Tampilkan postingan dengan label edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label edukasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Februari 2016

JJS Jumat Jelang Sabtu: Wisata Dirgantara ke Lanud Halim dan Museum Satria Mandala

Sudah satu bulan berlalu setelah insiden bom Sarinah, yang walau kemudian bertebaran meme-meme kocak, tetapi pada saat itu agak mencekam bagi saya. Bagaimana tidak, pada hari yang sama kedua anak saya sedang fieldtrip. Ndilalah, fieldtripnya ke ladang tentara keduanya. Yang sulung ikut fieldtrip dari sekolahnya ke Lanud Halim, sedangkan si anak tengah bikin fieldtrip sendiri ke museum Satria Mandala biar ga ngiri melihat kegiatan kakaknya. Untuk menemani si anak cowo ini, saya minta tolong abang saya. Yah, biar ga gelendotan galau sama ibunya melulu. Lagipula, pegel kali bawa dia jalan ke museum Satria Mandala sambil gendong bayi ^^`

Nah, karena saya tidak ikut jadi tulisan ini berdasarkan reportase anak-anak yaa ...

A. LANUD HALIM
Sebagai anggota komite, saya sedikit-sedikit curi dengar tentang prosedur tur ke Lanud ini. Untuk membuat janji maka perlu menyediakan surat pengajuan dari sekolah dan menelepon seorang Kopral untuk menanyakan jadwal. Perlengkapan yang disarankan dibawa adalah: jas hujan dan kacamata hitam. Nah item kedua ini jadi belanja deeh ... Senang banget anak-anak bisa punya kacamata hitam. Maklum, ibunya ga mau beliin kalau hanya untuk dimainkan.

"Aku tadi diajak lihat hercules." Pesawat besar yang pernah membawa neneknya ke Filipina ini membuat si sulung terpukau karena ukurannya. "Gede banget, kaya rumah. Ada kamar mandinya, tapi ga ada pintunya." nah loh.


"Habis itu aku foto bersama-sama di depan pesawat gede yang lain." 
"Kacamatanya jadi dipakai ga?" tanya saya.
"Jadi, tapi kalau ga panas aku lepas lagi."


"Terus habis itu kita nonton bioskop. Wah, sudah berapa kali ya aku nonton bioskop? "
"Filmnya tentang apa?" sidik saya.
"Tentang pesawat. Ngeeeng ..." merentangkan tangan menirukan pesawat terbang.

"Habis dari bioskop, kita diajakin bikin-bikin pesawat. Wuih gampang banget."
Ternyata ada sesi prakarya juga, jadi gemes sama tentara AU, kok peratian banget dih #lebay. Pesawat yang terbuat dari sterofoam itu sudah dibentuk sesuai bagiannya, jadi anak-anak cukup menempelkan sayap dan badannya setelah itu dihias stiker.

B. Museum Satria Mandala
Usai reportase LANUD Halim, beralih ke laporan dari Museum Satria Mandala. Sebelumnya kami sudah pernah ke sini, tapi si anak cowo masih agak kecil, jadi dia lupa-lupa ingat. Dan karena waktu itu saya bawa stroller tandem sedangkan tempatnya banyak tangga, jadi tidak semua tempat kami masuki.

Nah, kali ini reportasenya dibantu keterangan abang saya. Rupanya memang tidak salah pilihan saya menunjuk si om kesayangan para keponakan ini, karena seperti kebanyakan kakak-kakak saya, dia punya kemampuan menjelaskan panjang lebar dan detail. Jadi saya anggap itu adalah sesi belajar sejarah untuk anak saya. (Anggap saja sesi homeschooling hehehe).



Satria Mandala ini menyajikan angkutan tentara mulai dari helikopter, tank, hingga kapal diparkir di taman dan bisa dinaiki. Tentu tidak bisa dinyalakan. Oh iya harga tiket masuknya murah bingiiiit. Masuk ke museumnya, yang pertama adalah bagian paling terawat.  Selain diorama perang-perang, di situ ada tandu yang digunakan Jenderal Sudirman saat bergerilya. Lalu kemudian ada ruang khusus Presiden ke-2 Soeharto, berhubung beliau pun seorang tentara. Makin masuk ke dalam, semakin menurun sih kualitasnya, apalagi di ruangan pahlawan revolusi. Remang-remang, atap ada yang terkelupas, foto-foto mulai pudar, yah begitulah.

