Tampilkan postingan dengan label melahirkan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label melahirkan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 November 2015

RABUku: Mamomics part 2 – 9 Bulan Menanti Keajaiban


Ini adalah bentuk bayar utang setelah sebelumnya membuat review Papomics karena ada abang saya sebagai salah satu kontributornya, sedangkan di saat yang hampir bersamaan, Mamomics 2 pun terbit dan ada nama-nama yang merupakan sahabat abang saya dalam dunia perkomikan lagi-lagi menjadi kontributornya.


Dari dua seri Mamomics yang terpajang di rak toko buku, saya pilih yang kedua karena tema yang lebih spesifik juga terbitan yang lebih baru daaan saya yang juga baru lahiran anak ketiga #uhuk

Cerita kehamilan dan melahirkan selalu luar biasa bahkan dalam keadaan biasa-biasa saja. Namanya juga berpartisipasi langsung dalam proses penciptaan, itu kan sesuatu yang luar biasa, sehingga jika badan pun bereaksi luar biasa, itu wajar. Sebagai ibu beranak tiga, rasanya malu banget mau membanggakan diri. I mean, hamil dan melahirkan itu kan bukan prestasi. Walau perasaannya memang fantastis. Membaca cerita dari empat ibu dan satu lajang yang keibu-ibuan ini sebenarnya lebih menekankan betapa kita harus saling berempati dan bertoleransi setidaknya antarsesama perempuan. Jadi, ini bukan ajang pamer siapa yang paling menderita atau siapa yang paling gampang. Semuanya ada porsinya.

Setidaknya itu bagi saya pribadi.

Saat hamil anak ketiga, saya rasanya payah banget karena keluhan fisik yang tak kunjung usai. Namun, ketika baca cerita kehamilan Mba Harley yang ga hanya mual-mual dkk tapi juga sebentar-sebentar pingsan, i guess semua ada kesulitan dan kemudahan. Untuk mba Harley yang suka pingsang, senantiasa ada suami yang baik hati dan sigap menangkap. (eh iya tak?). Coba kalau saya yang begitu? Kebayang dong pingsan di antara dua bocah pecicilan di apartemen. >.< btw, abang saya jadi cameo di komiknya Bu Harley ini hihihiy ... telat banget ya.

Ketika saya agak sombong bercerita pergi ke RS naik ojek sendiri jelang melahirkan, rasanya saya mau edit ucapan saya ketika membaca kisah Dydy yang tidak hanya naik kereta tapi juga jalan kaki menuju RS sambil mules dan melahirkan sendiri karena sang suami menemani anak pertama yang sedang sakit. Maklum, tengah merantau di negeri orang. Kalau bagi sebagian orang, melahirkan ditemani suami itu rasanya ingin mencakar-cakar mukanya, bagi saya melahirkan ditemani suami itu ekstra kekuatan—ini kata seorang ibu di bus ketika saya hamil anak pertama. Jadi kalau ada yang melahirkan sendirian itu ...  hadeeeuh ...

Jika saya merasa beraaat hamil sambil ngurus dua balita, nah bayangkan ketika ada dua bocah di dalam perut seperti pengalaman kehamilan kedua mba Dyotami ... ga mau bayangin ah, linu perutkuuuh. Hamilnya pe er. Melahirkannya pe er. Ngurusnya apalagiiiih ....

Dan kalau menyimak komik hasil ga sengaja dengar dari ruang bersalin di sebelah Mba Ani usai melahirkan dengan segala kehebohan saat mengedan, lagi-lagi saya berucap alhamdulillah Cuma perlu satu kali buka jalan selebihnya menggelosor dengan sendirinya. Mulas? Ya iyalah. Mau hanya setengah jam seperti saya atau semalaman, yang namanya mulas mau melahirkan ya sakit.

Setelah melahirkan beberapa kali, saya suka ingat-ingat dulu ketika masih lajang apakah saya sudah sebijak Neng  Lia Hartati dalam memandang kehamilan dan ibu hamil secara umum? Ah, mungkin belum. Waktu itu saya belum banyak bergaul sama ibu-ibu sih, jadi bawaannya ingin komentar, “ah, ibu hamil lemes itu Cuma perasaan aja” dan bla bla bla omong kosong penuh kesombongan. Yak, sampai saya ketemu  hamil payah tanpa bisa saya hindari.

Akhir kata saya tak habis terkagum-kagum dengan ibu-ibu pengomik ini. Nemu di mana sih waktu ekstranya? Ngiri euy bisa gambar bagus ^^ Ada yang sederhana, ada yang detail, semuanya istimewa .... selanjutnya kira-kira temanya apa ya?

