Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 April 2017

RABUku: Mencari yang Baru di Markas Gema Insani Press


Belanja buku selain di toko buku, saat pameran, atau via online, sejatinya bisa dilakukan di penerbitnya langsung. Beberapa penerbit di Jakarta, memanfaatkan sedikit ruang di bagian depan sebagai display buku. Salah satu keuntungannya, saya dapat melihat visi misi sebuah penerbit secara lebih utuh. Mengingat seringkali penerbit menggunakan banyak merk di setiap genre terbitannya, sehingga tidak serta merta tahu bahwa sebenarnya berasal dari rumah yang sama. Selanjutnya yang lebih murah, saya jadi bisa melihat koleksi lama yang sudah tidak ada lagi di pasaran. Intinya sih ini semacam pre gudang yang ditata lebih manusiawi hehehe ... 

Beberapa bulan lalu, saya berkesempatan mampir ke markas Gema insani Press. Ini kali pertamanya, walau sudah lama saya tahu kalau GIP berada tak jauh dari tempat tinggal saya di Kalibata City. Hanya saja, akses ke sananya tidak ada angkot langsung. Harus berjalan dengan jarak lumayan ke bagian dalam gang. Angkotnya Cuma perlu 5 menit, jalannya bisa 15 menit. Makanya begitu ada yang mau ke sana, saya semangat nebeng. 

GIP sudah lama dikenal dengan produksi buku bernapaskan Islam baik untuk dewasa maupun anak-anak. Saya sebenarnya tidak ada bayangan ingin membeli apa, karena menurut ingatan saya, kategori buku anak islami di rumah saya sudah hampir mencakup semua topik. Jadi saya lama berkeliling pelan di ruangan yang tak lebih dari 4x8 itu. Sambil nostalgia. Dulu semasa jadi editor di penerbit sebelah, jika tidak ada ide atau bosan, saya menikmati waktu berjalan berkeliling tumpukan buku. Menelaah judul demi judul, mencari apa yang unik dari masing-masing buku. 

Ternyata tak butuh waktu lama, saya sudah membawa setumpuk buku ke kasir. Malah sempat dikurangi karena saya baru sadar tidak bawa uang cukup. Malu-maluin aja hihihi

1. Serial Shahabiyah
Awalnya saya rada skeptis mau ambil buku ini karena ingin cara penceritaan yang bukan sekadar historis. Anak-anak terkadang cepat bosan atau malah jadi ga dapat feel-nya. Namun kemudian saya curiga, kok ilustrasi depannya modern. Padahal judulnya para shahabiyah. Rupanya kisah para sebahagian ini tidak serta merta diceritakan, melainkan mengambil adegan masa kini yang berkaitan dengan judul yang dimaksud. Serial ini terdiri dari 9 judul: Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Asma binti Abu Bakar, Umum Umarah, Umum Salamah, Fatimah binti Muhammad, Zainab binti Muhammad, Sumayyah binti Khabath, Al-Khansa. 

2. 3 Kota-kota suci Islam
Biasanya buku islam mengambil tokoh-tokoh tertentu untuk menceritakan suatu peristiwa. Nah, buku ini menggunakan kota-kota suci umat Islam untuk menceritakan berbagai peristiwa beserta tempat dan bangunan yang terkait dengan hal itu. Jadi rindu ingin ke kota suci deh. Sesuai serinya, ada tiga judul yang tersedia: Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis

3. Serial Fiqh 4 kids
Nah kalau yang ini pembahasannya lumayan umum niiy, tapi untuk usia yang lebih besar alias usia SD ke atas. Ada sepuluh judul untuk serial ini, di antaranya: Halal & haram dan Zakat.

4. Where Should I Put This
Saya agak bertanya-tanya saat mengambil buku ini. Benar niy cetakan GIP? Kok tumben terkait belajar bahasa Inggris. Tapi saya ambil juga untuk bahan perkenalan ke anak-anak karena secara tidak langsung bicara tentang preposisi. Maklum, belum les bahasa inggris. 


Rasanya saya masih ada yang tertinggal di sana hehehe yang dipisahkan karena uangnya tidak cukup. Next time lah yaa ... islamic Book Fair kan bakal digelar 3 Mei mendatang. 

