Tampilkan postingan dengan label kamystory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kamystory. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 April 2018

KAMYStory: Menjelaskan ke Anak tentang Alkohol



Pagi itu selepas shalat subuh, terdengar bunyi dentingan lift. Lamat-lamat terdengar orang yang keluar dari lift mendekat ke arah lift. Ada beberapa orang, salah satu di antara tersedu-sedu. Lalu pintu unit dibuka. Rupanya tetangga yang mengontrak di depan unit. Tak perlu waktu lama, sedu-sedu itu berubah menjadi raungan. Saya dan Malika saling menatap tanpa bicara. Berusaha abai, fokus ke tugas masing-masing. Raungan yang kian menjadi itu kemudian berubah menjadi ...
HOEEEEK! HOOOEEEK!
Ada yang muntah.
D*mn


Jika bicara tentang alkohol, maka bisa dikatakan toleransi saya nol. Bukan dalam artian saya tidak kuat mabuk, tapi it’s a big no no for me. Masa lalu saya memang ada kenakalan yang saya lakukan, tapi yang berkaitan dengan mabuk, saya jauh-jauh. Ga mabuk saja sudah bandel, apalagi kalau mabuk.


Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi hal ini. Pertama, pengalaman saya mendapatkan beberapa pelecehan seksual oleh beberapa orang sewaktu saya kecil, membuat saya memasang alarm-alarm untuk beberapa hal yang mengingatkan saya tentang peristiwa itu. Salah satunya adalah alkohol, karena beberapa dari pelaku memang punya kebiasaan minum-minuman keras, walau saat mereka melakukan hal ‘itu’ pada saya mereka tidak dalam keadaan mabuk. Hal ini mengacu pada pembelaan orang-orang yang berkata bahwa mereka adalah peminum yang bertanggungjawab. Tetap bersahaja bagaimanapun keadaannya. Whatsoever. Buat saya, itu pepesan kosong.


Kedua, saya cocok dengan kisah seorang pemuda alim yang dijebak oleh seorang wanita. “Aku memberimu tiga pilihan untuk kau bisa keluar dari rumah ini, kau gauli aku, kau bunuh anak ini, atau kau minum khamr,” kata si wanita itu. Dan singkat cerita, si pemuda alim memilih meminum khamr karena mempertimbangkan hanya dia sendiri yang akan menanggung akibatnya. Ternyata dia berakhir melakukan ketiga pilihan tersebut.


Ketiga, suami saya memiliki sejarah persahabatan panjang dengan alkohol. Dan walau saya berusaha untuk selalu berpikir positif bahwa dia sudah tidak mengkonsumsi alkohol lagi, tapi sulit bagi saya untuk mempercayai bahwa teman-temannya juga sudah berhenti sama sekali. Biasa, kan, pergaulan mempengaruhi gaya hidup. Jadi ketika dia bercerita tentang masa lalu saat dia sudah terlalu mabuk untuk pulang ke rumah, biasanya dia akan dibawa kawannya ke rumahnya dan hal itu akan menggembirakan istri kawannya karena itu berarti suaminya tidak main gila dengan wanita lain. Seketika itu, saya langsung ketakutan. Man, bawa orang mabuk ke dalam rumah? Dan ada anak-anak di dalamnya? Ga cuma satu, tapi dua! Belum lagi istrinya berjilbab dan anak-anaknya sekolah di sekolah berbasis agama Islam. Bengong saya. Saya langsung merinding teringat bahwa pelecehan seksual yang saya alami pun terjadi di rumah sendiri.  Oleh sebab itu, saya pun menerapkan aturan. No drinkers allowed to come to my house and meet my kids. No way, jose.

Makanya doktrin tentang alkohol kepada anak-anak tidak semata-mata soal agama tetapi juga tentang hal lainnya.


“Nah itulah yang namanya orang mabok.”
Jawab saya ketika tetangga itu muntah-muntah dan Malika bertanya ada apa dengan dirinya. Lalu saya pun ceramah mulai dari segi medis hingga segi sosial. Bagaimana alkohol mempengaruhi tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan dan kadar berlebihan bagi tiap-tiap orang itu berbeda-beda. Dan bahwa intinya lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Saya sengaja bicara panjang lebar semata-mata agar suami tidak mengeluarkan komentar-komentar seperti, “ah dianya aja cupu ga tahan minum” dan sebagainya.


“Mabuk itu apa sih?” tanya Malika di usia batita ketika dibacakan kisah-kisah nabi dan tengah menjelaskan tentang perilaku kaum-kaum sebelum datangnya nabi.
Keluar deh kbbi ala saya. Mabuk adalah kondisi yang disebabkan oleh minum-minuman keras.
“Minuman keras itu apa?”
“Yah, yang mengandung alkohol.”


Lain waktu, dia bertanya usai melihat iklan.
“Napza itu apa?”
“Narkotika, obat-obatan dan zat terlarang lainnya.” Jawab saya singkat.
“Apa itu?”
“Zat-zat yang disalahgunakan orang-orang untuk menjadi mabuk.”
“Obat batuk termasuk obat-obatan terlarang, ga?”
“Ya, ga. Untuk kondisi kesehatan, misalnya sakit memang menggunakan narkotika, tetapi hanya boleh dokter yang mengaplikasikannya. Kalau dipakai-pakai sendiri namanya penyalahgunaan. Itu yang ga boleh.”


“Kalau sudah umur 21 tahun, kita dah boleh minum alkohol?” tanya Safir usai menanyakan tentang tulisan “untuk usia 21 tahun ke atas” di lemari pendingin berisi minuman keras di salah satu swalayan.
“Secara hukum pemerintah sih begitu. Tapi menurut hukum Islam, mau umur berapa pun juga ga boleh minum alkohol.”
“Kenapa masih boleh dijual, padahal kan orang Islam ga boleh minum minuman keras?” timpal Malika.
“Karena yang tinggal di sini kan ga hanya orang Islam. Ga semua agama melarang minum minuman keras.” Saya sok cool.
“Padahal kan jelas ga membawa manfaat. Nanti malah nyusahin orang lain.” Sungut Malika.
“Yaah, kalau di negara-negara dingin seperti di Eropa kan minum alkohol membantu mereka untuk merasa hangat.”
“Tapi di sini kan panas,” Malika menjawab balik. “Memangnya ampunwa Nurul minum alkohol, kan di Inggris tinggalnya.”
“Ya, ga sih.” Kadang saya suka lelah meladeni pertanyaannya.
“Banyak orang yang minum-minum karena ingin terlihat gaya, dianggap bisa meredakan stress, bikin orang happy, karena pergaulan.”
Dan dia merengut dengan penuh ketidaksetujuan.


Saat saya berfoto untuk foto di atas, anak kawan saya yang kebetulan juga turut ikut olahraga bersama bertanya, “Emang itu apa?”
“Tempat orang minum bir.”
“Orang Islam boleh ga masuk ke situ?” dan tahu-tahu ibunya menodong saya untuk menjawab.
“Yaah, tempatnya sih ga melarang orang Islam untuk masuk. Mereka kan yang penting bisa bayar aja. Namun seharusnya, orang yang mengaku Islam tidak masuk ke situ.”


Lalu saya biarkan ibu dan anak itu melanjutkan perbincangan.


Pendidikan ini belum berakhir. Semakin bertambahnya usia, akan semakin banyak pertanyaan terkait hal ini yang terucap dari mulut anak-anak ini. Terkadang saya merasa, anak-anak bingung melihat ada begitu banyak larangan yang diterapkan di rumah tapi bertebaran dilakukan di luar sana.


Celetukan seperti, “Apa orangtuanya ga mengajari itu?” berulang-ulang mereka ucapkan untuk berbagai situasi. Bukan dengan nada sinis, tapi serius bertanya.  Yang lama-lama seperti mempertanyakan kenapa seperti hanya aminya yang melarang hal itu.


Saya rasa di satu fase, jika saya salah-salah mengaplikasikan hal-hal yang hendak saya tanamkan, justru rumah sayalah yang kemudian akan dianggap aneh oleh anak-anak karena membatasi diri. Sungguh, harapan saya semoga fase itu tidak pernah ada. Bahwa mereka tidak punya kebutuhan untuk mencoba hal-hal semacam itu. Karena saya ga yakin bakal kuat mengatasinya.


“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS: al Furqan: 74)

Kamis, 01 Maret 2018

KAMYStory: PR dari Sekolah, Tugas Anak atau Orangtua?




Masa-masa masuknya anak TK menjadi anak SD, sedikit banyak membuat para orangtua deg-degan setiap kali anaknya diberi PR. Terutama PR yang berbau prakarya. Ketika anak duduk di kelas 1, saya masih merasa mafhum jika prakarya anak dibuatkan oleh orangtuanya. Namun, ketika ternyata bantuan itu berlanjut hingga ke jenjang selanjutnya, saya jadi bertanya-tanya sendiri. Mau sampai kapan, ya? 


Sementara itu, saya pun kenal dengan orangtua yang sama sekali tidak mau terlibat dengan tugas anaknya. Alasannya, dia tidak mau menjadi orangtua yang ketika anaknya sudah duduk di kelas besar, masih sibuk dengan tugas anak yang seharusnya dilakukan oleh anaknya, bukan orangtuanya. 


Tanpa bermaksud munafik toh saya sebagai bungsu, masa kecil saya dan juga tugas-tugas saya banyak dibantu oleh kakak-kakak saya.  Kebiasaan saya menunda-nunda tugas membuat tiga kakak saya (dengan berbagai alasan, mulai dari kasihan sampai terpaksa) turun tangan membantu. Maklum, kedua orangtua saya bekerja, dan karena mereka cukup galak, kami meminimalisir hal-hal yang akan membuat keributan di rumah, salah satunya jika kemudian ketahuan saya tidak mengerjakan tugas, pasti kakak-kakak saya yang kemudian kena semprot karena dianggap tidak menjaga adiknya. 