(eh beli dulu yang seri pertama hehehe ...)


Kamis, 30 April 2015

KAMYStory: Puncak Petualangan Bumil


Apalah lagi puncak petualangan seorang bumil selain daripada proses melahirkan. Proses yang mengubah status bumil menjadi busui jika segala sesuatunya lancar. Adalah suatu subuh di hari Jumat, saya terbangun dan kemudian beser sebelum masuk kamar mandi. Yang terpikir oleh saya saat itu, “wah kejadian kaya waktu Safir, niy.” Namun kemudian the other me bilang, “ah masih pesing kok baunya, berarti bukan ketuban.” Dan kemudian dijawab lagi oleh yang lain, “Kalau air seni mah ga sebanyak ini keles.” Dan selagi dua jati diri saya itu berdebat, saya meneruskan kegiatan sehari-hari di pagi hari hingga siang menjelang, dan saya pun meragu. Saya sendiri juga antisipasi jikalau memang itu ketuban, maka saya banyak-banyak minum air putih. Waktu Safir dulu sempat tertelan ketuban yang sudah berubah warna itu.

Setelah makan siang, saya ajak anak-anak main di bawah. Hari itu memang tidak ada jadwal ke Gen Cerdik, makanya baru turun ketika siang. Saat anak-anak main, saya pun chatting dengan teman saya yang juga tetangga. Saya jadi makin ragu. Saya ungkapkan ingin USG di klinik ibu dan anak yang ada di Kalibata City saja, mengingat waktu itu kan hari Jumat, perjalanan ke RS Tambak itu rasanya jauh sekali. Diteleponlah si klinik oleh teman saya, rupanya tidak ada dokter dan bidan yang stand by. Bah, dengan ribuan penghuni di sini masa ga ada dokter or bidan yang standby (belakangan saya baru tahu bahwa ternyata ada loh yang melahirkan di unit). Dan karena teman saya juga bumil, tingkat pressure lebih tinggi untuk segera memeriksakan kandungan apakah memang pecah ketuban atau tidak. Saya sms dokter Botefilia, dan beliau juga menyarankan segera periksa ke RS Tambak.

Waktu sudah hampir jam 3, pasti macet banget. Ortu masih di luar Jakarta. Suami masih di kantor (masih syukur ga lagi di luar kota juga). Skenario yang sudah saya siapkan buyar semua. Akhirnya saya buat anak-anak tidur siang, saya sms abang saya untuk datang ke Kalibata City, dan ketika anak-anak tertidur, saya turun sudah ada abang saya dan serah terima kunci, lalu saya pun ke RS Tambak. Naik ojek. Tenang, ga lagi extreme game kok, ini karena saya ga mulas saja. Walaupun teman saya sudah menawarkan diri untuk mengantarkan saya ke RS Tambak, tapi yah biar cepat saja. Macet, bo!


Di RS Tambak
Setibanya di sana awalnya berjalan sesuai prosedur; rekam jantung, cek ketuban, lalu periksa dalam. Hasilnya positif ada yang rembes, tapi ketuban masih ada. Pembukaan yang belum ada. Dokter Bote yang datang menjelang magrib pun kemudian memutuskan untuk induksi. Hery sudah datang saat itu, kebetulan sedang rapat di daerah Senayan, jadi ga terlalu terjebak macet. Sementara menunggu suami, saya berkoordinasi dengan kakak perempuan saya. Dengan sok tahunya, saya katakan mungkin akan lahiran malam ini, jadi Hery bisa pulang besok pagi dan menemani kakak saya mengurus dua bocah yang kehilangan induk. Kebetulan abang saya ada pelatihan keesokan paginya jadi hanya bisa menemani keponakannya hingga subuh.

Lucunya, tiba-tiba ibu saya telepon. Saya pikir, apa beliau sudah mendapat update facebook saya? Rupanya mama telepon awalnya untuk memberitahu anak-anaknya di Jakarta bahwa mama papa hari itu akan terbang dari Inggris ke Belanda lalu keesokan harinya terbang kembali ke Jakarta. Diteleponlah sesuai urut lahir, ketika menghubungi abang saya ternyata tidak nyambung, kata abang tertua saya yang di Inggris mungkin ada di rumah saya, jadilah telepon ke saya. Eh malah dapat kabar sudah di rumah sakit. Hehehe ...

