur (baca: dilarang) orangtua atau kakak3, kenyataannya saya orang yang punya kelemahan dalam mengambil keputusan. Mungkin ini akibat ya, tapi kan dah kejadian. Dan mengubahnya itu suliiit banget. 

Maka ketika pak Rhenald menyarankan untuk bepergian sendiri sejak dini, saya jadi ingat anak-anaknya Erwin Parengkuan bahkan bepergian berdua saja (kakak beradik) ke Ceko. Oh my God. Gue melongo. Ibunya sampai nangis-nangis ketika sudah berpisah sama anaknya. Terkadang kita sering terlalu larut dalam rutinitas mengurus(i) anak, kan. 

Nah, ini yang kemudian menjadi semacam cita-cita saya untuk anak-anak. To travel alone. Bukan dalam rangka kabur dari rumah atau patah hati kaya bapaknya yaaaa ... 

Kembali ke buku. Isi buku ini berisi kutipan-kutipan pak Rhenald terkait tema di atas. Dibuat sedemikian hingga supaya menarik. Sayangnya tidak ada yang berupa handlettering (maaf, saya masih lagi norak2nya dengan handlettering). Rasanya terlalu maskulin. Rupanya wajar saja, yang menyusun adalah anak-anak didik (plus anak kandung) pak Rhenald dari Rumah Perubahan yang kebetulan cowok semua. But still beautiful kok. Apalagi karena pesan ketika pre order, saya dapat bonus notebook-nah saya jadi bisa latihan handlettering. 

Buku ini bisa jadi 'tampar moment' hingga reminder seandainya dah merasa jadi driver tapi lupa caranya. Dirancang hardcover tapi ringan, jadi dapat dibawa kemana-mana dan dibaca di manapun. 


99 Wisdom
by GOBIND VASHDEV
Jadiii sejak terakhir bertemu, saya lebih banyak kepo-in mas Gobind via FB. Nah kumpulan renungan ini berasal dari FB. Mas Gobind sendiri mengungkapkan pada awal bukunya yang diberi tajuk copyleft instead of copyright, yang intinya seluruh isi buku ini ada di FB, silahkan dibaca. Tapi bagi yang suka membaca dalam bentuk buku, maka penulis akan menanam pohon untuk setiap eksemplar yang terjual...

Ga usah kaget, ga usah bingung. Yah, walau mungkin memang akan banyak menganga kalau mengetahui sedikit demi sedikit tentang Gobind Vashdev dan keluarga. Another color in life. 

Tulisan Gobind sekilas berbeda dengan tulisan Rhenald. Namun, garis besarnya sama. Berubah. Kalau pak Rhenald cenderung progresif. Mas Gobind lebih destruktif. Tanpa batasan, tanpa tergesa. Embrace. Terima dan kasih. 


Bagi saya, dua buku nourabooks yang terbit di bulan yang bersandingan ini menjadi semacam amunisi untuk lebih giat menjadi orang yang lebih baik. 

Kalau kamu?

Rabu, 04 Januari 2017

RABUku: Bergabung dengan 4 Sahabat Super Menyelamatkan Hutan Indonesia


Valerina Daniel is back! Yeay ... Ini momen agak personal sih bagi saya ketika pada bulan November 2016 lalu Valerina Daniel (Runner-up Putri Indonesia dan Duta Lingkungan untuk Kementrian Lingkungan Hidup) mengumumkan bahwa akan me-launching serial buku anak terbarunya di gelaran Indonesia International Book Fair. Kali ini bukunya hasil duet cantik bersama putri sulungnya, Keisha. Saya masih ingat tujuh tahun yang lalu, sayalah editor in chief dalam penerbitan buku Easy Green Living dan saat itu Valerina juga mengeluarkan serial buku anak. Dan setelah beberapa tahun tidak terdengar kabarnya karena sibuk belajar ke luar negeri lalu sempat menetap di Amerika menemani suami bertugas, tahun kemarin Valerina Daniel is officially back.