Mulai dari membantu sedikit, hingga pernah juga saya menyerahkan sepenuhnya tugas itu ke kakak saya dengan semena-mena lewat surat pulak. Ya, memang, tugas saya yang dibantu kakak-kakak itu biasanya mendapat nilai lebih ketimbang jika saya membuatnya sendirian. Tapi jangan salah, sepanjang dibantu itu, omelan ga pernah surut. Meski begitu, saya merasa romantis karena saya jadi lebih suka bekerja sama dengan kakak-kakak saya ketimbang dengan teman sebaya saya ketika tugas kelompok. Bahkan tugas peta dunia pernah saya pajang dengan bangganya di kamar karena alasan romantisme. Atau lebih tepatnya ketergantungan? Karena saya jadi terbiasa mencari tahu lewat kakak-kakak saya ketimbang mencari tahu sendiri. Kalau dilepas sendiri, kemungkinan saya blank itu sangat besar. Itulah sebabnya saya merasa dibantu saat mengerjakan prakarya itu perlu dengan beberapa catatan. 


Ketika punya anak, saya mencoba membiarkan anak mengerjakan tugasnya sendiri walau kadang gatal karena lihat karya anak-anak lain yang lebih heboh karena campur tangan orangtuanya. Setelah beberapa kali dibiarkan kok saya kesel ya? Hasilnya tuh ga banget. Rupanya, kreativitas itu ga senantiasa come out of nowhere. Harus ada inspirasi, harus ada pengetahuan tambahan, harus ada feedback, supaya lebih baik. Apalagi ini anak sulung yang memang tingkat ketelatenannya masih belum baik, secara anak outdoor gitu.  


Nah berhubung si sulung ini pun punya kemauan keras, dia juga sulit menerima usulan karena dianggap saya mencoba mengatur-atur. Akhirnya saya pelan-pelan ikut nimbrung, coba mendengar visi misinya dan ternyata emang benar, ini anak blank. Jika ada contoh di buku pelajarannya, biasanya saya biarkan dia mencontoh. Walau tatanannya mungkin tidak seapik yang saya inginkan. Biarin aja deh. Biar dia lihat sendiri hasil teman-temannya (tanpa bilang kalau si A atau si B itu dibuatkan oleh orangtuanya). Cuma untuk memperlihatkan bahwa sedikit usaha dapat menghasilkan sesuatu yang sangat berbeda.  Hanya saja, saya tetap memberikan info-info yang saya tanyakan di grup sekolah karena terkadang saya juga bingung sama penjelasan si anak dan untuk memastikan bahwa karya anak saya tidak melenceng dari yang dimaksud. 



Sejak saat itu, saya mulai punya Pinterest. Untuk memberikan referensi terkait prakarya apa yang dapat dia ciptakan dengan materi yang diminta, dan kemudian memilih atau menciptakan sendiri bentuk yang dia inginkan. Youtube juga menjadi alat bantu agar dia bisa melihat cara sesuatu dibuat. Semata-mata agar dia mendapat wawasan tambahan, tanpa saya harus menunjukkan sendiri karena biasanya dia suka merasa terintimidasi. 


Yang menarik adalah ketika saya membantu, justru jadi menarik perhatian adik-adik yang lain. Saya rasa mereka hanya ingin terlibat dalam family project yang belakangan sudah jarang kami lakukan. Jadilah mereka ngiri, karena merasa saya hanya meluangkan waktu untuk si kakak.  I guess we should make another family project. 


 Family project dapat menciptakan hubungan. Komunikasi yang terjalin dapat membantu menyamakan visi misi, frekuensi, dan bahkan mengeluarkan cerita-cerita atau rasa-rasa yang tidak pernah dikemukakan sebelumnya. Tentunya jika situasinya semua setara ya, kalau ada pihak-pihak yang hendak mengatur, pasti hasilnya hanya menjadi mengerjakan tugas dalam keadaan tertekan. Itu baru saya simak kata-katanya pas mengetikkannya. I guess writing it in the middle of the night might works for this kind of reason. 


OK, kembali ke topik. Kesimpulannya, saya menggunakan momen prakarya anak itu untuk memperbaiki hubungan. Yah anggap saja itu family project, bukankah itu keuntungan legal dari sebuah PR? Lagipula, saya jadi bisa melihat sebaik apa si anak dalam ketelitian, ketelatenan, cara dia melihat keindahan, kerapihan. Cuma lihat dan nilai dalam diri sendiri sih. Soalnya anaknya baperan. Jadi saya bisa ada ide, apa lagi yang bisa saya tunjukkan ke anak-anak guna meningkatkan berbagai aspek yang saya sebut di atas. 

Jadi membantu itu tidak sama dengan mengerjakan sepenuhnya. Namanya juga membantu, ya porsi keterlibatan bintang tamu tidak sebanyak porsinya bintang utama. Soal nilai? Nilai si sulung untuk keterampilan termasuk yang nilainya lebih kecil dibandingkan nilai-nilai dia yang lain. Tapi saya biasa-biasa saja. Orang yang kreatif sekaligus pintar juga sangat atletis itu jumlahnya cuma sedikit, jadi tidak bisa dijadikan acuan hidup, bisa gila nanti. Nah, itu kembali ke masing-masing sih. Melihat nilai sebagai acuan diri, atau sebagai acuan peringkat semata di rapor? 

Kamis, 30 Maret 2017

KAMYStory: Ikatan Kakak-kakak Perfect tapi Saya Adiknya

Kakak beradik. Serupa tapi tak sama. 

Si penulis itu bertanya dalam status FB-nya. Persoalan terbesar apa yang dialami dengan saudara kandung?
Saya menulis, "merasa terdeterminasi oleh kakak yang kebangetan hebatnya"

Dan voila, saya tidak sendiri. Hingga kemudian terucaplah kata-kata di atas oleh salah seorang pemberi komentar, "Ikatan Kakak-kakak Perfect tapi Saya Adiknya" 

Saya geli setengah mati membacanya. Rasanya ngenes tapi bagaimana gitu. 
Saya punya tiga kakak. Lebih tepatnya dua abang dan satu kakak. Ketika saya bicara tentang kakak yang membuat saya terdeterminasi itu biasanya merujuk ke kakak saya, yang berada persis di atas saya. 

Sulitnya adalah, dia itu hebat segala-segalanya. Orangtua selalu memasang standar yang telah diraih kakak saya, untuk saya capai pula. Dan lama-lama aku lelah, karena memang tak kunjung bisa mencapainya.
Di kalangan ninik mamak saya lebih sering dikenal sebagai, "Ooooh, adiknya Dara,ya?"

Saya baru bisa terlihat setelah kakak saya kuliah s2 di luar negeri. Bayangin, perginya kudu keluar negeri lagi. Sedangkan gue ngedeprok aja di mari. ^^

Tidak hanya keluarga, teman-temannya pun begitu. Ketika saya berjalan, saya tak kaget lagi jika ada yang memanggil, "Dara!" dan saya jawab sambil terus berjalan, "Adiknya!"
Ironisnya, kakak saya selama ini malah merasa tumbuh tanpa pujian dari orangtua. Well, lebih tepatnya pujian orangtua itu ada, hanya saja tertuju semua ke saya. Dengan kata lain, salah alamat. Jadi, kepribadian dan prestasi kakak saya dipuja-puji di luar sana hingga saya sesak napas, kakak saya malah merasa rendah diri karena pujian dari orangtua sendiri tak pernah sampai padanya. 

Nah loh. Pelik lah hidup ini hehehe .... 

Jadi bagaimana kabar saya sekarang? Hmm ... yah lebih baik hahaha ... Mungkin setelah saya menetapkan bahwa "adikNYA" bukanlah kata milik, melainkan sebatas kata keterangan dalam silsilah keluarga bukan silsilah jalan kehidupan saya secara pribadi.

Apalagi setelah membaca  tentang cara kerja otak masing-masing individu. Kakak saya (dan juga ibu saya) adalah orang yang menjadikan prestasi sebagai mesin bahagianya. Orang-orang seperti ini senang mencapai sesuatu yang terbaik dan berharap diapresiasi, terutama oleh orang-orang terdekatnya. Sedangkan saya banyak menggunakan otak tengah, alias bisa semuanya tapi tidak jagoan. So, terimalah nasibmu, naaak. Cara kerja saya terbalik, apa pun hasilnya, yang penting progresnya membuat saya bahagia. Jadi menyandingkan kakak saya dalam sisi mana pun, apalagi dengan kacamata orang kebanyakan, tentulah saya kalah di mana-mana. Udah kalah, tidak bahagia pula. 

But it doesn't mean I hate her. Wong dia yang ngasuh saya.  Saya hanya perlu menerima diri saya apa adanya. Dan berbahagia atas apa pun yang diraih kakak (dan abang-abang) saya.  

Bagaimana dengan anak-anak?
Hmm, saya suka bingung sebenarnya. Misalnya: ga mau si bungsu dapat baju lungsuran terus (pengalaman pribadi), tapi baju kakak-kakaknya banyak yang masih bagus (mak irit lah). Ga pernah membandingkan, tapi anaknya minta disama-samain melulu, kalau ga disamakan dibilang ga adil. Hadooooh. Ini masih mending si bungsu belum bisa ngomong bener. 