Lalu kemudian segala sesuatu berjalan lambat. Induksi yang tadinya diputuskan dipasang saat magrib, malah baru tertancap pukul 9 malam. Katanya saya disuruh makan dulu, eh makanannya lama bingit datangnya. Dan ga tahu ya, apa karena faktor U atau gimana, tapi toleransi sakit saya kok menurun ya. Ketika pasang infus biasanya saya ga harus menahan nyeri, tapi waktu itu bahkan harus tiga kali tusuk baru dapat jalurnya dan rasanya kok sakit ya? Belum lagi sekarang ada suntikan tambahan, tes alergi, dilakukan di bawah kulit dan rasanya amboy panas dan pedih.

Tetesan infus memang sengaja dilambatkan karena rahim saya ternyata belum membuka, tapi kemudian setelah lama tidak merasakan mulas dan saya tidak bisa tidur juga hingga tengah malam, saya menyadari bahwa infus saya tidak menetes sama sekali entah sejak kapan. Susternya pun jarang menengok. Saya bingung. Sepi sekali di kamar itu. Padahal waktu Malika, susternya seolah tidak berhenti melakukan pemeriksaan dalam hingga saya ilfil. Jam dua baru datang susternya dan kemudian memperbaiki infusnya. Dan tidak periksa dalam. Baru deh saya bisa tidur.


Seperti Melahirkan Balon
Bangun pagi disambut sarapan pukul 6. Selera makan saya memang tidak berubah, toh mau melahirkan kan butuh energi. Usai suapan terakhir, setengah jam kemudian, barulah mulas itu datang. Saat bolak-balik ke kamar mandi dan berpapasan dengan suster yang selalu bertanya sudah mulas atau belum, saya katakan sudah. Dan sepanjang acara gosip di televisi mulas itu makin menjadi. Jam 7  suster datang dan bertanya yang sama, saya bilang sudah mulas dari setengah jam yang lalu dan tidak berhenti. Lalu dipasanglah alat rekam jantung dan rencananya setengah jam kemudian akan periksa dalam. Nah, saat sedang rekam jantung itulah, saya merasa seperti ada sedikit pup keluar. Saya katakan pada suami untuk lapor ke suster, karena suster itu sebelumnya bertanya apakah sudah keluar lendir dll. Ketika suami mencari suster, saat itulah ada yang sudah mendesak di vagina. O-o, ada yang sudah mau keluar. Saya buru-buru miring. Dan ketika suster datang (itu pun kayanya suster anak yang sedang persiapan kamar bersalin untuk operasi cesar), gelombang mulas itu makin menjadi. Saya masih di ruang kala saat itu. “Jangan ngeden dulu ya, bu!” Maksudnya saya disuruh tenang supaya bisa turun tempat tidur dan pindah ke kamar bersalin.


Yeah, right. Disuruh tahan ngeden lagi gue. Manusia emang suka kebanyakan ngatur ya? Belum mulas disuruh mulas pake induksi, giliran dah mau keluar malah disuruh tahan, menurut lo?

Apa lacur saya tak sanggup pula, pertama-tama saya merasa seperti ada balon menyembul dari kedua kaki saya yang terkatup. Dari teriakan susternya, kantung ketuban saya mengembang. Ok, gue ga mau tahu deh bentuk kaya apa. Diusap-usaplah punggung saya, dan si balon masuk lagi. Hanya bisa tenang beberapa detik lalu yang mau keluar sudah tidak bisa ditahan lagi. Saya rasakan lagi di kaki saya, dan saya teriak, “sudah keluar, sudah keluar.” “Oh, iya!” suster itu berteriak-teriak memanggil seniornya, “ayo bu telentang.” Dan keluarlah bocah itu, ditangkap seorang bidan. Tangisnya tak terdengar karena masih terbungkus kelatup. Begitu dibuka baru deh nangis, dan dengan cepat tubuhnya membiru karena kedinginan. Tak berlama-lama IMD, suster anak segera membawanya ke ruang rawat bayi karena kotak penghangat belum disiapkan.

Para suster pun bahkan sempat kalut hingga bingung mau kasih tahu dokter Bote atau tidak. Si junior berpikir, ah tak usah kan sudah OTW. Si senior membalas, perkembangan itu harus update harus real time, kasih tahu dokternya!

Lha, piye. Tumben niy RS Tambak.