Rabu, 03 Februari 2016

Belajar Mandarin dengan Ceria bersama Miao Mi




Ketika saya masuk kuliah sastra pada tahun 1999 (ih tuanya keliatan), terjadi perubahan dalam kuota kursi dan peminat untuk setiap jurusan. Jurusan sastra Inggris yang tadinya paling populer dan didampingi oleh sastra Prancis, kala itu bersaing ketat dengan Jurusan Cina. Ya, pada masa itu, ketika era reformasi baru bergulir, jurusan Cina justru meraih lonjakan peminat. Biasanya raja sastra Asia adalah Jepang dan Indonesia, tapi ternyata zaman sudah berubah.

Chindia, itu adalah istilah hampir 10 tahun lalu dalam menyoroti kemajuan China dan India di bidang perekonomian. Negara-negara berpenduduk terbanyak ini saling salip di peringkat negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar. Siapakah yang menang? "China kini telah menduduki peringkat kedua di dunia setelah Amerika sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar," ungkap Yudha Wibawa, Deputy CEO PT MNC Sky Vision, Tbk pada peluncuran saluran anak mandarin Miao Mi bekerja sama dengan Celestial Tiger Entertainment selaku operator saluran televisi Asia terbesar pada Kamis, 28 Januari lalu di Lolipop Lotte Grand Avenue.

Secara budaya, bangsa China sendiri senantiasa memiliki motto memperbaiki taraf hidup dengan berdagang sehingga sudah menjadi nyaris wajib untuk merantau. Ke seluruh dunia. "Even di Venezuela saja, saya ketemu loh Kampung China." ujar Melissa Karim yang didapuk sebagai bintang tamu Miao Mi bersama dengan putranya, Jazz.

Maka dari itu, setelah bahasa Inggris, bukan tidak mungkin bahasa Mandarin akan menjadi bahasa wajib kedua di dunia. Apalagi bagi keluarga yang memiliki visi bisnis atau industri. Bangsa China dikenal dengan penguasaan bahasa Inggris yang rendah dan sangat menghargai rekan yang mampu berbahasa mandarin.

Bukannya apa-apa, bahasa Mandarin itu sangat sulit untuk dipelajari. Setiap bunyi ada artinya, dan setiap huruf ada berbagai bunyi yang berbeda. Alamakjaaan ... Kerumitan bahasa ini yang membuat pelajaran menulis mandarin diajarkan sejak anak duduk di kelas 1 hingga kelas 6. Baru diajarkan loh ya belum tentu menguasai.



Maka hadirlah Miao Mi sebagai program pengajaran Mandarin di Indovision channel 38. Siaran yang ditujukan untuk usia 3-6 tahun ini akan membantu anak-anak mengenal bahasa mandarin dengan cara yang menyenangkan. Bagaimana tidak? Ada banyak serial televisi unggulan yang akan menghibur dan menginspirasi anak-anak dalam berbahasa mandari, seperti Bellbug Popo, Secret V, dan Star Babies untuk usia 3-5 tahun. Sedangkan untuk anak usia 5-6 tahun biasanya lebih suka yang bersifat aksi seperti Happy Friends, Little Rabbit's Kung Fu Academy, Rubi, dan Pleasant Goat & Big Big Wolf. Pleasant Goat & Big Big Wolf adalah kartun animasi peraih penghargaan dan sangat popuker di sekolah anak-anak di China dan telah disiarkan di lebih dari 40 saluran TV lokal di Asia. Hampir semua tayangan meraih penghargaan dan populer, jadi ga perlu ragu soal kualitas edukasinya kan.

Sedangkan acara utama, yaitu Miao Mi Classroom akan hadir selama dua puluh menit di antara setiap acara. Cara penyajiannya pun bermacam-macam, mulai dari penggunaan flash card, animasi, video musik, dan lagu-lagu yang mudah diingat.

"Asian value menjadi pembeda dan kelebihan program kami dibanding dengan program anak-anak lain yang berbasis dunia barat," terang Ofanny Choi, Executive Vice President, TV networks, Celestial Tiger Entertainment.