Saya jarang kasih pujian but I said thank you karena saya merasa semua anak itu terlahir hebat. 

Ketika si sulung memberikan hasil ulangannya, yang saya cari letak kesalahannya. Coba ya, Amiiiii ....
Ketika saya tanya, "kok ini bisa salah?" 
"Iya, lupa" Jawabnya
"Kok bisa lupa?" Si Ami mulai nyebelin.
"Ya namanya juga orang, emang ga boleh salah?" Nah loh. 

Saya pusing deh. Saya sih pasrah lah kalau suatu hari anak3 saya pada komplain tentang berbagai kesalahan saya dalam pengasuhan. Eh, sekarang juga sudah sih. Hehehe .... Namun, dengan segala kekurangan saya, selalu berharap bahwa Tuhan selalu memberi perlindungan dan berkah pada anak-anak saya dan seluruh anak-anak di bumi. Untuk menjadi yang terbaik dari diri mereka, bagaimana pun orangtuanya. 

You don't have to be the best, but do your best and be happy.

Selasa, 10 Mei 2016

KAMYStory: Membuang Kenangan


Hidup di unit rusun yang mungil dengan jumlah penduduk yang padat membuat saya sehari-hari berpikir barang apa yang bisa disingkirkan atau dipindahtangankan. Begitu sudah memilah-milah barang tapi masih penuh maka barang-barang kenangan pun kena bagian.

Bedanya, menyingkirkan barang kenangan berarti turut menyingkirkan kenangan. Well, ga sepenuhnya tapi rasa keterikatan pada benda kenangan itu setidaknya hilang pula. Lumayan lah untuk menyegarkan kepala dan menata hati atau malah baper? Dan beberapa waktu lalu saya menyisihkan waktu menyingkirkan barang kenangan itu dan mengubahnya menjadi file blog hihihiy ... Rasanya? Hmm ..

1. DVD BAJAKAN
Hahaha DVD memang tidak terlalu makan tempat tapi siapa sangka ketika hendak dibuang ada rasa sedih gimana gitu. Hanya tiga judul DVD siy yang saya buang. Meteor Garden 1 dan 2 dan Beautiful Life. Betapa tidak, seri Meteor Garden saya beli dalam tergesa, ditonton semua dalam dua hari padahal saya sedang UTS di kampus. Dan sangat tidak disarankan untuk menonton film-film berbahasa Mandarin jika kamu kuliah bahasa asing lain, seperti Belanda (itu saya). Seri Meteor Garden 2 juga tidak kalah memorablenya. Pasalnya itu hasil copy sendiri. Zaman belum booming nonton streaming atau mantengin Drakor di YouTube demi subtitle, zaman itu andalannya adalah tempat penyewaan DVD. Nah, tempat sewanya hanya ada di Kelapa Gading, beda beberapa hari dari negeri asalnya. Yang kebetulan dekat dengan rumah parner in crime saya ha-ha-ha. Jadilah saya selama liburan kuliah bolak balik Tebet – Gading untuk ambil dvd yang disewa kawan saya dan mengcopynya di rumah saya di Tebet. Ah, kenangan itu epik lah bagi saya ha-ha-ha ... Jadi sedih juga melihat puluhan keping itu bertebaran di lantai sebelum akhirnya masuk ke kantung sampah.


2. BUKU HARIAN
Nah, kalau ini semacam langkah  penting sih. Tadinya buku harian itu mau saya simpan, siapa tahu buat warisan untuk anak-anak kaya di film-film. Tapi semakin banyak anak saya, semakin saya mempertanyakan manfaatnya buku harian yang sudah numpuk sejak SD itu. Apalagi isinya saya marah-marah sama ortu, atau sibuk ngegebet adik kelas di sekolah dan di kampus. Apa gunanya mewariskan track recordnya saya yang cupu dan pathetic itu ha-ha-ha ...
Dan buku harian, kartu, segala tiket, saya buang ke tempat sampah sebagai penegasan bahwa saya sudah sepenuhnya move on. Ga kaya Cinta dong, udah dibuang ke tempat sampah eh masih balik lagi hehehe ... Dan cukuplah kenangan itu ada di kepala walau kayanya ga perlu juga diingat-ingat apalagi diceritakan ke anak. Plus tata bahasa saya di buku harian itu kacrut banget ha-ha-ha ga tahan ingin saya edit.


3. BUNGA PALSU
Yap, bunga palsu. Pada suatu hari di perayaan ultah kantor saya, saya jadi panitia dan ketika hendak pulang saya mengamati rangkaian bunga yang berbaris di pojokan. Tak sedikit yang menggunakan bunga palsu. Karena merasa sayang maka saya cabutin lah bunga-bunga itu. It was more than 6 years ago.
Lalu, beberapa waktu lalu saat sedang rapat komite TK dan menyebut soal mendekor ruangan perpisahan, bunga itu terlintas di kenangan saya. Dan begitu saya ke Tebet, masuklah bunga-bunga palsu yang sudah lama berada di lemari itu ke dalam kantung plastik besar, untuk kemudian dipindahtangankan ke sekolah Malika itu.

Kalau ini perasaannya senang, sama seperti ketika memberikan seluruh koleksi bungkus permen saya ke kawan kuliah untuk tugas desain fashionnya. Akhirnya berguna juga itu barang ^^



Nah, baru tiga hal itu yang saya singkirkan. Rumah masih penuh, ha-ha-ha. Berarti saya masih harus merapikan folder lemari, kepala, dan hati saya hihihiy ... Mari beberes ^^

Kamis, 19 November 2015

KAMYStory: Kawan Saya dan Toko Online-nya

Terkait dengan tema minggu ini, yaitu kawan. Di sesiKAMYStory ini saya mau merilis daftar nama toko-toko online kawan-kawan saya.Aksi perniagaan termuda saya adalah ketika duduk di kelas 3 SD dan menyewakan majalah-majalah pada teman-teman. Tidak lama sih, hanya beberapa bulan. Saatkuliah, banyak teman-teman saya mulai berjualan. Entah itu garage sale ala alauntuk beli baju baru hingga jadi agen parfum original dan tentu saja make updari MLM tersohor. Begitu FB menjadi jamak bagi saya dan kawan-kawan, satu persatu mereka merilis toko onlinenya masing-masing. Dan laiknya orang Indonesia,walau ada sekian banyak pedagang tetap saja ada pembelinya, bahkanantarpedagang hehehe .... Hari ini saya tidak akan ngomongin dagangan saya(freelancer penerjemah, penulis, dan editor plus baker cake dan cupcake *ups),tapi mau ngomongin dagangan teman-teman saya. Yang terpilih pun adalahorang-orang yang cukup kenal baik lah yaa ... Yang kenalnya di dunia mayabiasanya sudah
lebih tersohor hehehe ...

 
1.      Perlengkapan Bayi Bekas
FB: Juwita Liem OS. Perkenalan kami adalah ketika dia datang ke kantor saya waktu itu dan menawarkan naskah kamus Indonesia-Mandarin-Inggris. Yak, dia dosen sekaligus penulis. Berawal darimenjual barang-barang bekas pakainya sendiri di FB lama-lama jadi sering dititipi oleh teman-temannya. Stroller bekas  menjadi item paling ditunggu di laman FB ini.
 
2.      Pakaian Muslimah
FB: Novianisa Rizkika. Di bawah bendera House  Anisa Online Shop, kawan SMA saya ini jualan hijab dan aneka baju muslimah. Sekarangsudah mulai banyak pilihan yang syar'i loooh ^^
 
3.      Hijab
 FB: Creamy Hijab. Nah ini saya kenal baiksama orangnya hahahah .... Dulu bahkan pernah jadi model buat dia saat baru merintis. Produknya bukan lagi mencakup seluruh Indonesia melainkan juga benua lain.
 

 
4.      Kaftan Anak
FB: de Hanger Baju. Nah, kalau ini adasayanya juga siiiih tapi bareng kawan-kawan yang lain hehehe ... aih nyempil juga gue jualan hahaha ... Produknya kaftan anak ya bu ibuuu ... Jadi bahannya adeeem.
 

 
5.      Baju Bayi & Anak
FB: River's Corner. Nah ini sebenarnya dijalankan oleh istri dari salah seorang penulis juga. Saya kayanya juga belumpernah ketemu sama suaminya, hanya suka menyimak update statusnya yangmenggugah itu. (gue mention ga ya orangnyaaaa?)
 

 
6.      Abon
FB: Alia Fazrillah. Sebenarnya ibu yangsatu ini punya dua akun jualan lain. Yang satu jualan buku, yang lain jualanjasa setting buku. Yap, dulu ibu Alia ini rekan kerja saya di kantor dulu. Nah,abonnya yang pernah saya order langsung. Ga bisa beli satu kantung, cepat habisnya hehehe
 

 
7.      Batik Tulis
FB: Endah Sulwesi atau FB Menisae. Ibuberanak satu ini pencinta batik, jadi sudah pasti batik tulis pilihannya berkualitas betulan. Ga Cuma jualan batik, di toko laundrynya juga menjualsegala jenis sabun, pewangi, pemutih secara curah. Bukan begitu, bu Endah? Ehiya, lupa, ibu Endah ini termasuk selebriti di dunia perbukuan loh.
 

 
8.      Batik Cap
FB: Nadiah Alwi. Seorang penulis novel dan memiliki anak yang juga penulis novel cilik tapi juga penjual batik cap yangmurah tapi kainnya cantik-cantik pilihannya. Di bawah brand Flowery HanaCollection, batik yang dijual edisi terbatas loh.  Ngomong-ngomong saya sudah kenal dia sejak saya kecil, maklum, teman SMA kakak saya hehehe ...
 

