Tampilkan postingan dengan label mal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juli 2015

JJS: Live Dinosaur di PIM 2

Kayanya cukup  sering ya saya lihat papan billboard bergambar dinosaurus yang mengumumkan bahwa ada pertunjukan dinosaurus di mal-mal tertentu. Ada yang di Bekasi, ada yang di MOI, ada di mana-mana deh. Ga ada satu pun yang saya kunjungi. Maklum, kaki dan tangan masih pendek sejak kelahiran bocah ketiga, tiga bulan lalu. Eh, lebaran datang berikut dengan liburnya si ayah yang panjang banget itu. Kebetulan dalam perjalanan silaturahmi ke saudara lagi-lagi papan billboard itu muncul. Dan juga muncul dalam ingatan suami. Saya sih tadinya diam-diam saja, eh dianya yang tanya. Ya langsung saya jawab deh. “Di PIM.” Dan kemudian rajin meng-google untuk info lengkapnya.


si dino mania


“Terakhir tanggal 26 Juli. HTM Rp100000. Beli 1 gratis 1 kalau pake Citibank.” Kata saya setengah menjerit karena sambil menyusui sedangkan suami di kamar mandi.

Saya rasa begitu dia mendengar promo citibank lah yang membuat dia setuju. Maklum, suami suka malas ke daerah PIM, terlalu sama dengan rute kerja kali ya hehehe dan jauh juga sih.

Dalam sekejap rencana harian saya berubah. Yuk lihat dinosaurus di PIM. Malika sudah membawa satu tas berisi buku-buku dinosaurusnya, syukur mainan binatang-binatangnya ga dibawa.

Saya baca-baca lagi review orang lain yang sudah lebih dahulu melihatnya. Rupanya ini bukan peragaan dinosaurus yang menggunakan sensor melainkan semacam badut. Ada orang di dalamnya, kakinya pun terlihat. Pada bonus DVD dari buku Dinosaurus Malika, kami sempat melihat pertunjukan dino serupa di Australia. Curiganya niy boneka asalnya dari sana juga.
Dan ternyata memang benar (kayanya). Setelah membeli tiket untuk 4 orang yang dibayar cukup Rp200000,- , kami menonton pertunjukan di jam 13.00 sebagai pertunjukkan ketiga hari itu. 
Jadwalnya sendiri mulai pukul 10, 11, 13, 15, 17, 19, dan 20 WIB. Bertempat di lantai dasar PIM 2, sudah ada semacam kandang yang tertutup di sana. Saat masuk, kami diminta duduk mengitari panggung rendah. Kenapa harus duduk? Karena si T Rex ini ekornya panjang dan si orang kan ga mungkin minta permisi dulu kalau mau bergerak-gerak ke sana kemari. Pembawa acaranya memberi panduan awal tentang si Trex, lalu kemudian datanglah si pawang yang membuat saya yakin bahwa ini berasal dari taman Dino di Australia. Yes, logatnya.


ada yang ngumpet


ini dia pawang dan TRex nya


mau pegaang 
(struktur kulitnya keras betulan)



Jadi ada dua Trex yang akan dikeluarkan. Sebelum keluar, suara (rekaman) dino lah yang membuat takut anak-anak. Bahkan Safir sampai mundur ketika akhirnya Trex keluar, Malika agak takut sedikit. Tapi tak lama, setelah itu malah Malika mau adu menggeram sama si Trex yang tidak mau masuk kandang.

Pertunjukkan itu sendiri tak lama hanya 15 menit. Rasanya sayang banget ya? Tapi yah mending daripada harus ke Australia hehehe ... Malika cs yang sudah lebih tahu tentang wujud badut Trex itu malah jadi memperhatikan yang lain, seperti sinkronisasi suara graung dengan mulut si badut yang sering tak sama. Dan memang tak perlu lama, 15 menit itu saya yakin akan jadi seminggu penuh dengan graungan antara dua Trex kecil yang ngeyel itu. Sabar ya baby M ... :D

Ada yang masih bingung ngabisin waktu n THR lebaran? Ke PIM aja, ga rame kooook .... 

Petualangan Dino selanjutnya ke mana ya? Jungleland? 