Yang lebih menarik lagi, beberapa acara bisa diatur bahasanya menjadi bahasa Indonesia atau Mandarin. Sehingga memudahkan sebagai awal belajar anak-anak dan kemudian akan tertantang mendengar yang versi bahasa mandarinnya.

Nah tunggu apalagi, Miao Mi bisa ditemukan di Indovision channel 38, Okevisio (Ch. 66) dan Play Media (Ch. 38). Versi on demand dan over the top akan tersedia dalam waktu dekat.

#akusukamiaomi

Rabu, 09 Desember 2015

RABUku: Emak-emak Belajar Hidup dari Rumi


Menyebut tokoh tasawuf ini kebayangnya bacaan beraaat banget. Namun, saat menerima buku ini .. Rasanya sayang kalau ga dibaca. Bukunya dikemas cantik dari luar sampai ke dalam.


Saat Festival Pembaca Indonesia akhir pekan lalu, ada talkshow buku ini. Saya semangat ingin pergi karena selain sudah lama ga main di komunitas buku, juga karena ingin bertemu mantan bos saya yang sekaligus penyusun buku ini, Pak Haidar Bagir.


Dan sebagai non pemburu tanda tangan, saya sudah sodorkan buku sebelum acara dimulai. Maklum bawa tiga anak, ga yakin bisa stay hingga akhir apalagi acaranya jelang makan siang.



Bertempat di tower 2 Synthesis Square Gatot Subroto, acara dimulai pukul 11.30 dengan dibuka oleh pengamat sastra Maman Muhiyaman. Dalam pembukaannya itu pak Maman berpendapat bahwa puisi-puisi Rumi yang dipilih dan diterjemahkan oleh Pak Haidar ini bukanlah puisi yang menganut paham "semakin rumit bahasanya, semakin tidak dimengerti, semakin bagus". Puisi-puisi Rumi begitu ringan hingga berbicara tanpa hijab. Seperti hati Rumi langsung bicarapada pembacanya. Memang karya Rumi umumnya mampu menggedor hati pembacanya.


Hal ini diamini oleh Pak Haidar. Kumpulan puisi ini berasal dari kumpulan cuitan Pak Haidar di twitter. Ditulis setiap jam 9 malam dan dinamakan "Rumi Night". Sesi ini diklaim sebagai sesi yang paling sering di retweet di akun beliau.  Seperti halnya siaran radio di atas jam 9 malam tentu bisa ditebak puisi macam apa yang dipilih. Puisi yang menggedor-gedor hati. Hati yang galau, hati yang kecewa, hati yang angkuh, hati yang minder ....


Sebagai seorang fast reader tentu tidak bisa menganut percepatan yang sama saat menikmati puisi. dalam tiga hari, saya pun belum tuntas membacanya. Bukan karena tidak paham, karena pak Haidar dengan terpaksa memberikan kesimpulan di setiap puisi Rumi. Kenapa terpaksa? Karena beliau tidak ingin membatasi persepsi pembaca dalam memahami puisi Rumi, tetapi karena banyak yang bertanya jadilah turut ditambahkan walau dengan font kecil dan warnanya terkadang saruh dengan latar belakang.


Oia kembali ke saya. Puisi-puisi itu lama tuntasnya saya baca karena di setiap usai membaca satu atau dua puisi, saya berhenti. Sesuatu memang telah menggedor hati saya. Hal buruk yang saya lakukan, ingin rasanya segera diperbaiki. Oleh sebab itu, saya menutup buku dan akan kemudian dilanjutkan setelah usaha perbaikan itu dimulai. Karena puisi-puisi Rumi mendorong kita memperbaiki diri, jadi kalau sekaligus dibaca akan overwhelmed.


Bahasanya? Tenang. Karena diambil untuk disiarkan lewat twitter maka Pak Haidar mau tak mau menerjemahkan dengan kalimat seefisien mungkin dan sesingkat mungkin jika tidak terpaksa membuatnya dalam dua kali cuit. Sehingga yang terjadi adalah penafsiran puisi Rumi yang mudah dipahami. Asal mau berpikiran terbuka, tidak merumitkan diri sendiri.