 
9.      Ciskek , Amaris, dan lain-lain
FB: Muzi DapurPacipluk. Sebenarnya ibu Muziini juga terima order cake tapi yang paling hitz adalah ciskek lumer dan risoles frozennya. Bisa diantar juga loh. Lagi-lagi ibu Muzi ini pernah menjadi rekan kerja saya di kantor. Hehehe ....
 

 
10.  Baju Batik
FB: Kinjeng Batik. Nah ini hasil karyakawan saya di kampus. Okelah kami lulusan Ilmu Budaya, tapi ada beberapa yang jago merancang baju kaya ibu beranak dua ini. Lagian masih nyambung kan dengansemangat melestarikan budaya? Hehehe ... Kinjeng Batik  menampilkanbaju-baju yang tidak biasa tapi jadinya cantik. Semoga lebih banyak lagi koleksi untuk muslimah yaaa ....  
 

 
11.  Cake, Kukis, dan Cupcake
FB: Novikasari Eka S (Rupins) Ini ..saingan saya .. hahaha ga ga ga... semua punya rezekinya. Kebetulan waktukerja, dia sempat duduk di sebelah saya. Sebelum akhirnya dipisah karena seringngobrol kitanya hahaha ... Justru karena dia, saya jadi ikutan bikin cake dan cupcake. Untuk yang nsekitar Depok, silahkaaaaan ...
 

 
12.  Cake dan Cupcake (lagi)
FB: Prima Sukarni (Karni's) Oalah ada lagi?Tenang .. ini untuk yang berdomisili sekitar Bontang. Junior saya di kampus inijuga suka ngisi kursus loh. Nah .. silahkan.
 
 13.  Kukis dkkIG: Nicololla. Nah ini bagi yang inginkasih suvenir berupa kue kering. Dikemas cantik-cantik. Ada varian lain selainkue kering loh. Sok silahkan tanya pada Ibu Pipiet yaa ... ini tetangga saya diKalibata City.
 

 
14.  Produk RajutFB: Toko Sae Rajut. Yang suka anekarajutan, boleh mampir di sini yaaa ... Ada tas, sepatu, sarung tangan dkk ... Bisarequest juga maunya dibikinin apa hehehe
 

 
15.  Seprai Anti AirFB: Laras Sukanthi. Ada yang anaknya lagitoilet training? Nah, pakai sprei ini deh, setidaknya bebas dari bau pesingyang ngendap di kasur. Kasur juga lebih awet karena hari gini dah sulit kalauharus jemur kasur spring bed hehehe ... Eh iya, ibu Laras dulu rekan kerja jugadi kantor jadi bagian keuangan.
 

 
16.  SepraiFB: Ni'am Sadiyah. Beliau baru debut jualanseprai, tapi karena rumahnya sederetan sama rumahnya kain- kain di Cipadu, punsuka menjahit, saya percaya dia tahu mana bahan yang bagus untuk sebuah sepraiyang nyaman. Ibu ini sesama editor dulu di kantor hehehe ...
 

 
17.  Buku BekasFB: Koalisi Cinta Buku atau FB: Maya UmmAbdillah. Yang mau buku bekas tapi masih mulus naaah tongrongin deh tiap Jumatjam 10. Yang cepat dia yang dapat. Terkadang malah buku baru tapi harganya dahmiriiiiiing banget. Paling cihuy kalau lagi ngincer buku-buku seri pengetahuanyang biasanya mihil banget itu .... Btw, ibu Maya sebagai salah satu penguruslaman ini juga adalah teman SD saya (saya numpang beken dikit hehehe)
 

 
18.  Aneka Mainan AktivitasFB: Komunitas HalamanMoeka atau FB:Retnaidi Nuraini.  Bagi yang sukamenghabiskan waktu bermain sama anak nah di sini ada banyak mainan aktivitas.Ada yang bisa dimainkan bersama atau dimainkan sendiri. Sebagai pelakuhomeschooling juga banyak testimoni soal bagaimana mengoptimalkan simainan-mainan itu. Nah, ini juga ga pernah ketemu langsung sama orangnya,hahaha ... tapi lihat albumnya bisa bikin mupeng hehehe
 

 

 
Nah itu dulu deh. Ada yang terlupa ga ya? Itudulu deh, nanti di-update heheheh ... Jadi, kawan-kawan saya cukup berjiwapengusaha, kan?

Kamis, 08 Oktober 2015

KAMYStory: My Uhuy Moments of the Week

Kebelet banget nih nunggu Kamis, tapi ingin saja nulis secara beberapa bulan lalu postingan blog sepiiiii banget. Sekarang ingin berbagi rasa senang karena ada banyak hal-hal yang bikin uhuy.

1.       Finally, connected
Setelah sebulanan ga nyentuh blog, padahal ponsel dipegang terus. Akhirnya bisa ngeblog lagi, itupun pakai acara modem rusak. Harusnya memang ikut pas promo tukar modem dengan yang terbaru, tapi yah kulewatkan begitu saja. Nunggu dibeliin suami, kok lama ya, yah suds beli langsung saja. Kebetulan tokonya baru buka juga di Kalibata City Square. Dan begitu tercolok, saya rapel ngenet setiap malam usai anak-anak tidur. Tidur baru jam 2 dan baru tidur lagi pas tidur siang. 

2.       Satu minggu dan tujuh artikel lomba
Saya kalap hahaha ... Informasi lomba lagi banyak yang didapat dan lumayan terdokumentasi dengan rapi. Dan lebih enak lagi pas dieksekusi. Adrenalin mengejar deadline ini memang suka ngangenin. Apalagi sedang merasa ga bergaul sama orang-orang jadilah jatah cerewet ditumpahkan di ide-ide lomba blog. Sampai-sampai tema harian sendiri terabaikan hihihiy ... Sekarang saya bingung mau share postingannya hihihiy ...

3.       Afirmasi Positif
“Aku ceria, hangat, kreatif.” Begitu gumam saya berulang-ulang, sambil ngeliatin mood level anak-anak. Dari naskah yang saya edit beberapa waktu lalu disebutkan bahwa otak itu bisa ditipu dengan sugesti. Sebulan lalu saya lagi worst moment everlah. Nah, sekarang pelan-pelan mengingat-ingat sugesti positif ini. Yaaaah, masih jauh dari baik memang tapi mendingan lah.  Doakan semoga konsisten yaaa ... demi jadi ibu yang terbaik buat anak-anak niiiih ... ^^

4.       Logo Baru KEB
Akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaaa setelah dua tahun atau lebih di KEB, akhirnya aku punya bannernya. #kecup2layar Alasannya ada aja lah, dari ga tahu sampai gagal pas eksekusi. Sudahlah, yang penting sekarang sudah punya logonyaaaaaa .... Ga jadi peserta gelap lagiiii .... Logo yang dipilih pun yang agak mengawang-awang gitu nuansanya. Ada tiga pilihan logo sih, tapi saya suka yang awang-awang ituh ... Rasanya melebihi senang waktu dapat emblem pas kuliah hahaha ...

5.       Menyerahkan Tugas Setrika Kemeja ke Laundry
Penting ya dibilang uhuy moment? Soalnya ga pernaaaah. Saya kan orangnya parnoan sama segala jenis SPG, SPB, karyawan dan semacamnya. Jadi mau melangkah ke laundry tuh, beraaaat banget. Sabtu kemarin berhasil membawa 12 kemeja suami ke TKP ... hehe istrinya seminggu ini ngeblog melulu trus minggu-minggu lalu ya gitu deeeh. Tak sanggup amboooo ...


Sebenarnya ada lebih banyak uhuy moment yang Allah selalu berikan pada kita semua. Cuma untuk lima momen ini, rasanya begitu nikmaaaat ... alhamdulillaaaah ...


Kamis, 02 April 2015

KAMYStory: Insting Bersarang

Konon pada masa kehamilan ada sebuah insting yang muncul, yaitu insting bersarang alias nesting. Insting dimiliki pula oleh hewan. Saya jadi ingat kucing-kucing hamil yang suka berkeliaran di berbagai sudut rumah masa kecil saya, mencari spot terbaik untuk melahirkan. Pada saat-saat seperti itu, lemari baju adalah yang pertama yang harus diamankan. Jangan sampai lupa dikunci hehehe ... 


Insting ini tidak pernah  muncul di kehamilan pertama dan kedua, memang apa bedanya? Satu yang beda, saya di rumah sendiri. Sebelumnya kan di rumah orangtua, jadi yah secara tertulis bukan sebenar-benarnya sarang bagi saya.


Nah, di semester awal saya belum merasakan insting ini. Iya, rumah berantakan karena saya secara fisik tidak sanggup ngapa-ngapain. Semester kedua masih belum bisa ngapa-ngapain tapi saya mulai frustasi lihat rumah. Sampah dan cucian piring yang teronggok sampai pagi hingga mengundang kecoak kecil-kecil. Setrikaan menggunung, beneran kaya gunung karena nyaris mencapai atap. Serius. Saya pikir, ok i have enough. Sejak awal semester saya sudah mengiba pada suami agar dia mau mencuci piring karena saya tidak tahan baunya. Lumayan lah. Walau sekarang sudah jarang dia lakukan karena sudah keduluan sama saya. Bosen kali dia hehehe.