Jumat, 06 Februari 2015

JJS: 5 Area Bermain Favorit di Mal


Hujan-hujan begini kalau mau berakhir pekan di area terbuka kayanya agak berisiko ya. Apalagi kebanyakan tempat bermain terbuka, sama sekali tidak menyediakan area teduh alias kalau kehujanan ya masalah lo :P So, kalau sudah kehabisan opsi dan anaknya butuh outing (terutama yang ga sekolah formal) biasanya kami bawa ke mal. Bicara soal area bermain di mal sih, lebih nyaman memang di hari kerja, ga rame gituh. Tapi kalau terlampau sepi, anak-anak juga suka cepat mati gayanya. Hehehe ...
Berikut area bermain favorit saya di mal. Mungkin berbeda dengan para orangtua lain. Biasa, saya suka pilih-pilih terutama terkait harga dan kepadatan yang bermain di tempat tersebut. Sengaja pilih yang berbayar, biar beda. Yang gratisan kan setiap hari juga bisa dinikmati di Kalibata City. Dan karena saya tinggal di Kalibata, kebanyakan berada di area Jakarta Selatan.
  1. Funworld di Grand Indonesia
    Sejak bulan puasa lalu, saya sudah kepingin banget tulis tentang tempat ini. Rekomen deh. Awalnya saya menemani suami berbuka puasa bersama rekan kerjanya di kantor lama. Tepatnya di Warung Podjok Grand Indonesia. Saya sudah pikir-pikir, anak-anak bakal main di mana ya. Maklum, ga bisa deh duduk tenang di resto dan makan-makan, selepas itu mereka pasti inginnya main. Seingat saya memang ada wahana Funworld, tapi saya rada grogi dengan harganya dan kualitas permainannya. Soalnya pernah ke tempat dedengkotnya Funworld di MOI kok malah saya merasa banyak kecewanya. Selain tidak variatif permainannya-walau banyak, banyak wahana yang tidak bisa digunakan anak-anak saya. Belum lagi area softplaynya terlarang bagi orangtua. Tempatnya sih tertutup, tapi saya malah parno meninggalkan anak-anak di situ.
    Nah sampailah kami di Warung Podjok yang rupanya memang bersebelahan dengan area bermain anak. Ada semacam area duduk-duduk anak-anak di antara Warung Podjok dan studio foto anak di sana, jadi yah freestyle deh, terserah mereka mau apa, yang penting ga ganggu orang.
    Rupanya area Funworld di sana memang tidak banyak, hanya menyisakan yang besar-besar saja. Maksudnya tidak ada wahana bermain ding dong yang bising itu. Jadi hampir semuanya belum pernah dicoba Malika dan Safir. Dan semua itu hanya terdiri dari lima wahana . Misal, ada kereta gantung, mini kayak, dan kereta.

    Nah, usai berbuka  puasa, Malika dan nge-tek tuh area softplay. Ya suds, saya siapin diri buat nemenin anak-anak. Setelah menggesek kartu Funworld seharga Rp65000,- per orang plus kaos kaki- saya selalu lupa bawa kaos kaki, di tempat kasir, saya pun mendaftar. Setelah melihat-lihat orang-orang yang antri, rupanya orangtua tidak perlu ikut masuk. Saya hanya perlu mendaftar kedua anak saya dan meninggalkan nomor HP jikalau saya bermaksud meninggalkan tempat tersebut. Posisinya pun terbuka dalam artian, dia diapit dua wahana, tapi saya bisa melihat dari depan di mana anak-anak saya berada. Jadi tidak ada spot tersembunyi. Anak-anak yang keluar masuk pun tidak bisa sembarangan. Ada dua penjaga yang menjaga di pintu masuk atau keluar. Anak-anak pun diberi name tag sendiri.
    Saya pikir, weleh kebetulan. Saya ga jadi duduk bosan di sana.
    Awalnya Safir bingung, minta ditemani Amynya. Maklum, kakaknya sudah ngacir duluan. Akhirnya saya pastikan terlebih dahulu apakah Malika ‘megang’ adiknya  atau ga. Setelah itu baru saya tinggal. Eh, rupanya saya jadi bingung mau ngapain hehehe ....
  2. Sandworld di Pejaten Village
    Mau main pasir di pantai tapi khawatir hujan? Ke Pejaten Village aja. Lokasi ini termasuk dekat dari tempat tinggal saya. Banyak orang tidak tahu keberadaan area main pasir ini. Wajarlah, tempatnya mojok di belakang dan biasanya orang-orang berhenti di area bermain softplaynya. Yang terpenting adalah tempat ini sepi. Softplaynya sebenarnya ga buruk, hanya saja kalau ramai itu kok kaya benauwd banget.
    Biasanya hanya ada satu atau paling banyak dua anak di area pasir. Malika dan Safir betah berlama-lama di sana walau awalnya suka agak geli gitu injak-injak pasir. Walau pasirnya tidak benar-benar solid sehingga tidak benar-benar bisa membuat istana pasir, tapi ga tahu tuh  anak-anak, ada saja yang dimainkan di situ.