Seperti yang diduga sebelumnya, saya tak bisa hadir hingga usai. Saat pak Haidar tengah membicarakan destinasi tasawuf di Turki, saya harus undur diri. Anak-anak yang lapar bisa menimbulkan kekacauan hehehe ... Sampai berjumpa lagi, pak Haidar.


Jadi jika dikira emak-emak cuma tahan baca majalah atau novel-novel percintaan yang enteng, berarti harus coba baca kumpulan puisi ini. Sensasinya, rasakan sendiri ^.^

Minggu, 05 April 2015

hoMYNGGU: (Review Sekolah) Multiple Intelligence di Gen Cerdik

Akhirnya si Amy menyerah juga. Ga sanggup deh lagi hamil begini tapi juga harus ngehomeschooling anak-anak. Dan pencarian tempat berkegiatan untuk Malika  dan Safir pun dimulai. Awalnya cari yang dekat-dekat dengan tower tempat tinggal, ada beberapa tempat kursus calistung tapi kok ya sebel dengar penjelasannya. Lalu sudut mata melihat di sebuah sudut, ada promo tempat edukasi baru, tapi baru saja saya akhirnya punya tenaga untuk menghampiri stan promo tersebut, eh sudah ga ada. Jadilah saya ke tower Sakura, dengan plang nama besar bertuliskan Gen Cerdik.

Begitu masuk ke ruangan yang memang hanya satu itu, anak-anak langsung menghambur ke arah rak-rak yang isinya mainan. Sementara saya duduk di meja penerimaan. Waktu itu memang sepi, hanya ada dua tiga orang di dalam sana. Mungkin belum ada kegiatan belajar mengajar.
“Kegiatannya, bermain.”

Jelas si mba-mba. Pendek sangat. Alis mata saya naik sebelah. Oookeee ... Lalu dia pun menjelaskan satu per satu program yang diusungnya, ada: art, spatial, literacy, english club, iqro, fun science, role play, dan logic & math. Beberapa program baru saya pahami belakangan.

Spatial adalah kegiatan yang terkait dengan bentuk, sehingga banyak menggunakan permainan balok. Di sini ga semata-mata diajarkan cara membuat sesuatu yang keren dari balok sih, karena setiap minggu ada satu tema besar yang diajarkan di Gen Cerdik, maka disesuaikanlah dengan temanya masing-masing. Kalau sedang diintip kesannya memang nih anak main-main doang terus fasilitatornya foto-foto, padahal itulah bagian dari pembelajarannya. Jika seorang anak setidaknya mengambil 4 program wajib, maka terjadi simulasi dari berbagai sisi, sehingga kemampuan spatialnya pun turut berkembang. Dari yang awalnya mengurutkan balok-balok, membuat bentuk dalam kurva terbuka, tertutup dan bahkan kemudian bisa merencanakan sejak awal hendak membuat apa. Dalam perkembangannya, ini mendorong anak menjadi pribadi yang lebih terencana alias tidak gegabah.

Literacy sesuai namanya banyak terkait dengan buku. Lucunya di sini malah tidak diajarkan membaca. Perkenalan huruf ada tapi tidak menonjol. Saya ingat betapa Malika tidak suka dengan work sheet tracing di sekolah sebelumnya (itulah alasan saya tidak memasukkannya ke les calistung). Konsepnya adalah pemahaman. Biasanya diawali dengan membacakan buku sesuai tema, lalu kemudian mulai ke kegiatan yang terkait dengan buku itu entah dengan prakarya atau bermain peran. Ini sih Malika sama Safir banget. Secara mereka cerewet tapi masih harus belajar menyimak dengan baik. Jadi di kelas ini bukan mendorong anak bisa membaca, melainkan suka membaca, bisa memahami, bisa menceritakan kembali dan akhirnya mengemukakan pendapat. Menurut sumber yang pernah saya baca, kegiatan membacakan cerita di rumah itu lebih terkait dengan kemampuan berhitung alih-alih kemampuan baca dan tulis. Saya teringat dengan penjelasan salah seorang pengelola kursus calistung bahwa ada anak usia SD yang mengerjakan PR di tempat itu dikarenakan mereka tidak paham dengan soal matematika. Jadi bisa baca belum tentu bisa paham loh ya. Saya pikir, oh pantas kok Malika senang banget hitung-hitungan padahal jarang saya stimulasi ke arah itu. Dan itu membawa saya ke penjelasan selanjutnya.