Yang menarik adalah ruangan senjata, karena anak-anak bisa berpose di antara senjata-senjata itu. Di bangsal belakang, terparkir pesawat-pesawat tempur zaman dahulu. Ini keren buat saya. Maklum jarang lihat pesawat dari dekat hehehe ...

Nah rupanya di sini juga ada semacam bioskop mini tapi dari dua kunjungan malah tidak sempat mampir.



Laiknya anak cowo kebanyakan, si anak tengah antusias bisa masuk ke dalam helikopter, memegang senjata, dan terlebih bisa foto sama tentara betulan. Hal yang sudah lama dia inginkan sejak salah satu tantenya menikah di komplek markas tentara.

Oh saya jadi ingat, taman belakang di sekitar Museum Satria Mandala ini bisa dijadikan tempat pernikahan loh. Tentu ya kadang suka harus siap-siap perubahan acara karena mendadak ada acara militer. Informasi ini saya dapat dari tetangga yang menikah di sana. Saya agak terkejut dan tidak terkejut karena ketika melihat tamannya dari museum, saya berpikir taman yang cukup bagus ini seharusnya bisa diberdayakan untuk acara pernikahan, eh ternyata memang iya.

Nah kembali ke si sulung dan si anak tengah. Jadi ketika keduanya tiba di taman Kalibata City dalam jangka waktu berdekatan, si kakak beradik itu terlibat dalam komunikasi dua arah yang seru. Biasanya kan kalau kakaknya ada kegiatan, adiknya cemberut ngiri hehehe ... Kalau buat saya sih yang penting dua bersaudara yang suka bertengkar ini pulang dengan selamat dan ga dengar berita apa pun tentang bom.

Rabu, 17 Juni 2015

RABUku: Perpustakaan Pertama Bagi Mereka

Masih lekat di ingatan saya ketika itu saya berjalan di antara dua rak tinggi berisi penuh buku. Saat itu saya merasa berada di surga buku. Padahal saya kecil sedang berada di perpustakaan Erasmus Huis. Ingatan itu menjadi salah satu rangkaian kecintaan saya terhadap buku.

Dan ketika Malika cs berulangkali meminta ke toko buku setiap kali pulang pengajian, dan hanya untuk membaca buku, saya lama-lama jengah juga.

“Kalau mau baca buku itu ke perpustakaan, bukan ke toko buku. Ke toko buku ya buat beli buku.” Begitu jawab saya berulangkali pula.

Maklum toko buku hanya perlu berjalan kaki sedikit di Kalibata City, itu pun tak lengkap koleksinya. Kurang banget malah.

Saya memutar otak kala itu, mau dibawa ke perpustakaan mana ya? Kan niy bocah-bocah petakilan, sedangkan perpustakaan harus sunyi dan tenang. Ya kalau mau ngajarin kan lebih baik di tempat praktiknya, bukan?

Lalu kemudian Allah seolah menjawab kegalauan saya. Sebuah share tentang perpustakaan baru di kawasan Taman Ismail Marzuki. Benar-benar menggoda. Ada tempat bermainnya pula, waaah .... Tidak hanya share yang Allah tunjukkan, tempat berkegiatannya anak-anak alias Gen Cerdik pun menjadwalkan kunjungan ke Perpustakaan Daerah itu sebagai salah satu rangkaian ke Planetarium. Horeeee bisa nebeng kegiatan, maklum perpustakaan ini hanya buka di hari kerja yang saya duga karena kekurangan pegawai.

Dan tibalah kami di sana pada 10 Juni lalu. Malika khawatir karena hasratnya ingin bermain-main tetapi sudah diingatkan oleh saya bahwa di perpustakaan itu harus tenang. Setelah menitipkan KTP dan mendapat kunci loker, kami naik ke lantai dua. Begitu pintu lift terbuka, anak-anak langsung ke arah kanan karena di sana ada pintu kaca menuju sebuah ruangan luas  dan ujung sana ada tempat bermain. Saat menuju tempat bermainnya pun mereka mendapat sensasi sendiri. Lantai yang didekorasi menjadi peta Indonesia itu ditempeli kerikil kecil sehingga seperti spot pijat bagi saya hehehe ...



“Amy, gimana nih. Kan kalau main harus teriak-teriak!” kata Malika kebelet.
“Ya sudah, tapi nanti kalau sudah di tempat buku-buku ga teriak-teriak ya.”


Dan werrrr langsing ngacir dua bocah itu. Padahal ya ketemunya perosotan ma mandi bola lagi. Cuma agak lain niy perosotannya, terdiri dari pipa-pipa besi warna warni jadi merosotnya lucu agak jeglek-jeglek.



