Tampilkan postingan dengan label Uang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Desember 2015

JJS: Nyaman di Hotel Tibera Bandung




Kunjungan ke Bandung di saat suami juga sedang bertugas di sana selama beberapa hari beberapa bulan lalu memang bukan yang pertama kalinya. Hanya saja saya waktu itu baru dua minggu usai melahirkan. Dan karena suami masih bekerja selama kami di sana, hotel yang dia pilih pun yang berdekatan dengan lokasi kerjanya. Tidak hanya letaknya yang menjadi pertimbangan,  harga pun harus bersahabat karena kami biasanya pakai kamar yang paling besar (pertimbangan bawa dua balita dan satu bayi, dan istri yang gampang komplen hehehe), jadi ga mungkin pakai hotel budget yang space-nya juga budget banget hehehe ... Untuk ukuran Deluxe seperti yang saya pesan ini sekarang sedang promo Rp400000/malam loh.


Hotel Tibera terletak di jalan Taman Cibeunying Selatan No. 7, Bandung Wetan.  Posisinya dikelilingi oleh banyak rumah makan dengan tema old fashioned. Maklum masih daerah cagar budaya. Dengan berjalan kaki atau naik becak, bisa mampir ke Museum Geologi dan makan di Yogurt Cisangkuy. Namun memang, jalur hotel ini tidak persis dilalui angkot, sebagai moda angkutan paling praktis di Bandung hehehe ... Cari becak pun harus jalan sekian ratus meter. Bagi yang tidak terbiasa sih mungkin terasa jauh, tetapi alhamdulillah masih didukung dengan trotoar yang mulus dan pohon-pohon besar di kiri kanan jalan. Adem di siang hari, tapi emang gelap banget kalau malam hahaha .... 


Hotel ini terdiri dari tiga lantai tanpa lift. Kami menempati kamar di lantai tiga, untung ga bawa stroller ^^. Hanya dua kamar di situ, keduanya seri deluxe, tapi hanya kamar kami yang menggunakan bathtub. Ya, bathtub cukup untuk memuaskan kesenangan anak-anak bermain air. Jadi, kami biasanya tidak wajib menyewa hotel dengan kolam renang. Toh, biasanya ada berderet tempat yang hendak dikunjungi di luar hotel.  


Namun, ada dua kolam di sini. Satu kolam ikan-ikan kecil dengan dominan rumput air, yang satunya lagi kolam koi. Pojok anak menjadi menarik ketika tengah menanti jemputan. Biasa kan, anak-anak suka tidak sabar mau ke sana dan ke sini. Sedangkan ketika suami masih harus bertemu klien atau kawan di tengah malam, ada kafe di depan hotel yang menurut suami, kopinya enak.

Dari depan pintu kamar kami sih pemandangannya rada ga enak. Alias ketemu atap. Mungkin tingkat tiga ini ekstra yang baru terpikir belakangan kali ya. Hal ini sepertinya disadari oleh pihak pengelola karena ada pojok duduk-duduk yang nuansanya lebih manis. 

Makan pagi disediakan di lantai dua. Ruangannya tidak besar tapi apik. Secara keseluruhan saya memang suka dengan dekorasi yang mereka pilih. Not too much, sweet, light ... semacam itulah. Maklum, bawa anak-anak pecicilan, jadi kalau banyak perintilan tuh malah bikin senewen. 

Kesimpulannya? It's a nice hotel untuk mereka yang suka sesuatu yang asri, tidak ramai, tapi masih di tengah kota Bandung. Hotel Tibera juga menyediakan opsi long staying jadi mungkin bisa kaya kontrakan yang bagus banget kali ya ... Kalau tertarik bisa di-book via applikasi jalan-jalan kesukaan kalian atau telepon langsung ke (022) 7100236. So, mau kemana akhir pekan nanti? 

Kamis, 05 Maret 2015

KAMYStory: ‘Kadocholic’

Banyak dari kita yang memiliki hobi belanja, baik wanita maupun pria. Variannya pun berbeda-beda, khusus wanita biasanya terkait dengan fashion, entah itu bagcholic, shoecholic atau yang bebas gender seperti bookcholic. Ada yang bisa mengatur ke’cholic’annya itu, ada yang tidak. Nah, saya termasuk yang nyaris tidak bisa mengatur (agak denial sebenarnya pernyataan ini hehehe). Tapi sub varian saya agak berbeda, karena tidak bisa diukur dari tingkat kebutuhannya, yaitu ‘kadocholic’. Okelah ini pemerkosaan kata memang, tapi ga enak kalau bilang ‘presentcholic’.