Logic & Math. Naah, di sini saya merasa pas, ketika matematika disandingkan dengan logika. Pada pertemuan orangtua murid dengan para pengajar sempat dijelaskan step by step kurikulumnya. Ada proses yang panjang sebelum akhirnya mencapai angka dan penjumlahan. Seperti konsep ruang, volume, waktu, arah, dan kawan-kawan. Tahukah Anda bahwa anak-anak itu pada usia dini itu penglihatannya seperti dunia imajinasi, kalau di film kartun tuh yang berbagai objek itu masih ga karu-karuan bentuknya. Rumah miring, jalan bergelombang, dan lain sebagainya. Masih bercampur-campur antara nyata dan tidak nyata. Makanya konsep seperti ini harus diajarkan. Terdengar sepele? Well, saya sangat suka memanfaatkannya untuk membuat anak mandiri terutama ketika saya hanya mampu tiduran di kasur. Saya jadi tidak perlu mengambilkan segala sesuatu untuk anak, dengan instruksi dari saya mereka bisa mengambil sendiri sesuatu yang mereka butuhkan. Walau masih ada yang belum bisa, yaitu seni mencari. Mencari barang tersembunyi bukan Cuma sulit dilakukan anak-anak tapi juga orang dewasa. Ayahnya anak-anak contohnya hehehehe ... Singkat kata belajar pemetaan. Setelah bisa memetakan sesuatu barulah ketemu matematika. Jadi ingat waktu SMA ga sih ketika belajar logika, saya sempat bingung, ini bidang apaan sih kok masuk ke matematika. Rupanya itu sangat berguna dalam memetakan sebuah masalah. Mudah-mudahan sih anak-anak jadi terstimulasi logikanya jadi ga sebentar-sebentar kebawa emosi.  

Itulah penjelasan di antaranya, nanti saya kepanjangan nulisnya.


 Nah, terus bedanya apa dengan di rumah? Saya membatin kala itu.
Kadang saya merasa lucu, ketika di tempat yang bangga dengan kurikulum mencetak anak yang bisa calistung di usia dini, saya sebal. Ketika ke tempat yang dengan entengnya bilang tempat edukasi yang fun alias banyak mainnya, saya agak error. Harusnya kan saya klop banget dengan metode itu. Namun, rupanya saya masih terpengaruh dengan apa kata dunia. Bagaimana saya menjelaskan pada orangtua saya terkait di manakah anak-anak mengemban ilmu? Jangankan orangtua, ketika saya memutuskan menunda TK Malika, suami menganggapnya sebagai penghematan uang pendidikan padahal kegiatan di rumah kan ga Cuma main. Mainannya pun dipilih. Outingnya dijadwalkan. Pakai duit semua itu hehehe.

Toh, akhirnya pada Februari si ayah setuju memasukkan anak-anak ke Gen Cerdik. Kalau anak-anak mah semangat banget ke sana, karena kami bilangnya Kelas Bermain. Program yang diambil adalah spatial, literacy, english club, fun science, dan logic & math. Dalam satu sesi ada dua program masing-masing satu jam. Jadi setiap hari anak-anak ngendon di Gen Cerdik selama dua jam. Saya yang awalnya membatin akhirnya mau tak mau harus menentukan pilihan agar tidak galau. Sudah jelas bahwa ini sejalan dengan konsep yang hendak saya jalankan di rumah, yaitu menambah pengalaman sekaligus wawasan. Namun, kondisi hamil yang suka semaput sendiri ini membuat saya harus merelakan mencari support system lain yang mendukung visi misi saya. Untuk Malika, visi misi saya adalah menyelamatkan hubungan ibu dan anak. Saya yang jadi (lebih) mudah senewen ini merasa bahwa semangat Malika yang sedang kembang-kembangnya harus diselamatkan, biar saya ada waktu untuk tenang dan kemudian bisa menyokong  segala kegiatan dia di Gen Cerdik. Sedangkan untuk Safir, yang pertama adalah membentuk lingkungan yang permanen sehingga dia juga punya teman permanen. Anak-anak memang main di taman, tapi karena jadwalnya berubah-ubah, ya temannya ganti-ganti. Kedua, mandiri. Biar dia ga ngelendotin kakaknya terus. Kakak ga ada dicariiin, kakak ada jadi berantem. Bah. Misi ke dua ini masih bertahap dilakukannya, targetnya ya ketika Malika masuk TK di awal ajaran baru nanti. Sekarang baru satu program saja yang dilakoni Safir sendirian.