Saya tidak berlama-lama di sana, panas. Tempat bermain itu semi outdoor. Selain tempat bermain seperti perosotan, ada juga mobil-mobilan yang pasti ga bakal ada akinya karena sejak pagi planetarium ini sudah penuh dengan kunjungan anak-anak sekolah. Lalu ada rak panjang berisi mainan-mainan edukasi dari kayu.



Saya masuk ke ruang perpustakaannya karena di sana sedang ada acara mendongeng. Salah satu rutinnya pegawai perpustakaan sepertinya. Anak-anak yang tinggal di sekitar TIM juga terlihat antusias datang ke perpustakaan dan mendengarkan dongeng.



Namun, yang bikin saya miris adalah ketika melongok ke bagian bermain di ruangan itu juga. Ruangan yang penuh dengan mainan edukasi itu terlihat seperti habis diterjang bom. Totally chaos. Inilah akibat euforia keganasan bin lebay ketemu mainan. Para pegawai perpustakaan pun tak sanggup berbuat apa-apa karena memang ramai sekali seharian itu. Dasar emak-emak, saya pindahkan saja yang tajam-tajam. Tak sanggup beresin semuaya karena akan ada anak-anak lain yang datang dan oprek-oprek.


Totally Chaos


Sebenarnya konsepnya sudah tepat. Mereka yang masih kebanyakan energi sebaiknya dialihkan ke tempat bermain yang lebih fisik. Ketika sudah lelah barulah perlahan-lahan merapat ke bagian perpustakaan sehingga mereka juga  tidak telampau kreatif mengolah mainan edukasi tersebut dan kemudian meninggalkannya begitu saja karena teralih mainan yang lain.



ada tindakan anarki

Saya lihatnya sih begitu. Belum lagi jika para pengunjung wisata sekolah juga datang ke sini itu berarti penuh banget dan biasanya mereka ga diberi waktu untuk berbenah melainkan langsung pulang. Dan not to mention, para individu yang memiliki mental, “ah, bukan rumah gue ini.” “ah, kan ada pegawainya, ya itulah tugasnya.”

Tapi bagi saya yang datang di pengujung bukanya perpustakaan ini, saya jadi kasihan sama pegawainya. I feel you .... Berantakannya rada mirip dengan di rumah, hanya yang ini puluhan kali lebih berantakan.

Tadinya saya mau ajak Malika dan Safir berberes, mereka tiba-tiba sudah ngejogrok di rak-rak mainan edukasi, eh tak tahunya tanpa disuruh mereka masukkan lagi mainan yang mereka mainkan sebelumnya. Ya sudslah, tumben hahahaha kalau di rumah kok ya harus disuruh melulu?



Lima belas menit menjelang tutup saya suruh Malika cs ke area buku. Masa ke perpustakaan ga baca buku? Ya, sibuklah mereka memilih-milih buku, untung dah mau tutup, bisa gempor tenggorokan Amynya.



Ketika hendak pulang, Malika berkata, “Amy, kita ke sini saja terus.”

Ah, ya, nanti yaaah .... Pegel juga ke sini bawa anak tiga biji ^^’ Naik kereta, ngerepotin orang. Naik taksi, mihil ajjah. Tapi karena perpustakaan ini  masih gratis, pas banget kalau datang dari pagi trus seharian nongkrong aja di sana hehehe .... Ayo ke perpustakaan ... Malu atuh nongkrong baca di toko buku.


Jumat, 08 Mei 2015

JJS: Wisata Poelang Kampoeng ke Cinangneng

Ini laporan yang sudah lama banget mengendap di kepala, zamannya Malika masih di Twinkers. Cinangneng sendiri beralamat di Jl. Babakan Kemang, Desa Cihideung Udik, Kecamatan Ciampea Bogor. Kampus baru IPB masih sanaan lagi.

Ketika melihat plangnya, saya agak-agak menebak kegiatan apa yang akan kita lakukan di sana. Secara garis besar adalah memang wisata pulang kampung yang sangat berguna bagi mereka yang kelamaan tinggal di kota atau yang tidak punya kampung hehehe ...  Intinya memang perkenalan suasana kampung. Saat masuk disambut kebun dulu dan rumahnya baru terlihat setelah berjalan agak jauh. Sebenarnya area ini sangat luas tetapi model tanahnya berundak-undak jadi tidak bisa serta merta dinikmati dalam satu sapuan mata. Belum lagi tanaman di mana-mana. Segar banget jadinya. Ngomong-ngomong, kegiatannya kaya apa sih?