    Bawa baju ganti ya, soalnya main pasir tapi ga pakai tidur-tiduran di pasir ga seru. Harga masuknya ... lupa saya. Ga sampai  rp30000 per orang/sepanjang hari.
  3. Softplay area di D’Amazin Carribean Kota Kasablanka
    Saya sebenarnya suka malas kalau ke mal besar, biasanya tempat mainnya mihil, seperti lolipop atau chipmunks. Saya sih kalau harga segitu mending ke Phinisi Pasaraya, lebih variatif area bermainnya. Dan ke Kota Kasablanka pun sebenarnya lebih karena penasaran saja ingin ikutan pergaulan (ceilee).
    Tidak seperti Lotte Shop Avenue, saya akhirnya ketemu spot bermain murah meriah buat anak-anak. Itu pun ga sengaja. Gara-gara kuciwa lihat daftar harga Lollipop, kami bawa anak-anak ke D’Amazin Carribean. Sebuah area bermain dingdong. Dingdongnya banyak juga. Yang bisa dimainkan anak-anak balita juga banyak. Eh tapi saya caught a spot, di sudut, rupanya ada area softplay. Spesifikasinya pas buat balita, tidak terlalu besar, tidak terlalu tinggi, dan tidak terlalu ramai. Dan di sebelah area softplay itu rupanya ada semacam bioskop 3d-baru tahu.

    Bayar Rp50000,- per anak sudah termasuk orangtua dan bisa masuk deh. Tapi pakai kaos kaki ya baik anak dan pendamping. Kalau ga bawa ya bayar lagi Rp6000,-.
    Isinya ada area terowongan dan panjatan hingga tiga tingkat, perosotan dari yang mudah hingga yang ulir, dan ada juga main mandi bola. Kondisinya buat saya sih cukup terawat dan bersih. Jadi sekarang saya ga mati gaya lagi kalau ke Kokas hahaha ....
  4. Phinisi Pasaraya Blok M
    Ah, this is my favorite. Okelah harganya mihil, Rp170000,- per anak, beda tipis sama lollipop. Tapiiii ... selain mereka juga punya area panjatan bin terowongan tinggi-tinggi dan naik kereta sepuasnya, carrousel sepuasnya, mereka juga punya area lain. Ada bioskop yang rutin jadwalnya, ada pentas teater, ada kelas menari, melukis, membatik, bagi mereka yang sudah di atas 5 tahun, ada area batita yang luwas sehingga bisa  leluasa kasih makan anak atau sekadar ngobrol sama teman-teman kalau datang ke sana berkelompok—biasanya untuk breaktime  saya bawa anak-anak ke sana, lalu ada wall climbing, dan ada pojok kreativitas seperti melukis layang-layang, kreasi kertas lipat, dan mewarnai. Pokoknya ke sana dari pagi sampai sore pun ga merasa rugi. Kalau kehabisan makanan, ada kafetarianya juga kok. Toilet anak-anaknya juga ramah anak. Love it! Oh iya, jangan lupa, kaos kaki.

  5. Dino Park di Kalibata
    Dan kalaupun hujan sudah turun sejak malam hingga pagi lalu lanjut ke siang, agak malas ya mau ke mana-mana yang jauh. Nah, saya kembalilah ke andalan tempat tinggal saya. Dino Park. Sebenarnya ada dua Dino Park yang letaknya bersebelahan, satu di Kalibata City Square, dan yang lain di Plaza Kalibata. Nah, kalau ini murah meriah sajalah, Rp25000,- per orang dan harga hari biasa. Yah perawatannya ga kelas satu siy. Bola-bola di mandi bola sudah pada penyok dan kotor. Jaring-jaringnya sudah ada yang putus. Pencahayaannya kayanya kurang. Tapi so far masih aman. Lumayanlah dari pada bosan ga ke mana-mana saat akhir pekan. Maklum, emang belum pada sekolah, jadi ingatnya kalau akhir pekan bisa jalan-jalan hehehe. ....
    Yak, segitulah info dari saya. Mungkin ada yang jadi favorit anak-anak Anda?