Lalu saya pun mengajak bicara salah satu bibi teman Malika yang kebetulan satu tower. Saya tahu setiap Sabtu dan Minggu dia libur tapi masih tetap di Kalibata City. Jadi saya tawarkan untuk ke unit saya di salah satu hari liburnya. Jobdesknya? Menyetrika yang utama, lalu menyapu dan mengepel. Bagi saya yang anti ART, ini langkah besar, bukan buat kemudian menjadi terbiasa dengan ART loh ya. Saya harus realistis sama kondisi saya dan kebersihan rumah. Ga perlu bersih-bersih amat, tapi kalau tidak ada yang menyapu dan mengepel setidaknya seminggu sekali, lantai rumah tuh bisa licin karena minyak dan mengundang serangga-serangga lain. Itu yang bikin sebal.


PR selanjutnya adalah tata ruang. Oleh karena akan ada makhluk baru penghuni unit kami, maka saya harus memikir ulang tentang susunannya. Maklum, tiap orang punya minimal ruang yang harus dimiliki dan itu perlu trik untuk mengaturnya di unit kami yang ‘gede’ banget ini. Dan karena saya pribadi yang berantakan, pe er ini jelas bukan pe er yang mudah. Lemari baju, kitchen set, dan rak yang ga seberapa ini menjadi tantangan bagi saya setiap minggunya. Ketika berhadapan dengan lemari baju, saya menghubungi teman sekaligus tetangga yang sudah diketahui tingkat neat freaknya. Via whatsapp saya foto lemari baju dan komentarnya, “kenapa ada panci di lemari baju, Amy?”


Wakaka malu deh. Jadi poin pertama dari membereskan adalah, mulai menaruh segala sesuatu di tempat yang sesuai dengan visi misinya. Misal, lemari baju ya buat tempat baju. Rak buku ya buat buku, bukan buat stok susu literan. Saya keluarkan dulu deh yang tidak berhubungan dengan tempatnya lalu menyusun hanya yang memang pantas dimasukkan ke sana.


Nah kemudian poin kedua adalah klasifikasi. Misal, mana baju kasual mana baju formal. Mana botol bumbu, mana kotak kontainer makanan, mana panci. Mana buku bacaan, mana buku aktivitas. Semua ini menghabiskan waktu hingga berbulan-bulan. Merapikan satu baris rak saja bisa satu hari sendiri dan kemudian ngos-ngosan hingga beberapa hari mendatang. Hasilnya, lumayaaan.


Poin ketiga, mempertahankan. Nah ini yang sulit hahaha. Apalagi setelah itu baju-baju bayi mulai eksis dan semua mulai terasa nyata. Belum lagi, kami kan masih beraktivitas sebagai manusia hidup, jadi yaaah, gitu deh. Sekarang saya pusing lagi, bagaimana mengaturnya hehehehe .... cuma satu efek sampingnya, saya jadi tambah galak. Hadeeeuh ...


Moral of the story? Pindah rumah aja yuuuk :D


KAMYStory: Early Baby Blues

Hamil pertama dan kedua, yang namanya baby blues baru hinggap di minggu pertama pascamelahirkan. Eh, dilalah, di hamil ketiga, gejala baby blues itu datang lebih awal. Lebih tepatnya ketika usia kandungan menuju 8 bulan.


Awalnya saya bingung sendiri, kenapa ketika saya lagi galak sama anak-anak air mata juga turut berjatuhan. Lalu saya pikir dengan logika sok-sok an Fisika. Oleh karena ketika galak, perut menegang sehingga juga menekan kantung air mata. Well, agak jauh ya rutenya hehehe ... Kalau ada ketidaksepahaman sama suami lalu jadi ngomel-ngomel, langsung banjir deh matanya. Saya ingat-ingat lagi, kok kaya lagi baby blues ya? Emang ada ya baby blues sebelum melahirkan? Semacam early baby blues gitu?


Rupanya, menurut www.beyondblue.au , baby blues adalah gejala depresi yang bisa dialami selama masa kehamilan dan pada awal menjadi orangtua. Oalah, ternyata memang ada yang terjadi selama hamil. Obatnya apa, ya?


Belajar dari kehamilan satu dan dua, ga pakai obat apa-apa sih selain jalanin aja. Menjalani sambil terbingung-bingung, ternyata saya depresi juga ya, kirain sayanya saja yang aneh.  Sementara ini, yang lagi di depan mata sih adalah betapa banyaknya hal yang harus saya kerjakan selagi menunggu kelahiran (yang in sya Allah sehat walafiat dan lancar semua) di luar pekerjaan rumah tangga. Mulai buat to do list lagi, berharap segera mencentrang satu per satu. Keep myself busy. As if I have nothing else to do, hehehe .... Saya kaget juga ketika membuat to do list, ternyata tugasnya sebanyak ini? Dengan berbagai subjek pula. Jangan-jangan saya depresi karena mengabaikan tugas-tugas itu dan larut dalam lamunan-lamunan emosional.



Baiklah kalau begitu, sepertinya saya juga harus mulai pemanasan, pemanasan untuk rempong ketika mengurus tiga anak, biar ga kebawa-bawa rasa ingin bobonya .... Semangat!!

Kamis, 05 Maret 2015

KAMYStory: ‘Kadocholic’

Banyak dari kita yang memiliki hobi belanja, baik wanita maupun pria. Variannya pun berbeda-beda, khusus wanita biasanya terkait dengan fashion, entah itu bagcholic, shoecholic atau yang bebas gender seperti bookcholic. Ada yang bisa mengatur ke’cholic’annya itu, ada yang tidak. Nah, saya termasuk yang nyaris tidak bisa mengatur (agak denial sebenarnya pernyataan ini hehehe). Tapi sub varian saya agak berbeda, karena tidak bisa diukur dari tingkat kebutuhannya, yaitu ‘kadocholic’. Okelah ini pemerkosaan kata memang, tapi ga enak kalau bilang ‘presentcholic’.


Persisnya ga pernah tahu siy, tapi mungkin sejak kuliah ketika saya dapat uang jajan lebih. Saya menemukan hal yang sangat menyenangkan ketika bisa membelikan kado untuk teman-teman saya. Well, sejak SMP sebenarnya sering diajak teman-teman cowo untuk memilihkan kado buat pacar mereka. Mulai dari pacar yang memang teman sendiri, hingga pacar yang ga pernah dengar profilnya sama sekali kecuali di hari itu. Biasanya pas valentine tuh. Ah, saya lupa, waktu SMP kan juga nyari kado buat pacar (halah) sedangkansejak SMA sibuk cari kado buat kecengan yang ga ada satupun jadi suami hihihiy. ..  Emang ya, lawan jenis bikin kita konsumtif.


Saya sendiri termasuk jarang kasih kado ke teman pada saat itu, maklum tak punya duit. Biasanya saya kasih kartu buatan sendiri-dan dari bahan daur ulang. Rasanya dulu memang ingin memberkan yang sesuai profilnya. Apalagi kalau ketemu teman dengan kesukaan spesifik, senang banget nyari kadonya. Makanya pas kerja saya jadi royal banget.


Nah karena itulah saya jadi tidak bisa ukur berapa sebenarnya bujet untuk kado. Tidak bisa ukur kebutuhannya, karena rasanya ingin kasih ke semua orang setiap hari. Berasa sinterklas ya gue. Apalagi begitu sudah punya anak dan masuk sekolah, jadi ada kebutuhan untuk menyetok kado dari berbagai usia, jenis, dan warna hahaha.... Soalnya gimana ya? Saya kan jarang bawa uang tunai, jadi kalau tiba-tiba ketemu teman atau saudara yang jarang bersua terus bawa anak rasanya ingin kasih buah tangan atau tetiba anak pulang dengan goodie bag, hiya ada yang ultah, masa kita ga ngadoin balik? Yah, kalo kepepet kasih uang. Cuma berasa nenek-nenek gue, hehehe ....


Sasarannya pun suka tidak pandang bulu. Ga harus teman dekat, teman dekat itu membantu saya dalam pengelompokan profil, sukanya apa, tapi ada juga yang ga teman dekat tapi terkenal dengan kesukaan spesifiknya, ya biasanya saya kasih juga. Momennya juga ga harus selalu ultah karena terkadang ketemu barangnya ga pas jelang ultah. Seringnya aji mumpung, mumpung ada hepengnya. Makanya sering kejadian tagihan kartu kredit gede tapi barang yang ada di rumah ya itu-itu aja, ga ada bekasnya selain plastik pembungkus hahaha ... maafkeeun suami, kan bayar sendiri kok tagihannya.


Saya malah pada dasarnya tidak suka kasih kado uang, kok kaya ga kreatif. Kaya ga meluangkan waktu. Memang, ketika menerima kado saya lebih suka mendengar cerita di balik itu ketimbang kado itu sendiri. Semakin susah payah, semakin saya apresiasi. Yang ga bersusah payah tapi tepat pun juga saya apresiasi. Pokoknya keliatan deh mana yang asal-asalan. Tapi ga papa, sudah ada niat baik ... saya apresiasi juga. Toh, saya juga ga berharap apresiasi juga sih, kan pasti ga selalu kado saya pas buat keinginan para ‘korban’. Biasanya terlihat dari rautnya sih dan kalau saya tidak puas , jadi penasaran untuk cari kado yang lebih baik.


Yang lucu adalah ketika mengaku diri agak terobsesi membelikan kado, saya malah merasa belum pernah memberikan kado yang tepat gunjreng ke orang-orang terdekat saya. Semisal orang tua, my siblings, even suami. Kasih yang ecek-ecek kayanya ga maknyus. Level mereka dan kedekatan saya harusnya yang kasih kado semacam tiket inggris-jakarta pp, tur mudik padang-aceh bareng cucu dan menantu, nonton n masuk langsung ke stadion Anfield, bawa ketemu Michael Jordan, atau sekadar menyusuri jalan legendaris Sherlock Holmes. Banyak ya bo !