Persisnya ga pernah tahu siy, tapi mungkin sejak kuliah ketika saya dapat uang jajan lebih. Saya menemukan hal yang sangat menyenangkan ketika bisa membelikan kado untuk teman-teman saya. Well, sejak SMP sebenarnya sering diajak teman-teman cowo untuk memilihkan kado buat pacar mereka. Mulai dari pacar yang memang teman sendiri, hingga pacar yang ga pernah dengar profilnya sama sekali kecuali di hari itu. Biasanya pas valentine tuh. Ah, saya lupa, waktu SMP kan juga nyari kado buat pacar (halah) sedangkansejak SMA sibuk cari kado buat kecengan yang ga ada satupun jadi suami hihihiy. ..  Emang ya, lawan jenis bikin kita konsumtif.


Saya sendiri termasuk jarang kasih kado ke teman pada saat itu, maklum tak punya duit. Biasanya saya kasih kartu buatan sendiri-dan dari bahan daur ulang. Rasanya dulu memang ingin memberkan yang sesuai profilnya. Apalagi kalau ketemu teman dengan kesukaan spesifik, senang banget nyari kadonya. Makanya pas kerja saya jadi royal banget.


Nah karena itulah saya jadi tidak bisa ukur berapa sebenarnya bujet untuk kado. Tidak bisa ukur kebutuhannya, karena rasanya ingin kasih ke semua orang setiap hari. Berasa sinterklas ya gue. Apalagi begitu sudah punya anak dan masuk sekolah, jadi ada kebutuhan untuk menyetok kado dari berbagai usia, jenis, dan warna hahaha.... Soalnya gimana ya? Saya kan jarang bawa uang tunai, jadi kalau tiba-tiba ketemu teman atau saudara yang jarang bersua terus bawa anak rasanya ingin kasih buah tangan atau tetiba anak pulang dengan goodie bag, hiya ada yang ultah, masa kita ga ngadoin balik? Yah, kalo kepepet kasih uang. Cuma berasa nenek-nenek gue, hehehe ....


Sasarannya pun suka tidak pandang bulu. Ga harus teman dekat, teman dekat itu membantu saya dalam pengelompokan profil, sukanya apa, tapi ada juga yang ga teman dekat tapi terkenal dengan kesukaan spesifiknya, ya biasanya saya kasih juga. Momennya juga ga harus selalu ultah karena terkadang ketemu barangnya ga pas jelang ultah. Seringnya aji mumpung, mumpung ada hepengnya. Makanya sering kejadian tagihan kartu kredit gede tapi barang yang ada di rumah ya itu-itu aja, ga ada bekasnya selain plastik pembungkus hahaha ... maafkeeun suami, kan bayar sendiri kok tagihannya.


Saya malah pada dasarnya tidak suka kasih kado uang, kok kaya ga kreatif. Kaya ga meluangkan waktu. Memang, ketika menerima kado saya lebih suka mendengar cerita di balik itu ketimbang kado itu sendiri. Semakin susah payah, semakin saya apresiasi. Yang ga bersusah payah tapi tepat pun juga saya apresiasi. Pokoknya keliatan deh mana yang asal-asalan. Tapi ga papa, sudah ada niat baik ... saya apresiasi juga. Toh, saya juga ga berharap apresiasi juga sih, kan pasti ga selalu kado saya pas buat keinginan para ‘korban’. Biasanya terlihat dari rautnya sih dan kalau saya tidak puas , jadi penasaran untuk cari kado yang lebih baik.


Yang lucu adalah ketika mengaku diri agak terobsesi membelikan kado, saya malah merasa belum pernah memberikan kado yang tepat gunjreng ke orang-orang terdekat saya. Semisal orang tua, my siblings, even suami. Kasih yang ecek-ecek kayanya ga maknyus. Level mereka dan kedekatan saya harusnya yang kasih kado semacam tiket inggris-jakarta pp, tur mudik padang-aceh bareng cucu dan menantu, nonton n masuk langsung ke stadion Anfield, bawa ketemu Michael Jordan, atau sekadar menyusuri jalan legendaris Sherlock Holmes. Banyak ya bo !