1.       Main angklung
Setelah semua siswa diberi kalung sebagai tanda masuk dan berbaris, mereka kemudian berkumpul di pelataran depan. Sudah disediakan bangku-bangku dan ada sebuah spanduk lebar terpajang di depan bertuliskan lirik lagu sunda. Pihak pengelola memberikan ucapan selamat datang singkat lalu membagi-bagikan angklung pada seluruh siswa bahkan orangtua. Kami diberi kursus singkat angklung. Tidak seintens di Saung Udjo memang tapi yah cukuplah. Dan dalam sekejap kami sudah memainkan sambil menyanyikan lagu Boneka Abdi.
Malika masih jetlag di bus jadi belum mood.





2.       Menari jaipong
Kemudian siswa-siswa Twinkers itu dikelompokkan dan kelompok Malika menuju pelataran lain untuk sesi menari. Di sana dengan cepat anak-anak dipasangkan baju menari, setelah siap, dipimpin oleh seorang penari yang berdandan lengkap, anak-anak pun diajarkan mungkin tiga langkah menari awal jaipong. Dan mungkin karena diulang-ulang gerakannya, jadi yah tidak perlu mengajarkan banyak gerak. Singkat saja, 10 menit paling lama.




3.       Membuat kue
Kami berjalan agak jauh lalu menuruni tangga yang curam dan panjang. Dan barulah ketemu lahan kosong yang luas. Semacam padang rumput gitu. Ada beberapa saung di sana dan satu kolam. Pada saung pertama, anak-anak diajarkan membuat kue hmm kue apa ya kok saya lupa. Pokok nya kue beras. oh, kue bugis. Dasarnya sudah setengah jadi, jadi ketika dikukus, anak-anak diberi yang sudah jadi. Nanti kalau ada kelompok selanjutnya, yang dikukus itu yang diberikan ke anak-anak untuk dicoba.



4.       Bermain gamelan
Kami lalu beringsut ke saung berikutnya. Sudah ada set gamelan di sana. Malika langsung ambil posisi. Pengajarnya mempraktikkan tiga nada untuk membentuk lagu sunda dasar. Tiga nada, kaya lagu punk Cuma main tiga kunci hehehe ... tapi yah cukuplah buat para bocah-bocah itu, karena jika dimainkan dengan irama yang tepat bisa tercipta musik yang harmoni. Nah, karena masih bocah itulah jadinya main bebas deh ... :D



5.       Membuat wayang jerami
Setelah itu, kami dikelilingkan dan duduk di rumput. Di tengah-tengah ada setumpuk jerami. Anak-anak diajarkan membuat wayang jerami, agak susah, jadi orangtuanya yang belajar hahaha ... konon itu prakarya anak-anak yang umum di daerah Bogor dan sekitarnya. Hasilnya sebenarnya agak serem buat saya hihihiy .... Macam boneka voodoo gitu.



6.       Melukis di atas  caping
Nah, di sini baru agak lama. Melukis di atas caping. Pada salah satu saung sudah disiapkan deretan caping polos dan palet warna. Jadilah mewarnai bebas. Caping-caping ini kemudian dijemur dan akan diberikan pada anak-anak usai seluruh rangkaian program ini.



7.       Menanam padi
Waktunya berkotor-kotor ria. Akhirnya  ... ketemu juga yang kotor-kotor. Orangtua dan anak ikut nyemplung berlomba menanam padi. Area sawahnya tidak begitu besar tapi lumpur banget. Maklum dah berapa puluh orang yang injak-injak sejak tadi. Malika senang banget di sini, bisa kotor-kotoran. Apalagi setelah itu dia tahu akan ke mana. Ke sungai ...



8.       Memandikan kerbau
Di sungai sudah ada kerbau kecil menanti. Dia sedang berendam dan para peserta diperbolehkan ikut nyipratin kerbau. Kalau dipikir-pikir agak kasihan juga ya jadi anak kota, norak banget mau mandiin kerbau. (LOL). Malika semangat ’45 dong, biar pendek dia mah jalan saja menyusuri sungai. Walau air hingga sepinggangnya, masih aja nafsu mau mendekati kerbau. Tapi hati-hati ya, jangan kelewat semangat nanti kerbaunya sebel juga.