Namun, bukan berarti tempat ini tidak memiliki kekurangan. Ketika minat warga Kalibata City meningkat terhadap Gen Cerdik, maka mulailah terlihat kekurangannya. Misal, kurang ruangan. Gen Cerdik memang hanya terdiri dari satu ruangan luas. Sehingga hanya bisa menampung satu program dalam satu waktu. Tapi karena orangtua pun dibebaskan memilih program dan harinya maka terjadilah penumpukan di beberapa program di waktu tertentu. 15 anak dalam satu ruangan ituuuu riuh banget loh, walau tenaga fasilitatornya sedang perlahan-lahan ditambah. Beberapa fasilitator baru pun ada yang masih kurang sreg dirasa oleh para orangtua. Yeah, it’s a process.

Ide menambah ruang sounds like a great idea, tapi itu menimbulkan biaya baru bagi orangtua. Dan lagi mungkin juga secara hitung-hitungan belum sampai level mendesak menambah ruangan baru karena di program lain malah cenderung sepi alias di bawah 8 orang.  Again, ini proses semoga ketemu jalan keluar lain.

Oleh karena terjadi pertambahan murid dan fasilitator, maka fasilitator senior pun mulai terlihat kewalahan. Laporan siswa yang awalnya dijanjikan tiap bulan, belum saya dapatkan. Setidaknya untuk saya. Jadi saya lebih memilih konsultasi langsung ke fasilitator anak-anak sebelum menentukan apakah akan meneruskan, menghentikan, atau menambah sebuah program di bulan baru atau tidak. Saya memang lebih senang bicara langsung karena lebih real time jadi saya bisa langsung menyokong pertambahan wawasan anak-anak di rumah.

Bagusnya tim Gen Cerdik ini terbuka dengan segala masukan. Grup whatsapp orangtua siswanya juga aktif karena kerap di-share tentang parenting dan kecerdasan anak. Pada bulan pertama Malika dan Safir masuk Gen Cerdik lucunya dua kali pula mereka disyuting stasiun televisi. Haiyah. Tapi bukan karena disyuting loh makanya ditulis di sini.


Info lebih lengkap silahkan follow twitternya di @gencerdik
Atau datang langsung ke Gen Cerdik yang terletak di kawasan KCS Walk tower Sakura Kalibata City.

Link liputan dari Net TV ada di sini dan di sini yaaa .... maap kalau ketemu muka saya hehehe ...


Kamis, 05 Februari 2015

KAMYStory: Belajar Tidak Urut Bab


Pernahkah Anda mengeluarkan pernyataan seperti ini?

“ Mobilnya mewah tapi kok buang sampah sembarangan?”

“Ngakunya ustad kok perilakunya begitu?”

Dan lain sebagainya.

Well, saya pernah. Sasaran pertamanya adalah ayah saya, saya merasa ayah saya tidak melakukan ajaran agama sebagaimana mestinya. Yah, seperti pernyataan di atas, “Katanya beragama, tapi kok galak banget?” Hingga kemudian di usia remaja itu saya melakukan protes dalam sunyi. Saya menolak shalat lima waktu dan saya tidak suka semua guru agama saya. Pikir saya waktu itu, “ngapain shalat rajin-rajin tapi ga jadi orang baik” atau “ah, pak guru ini sama aja ngomongnya dengan papa”. Kotoran banteng lah.

Lalu kemudian saya mengalami saat di mana sayalah yang dipandang seperti itu. Suatu hari di SMU, saya pernah merokok di sekolah. Waktu itu sudah malam, jadi biasanya pengawasan sekolah nyaris tidak ada. Sekolah masih ramai dengan pelajar karena ada semacam malam berkumpulnya para penggiat ekstrakurikuler. Oleh karena saya merokok di samping mushalla ya berpapasanlah saya dengan anak rohis. Dalam bisik-bisiknya pada temannya, saya bisa mendengar, “Topeng-topeng.” Saya tahu itu arahnya ke mana. Dipikirnya saya pakai jilbab hanya sebagai topeng menutupi betapa nakalnya saya.