Yah sudahlah, maksud hati memeluk gunung apa daya tangan belum sampai. Hal semacam inilah yang menjadi booster saya ketika memerlakukan uang. Emang ga selalu punya waktu untuk cari uang sih, uang yang ada saja habis terus hahahaha ... Konon, jangan tunggu punya uang banyak atau tunggu hari ultahnya tiba baru dikasih kado, whenever you like whenever you have something, it will always taste better when you share it. Tapi ingat ya, jangan kebablasan ... you can’t buy friendship anyway.


Jadi, beli kado apa bulan ini? (dipelototin suami)




Sabtu, 23 Agustus 2014

Amy’s Story: Edukasi Finansial Sejak Dini

Bicara soal edukasi finansial sejak dini, saya memiliki perbedaan pendapat dengan ibu saya, walau reputasinya sebagai pengelola keuangan rumah tangga belum ada tandingannya. Bagi ibu saya, yang terpenting adalah makan, agama, kesehatan, dan pendidikan. Hiburan tidak termasuk di dalamnya.
Ini mungkin sedikit curahan hati saya sewaktu kecil. Pada zaman saya dulu, saya lah anak pertama yang akhirnya diberi uang jajan. Padahal saya bungsu loh. Kok bisa begitu? Soalnya sering kejadian saya menggunakan uang untuk membeli buku pelajaran untuk jajan dan akhirnya ketahuan saat pembagian rapor.

Uang jajan saja tidak cukup, kebutuhan pergaulan saya menuntut uang jajan lebih banyak. Dan itulah yang membuat saya menggunakan uang milik sekolah yang saya simpan sebagai bendahara saat duduk di bangku menengah. Jika sudah saatnya pengumpulan uang ke guru, saya biasanya akan men’catut’ nominal uang yang saya minta dari orangtua saya dengan dalih kegiatan sekolah. Parah, kan. Saya sudah korupsi sejak dini.

Ketika saya menginjak usia 17 tahun, barulah saya mendapat akses untuk mengambil uang di tabungan saya. Sebelumnya hanya mama saya yang bisa melakukannya. Setiap bulan, beliau mengisi tabungan anak-anaknya selama bertahun-tahun. Hebat betul ibu  saya ini. Namun itu ternyata tidak cukup menggugah hati saya. Tabungan bertahun-tahun itu ludes dalam waktu sebulan.

Beranjak dewasa, saya mempelajari beberapa hal bahwa kebutuhan setiap anak berbeda-beda dan bisa jadi belum ketahuan bentuknya jika tidak mendapatkan pengalaman yang kaya. Sebagai generasi kelahiran ’80-an, saya hidup ketika pergaulan termasuk kebutuhan utama. Sekilas memang tidak penting, tetapi sekali lagi kebutuhan anak berbeda-beda. Berkawan meningkatkan kepercayaan diri saya di tengah dominasi orangtua dan kakak-kakak saya. Dan berkawan, pada awalnya membutuhkan uang. Dan menguasai uang itu bukan hal yang mudah.

Hal itulah yang mendorong saya mengajarkan anak tentang mengurus uang sejak dini. Saya sendiri masih banyak kekurangannya. Saya beralasan, saya tidak pernah benar-benar mengurus uang di usia dini. Oleh sebab itu, saya ingin anak-anak saya tidak norak saat dewasa dan memiliki penghasilan sendiri. Ibu saya memang menjelaskan sejak dini soal pentingnya menabung, investasi, dan lain-lain, yang tidak beliau ajarkan adalah praktik langsungnya. Ya, teori tanpa praktik itu akan memberi hasil yang tidak sempurna.  Godaan uang di tangan itu sangat .... silahkan isi sendiri deh.