Sabtu, 23 Agustus 2014

Amy’s Story: Edukasi Finansial Sejak Dini

Bicara soal edukasi finansial sejak dini, saya memiliki perbedaan pendapat dengan ibu saya, walau reputasinya sebagai pengelola keuangan rumah tangga belum ada tandingannya. Bagi ibu saya, yang terpenting adalah makan, agama, kesehatan, dan pendidikan. Hiburan tidak termasuk di dalamnya.
Ini mungkin sedikit curahan hati saya sewaktu kecil. Pada zaman saya dulu, saya lah anak pertama yang akhirnya diberi uang jajan. Padahal saya bungsu loh. Kok bisa begitu? Soalnya sering kejadian saya menggunakan uang untuk membeli buku pelajaran untuk jajan dan akhirnya ketahuan saat pembagian rapor.

Uang jajan saja tidak cukup, kebutuhan pergaulan saya menuntut uang jajan lebih banyak. Dan itulah yang membuat saya menggunakan uang milik sekolah yang saya simpan sebagai bendahara saat duduk di bangku menengah. Jika sudah saatnya pengumpulan uang ke guru, saya biasanya akan men’catut’ nominal uang yang saya minta dari orangtua saya dengan dalih kegiatan sekolah. Parah, kan. Saya sudah korupsi sejak dini.

Ketika saya menginjak usia 17 tahun, barulah saya mendapat akses untuk mengambil uang di tabungan saya. Sebelumnya hanya mama saya yang bisa melakukannya. Setiap bulan, beliau mengisi tabungan anak-anaknya selama bertahun-tahun. Hebat betul ibu  saya ini. Namun itu ternyata tidak cukup menggugah hati saya. Tabungan bertahun-tahun itu ludes dalam waktu sebulan.

Beranjak dewasa, saya mempelajari beberapa hal bahwa kebutuhan setiap anak berbeda-beda dan bisa jadi belum ketahuan bentuknya jika tidak mendapatkan pengalaman yang kaya. Sebagai generasi kelahiran ’80-an, saya hidup ketika pergaulan termasuk kebutuhan utama. Sekilas memang tidak penting, tetapi sekali lagi kebutuhan anak berbeda-beda. Berkawan meningkatkan kepercayaan diri saya di tengah dominasi orangtua dan kakak-kakak saya. Dan berkawan, pada awalnya membutuhkan uang. Dan menguasai uang itu bukan hal yang mudah.

Hal itulah yang mendorong saya mengajarkan anak tentang mengurus uang sejak dini. Saya sendiri masih banyak kekurangannya. Saya beralasan, saya tidak pernah benar-benar mengurus uang di usia dini. Oleh sebab itu, saya ingin anak-anak saya tidak norak saat dewasa dan memiliki penghasilan sendiri. Ibu saya memang menjelaskan sejak dini soal pentingnya menabung, investasi, dan lain-lain, yang tidak beliau ajarkan adalah praktik langsungnya. Ya, teori tanpa praktik itu akan memberi hasil yang tidak sempurna.  Godaan uang di tangan itu sangat .... silahkan isi sendiri deh.

Anak-anak saya kini berusia di bawah lima tahun. Pada si kakak yang berusia 4 tahun, sedikit-sedikit saya ajarkan konsep uang dan belanja. Dia sih sangat bersemangat menabung, belum memiliki ketertarikan khusus soal konsep nilai uang. Uang baru terasa bernilai baginya saat saya ajak dia ke arena bermain yang menggunakan koin. Arena bermain yang bising ini biasa ada di mal. Kenapa lebih mudah di sini, karena fisik koinnya mudah dihitung bagi anak yang baru mengenal angka.

Awalnya saya yang membeli sendiri koin tersebut. Tentu saja koin itu habis dalam sekejap. Dan si anak akan merengek minta lagi dan lagi. Kesal dengan perilaku tersebut, akhirnya saat hendak membeli koin, saya keluarkan lembaran uang saya dari dompet.