Dalam terbitan kali ini, Valerina dan Keisha memboyong 4 binatang andalan Indonesia. Ya, 4 sahabat super adalah sekelompok hewan yang menggunakan kekuatan supernya untuk memberikan pertolongan di tempat mereka tinggal. Mereka adalah; Orang si Orang Utan yang sangat lincah, Cendra si Cendrawasih yang bisa melihat dari jarak yang sangat jauh, Mau-Mau si harimau yang mampu melompat jauh dan berlari sangat cepat, dan Kombo yang sangat kuat.

Serial 4 Sahabat Super ini dapat dibaca untuk anak-anak usia 2 tahun ke atas, tentu saja orangtuanya yang membacakan yaaa ... Bagi yang sudah bisa membaca mandiri, pendampingan orangtua juga tetap perlu untuk mencari informasi tambahan terkait tokoh-tokoh di buku tersebut. Bukan tanpa maksud loh Valerina menempatkan karakter binatang-binatang tertentu di buku itu. Namanya juga Duta Lingkungan, ga mungkin ga ada pesan-pesan terselubung. Seperti misalnya, Tarsius. Ada yang tahu itu apa?

Saya sendiri baru tahu tentang Tarsius. Monyet imut bermata besar asli Sulawesi ini memang baru ditemukan pada 2005 lalu. Namun, sayangnya sejak ditemukan populasinya merosot hingga 80% dan mulai masuk kategori terancam punah. Hadooh, kenapa ga kecoa aja sih yang punah? (curhat ibu-ibu di dapur).

Membacakan buku ini tidak hanya tentang mengenalkan hewan-hewan asli Indonesia tapi jika ditelisik lebih dalam, semua binatangnya masuk kategori terancam. Ga mau kan, hewan asli Indonesia berakhir hanya di gambar?

Ngomong-ngomong soal gambar, ilustrasinya dibuat manual loh, bukan digital.

Sementara ini, serial 4 Sahabat Super baru muncul dengan tiga judul: Menangkap Pemburu Gajah, Menolong Tarsius, dan Menyelamatkan Macan Tutul. Dengan harga Rp65000, serial ini cocok untuk koleksi bahkan hadiah karena kemasan hardcovernya.

Can't wait for another titles ...

Jumat, 30 Desember 2016

CREATIVITY IN A SQUARE: Dari Playdate Jadi Kalibata Tahfidz Club


Setiap Senin—Kamis, lepas shalat Ashar, satu per satu anak-anak keluar dari unit di Kalibata City menuju satu pintu, ruang TPQ di Masjid Nurullah Kalibata City. Anak-anak dengan usia mulai 4 tahun hingga bahkan ada yang sudah SMP kemudian berkumpul dalam masing-masing kelas yang dipisahkan oleh tabir. Bekerja sama dengan Sanggar Qurani, Kalibata Tahfidz Club menjadi cluster dengan santri terbanyak, lebih dari 100 orang. Subhanallah melihat antusiasme orangtua dalam mendidik anak-anaknya di tempat yang lebih terkenal untuk segala skandalnya.

"Mulanya dari kumpul bocah saja di taman setiap sore. Lalu kemudian tercetuslah ide, bagaimana kalau diadakan kegiatan mengaji." Ujar Ibu Ria saat menapak tilas asal mula kelompok tahfidz ini bersama dua orang ibu-ibu muda lainnya, Ibu Rahma dan Ibu Pipit, yang juga saling bertetangga di Kalibata City. Kejadian itu lima tahun yang lalu. 
 
"Kami pun mulai mencari tambahan anak-anak, selain anak-anak kami, untuk ikut kegiatan ini. Gurunya kami cari yang tinggal di sekitar Kalibata City. Waktu itu jumlahnya 10 orang."