9.       Berenang
Ini bagian dari acara bebas. Cinangneng juga membangun beberapa cottage mungil di sana jadi ada kolam berenang, walau ga besar. Malah terasa kecil banget karena ada rombongan dari sekolah lain. Sekolah dasar swasta yang muridnya dah gede-gede badannya. Atau jangan-jangan itu SMP ya? Plus bukan kolam renang anak jadi yah Cuma basahin kaki saja.



Usai semua itu, kami kembali ke pelataran awal. Mengambil caping yang sudah diwarnai dan diberi sertifikat. Setelah itu para pengajar berbaris untuk bersalaman pada kami. Di ujung barisan ada pemiliknya.

Cinangneng sendiri ada program lain yang berjudul Tur Kampoeng yang kegiatannya mendatangi Home Industri yang terletak di sekitar Cinangneng. Well, bagian memberdayakan warga sekitar kayanya. Bagus juga.



Kesimpulannya? Yah lumayan untuk perkenalan bagi mereka yang belum pernah pulang kampung. Saya pun jadi ingat pertama kali main ke sawah malah waktu SMA dan itu norak banget jalan di titiannya. Banyak ngerusakinnya hahaha .... Jika dirasa Cinangneng terlalu jauh, Rumah Perubahannya Rhenald Kasali juga suka bikin program semacam ini. Ga jauh, di pondok gede. Ingin juga ke sana, tapi belum kesampaian.

Oh iya untuk tanya-tanya langsung telepon saja ya ... (0251)-8621895

Have fun. 

Sabtu, 23 Agustus 2014

Amy’s Story: Edukasi Finansial Sejak Dini

Bicara soal edukasi finansial sejak dini, saya memiliki perbedaan pendapat dengan ibu saya, walau reputasinya sebagai pengelola keuangan rumah tangga belum ada tandingannya. Bagi ibu saya, yang terpenting adalah makan, agama, kesehatan, dan pendidikan. Hiburan tidak termasuk di dalamnya.
Ini mungkin sedikit curahan hati saya sewaktu kecil. Pada zaman saya dulu, saya lah anak pertama yang akhirnya diberi uang jajan. Padahal saya bungsu loh. Kok bisa begitu? Soalnya sering kejadian saya menggunakan uang untuk membeli buku pelajaran untuk jajan dan akhirnya ketahuan saat pembagian rapor.

Uang jajan saja tidak cukup, kebutuhan pergaulan saya menuntut uang jajan lebih banyak. Dan itulah yang membuat saya menggunakan uang milik sekolah yang saya simpan sebagai bendahara saat duduk di bangku menengah. Jika sudah saatnya pengumpulan uang ke guru, saya biasanya akan men’catut’ nominal uang yang saya minta dari orangtua saya dengan dalih kegiatan sekolah. Parah, kan. Saya sudah korupsi sejak dini.

Ketika saya menginjak usia 17 tahun, barulah saya mendapat akses untuk mengambil uang di tabungan saya. Sebelumnya hanya mama saya yang bisa melakukannya. Setiap bulan, beliau mengisi tabungan anak-anaknya selama bertahun-tahun. Hebat betul ibu  saya ini. Namun itu ternyata tidak cukup menggugah hati saya. Tabungan bertahun-tahun itu ludes dalam waktu sebulan.

Beranjak dewasa, saya mempelajari beberapa hal bahwa kebutuhan setiap anak berbeda-beda dan bisa jadi belum ketahuan bentuknya jika tidak mendapatkan pengalaman yang kaya. Sebagai generasi kelahiran ’80-an, saya hidup ketika pergaulan termasuk kebutuhan utama. Sekilas memang tidak penting, tetapi sekali lagi kebutuhan anak berbeda-beda. Berkawan meningkatkan kepercayaan diri saya di tengah dominasi orangtua dan kakak-kakak saya. Dan berkawan, pada awalnya membutuhkan uang. Dan menguasai uang itu bukan hal yang mudah.

Hal itulah yang mendorong saya mengajarkan anak tentang mengurus uang sejak dini. Saya sendiri masih banyak kekurangannya. Saya beralasan, saya tidak pernah benar-benar mengurus uang di usia dini. Oleh sebab itu, saya ingin anak-anak saya tidak norak saat dewasa dan memiliki penghasilan sendiri. Ibu saya memang menjelaskan sejak dini soal pentingnya menabung, investasi, dan lain-lain, yang tidak beliau ajarkan adalah praktik langsungnya. Ya, teori tanpa praktik itu akan memberi hasil yang tidak sempurna.  Godaan uang di tangan itu sangat .... silahkan isi sendiri deh.