Yah sudahlah, maksud hati memeluk gunung apa daya tangan belum sampai. Hal semacam inilah yang menjadi booster saya ketika memerlakukan uang. Emang ga selalu punya waktu untuk cari uang sih, uang yang ada saja habis terus hahahaha ... Konon, jangan tunggu punya uang banyak atau tunggu hari ultahnya tiba baru dikasih kado, whenever you like whenever you have something, it will always taste better when you share it. Tapi ingat ya, jangan kebablasan ... you can’t buy friendship anyway.


Jadi, beli kado apa bulan ini? (dipelototin suami)




Kamis, 05 Februari 2015

KAMYStory: Belajar Tidak Urut Bab


Pernahkah Anda mengeluarkan pernyataan seperti ini?

“ Mobilnya mewah tapi kok buang sampah sembarangan?”

“Ngakunya ustad kok perilakunya begitu?”

Dan lain sebagainya.

Well, saya pernah. Sasaran pertamanya adalah ayah saya, saya merasa ayah saya tidak melakukan ajaran agama sebagaimana mestinya. Yah, seperti pernyataan di atas, “Katanya beragama, tapi kok galak banget?” Hingga kemudian di usia remaja itu saya melakukan protes dalam sunyi. Saya menolak shalat lima waktu dan saya tidak suka semua guru agama saya. Pikir saya waktu itu, “ngapain shalat rajin-rajin tapi ga jadi orang baik” atau “ah, pak guru ini sama aja ngomongnya dengan papa”. Kotoran banteng lah.

Lalu kemudian saya mengalami saat di mana sayalah yang dipandang seperti itu. Suatu hari di SMU, saya pernah merokok di sekolah. Waktu itu sudah malam, jadi biasanya pengawasan sekolah nyaris tidak ada. Sekolah masih ramai dengan pelajar karena ada semacam malam berkumpulnya para penggiat ekstrakurikuler. Oleh karena saya merokok di samping mushalla ya berpapasanlah saya dengan anak rohis. Dalam bisik-bisiknya pada temannya, saya bisa mendengar, “Topeng-topeng.” Saya tahu itu arahnya ke mana. Dipikirnya saya pakai jilbab hanya sebagai topeng menutupi betapa nakalnya saya.

Saya tak kalah picik menjawab dalam hati. Sorry ya bung, hanya karena gue tutup aurat, gue ga boleh merokok? Lha, cowo-cowo yang pakai celana panjang emangnya ga tutup aurat? Banyak tuw yang brengsek. Ga ada yang bilang celananya adalah topeng (or sarung). Asal lo tahu aja, nenek-nenek di minang itu pada merokok. Pada pake kerudung semua mereka. Huh.

Ya, tapi dalam hati. But I must say, been there done that lah. Namanya juga fase kehidupan. Dalam perjalanannya , kadar menghakimi dan dihakimi ini berubah-ubah hingga kemudian saya capek sendiri. Capek membalas dalam hati penghakiman orang. Dan cape nyinyirin orang lain. Oprah pernah berkata, seperti memakan racun dan berharap orang lain yang mati.

Lalu saya mulai meyakini satu hal, bahwa tidak semua orang belajar sesuai urut bab kehidupan yang berlaku. Misalnya, urusan jilbab. Pada masa saya baru pakai, persis mau masuk SMP, yang saya pikir bukan perihal hidayah. Melainkan bahwa pakai jilbab itu ga ada susahnya sama sekali. Apa masalahnya? Ya, mungkin karena saya cuek dengan penampilan. Toh selama ini baju saya juga ga pernah seksi-seksi. Eh, rupanya di masyarakat berlaku urutan bahwa ketika berjilbab, kamu harus mendadak alim.  Lha. Trus saya, piye? Masa tunggu jilbabin hati dulu? Saya kan masih remaja, harus mengalami masa labil. (alesan) .Ibarat menjawab soal ujian, bukankah disarankan lakukan yang lebih mudah terlebih dahulu? Dan kemudian berproses untuk berusaha menjawab soal-soal lain yang lebih sulit.

Yah, kaya si pemilik mobil mewah dan kebiasaan buang sampahnya. Ketika dia belajar untuk menjadi kaya, tidak disebutkan bahwa dia harus belajar buang sampah terlebih dahulu untuk bisa punya mobil mewah. Bisa jadi orangtuanya dulu terlampau sibuk mengajarkan cara menjadi kaya dan lupa soal yang namanya menjaga kebersihan, toh kalau kaya kan ada orang yang bisa dibayar untuk bersih-bersih.

Jadi kemudian saya pikir, yah maaf deh kalau saya tidak belajar sesuai urut bab. Tapi doakan saya tetap mau belajar, karena yang terburuk dari semua itu adalah berhenti belajar menjadi orang yang lebih baik karena manusia tidak pernah sempurna.

Yah, balik ke bab tadi. Orang yang sudah belajar bab 9 belum tentu lebih baik daripada orang yang baru belajar SAMPAI bab 5. Kalaupun sudah belajar, belum tentu paham, belum tentu suka, dan banyak belum tentu lainnya.

Saya cukup cocok dengan pemahaman ini, yang mungkin hanya karangan saya sendiri. Dengan mengatakan hal ini pada diri saya sendiri, saya cukup berhasil menahan diri dari setidaknya bersikap menghakimi. Entah ya kalau dihakimi, saya mah pasrah saja. Hehehe ...

Rasulullah sendiri menunjukkan sikap senantiasa mendoakan mereka-mereka yang bersikap negatif karena Rasulullah merasa hal itu dilakukan karena mereka belum paham, belum mengerti. Bahwa target yang ingin saya hakimi bisa jadi belum paham dengan tindakannya, atau jangan-jangan sayalah yang belum paham maksud dan tujuan si target itu. (well, ini tidak berlaku untuk Rasulullah, ya). All I could do is wishing them (and us) for the best in life. Bahwa semua yang terjadi dalam hidup adalah yang terbaik, yang senantiasa mendorong kita menjadi manusia lebih baik, jika kita mau mengambil pelajaran darinya.

Kamis, 22 Januari 2015

KAMYStory: 10 Kado Bayi yang Paling Diinginkan


Seringkali saat hendak memberi kado untuk kelahiran anak ketiga dari keluarga atau teman, saya bingung, mau dikasih apa ya? Adalah umum diketahui bahwa kebanyakan orang lebih suka menyimpan perlengkapan bayinya bahkan hingga bertahun-tahun. Dengan cita-cita untuk dilungsurkan. Jadi ya saya bingunglah mau kasih apa. Tapi tenang, hal itu tidak berlaku untuk saya. Oleh karena tinggal di rumah yang ‘gede’ banget ini, saya mudah saja melungsurkan perlengkapan bayi sesegera mungkin. Orang-orang tua sering bilang tiap anak itu ada rezekinya, jadi ga usah takut tidak bisa kasih makan. Nah, kalau saya mengartikannya, jadi kenapa harus pusing soal baju?

 

Eh tapi dari sekian banyak perlengkapan bayi (yang jumlahnya kian menurun setiap kelahiran anak), ada tujuh yang benar-benar saya inginkan tapi malas mewujudkannya sendiri. Tenang, ini hanya bercanda, tapi beneran deh hamil anak ketiga inginnya yang realistis saja.

 

  1. Rumah landed di tengah kota dan memiliki minimal tiga kamar. Kalau teman-teman bertanya, “lo mau apa?” “lo perlu apa?” “Apa yang belum lo punya?” Saya lebih suka menjawabnya, saya mau rumah landed di tengah kota dan memiliki minimal tiga kamar. Hehehe ... maklumlah, saya sebenarnya ga kebayang juga membesarkan tiga bocah tengil di ruang terbatas seperti ini. Jadi demi meringankan beban suami, mungkin ada yang berminat patungan membelikan saya rumah?
  2. Biaya gratis persalinan dalam berbagai penindakan di RS Tambak. Anak ketiga biasanya tidak ditanggung lagi oleh perusahaan tempat suami bekerja, jadi yaaa ... Pakai BPJS? Bisa. Tapi RS yang ada dokter Botefilianya jauh, di RS Persahabatan. Beuuuh ...
  3. Paket pijat pascamelahirkan. Sejak lahir anak pertama ga pernah ngerasain dipijat. Badan rasanya rontok tak berkesudahan. Ada yang mau jadi sponsor?
  4. Stok pospak selama dua tahun. Baru saja saya menghapus popok dari daftar belanja dengan bangga eh ketemu tongkat bergaris dua lagi. Walau saya pengguna clodi, tapi kalau malam hari biasanya masih pakai pospak. Dan itu lumayan pengeluarannya. Ga banyak, hanya dua bungkus besar pospak berbagai ukuran per bulan selama dua tahun. Ada yang punya vouchernya ga ya?
  5. Selusin clodi. Ngomongin clodi jadi ingat deh, clodi yang saya punya sudah kadarluarsa alias sudah dipakai lebih dari dua tahun. Jadi yah, kudu beli baru. Ga banyak, selusin saja cukup kok, tapi insertnya dua lusin yaaa ... (halah)
  6. Baby wrap. Hanaroo baby wrapku sudah dipakai untuk dua anak, jadi yah sudah melar. Ada yang berminat membelikan yang baru untuk saya? Lebih cocok pakai itu ketimbang baby carrier lain. Hihihiy ...
  7. Paket sabun dan shampo plus deterjen bayi. Nah, ini nih ... deterjen bayi paling ga sampai 6 bulan pertama, sabun dan shampoo? Timeless. Makin banyak makin baik. Ga perlu make up bayi lainnya kooook.
  8. Akun rekening pendidikan. Jadi ingat kuis pelajar zaman dulu, pasti hadiahnya Tabanas. Ada ga yang mau hadiahin akun rekening pendidikan buat anak ketiga ini? Tapi diisiin yaaa ...
  9. Gratis suplai dan antar sayuran jadi selama satu tahun. Jujur, saya ini malas masak sayur, sedangkan untuk menyusui harus sering makan sayur. Nah, kan enak kalau ada yang sediain plus diantar ke Kalibata hehehehe ....
  10. Lupakan daftar di atas. Yang lebih penting doa dan dukungannya. Semoga saya bisa jadi ibu yang lebih baik dan bahagia. Demi anak-anak yang sehat, cerdas, dan juga bahagia dunia akhirat.