Sepuluh anak itu kemudian 'menumpang' mengaji di salah satu pojok masjid. Ternyata, kegiatan ini viral dan tak butuh waktu lama, ada 30 anak yang mengantri mengaji oleh satu-dua guru.

"Kami yang tadinya sempat membuat semacam kurikulum akhirnya menyerah juga dan kemudian mencari lembaga tahfidz yang lebih mapan. Qadarullah di situlah kami berjodoh dengan Sanggar Qurani."

Bersama SQ, Kalibata Tahfidz Club memfokuskan diri belajar Tahfidz (satu ayat satu hari) dan Tahsin dengan metode ummi.


Ruang masjid jadi ramai, tak jarang jadi rusuh karena bocah-bocah yang sedang senang-senangnya memiliki kaki sehingga berlarian, berlompatan ke sana ke mari, melintasi orang-orang yang tengah shalat. Situasinya antara terharu sama nyeri. ^^ Maklum, bagi anak-anak kegiatan KTC ini sebagai ajang playdate dengan tetangga.

Jumlah santri yang kian bertambah akhirnya mendorong takdir berpindahnya tempat mengaji. Berparalel dengan masjid, ada sebuah ruangan kosong yang akhirnya diperbolehkan untuk digunakan sebagai kegiatan Kalibata Tahfidz Club. Dan sejak itu, kegiatan KTC pun kian bervariasi untuk membangkitkan semangat anak-anak dalam belajar.

Tahun 2016 ini KTC melakukan wisuda untuk para santri yang sudah lulus juz 30 sekaligus pesantren kilat gratis selama dua malam khusus untuk santri dan santriwati KTC pada bulan ramadhan. Banyak kegiatan lain yang sifatnya merekatkan hubungan antara santri, assaatidz dan para wali santri, seperti aneka lomba saat 17 Agustus atau rihlah ke kebun binatang Ragunan. Sederhana tetapi tetap meriah.

Walau berawal dari sudut masjid, lalu sempat pindah ke ruangan kosong tanpa AC, kini ruangan TPQ kian nyaman dengan AC standing dan AC central yang terpasang di ruangan yang luasnya bisa memuat lebih dari seribu orang itu. KTC bahkan kini tengah membuat Pojok Perpustakaan sebagai  fasilitas yang kian melengkapi masjid dan menjadi wadah anak-anak menambah ilmu. Ada yang mau menyumbang? Silahkan .. raknya masih banyak yang kosong loh.

Ibu  Ria kini menjadi Ketua Cluster Kalibata City setelah dua tetangga cantik nan pintar ini kemudian memutuskan menjadi alumni Kalibata City, walau masih sering membantu untuk berbagai kegiatan besar. Cita-citanya adalah semoga Kalibata Tahfidz Club terus ada, terus berkembang, dan senantiasa membawa kebaikan bagi anak-anak.  Karena sungguh indah ketika masjid dihiasi oleh tawa anak-anak di sela lantunan hapalan mereka.


Sabtu, 17 Desember 2016

CREATIVITY IN A SQUARE: Menanamkan Sportivitas sejak Dini bersama Futsal Anak Kalibata City



Bertempat tinggal di lingkungan apartemen apalagi sekelas rusunami Kalibata City dianggap sebelah mata terutama bagi yang berkeluarga.

Cibiran seperti, “Anak-anak nanti main di mana, ga punya halaman!”  “Kasihan banget di rumah saja, nanti asosial.” Dan jika ada yang ‘kurang’ dari anak kami, lingkungan jadi bulan-bulanan.

Padahal, masa anak-anak main di unit saja? Apalagi usia batita, sekolah belum, terus dikekeup aja gitu di unit? Ya ga lah, cyiiiin... itulah gunanya ada taman. Memang bukan sebesar Taman Honda Tebet, tapi setidaknya ada meeting point untuk anak-anak. Di Kalibata City, taman dengan fasilitas alat bermain tersedia di setiap tower, dan sebagai warga ya sah-sah saja bertandang dari satu tower ke tower yang lain. Di bagian Kalibata City Regency, tersedia lapangan basket yang juga bisa dipakai untuk futsal. Di bagian Green Palace bahkan ada lapangan tenis, not to mention kolam renang yang rada eksklusif kalau mau main di situ (harus nebeng kartu yang tinggal di Green Palace, dalam artian harus berkawan doooong).