Saya tak kalah picik menjawab dalam hati. Sorry ya bung, hanya karena gue tutup aurat, gue ga boleh merokok? Lha, cowo-cowo yang pakai celana panjang emangnya ga tutup aurat? Banyak tuw yang brengsek. Ga ada yang bilang celananya adalah topeng (or sarung). Asal lo tahu aja, nenek-nenek di minang itu pada merokok. Pada pake kerudung semua mereka. Huh.

Ya, tapi dalam hati. But I must say, been there done that lah. Namanya juga fase kehidupan. Dalam perjalanannya , kadar menghakimi dan dihakimi ini berubah-ubah hingga kemudian saya capek sendiri. Capek membalas dalam hati penghakiman orang. Dan cape nyinyirin orang lain. Oprah pernah berkata, seperti memakan racun dan berharap orang lain yang mati.

Lalu saya mulai meyakini satu hal, bahwa tidak semua orang belajar sesuai urut bab kehidupan yang berlaku. Misalnya, urusan jilbab. Pada masa saya baru pakai, persis mau masuk SMP, yang saya pikir bukan perihal hidayah. Melainkan bahwa pakai jilbab itu ga ada susahnya sama sekali. Apa masalahnya? Ya, mungkin karena saya cuek dengan penampilan. Toh selama ini baju saya juga ga pernah seksi-seksi. Eh, rupanya di masyarakat berlaku urutan bahwa ketika berjilbab, kamu harus mendadak alim.  Lha. Trus saya, piye? Masa tunggu jilbabin hati dulu? Saya kan masih remaja, harus mengalami masa labil. (alesan) .Ibarat menjawab soal ujian, bukankah disarankan lakukan yang lebih mudah terlebih dahulu? Dan kemudian berproses untuk berusaha menjawab soal-soal lain yang lebih sulit.

Yah, kaya si pemilik mobil mewah dan kebiasaan buang sampahnya. Ketika dia belajar untuk menjadi kaya, tidak disebutkan bahwa dia harus belajar buang sampah terlebih dahulu untuk bisa punya mobil mewah. Bisa jadi orangtuanya dulu terlampau sibuk mengajarkan cara menjadi kaya dan lupa soal yang namanya menjaga kebersihan, toh kalau kaya kan ada orang yang bisa dibayar untuk bersih-bersih.

Jadi kemudian saya pikir, yah maaf deh kalau saya tidak belajar sesuai urut bab. Tapi doakan saya tetap mau belajar, karena yang terburuk dari semua itu adalah berhenti belajar menjadi orang yang lebih baik karena manusia tidak pernah sempurna.

Yah, balik ke bab tadi. Orang yang sudah belajar bab 9 belum tentu lebih baik daripada orang yang baru belajar SAMPAI bab 5. Kalaupun sudah belajar, belum tentu paham, belum tentu suka, dan banyak belum tentu lainnya.

Saya cukup cocok dengan pemahaman ini, yang mungkin hanya karangan saya sendiri. Dengan mengatakan hal ini pada diri saya sendiri, saya cukup berhasil menahan diri dari setidaknya bersikap menghakimi. Entah ya kalau dihakimi, saya mah pasrah saja. Hehehe ...

Rasulullah sendiri menunjukkan sikap senantiasa mendoakan mereka-mereka yang bersikap negatif karena Rasulullah merasa hal itu dilakukan karena mereka belum paham, belum mengerti. Bahwa target yang ingin saya hakimi bisa jadi belum paham dengan tindakannya, atau jangan-jangan sayalah yang belum paham maksud dan tujuan si target itu. (well, ini tidak berlaku untuk Rasulullah, ya). All I could do is wishing them (and us) for the best in life. Bahwa semua yang terjadi dalam hidup adalah yang terbaik, yang senantiasa mendorong kita menjadi manusia lebih baik, jika kita mau mengambil pelajaran darinya.