Dan saya dibiarkan mengangkang dengan plasenta masih di perut. Menunggu dokter Bote yang setengah berlari datang 10 menit kemudian. Dari raut wajahnya saya tahu dia kecewa tak bisa ‘menangkap’ anak ketiga ini dan kecewa dengan para perawat yang sudah diberitahu berkali-kali untuk segera memberitahunya ketika saya sudah mulas karena punya riwayat cepat lahir pasca induksi.

Tapi tenang, saya masih menyisakan banyak tugas untuk dokter Bote. Di ruang kala itu, dokter Bote mengurusi plastenta. Melakukan jahitan (yang terasa sakit karena tidak ada bayi yang IMD). Dan memasang IUD.

Bayarnya jadi lebih murah? Ah ga, dihitung sama kok. Entah kenapa. Tapi yah mengingat masih dokter juga yang menangani pascalahirannya, saya tak masalah.


Selamat Datang Panglima
Saat positif hamil lagi, saya tahu bahwa untuk anak ketiga ini perannya adalah Panglima. Setelah Malika (si ratu), Maulana aka Safir (si cendikia), maka selanjutnya adalah pemimpin pasukan. Dan rupanya saya baru tahu dari Olimpiade Indonesia Cerdas ada undang-undang yang menyatakan bahwa ketika kepala negara dan wakilnya tidak bisa menyambut kepala negara, maka selain sekneg dan menteri dalam negeri, yang berwenang menyambut adalah Menteri Keamanan. Nah, bener kan urutan saya?

Nama yang pertama muncul adalah Umar diambil dari Umar bin Khattab. I always think he was totally cool. Nah, untuk yang perempuan, saya agak bingung. Mau ambil nama panglima perempuan siapa ya? Masa, Joan, dari Joan of Arc? Eh saya baru ingat, buat apa jauh-jauh cari nama orang beken kalau ada keturunannya. Ya, tak lain tak bukan, buyut saya, Cut Nyak Meutia. Jelas pejuang beneran, secara fisik, memimpin sendiri pasukannya pasca suami tewas, bahkan sambil membawa anak semata wayangnya. Keluar masuk hutan. Nah, karena saya tidak bisa meneruskan gelar Cut atau Teuku ke anak-anak saya, maka penyematan nama buyut ini sekiranya dapat menjadi pengingat bagi saya dan anak cucu saya tentang apa yang diperjuangkan para leluhurnya.

Saya kemudian berkata pada Hery, “pokoknya kalau anak laki, pakai Umar, anak perempuan pakai Meutia. Selebihnya terserah kamu.”

Ketika sudah valid bahwa si janin adalah perempuan, barulah keluar nama lengkap dari Hery sebagai lanjutan dari Meutia. Kamal Baiduri. “Kamal” adalah nama datuk saya, kata Hery sih biar adil. Maklum, Ibu saya ini memang agak kompetitif orangnya, jadi daripada nanti terjadi kecemburuan maka dipilihlah nama “kamal”. Which is not bad. Datuk saya ini juga pejuang, sempat aktif PRRI kalau tidak salah. Dan beliau meninggal persis di mimbar saat hendak menyampaikan khotbah usai shalat magrib di masjid. Kata “kamal” itu sendiri hadir di wahyu TERAKHIR yang turun, yang artinya kalau tidak salah di kisaran, penyempurna atau disempurnakan. Lupa sayah. Nama tengah ini tadinya mau diganti sama Hery begitu anaknya lahir. Saya mulai sebal dengan gaya plin plannya, jadi saya segerakan pengumuman nama lengkapnya di medsos dan sms kedua orangtua saya. Hahahah .... kalau diganti pasti nanti diambekin mama seumur hidup wakakak...


Sedangkan “baiduri” adalah nama sejenis berlian. Agak jadul memang. Hehehe ... ya sudahlah, pada pukul 07.35 lahirlah anak ketiga kami, Meutia Kamal Baiduri, hari Sabtu, hari TERAKHIR dalam seminggu, 18 April. Semoga menjadi anak yang selalu dilindungi Allah SWT. 

PS: fotonya ga usah yak, tak sempat daku transfer fotonya... 

Jumat, 10 April 2015

Saat Ditanya Mau Kado Apa

Jelang melahirkan suka ge er kupingnya ketika ada teman yang bertanya, “mau kado apa?” Suka terharu gitu sik, hehehe ... Padahal teman saya mungkin memang bingung betulan, maklum sudah mau anak ketiga, jadi yaaah emang masih perlu apa lagi ya?

Sedangkan saya di minggu-minggu terakhir malah sudah malas memikirkan keperluan bayi. Bukannya bikin wishlist yang betul malah bikin wishlist yang sangat mendekati dengan kenyataan.