Anak-anak saya kini berusia di bawah lima tahun. Pada si kakak yang berusia 4 tahun, sedikit-sedikit saya ajarkan konsep uang dan belanja. Dia sih sangat bersemangat menabung, belum memiliki ketertarikan khusus soal konsep nilai uang. Uang baru terasa bernilai baginya saat saya ajak dia ke arena bermain yang menggunakan koin. Arena bermain yang bising ini biasa ada di mal. Kenapa lebih mudah di sini, karena fisik koinnya mudah dihitung bagi anak yang baru mengenal angka.

Awalnya saya yang membeli sendiri koin tersebut. Tentu saja koin itu habis dalam sekejap. Dan si anak akan merengek minta lagi dan lagi. Kesal dengan perilaku tersebut, akhirnya saat hendak membeli koin, saya keluarkan lembaran uang saya dari dompet.

“Lihat, ini Amy keluarin uang Rp10000,-. Nih, uang Amy jadi tinggal dua lembar, rp10000,- dan Rp20000,- Coba kamu lihat dapat berapa koin.” Saat itu anak saya sudah tahu angka, belum tahu nilai, tapi dia yakin bahwa yang huruf depannya 1 itu jumlahnya lebih sedikit dari yang huruf depannya 2. Kebetulan saya tidak ada lembaran Rp100000,-

Setelah menukar uang dengan koin, saya perlihatkan jumlah koinnya. Saya suruh dia menghitung dan menghitung kembali usai dibagi dua dengan adiknya. Saya biarkan dia memegang koinnya dan memilih permainan yang dia suka. Dan ketika koinnya habis, saya selalu biasakan hanya mendapat satu kali jatah nambah alias beli koin lagi. Kalau masih penasaran dan Amynya sedang malas, boleh tambah lagi tapi diambil dari uang tabungannya.

Awalnya dia masih rungsing karena cepat sekali koin bergelontor. Terlebih jika jumlah tiket yang didapat tidak cukup untuk ditukar dengan apa pun.

“Ya, kamu sih kebanyakan pilih mainan yang ga dapat tiket.”

Anak saya itu memang lebih suka menaiki mobil-mobilan goyang-goyang ketimbang atraksi yang lain. Saya pun tidak selalu menggiring ke permainan yang mirip dengan judi.

Dan setelah beberapa kali, dia pun kemudian memilih mainan dengan kesadaran penuh berapa koin yang akan habis dan tidak merengek saat koin itu habis pun setelah ditambah. Dia pun tidak terlalu peduli dengan tiket, malah lebih bersemangat kala mengumpulkan tiket itu ke dalam tas saya. Opsi kedua yang melibatkan uang tabungannya pun nyaris tidak pernah dia ungkit.

Atau ketika harus memilih antara permainan koin dengan softplay area berbayar. Biasanya saya akan jelaskan, jika ingin berada di wahana permainan koin berarti hanya sebentar waktu yang dihabiskan. Berbeda jika bermain di softplay area berbayar. Dan itu pun dikorelasikan dengan jumlah waktu yang sejatinya hendak kita habiskan di mal. Jangan ketika akan segera pulang dalam 15 menit, malah memilih softplay area berbayar. Rugi, dong. Biasanya perundingannya agak alot.

Permainan atau hiburan memang boleh dinikmati sesekali, tetapi tidak jarang orang yang menyadari bahwa itu hanya perlu dilakukan sesekali setelah mengalami kesulitan finansial usai kecanduan hiburan. Bagi saya, lebih dini proses terperangkapnya lebih awal pula fase merangkak naiknya. Tahu kan, pengalaman adalah guru terbaik. Intinya yang hendak saya sampaikan adalah, orangtua akan berusaha memfasilitasi kebutuhan pergaulan anak-anak (dengan prioritas yang nyaris sama dengan kebutuhan utama) tentu dalam jumlah dan batas usia yang disepakati. Namun, pada akhirnya tingkat kesenangan itu bukan diukur dari jumlah uang yang dihabiskan melainkan seoptimal apa uang yang ada berubah menjadi keriaan. Dan itu didapat dari pengalaman dan kedewasaan. Untuk yang satu ini, beda orangtua beda pendapat yaa ....


Toh, jika umur masih panjang, pendidikan soal finansial pada anak-anak ini akan terus berambah dan berubah bentuk seiring waktu. Anak-anak sejatinya akan semakin kritis dan bisa jadi mereka akan memprotes pilihan metode saya. I guess, PR saya masih banyak.