“Lihat, ini Amy keluarin uang Rp10000,-. Nih, uang Amy jadi tinggal dua lembar, rp10000,- dan Rp20000,- Coba kamu lihat dapat berapa koin.” Saat itu anak saya sudah tahu angka, belum tahu nilai, tapi dia yakin bahwa yang huruf depannya 1 itu jumlahnya lebih sedikit dari yang huruf depannya 2. Kebetulan saya tidak ada lembaran Rp100000,-

Setelah menukar uang dengan koin, saya perlihatkan jumlah koinnya. Saya suruh dia menghitung dan menghitung kembali usai dibagi dua dengan adiknya. Saya biarkan dia memegang koinnya dan memilih permainan yang dia suka. Dan ketika koinnya habis, saya selalu biasakan hanya mendapat satu kali jatah nambah alias beli koin lagi. Kalau masih penasaran dan Amynya sedang malas, boleh tambah lagi tapi diambil dari uang tabungannya.

Awalnya dia masih rungsing karena cepat sekali koin bergelontor. Terlebih jika jumlah tiket yang didapat tidak cukup untuk ditukar dengan apa pun.

“Ya, kamu sih kebanyakan pilih mainan yang ga dapat tiket.”

Anak saya itu memang lebih suka menaiki mobil-mobilan goyang-goyang ketimbang atraksi yang lain. Saya pun tidak selalu menggiring ke permainan yang mirip dengan judi.

Dan setelah beberapa kali, dia pun kemudian memilih mainan dengan kesadaran penuh berapa koin yang akan habis dan tidak merengek saat koin itu habis pun setelah ditambah. Dia pun tidak terlalu peduli dengan tiket, malah lebih bersemangat kala mengumpulkan tiket itu ke dalam tas saya. Opsi kedua yang melibatkan uang tabungannya pun nyaris tidak pernah dia ungkit.

Atau ketika harus memilih antara permainan koin dengan softplay area berbayar. Biasanya saya akan jelaskan, jika ingin berada di wahana permainan koin berarti hanya sebentar waktu yang dihabiskan. Berbeda jika bermain di softplay area berbayar. Dan itu pun dikorelasikan dengan jumlah waktu yang sejatinya hendak kita habiskan di mal. Jangan ketika akan segera pulang dalam 15 menit, malah memilih softplay area berbayar. Rugi, dong. Biasanya perundingannya agak alot.

Permainan atau hiburan memang boleh dinikmati sesekali, tetapi tidak jarang orang yang menyadari bahwa itu hanya perlu dilakukan sesekali setelah mengalami kesulitan finansial usai kecanduan hiburan. Bagi saya, lebih dini proses terperangkapnya lebih awal pula fase merangkak naiknya. Tahu kan, pengalaman adalah guru terbaik. Intinya yang hendak saya sampaikan adalah, orangtua akan berusaha memfasilitasi kebutuhan pergaulan anak-anak (dengan prioritas yang nyaris sama dengan kebutuhan utama) tentu dalam jumlah dan batas usia yang disepakati. Namun, pada akhirnya tingkat kesenangan itu bukan diukur dari jumlah uang yang dihabiskan melainkan seoptimal apa uang yang ada berubah menjadi keriaan. Dan itu didapat dari pengalaman dan kedewasaan. Untuk yang satu ini, beda orangtua beda pendapat yaa ....


Toh, jika umur masih panjang, pendidikan soal finansial pada anak-anak ini akan terus berambah dan berubah bentuk seiring waktu. Anak-anak sejatinya akan semakin kritis dan bisa jadi mereka akan memprotes pilihan metode saya. I guess, PR saya masih banyak. 

Kamis, 16 Januari 2014

Kids and the Mals

I don't really like to go to the mals during weekend, well it's because we live above it. Mal has become our yard, we even pass it before it open. But sometimes if we don't have any place to go and have to choose a mal somewhere else than Kalibata City Square then I usually have to google it first.

You don't want to go to the mal that has similar tenant as KCS. In my priority list of course something that is new for the kids.
And in my very less experience in 2013, allow me to share.

1. MOI (Mal of Indonesia)
I finally could step my foot inside MOI because one of my friend delivered a baby just behind it. That's why I was so excited. Not to mention, there is a baking supplies store (titan). Got somethings to buy there.

But when we get there, we are a little confused and finally get it when we got home. Basically MOI is like the headquarter of FunWorld games area. They have not only the largest machine games which located at the second floor but you can enjoy all kind of carrousells and mini trains at the back side of the ground floor. But that was it.

Malika and Safir were too small at that time and for me spending money just to take a train was a waste. So, I looked for some kind of free play area or a softplay area. But when we found it, they only allowed a companion that 150 cm tall at the highest. Surely can't do that. The kids even didn't want take the plane carousel without having us beside them.