Dengan banyaknya ibu-ibu  muda berkualitas di sini, tak heran muncul Ibu Dianda menjadi pelopor klub futsal anak di Kalibata City. Hal itu semata-mata ingin memberikan program latihan fisik bagi putranya. Maklum, jebolan psikologi. Jadi pahamlah pentingnya motorik halus dan kasar.

Beliau mencari sendiri gurunya, rajin juga ya. Keliling daerah sekitar Kalibata City dan akhirnya berjodoh dengan Bang Kate yang memang sudah biasa menangani anak-anak alias bocah-bocah TK. Kenapa bocah TK? Ya, karena itu usia putranya dan program futsal yang ada biasanya untuk anak-anak SD yang sudah lebih besar atau bahkan untuk dewasa. Padahal masa-masa TK anak-anak itu juga lagi ga bisa diam loh. Seolah energi tiada habisnya.

Pada awal Januari 2016, ibu Dianda lalu mempromosikan programnya. Masa main futsal sendirian? Ajak yang lain dong.

Lewat grup-grup tower, info tersebut tiba di ponsel saya. Saya pun mendaftarkan putra saya yang saat itu masih berusia 4 tahun dan belum sekolah. Pikir saya, ya masa dia hanya jadi tim antar jemput kakaknya saja.

Bagi saya, berlatih futsal itu memiliki kandungan banyak pelajaran, selain olah fisik, keseimbangan, juga terkait kerja sama dan strategi. Yaah, harapannya sih biar si cowo satu-satunya ini tidak galau dan tidak sebentar-sebentar nangis hehehe ...



Ternyata mengajari bocah-bocah 4 tahun main futsal itu rada-rada gemesin yaaa. .. Ya berantem lah, ya nangis lah, ya tidur di lapangan lah (itu anak saya ^^’). Namun, Bang Kate ini seperti tidak terpengaruh, baginya anak-anak itu jika memang minat, nantinya akan mengikuti kawan-kawannya yang mengikuti instruksi. Jadinya beliau tidak memaksa, melainkan mendorong.

Kami pun  kemudian memberi kesempatan bagi para calon anggota untuk percobaan satu kali, guna melihat sebesar apa sih keinginan anak-anak main futsal. Terlihat dari anggotanya yang datang dan pergi lalu datang lagi hehehe ...

Setelah beberapa bulan, melihat semangat anak-anak mulai turun, maka sempat kami adakan semacam kontes teknik. Tidak lama setelah kontes tersebut, Bang Kate baru mulai melakukan tanding di akhir penajaman teknik. Mungkin bulan-bulan pertama lebih ke penyesuaian kali ya ...

Bang Kate tidak sendirian, dia dibantu anak-anak didiknya guna mengatur anak-anak yang suka hilang orientasi itu. Tapi yah namanya ABG di akhir acara Bang Kate jadi sendirian juga ^^’ si asisten malah sibuk ngobrol sama kawan-kawannya. Ceritanya momong dua model bocah hihihi ...

Yang ingin bergabung, silahkan loh ya. Kita tanamkan cinta olahraga dan semangat sportivitas sejak dini. Siapa yang tahu mereka nantinya bisa mengharumkan nama negara di kancah dunia.

Peserta untuk  Usia 4 tahun ke atas. Terbuka untuk semua gender. Biaya bulanan di bawah Rp100000 kok. Kami latihan setiap hari Jumat di tower Jasmine Kalibata City, pukul 16.00-17.00.

KC Booooys...?
Yessss!!!