Memang sih anak ketiga sudah ga terlalu neko-neko juga kepengennya, apalagi tinggal di unit yang ‘gede’ banget ini, selektif banget jadinya. Mainan? Ah, sudah pengalaman, mainan kakak lebih menarik. Atau mainan si adik jadinya dimainin sama kakaknya. Ga usah lah. Baju? Sudah punya segambreng, padahal dulu sudah pernah dihibahin ke orang-orang segambreng. Dilalah, dapat banyak lungsuran. Alhamdulillah. Hmm apalagi ya?

Kepala saya berputar mencari-cari sesuatu dan kemudian berhenti pada suatu benda yang teronggok di pojokan. Ah, saya tahu. Saya perlu ransel baru.

Selama lima tahun berturut-turut, ransel bayi itulah yang saya pakai. Dapatnya juga dulu gratisan karena ikut kuis di majalah saat hamil anak pertama. Terpakai hingga sekarang. Dengan bahan kulit berwarna merah marun dan sedikit aksen garis vertikal, buatan cocopop ini emang ga keliatan seperti ransel perlengkapan bayi. Jadi ayahnya yang gayanya britpop masih pantes pakai ransel itu. Sekarang, model sejenis sudah tak ada.

Saya memang rada cerewet soal tas (yah dan segala atribut fashion lainnya) karena paham betul dengan tubuh sendiri. Walau penyuka ransel, tapi bahu saya yang kecil tidak bisa menampung ransel yang terlalu besar. Dan karena nanti akan pakai gendongan bayi dengan tali seperti tali ransel, saya jadi bingung kira-kira saya harus pakai yang seperti apa? Kalau terlalu tipis nanti ga pantes dipakai suami. Ransel dengan tali serupa apa muat di bahu saya? Belum lagi saya penganut banyak kantong  di tas itu baik hehehe ... lumayan buat sembunyiin barang berharga, karena saya tidak akan bawa tas lain untuk segala dompet dan hp. Nah, ribet kan? Sudah cari di mal, tapi ga ketemu. Ya suds, mari kita cari online.

Akhirnya saya coba buka www.shopious.com sebagai tempat fashion terlengkap, baru, dan terjangkau setiap hari. Tiga hal yang memang diperlukan untuk saya yang cerewet ini. Lebih lengkap soal Shopious bisa dilihat di video ini yaa.


Saya sadar bahwa mencari ransel itu pasti lebih sulit ketimbang mencari handbag. Sudah jamak bagi para wanita untuk lebih memilih handbag, saya sih lagi-lagi pertimbangan ukuran bahu. Paling mentok ya selempang karena saya butuh sesuatu yang handsfree. Namanya juga sambil pegang anak-anak, kalau ada apa-apa ya repot, apalagi rada alergi nanny, tangan prioritas buat anak-anaklah.

Jadi ketika saya buka folder backpack di www.shopious.com dan dapat jatah tiga halaman, saya sudah senang banget. Dan pencarian pun dimulai. Ga mau yang desainnya cewek banget—bye-bye tas desainer. Ga mau ransel yang kaya anak sekolahan—bye-bye merk tas sporty. Ga mau yang dari bahan kanvas karena kalau ada minuman tumpah di tas, langsung ketahuan—bye-bye tas dengan motif vintage. Cepet banget tereliminasinya hahahaha ....

Baguslah, foto-foto di galeri berguguran dengan segera. Dan mata pun melihat yang terpilih. Tabuh drumnya. Yang ini niiiy ....


Gambar diambil di sini

Hahaha kembali ke selera kpop. Ga niat sih, kalau niat mungkin sudah ambil tas dengan tulisan nama boyband korea, tapi sayang tidak ada edisi Bigbang dan bahannya kanvas hehehe. Kalau ditilik-tilik sih cukup besar ya (atau modelnya yang kecil?), terus bahannya bukan kanvas alias kulit. Warna hitam yang ga terlalu cewe banget buat ditenteng suami sesekali. Daaaan, orang ga bakal nyangka kalau tas beginian isinya popok, sabun bayi, susu, jus, dkk hahahaa. Ah mudah-mudahan ada kantong lagi di dalamnya, soalnya ga dikasih liat sih di fotonya. Mungkin biar ga ketahuan semua detailnya kali yaaa ...


Harga hanya Rp178000,- dan tersedia warna ungu dan hitam. Lha gue jadi promo begini. Nah, siapa yang mau beliin? Silahkan yang mau patungan hihihihiy.... 