 

Selasa, 20 Januari 2015

Tema Harian Saya


Jelang tahun baru saya mendapat semacam inspirasi dari salah satu Emak keren di komunitas KEB, yaitu mencanangkan tema harian di blognya. Saya memang sempat terpikir untuk membuat blog saya ini lebih terjadwal dan terstruktur dan tema harian ini rupanya jawabannya. Awal membaca postingan Emak Maureen, saya sempat tidak percaya diri, “serius nih, mau tiap hari tulis blog sesuai tema?” Eh ternyata tema harian itu tidak selalu bermakna, setiap hari harus nulis. Emak Maureen sendiri hanya mengusung tiga hari dalam satu minggu. Salah satu alasannya adalah agar hari lain bisa digunakan untuk tema-tema lain yang tidak berhubungan dengan tema harian reguler. Kalau saya, itulah alasan saya bisa libur dari kegiatan blog. Soalnya ga selalu bisa bangun dini hari sih. Hehehe ....

 

Jadi, setelah beberapa hari posting dengan tema, barulah saya menjelaskan arti-arti singkatan di awal judul.

 

RABUku: Mari memulai hari dengan buku di hari Rabu. Saya lahir di hari Rabu, jadi yah Rabu itu lebih istimewa dari hari lain. Dan senang rasanya ketika kata ‘Rabu’ bisa bersanding bunyi dengan satu tema lain yang saya sukai, buku. Jadilah RABUku.  Isinya tentang buku tentu saja. Review buku yang saya beli sendiri (yang beberapa tahun belakangan didominasi dengan buku-buku anak untuk anak-soalnya amynya juga suka buku anak) dan hasil READIE project alias buku hasil editan saya. Mudah-mudahan bisa setiap minggu-soalnya banyak buku yang numpuk tapi belum pernah direview hehehe ...  yah kali aja sejak itu bisa tiap minggu dapat buku baru #modus

 

KAMYstory: mayoritas dari isi blog saya adalah tentang saya sendiri. Saya sebagai ibu dua bocah dan saya sebagai individu. Dulu saya bedakan judul antara MY story dengan AMY’s Story, sekarang sama saja, judulnya saya. Jadi deh KAMYstory (my story di hari Kamis).

 

JJS: secara singkatan yang ini agak berbeda dengan singkatan tema lainnya. Ini agak mentok hehehe. Awalnya mikir karena hari Jumat mungkin ada baiknya saya bicara soal agama, menyebarkan satu ayat. Tapi kok ya ga pede, ya? Saya kan masih pelajar. Jadi saya gunakan momen ini untuk membuat review tempat yang bisa dikunjungi saat akhir pekan. Entah itu tempat makan, tempat bermain, atau bahkan tempat kawinan. Yah, namanya juga Jumat Jelang Sabtu. Biasanya orang-orang sering searching lokasi menarik. Hope I could help J

 

HOMYnggu: Sabtu istirahat dulu yeee ... Balik lagi di hari Minggu. Kenapa homy? Apakah sama saja dengan my story. Well more or less sih. Ini untuk menunjukkan bahwa saya penghuni Kalibata City sejati hahaha .... Isinya lebih banyak terinspirasi dari berkehidupan di Kalibata City, jadi bisa tentang tempat makan baru, apa yang lagi ngetren, kegiatan menarik di hari tertentu, review sekolah di area ini, dan bahkan bisa ngomongin resep di dapur saya. Pokoknya terkait review dan tips di seputaran Kalibata City. Penting ga sih? Penting dong. Mengingat semakin banyak saja hunian vertikal, jadi siapa tahu kita bisa saling berbagi.

 

Nah, segitu dulu saja deh. Ga sanggup banyak-banyak. Ini juga ngerjainnya nyicil hihihihiy ... Hope you like it.

 

 

Kamis, 15 Januari 2015

KAMYStory: Kehamilan ke-3 di Usia ke-33

Sejak mengetahui hamil lagi, saya sempat sombong. “Hamil lagi? Mau apa lagi, sih (Tuhan)? Hamil sambil kerja, sudah pernah. Hamil di rumah saja, juga sudah pernah.” Rupanya saya lupa bahwa ada sekian banyak kondisi lingkungan bagi ibu-ibu hamil di luar sana, termasuk yang ecek-ecek macam  saya. Hamil sambil mengurus dua anak, di rumah sendiri, sendirian. Yah, kami baru pindah ke Kalibata City 40 hari pascamelahirkan anak ke-2. Jadi, secara teknis, ini adalah kondisi yang baru bagi saya.



Hamilnya rewel. Begitu istilah orang-ora ng. Dua kali hamil, saya memang bisa dikatakan tidak terlalu banyak kendala, beda dengan yang ketiga ini. Entah apakah karena saya sambil momong dua anak atau memang bawaan bayi. Pokoknya ribet, deh.


1.       Stamina Kok Loyo?
Catatan nomor satu saya adalah stamina. Sejak awal belum tahu hamil, tanda-tanda yang ditunjukkan adalah lemas berkepanjangan, pening, dan mulas. Dan ketika kehamilan terkonfirmasi, ketiga subjek tersebut makin menjadi-jadi. Untuk pertama kalinya saya terganggu dengan rasa mual. Biasanya di semester 1 adalah saat bagi saya untuk banyak makan. Beneran. Bagi kebanyakan bumil mungkin semester 1 adalah fase muntah-muntah, saya malah bisa makan menu bufet sebanyak delapan kali.
Nah, yang sekarang juga sih, tapi yang terbesit duluan bukan rasa lapar seperti biasa, melainkan mual. Mual yang jika tidak diberi makan akan lebih merongrong otak sehingga berakibat badan lemas sepanjang hari.  Syukur ga muntah. Dan rasanya apa pun yang masuk ke dalam perut ini, ga cocok juga dengan keinginan sejati. Entah apa itu. Rasanya sih ingin makan buah saja. Tapi setiap kali makan buah, saya jadi sangat kelaparan yang jika diberi menu nasi, rasanya ga enak juga. Serba
salah, lah.



Pada saat mual mulas perih kembung itu, Cuma satu menu yang tidak pernah ditolak perut. Sate Padang. Hei, kapan lagi bisa minta dibeliin sate padang hampir tiap hari?



Tidak hanya soal selera makan, hidung saya pun sensitif. Saya ga bisa cium masakan. Ga bisa cium bawang. Ga bisa cuci piring karena bau. Lah trus gimana dong? Awalnya berprinsip, ga masak? Beli. Eh lama-lama, tiris juga gue. Apalagi karena pusing di rumah, saya lebih senang jalan-jalan ke rumah teman. Bisa dapat udara bebas dan ga perlu masak. Tapi ongkosnya, brur.


Setelah dipikir-pikir bolehlah terkadang memaksakan diri, setidaknya masak buat anak-anak biar jelas asupan gizinya. Jadi ya saya lebih sering masak satu menu habis itu tepar seharian. Pernah juga ga mampu masak sama sekali. Alhamdulillah Allah berikan keringan hati bagi anak-anak. “Amy lagi pusing nih. Kita makan telur rebus pakai kecap ya?” “Asyiiiik!!” atau “Amy lagi pusing nih. Makan spageti pake saus tomat, ya?” “Asyiiiik!!!” Urusan serat saya serahkan pada agar-agar dan buah. Makanya saya malah jarang makan buah, sengaja disimpan untuk anak-anak.



Urusan rumah tangga? Ga usah ditanya deh ya. Rumahku itu kapal pecah di bulan-bulan pertama. Pernah dalam sebulan saya lupa kapan terakhir mengepel rumah ‘segede’ itu. Cucian piring segunung. Setrikaan bergunung-gunung. Tapi yang lucu adalah si suami akhirnya bersedia cuci piring. Jadi selain dia harus menerima fakta tidak ada menu masakan untuk dirinya ketika pulang malam banget itu plus harus jajanin sate padang, paginya dia menambah tugas, cuci piring. Yah, walau awal mintanya harus pakai gaya memelas. Habis, cucian piring makin ga dicuci ya makin bau, ya makin semaput lah saya.



Selain minta bantuan suami, saya juga request khusus ke mama. Minta dibuatkan makanan alias ransum buat seminggu dua minggu. Lumayan lah gizi anak-anak agak mendingan. Tapi Cuma seka li aja kok mintanya. Cuma butuh merasa bebas tugas sejenak.



Untuk urusan setrikaan, akhirnya saya minta tolong orang juga. Saya dulu pernah bercakap-cakap dengan salah satu pengasuh teman anak saya yang notabene tinggal satu tower dengan saya. Rupanya walau tinggal bersama majikannya, dia dapat hari libur di Sabtu dan Minggu. Saya minta deh satu hari untuk melakukan pekerjaan rumah tangga terutama menyetrika di rumah saya. Hasilnya, lumayan deh. Ga mumet juga pikiran lihat baju bergunung-gunung gitu. Setidaknya dalam satu minggu ada satu hari ketika rumah saya rapi.