So, I guess I will going to visit here once again in a few years. Maybe five years from now.

2. PHINISI (Pasaraya Blok M)
I had a chance to visit here because I was attending a Parenthink seminar. I tought it would be a great to join a seminar while knowing your kids would happily playing with their father. But unfortunately, it was not. I only attended it in 15 minutes and after that the father gave up. So here I was, playing with Malika.

I think Phinisi is one of big effort that Pasaraya tried to do to survive. But too bad, the access to go there was not upto date. Phinisi lied at the top of the building but the elevator were too small. Well, it was an old mal, when at its time people didn't bring strollers. Thank God, we decided not to bring any of it. Because those long waitings for the elevator could fall hard when you know your stroller won't fit in.

Just like its name, Phinisi is a legendary boat kind originally from Indonesia, there was a big boat lied at the center of a big hall with dark blue sky. Before we get into the center there were rooms for activities such as batik painting, drawing, vocals training, wayang, cupcakes decorating, etc. Around the big boat there was a track for a mini gokart. The boat itself was quite big to enjoy from the inside.
Other than a carrousel, there was a softplay area with a very high perosotan. But due to its professionalism, the parents were not allowed to accompany the kids while climbing up. It was a big one, so it would quite intimidating for toddler and they usually didn't feel comfort being accompanied by the nice guide there. So was Malika.

Then we decided to take a stair and we finally found the perfect place for the kids. It was a medium area where you could found toys such as brick and stuffs there. Yeah, kids this age didn't really want the most impressive play area. While the kids played, the parents could relax a little bit, sitting on the wooden floor. At the same level there were also a light game where an LED light spot the floor and we could step on whatever that showed and it would crash. What was that game anyway? I think that was so cool. I wish I have one. You could test your kids nerve by trying the wallclimb at the same level. It was safe. Or you could have some fun by taking the train.

But still, I felt uneasy when I got home.

3. SAND PLAYING @Pejaten Village
Most people don't believe in me when I said my favorite place at Pejaten Village was the sand area at the third level. Not because they don't think I like to play sand but because they don't believe that there IS a sand area. Well, no wonder that place had very less visitor, the opposite happened at the second floor where chaos was in the house.

By paying Rp25000,-, Malika and his dad could able to play there while I was in karaoke with Safir n my cousins.

The place was designed as if we were on a beach with big windows and the buildings landscape as its view.  She seemed to enjoy it but the sand it self was very dry so it was impossible to mould anything. Maybe someday we should bring water.
Yes, someday. malika still wants to go there once again.

4. Lolliop @LOVE & Chipmunks @kotakasablanka
There are two similar things from them that become my reasons not to go there. Too expensive and too big.

Yup, they are a giant softplay area that includes cafe and train track. And I know my kids behaviour. Malika likes to explore but she doesn't want to do it if one of us not be with her. While those big area are not suitable for grownups to go in there yet difficult to watch from the outside. While Safir is a ball freak. He would do anything with balls and nothing else matter. Can you imagine him and the ball pool? He would busy picking up the falling out balls and put them in back. Things that you can do at home.
I don't want to spend Rp150000,- - Rp170000,- for each kid and additional Rp50000,- for each companion. Nope. That is not going to happen.

But this palces are suitable if you want to held a party for your kids. It would be more fun.

5. D'amazon Carribean @kotakasablanka
At first we came in here after being disappointed by the entrance price to Chipmunks and Lollipop. Yup, we've travel to three mals within two hours just to seek for a play area. Malika decided to play games that used coins. I said, fine. Better than nothing.
but when me and Malika arrived there, we couldn't find Safir and his father. So we walked around it, it was a small yet crowded place and that was when I saw, in the other cashier corner, there was a small softplay. Voila!

And its price was not that shocking before.
Rp50000 or Rp55000,- if you don't bring any socks. And the kids were finally could have some fun.

As I predicted before, Safir would busy with balls. But in here there was a wind machine where you could place balls and after hitting a button the air would come from the bottom and made the balls flying. Well, at least Safir could do something else with the balls, not just picking it up. And he stayed there for an hour.

While Malika, again, as I predicted, would asked me to join with her crawling inside the tunnel. But because it was too small, I made to convince her that she won't lose me from her sight by standing outside the tunnel. And she really made me as her human directions.
We would love to come back there again.

Well, after some mals, many times we think that Kalibata City Square are OK for us. Quite cheap and small but fit in with the kids.
Ah, home sweet home.