Kamis, 22 Januari 2015

KAMYStory: 10 Kado Bayi yang Paling Diinginkan


Seringkali saat hendak memberi kado untuk kelahiran anak ketiga dari keluarga atau teman, saya bingung, mau dikasih apa ya? Adalah umum diketahui bahwa kebanyakan orang lebih suka menyimpan perlengkapan bayinya bahkan hingga bertahun-tahun. Dengan cita-cita untuk dilungsurkan. Jadi ya saya bingunglah mau kasih apa. Tapi tenang, hal itu tidak berlaku untuk saya. Oleh karena tinggal di rumah yang ‘gede’ banget ini, saya mudah saja melungsurkan perlengkapan bayi sesegera mungkin. Orang-orang tua sering bilang tiap anak itu ada rezekinya, jadi ga usah takut tidak bisa kasih makan. Nah, kalau saya mengartikannya, jadi kenapa harus pusing soal baju?

 

Eh tapi dari sekian banyak perlengkapan bayi (yang jumlahnya kian menurun setiap kelahiran anak), ada tujuh yang benar-benar saya inginkan tapi malas mewujudkannya sendiri. Tenang, ini hanya bercanda, tapi beneran deh hamil anak ketiga inginnya yang realistis saja.

 

  1. Rumah landed di tengah kota dan memiliki minimal tiga kamar. Kalau teman-teman bertanya, “lo mau apa?” “lo perlu apa?” “Apa yang belum lo punya?” Saya lebih suka menjawabnya, saya mau rumah landed di tengah kota dan memiliki minimal tiga kamar. Hehehe ... maklumlah, saya sebenarnya ga kebayang juga membesarkan tiga bocah tengil di ruang terbatas seperti ini. Jadi demi meringankan beban suami, mungkin ada yang berminat patungan membelikan saya rumah?
  2. Biaya gratis persalinan dalam berbagai penindakan di RS Tambak. Anak ketiga biasanya tidak ditanggung lagi oleh perusahaan tempat suami bekerja, jadi yaaa ... Pakai BPJS? Bisa. Tapi RS yang ada dokter Botefilianya jauh, di RS Persahabatan. Beuuuh ...
  3. Paket pijat pascamelahirkan. Sejak lahir anak pertama ga pernah ngerasain dipijat. Badan rasanya rontok tak berkesudahan. Ada yang mau jadi sponsor?
  4. Stok pospak selama dua tahun. Baru saja saya menghapus popok dari daftar belanja dengan bangga eh ketemu tongkat bergaris dua lagi. Walau saya pengguna clodi, tapi kalau malam hari biasanya masih pakai pospak. Dan itu lumayan pengeluarannya. Ga banyak, hanya dua bungkus besar pospak berbagai ukuran per bulan selama dua tahun. Ada yang punya vouchernya ga ya?
  5. Selusin clodi. Ngomongin clodi jadi ingat deh, clodi yang saya punya sudah kadarluarsa alias sudah dipakai lebih dari dua tahun. Jadi yah, kudu beli baru. Ga banyak, selusin saja cukup kok, tapi insertnya dua lusin yaaa ... (halah)
  6. Baby wrap. Hanaroo baby wrapku sudah dipakai untuk dua anak, jadi yah sudah melar. Ada yang berminat membelikan yang baru untuk saya? Lebih cocok pakai itu ketimbang baby carrier lain. Hihihiy ...
  7. Paket sabun dan shampo plus deterjen bayi. Nah, ini nih ... deterjen bayi paling ga sampai 6 bulan pertama, sabun dan shampoo? Timeless. Makin banyak makin baik. Ga perlu make up bayi lainnya kooook.
  8. Akun rekening pendidikan. Jadi ingat kuis pelajar zaman dulu, pasti hadiahnya Tabanas. Ada ga yang mau hadiahin akun rekening pendidikan buat anak ketiga ini? Tapi diisiin yaaa ...
  9. Gratis suplai dan antar sayuran jadi selama satu tahun. Jujur, saya ini malas masak sayur, sedangkan untuk menyusui harus sering makan sayur. Nah, kan enak kalau ada yang sediain plus diantar ke Kalibata hehehehe ....
  10. Lupakan daftar di atas. Yang lebih penting doa dan dukungannya. Semoga saya bisa jadi ibu yang lebih baik dan bahagia. Demi anak-anak yang sehat, cerdas, dan juga bahagia dunia akhirat.