Oh, ada lagi situasi yang harus saya syukuri. Saya nyaris tidak dapat order untuk koekieku. Mungkin bagi para pebisnis kue lainnya ini agak kemunduran, tapi bagi saya inilah berkahnya. Anggap saja Allah sedang memberi saya waktu untuk istirahat dari segala keluhan stamina ini. Rasanya lagi dimanjain.



Keadaan sedikit membaik di semester kedua. Setidaknya untuk urusan masak dan cuci piring saya mulai kuat. Urusan setrikaan, ya ga papa deh diterusin si bibi, toh terkadang kita harus let it go. Hanya saja saya rupanya ga sepenuhnya kuat. Sekarang saya ada keluhan baru, kontraksi. Perut ini sering banget kontraksi yang emang sakit banget. Biasanya saya ga pernah ngeh lagi kontraksi. Sekarang? Bawa obat antikontraksi ke mana-mana. Terasa banget pas belakangan ini, ketika harus berhadapan dengan dua kali libur panjang banget itu. Bukannya bisa istirahat, tapi malah jalan-jalan melulu. Saya sendiri sampai bingung, kok malah ga dapat ‘me time’ sama sekali? Akhirnya gejala mual, mulas, pusing, dan sebagainya muncul lagi. Rasanya kaya orang ga move on, hehehe. Dengan sangat terpaksa, kayanya ga bakal jalan-jalan dulu deh.





2.       Selamat Tinggal Home Schooling
Ketika teman-teman playgroupnya melanjutkan ke TK, saya memutuskan Malika menunda TK-nya. Berbagai rencana dibuat untuk kegiatan, tapi apa daya. Hanya berlangsung beberapa bulan, setelah itu si Amy banyak menghabiskan waktu rebahan di kasur. Inginnya sih rebahan di depan TV tapi ga punya sofa, jadi pegel banget. Akhirnya anak-anak lebih sering main bebas.



Yah, punya adik ada untung ruginya sih. Terkadang jadi teman lalu sekejap jadi berantem. Terkadang memudahkan, tak jarang menyulitkan. Pokoknya edisi Malika dan Safir ditantang main bersama dalam waktu lama. Amynya hanya kontrol lewat teriakan-teriakan di kamar, kecuali kalau sudah genting alias bergulat barulah amy bangun.



Bagi Malika sendiri, ada saatnya dia asyik main, ada saatnya dia protes. “Kenapa aku harus jaga anak-anak terus. Aku kan masih anak-anak!” begitulah sebagian dari pidato protesnya. Atau ketika dia bosan, “Kapan Malika masuk TK. Kok lama banget?” Atau ketika dia tepok jidat mengetahui ayahnya harus rebahan (juga) pascacabut gigi “Yaaah, amy dan ayah di Tebet aja deh sampai adek bayi keluar. Habis dua –dua orang tuanya harus rebah-rebah.”



Ada masanya saya gatal sekali ingin memasukkan dia ke kursus apa kek biar ada kegiatan, tapi begitu saya tanya-tanya malah ilfil sendiri. Ke kursus calistung kok rasanya belajar banget, ga ada pergaulannya. Ke kelas bermain, main-main gini mah di rumah juga bisa. Ada saja alasannya.


Akhirnya saya buat kegiatan sendiri. Kelas berenang. Dengan guru, abang saya sendiri alias omnya anak-anak. Yah, lumayan deh satu hari ada kegiatan keluar. Walau ga setiap minggu karena kondisi cuaca. Ingin ikut pengajian di masjid KCS, eh waiting list. Ya suds, sementara ini harus puas dengan satu kegiatan. Toh, tenaga saya suka on off gitu kalau mau anter jemput.




3.       Kembali ke Fashion Hamil
Sebenarnya saya bete kembali ke fase ini. Ketika saya akhirnya membuang bra menyusui dan celana hamil yang sudah dipakai hampir lima tahun berturut-turut itu saya senang sekali. Yes, freedom!!!! Bisa pakai baju yang non kancing depan? Liberation!!!! Makanya saya menolak beli baju hamil dkk. Toh keadaan menuntut lain. Lama-lama badan saya tidak nyaman dengan baju atau celana yang dipakai sekarang. Jadi ketika di Tebet menemukan satu bra menyusui lama nyelip di lemari, saya berasa ketemu harta karun. Yes!  Freedom? Yah lebih tepatnya comfort. Barulah setelah itu saya hunting baju dan celana hamil di ol shop.Ga Cuma itu, saya juga harus beli sepatu dan sendal baru pluuuus jilbab baru. Cukup sekali beli, masih perlu beli yang lain hehehe Saya ga tahan juga kudu pilih-pilih baju melulu.




4.       Persiapan Jelang Melahirkan
Sekarang usia kehamilan memasuki bulan ke-6 dan yang sejak awal dipikirkan untuk dipersiapkan adalah anak-anak yang sudah lebih dahulu lahir. Tema besarnya, mendidik mandiri. Kebayang dong, bulan-bulan pertama, bayinya lagi ga jelas jadwalnya, masih pula ngurusin suapin makan. Jadi tema kemandirian diterapkan perlahan-lahan terkadang terpaksa juga. Seperti misalnya mandi sendiri, karena saya ada masa mual dengan bau sabun, saya biarkan kedua anak itu mandi berdua. Malika yang lebih sering bantuin Safir menyabuni bagian belakangnya. Namun karena sebentar lagi Malika lima tahun, saya pun menerapkan batasan baru. Tidak ada lagi mandi bareng cewe dan cowo. Selain karena jadi main sabun berlebihan, ya karena harus belajar menghargai malu. Hasilnya? Yah lumayan deh. Walau kalau ada ayahnya, mereka balik lagi mandi rusuh berdua.



Selain mandi, objek mandiri lainnya adalah anak-anak tidur di kamar anak-anak. Rumah kami hanya dua kamar, dan selama ini anak-anak tidur sama saya di kamar utama, sedangkan ayahnya di kamar yang sejatinya kamar anak. Namun, seiring dengan membesarnya perut, saya mulai kesal dengan keberadaan anak-anak di kasur saya. Bukan hanya soal kasur yang selalu berantakan dan kotor tapi juga kini rasanya saya tidur ditendangi dari berbagai arah. Ya di dalam, ya di luar, ya di kanan, ya di kiri. Ini masih mending ayahnya ga nimbrung. Kalau nimbrung plus kitik-kitik. Halah, get your hands and feet off me!



Namun memindahkan anak-anak ke kamar mereka ga bisa begitu saja. Ada pula yang harus dipersiapkan. Interiornya lebih tepatnya. Jadilah hunting tempat tidur, browsing lemari, banyak deh rencanyanya yang akhirnya ‘Cuma’ mengganti tempat tidur dan exhaust. Malika katanya mau tidur di kamar yang ada AC-nya padahal dia suka kedinginan di kamar saya. Huh



Makan sendiri juga ada persiapan lain. Sedia meja dan kursi kecil. Tapi baru bisa dibeli kalau tempat tidur sudah jadi. Maklumlah, ga ada ruang, jadi harus fix di satu ruang baru bisa tambah barang lain.

Malika sudah mulai saya kenalkan dengan situasi darurat. Kebetulan jelang HPL, orangtua saya di luar negeri, jadi kondisinya agak rentan. Ini bocah mau ditaruh di mana ya? Bagaimana kalau saya pecah ketuban saat suami masih di kantor? Jaraknya saja paling cepat satu jam. Memang sih di rumah orangtua saya ada abang saya, tapi dia kan single. Dititipin dua bocah dalam kondisi adiknya mau melahirkan mah bikin senewen lah. Sedangkan anak-anak bisa jadi ikutan senewen.



Dan karena alasan itulah saya menolak usulan papa untuk pindah ke Tebet. Alasan mereka supaya lebih mudah ditangani jika ada kondisi darurat.  Namun menukar waktu beradaptasi untuk satu dua hari kondisi darurat buat saya ga worthed. Karena saya sendiri bukan orang yang mudah beradaptasi, jadi kemungkinan besar anak-anak saya juga begitu. Belum lagi pengalaman baru pindah dulu. Hadeeeuuuh, parah deh.  Saya lebih memilih mereka (atau salah satu orangtua saya) yang menginap di sini. Toh, mereka juga pusing karena bakal repot adaptasinya. Tuh, kaaan. Yang tua aja repot, apalagi dua bocah galau ini.



Saya pun mulai menyusun skenario. Orang-orang yang saya kenal di pdkt-in untuk menjadi barisan siaga. Tadinya ada satu tetangga yang saya siapkan eh mendadak hamil dia. Haiyah. Ya sudahlah. Harus cari yang lain. Namun karena dia hamil juga kami jadi ada diskusi terkait menggunakan keberadaan satpam yang memang ada di setiap tower. Mencatatat berbagai nomor darurat. Mencari kemungkinan adanya ambulans stand by di Kalibata City. Menjalin hubungan dengan tukang ojek kepercayaan. Semacam itulah. Sebagai back up dan barisan pelindung terutama untuk anak-anak. Agak sulit karena saya ga percayaan sama orang lain.



Yah di atas itu semua, saya sadar manusia hanya bisa berencana Tuhan yang menentukan. Dan sependek pengetahuan saya, ketentuan Tuhan tidak akan memberatkan umatnya melebihi kemampuannya. So I guess all I can do are get prepare and hope for the best. Doakan sayaaaa  :”)