Anak-anak saya kini berusia di bawah lima tahun. Pada si kakak yang berusia 4 tahun, sedikit-sedikit saya ajarkan konsep uang dan belanja. Dia sih sangat bersemangat menabung, belum memiliki ketertarikan khusus soal konsep nilai uang. Uang baru terasa bernilai baginya saat saya ajak dia ke arena bermain yang menggunakan koin. Arena bermain yang bising ini biasa ada di mal. Kenapa lebih mudah di sini, karena fisik koinnya mudah dihitung bagi anak yang baru mengenal angka.

Awalnya saya yang membeli sendiri koin tersebut. Tentu saja koin itu habis dalam sekejap. Dan si anak akan merengek minta lagi dan lagi. Kesal dengan perilaku tersebut, akhirnya saat hendak membeli koin, saya keluarkan lembaran uang saya dari dompet.

“Lihat, ini Amy keluarin uang Rp10000,-. Nih, uang Amy jadi tinggal dua lembar, rp10000,- dan Rp20000,- Coba kamu lihat dapat berapa koin.” Saat itu anak saya sudah tahu angka, belum tahu nilai, tapi dia yakin bahwa yang huruf depannya 1 itu jumlahnya lebih sedikit dari yang huruf depannya 2. Kebetulan saya tidak ada lembaran Rp100000,-

Setelah menukar uang dengan koin, saya perlihatkan jumlah koinnya. Saya suruh dia menghitung dan menghitung kembali usai dibagi dua dengan adiknya. Saya biarkan dia memegang koinnya dan memilih permainan yang dia suka. Dan ketika koinnya habis, saya selalu biasakan hanya mendapat satu kali jatah nambah alias beli koin lagi. Kalau masih penasaran dan Amynya sedang malas, boleh tambah lagi tapi diambil dari uang tabungannya.

Awalnya dia masih rungsing karena cepat sekali koin bergelontor. Terlebih jika jumlah tiket yang didapat tidak cukup untuk ditukar dengan apa pun.

“Ya, kamu sih kebanyakan pilih mainan yang ga dapat tiket.”

Anak saya itu memang lebih suka menaiki mobil-mobilan goyang-goyang ketimbang atraksi yang lain. Saya pun tidak selalu menggiring ke permainan yang mirip dengan judi.

Dan setelah beberapa kali, dia pun kemudian memilih mainan dengan kesadaran penuh berapa koin yang akan habis dan tidak merengek saat koin itu habis pun setelah ditambah. Dia pun tidak terlalu peduli dengan tiket, malah lebih bersemangat kala mengumpulkan tiket itu ke dalam tas saya. Opsi kedua yang melibatkan uang tabungannya pun nyaris tidak pernah dia ungkit.

Atau ketika harus memilih antara permainan koin dengan softplay area berbayar. Biasanya saya akan jelaskan, jika ingin berada di wahana permainan koin berarti hanya sebentar waktu yang dihabiskan. Berbeda jika bermain di softplay area berbayar. Dan itu pun dikorelasikan dengan jumlah waktu yang sejatinya hendak kita habiskan di mal. Jangan ketika akan segera pulang dalam 15 menit, malah memilih softplay area berbayar. Rugi, dong. Biasanya perundingannya agak alot.

Permainan atau hiburan memang boleh dinikmati sesekali, tetapi tidak jarang orang yang menyadari bahwa itu hanya perlu dilakukan sesekali setelah mengalami kesulitan finansial usai kecanduan hiburan. Bagi saya, lebih dini proses terperangkapnya lebih awal pula fase merangkak naiknya. Tahu kan, pengalaman adalah guru terbaik. Intinya yang hendak saya sampaikan adalah, orangtua akan berusaha memfasilitasi kebutuhan pergaulan anak-anak (dengan prioritas yang nyaris sama dengan kebutuhan utama) tentu dalam jumlah dan batas usia yang disepakati. Namun, pada akhirnya tingkat kesenangan itu bukan diukur dari jumlah uang yang dihabiskan melainkan seoptimal apa uang yang ada berubah menjadi keriaan. Dan itu didapat dari pengalaman dan kedewasaan. Untuk yang satu ini, beda orangtua beda pendapat yaa ....


Toh, jika umur masih panjang, pendidikan soal finansial pada anak-anak ini akan terus berambah dan berubah bentuk seiring waktu. Anak-anak sejatinya akan semakin kritis dan bisa jadi mereka akan memprotes pilihan metode saya. I guess, PR saya masih banyak.