Tampilkan postingan dengan label teman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 November 2015

RABUku: Mamomics part 2 – 9 Bulan Menanti Keajaiban


Ini adalah bentuk bayar utang setelah sebelumnya membuat review Papomics karena ada abang saya sebagai salah satu kontributornya, sedangkan di saat yang hampir bersamaan, Mamomics 2 pun terbit dan ada nama-nama yang merupakan sahabat abang saya dalam dunia perkomikan lagi-lagi menjadi kontributornya.


Dari dua seri Mamomics yang terpajang di rak toko buku, saya pilih yang kedua karena tema yang lebih spesifik juga terbitan yang lebih baru daaan saya yang juga baru lahiran anak ketiga #uhuk

Cerita kehamilan dan melahirkan selalu luar biasa bahkan dalam keadaan biasa-biasa saja. Namanya juga berpartisipasi langsung dalam proses penciptaan, itu kan sesuatu yang luar biasa, sehingga jika badan pun bereaksi luar biasa, itu wajar. Sebagai ibu beranak tiga, rasanya malu banget mau membanggakan diri. I mean, hamil dan melahirkan itu kan bukan prestasi. Walau perasaannya memang fantastis. Membaca cerita dari empat ibu dan satu lajang yang keibu-ibuan ini sebenarnya lebih menekankan betapa kita harus saling berempati dan bertoleransi setidaknya antarsesama perempuan. Jadi, ini bukan ajang pamer siapa yang paling menderita atau siapa yang paling gampang. Semuanya ada porsinya.

Setidaknya itu bagi saya pribadi.

Saat hamil anak ketiga, saya rasanya payah banget karena keluhan fisik yang tak kunjung usai. Namun, ketika baca cerita kehamilan Mba Harley yang ga hanya mual-mual dkk tapi juga sebentar-sebentar pingsan, i guess semua ada kesulitan dan kemudahan. Untuk mba Harley yang suka pingsang, senantiasa ada suami yang baik hati dan sigap menangkap. (eh iya tak?). Coba kalau saya yang begitu? Kebayang dong pingsan di antara dua bocah pecicilan di apartemen. >.< btw, abang saya jadi cameo di komiknya Bu Harley ini hihihiy ... telat banget ya.

Ketika saya agak sombong bercerita pergi ke RS naik ojek sendiri jelang melahirkan, rasanya saya mau edit ucapan saya ketika membaca kisah Dydy yang tidak hanya naik kereta tapi juga jalan kaki menuju RS sambil mules dan melahirkan sendiri karena sang suami menemani anak pertama yang sedang sakit. Maklum, tengah merantau di negeri orang. Kalau bagi sebagian orang, melahirkan ditemani suami itu rasanya ingin mencakar-cakar mukanya, bagi saya melahirkan ditemani suami itu ekstra kekuatan—ini kata seorang ibu di bus ketika saya hamil anak pertama. Jadi kalau ada yang melahirkan sendirian itu ...  hadeeeuh ...

Jika saya merasa beraaat hamil sambil ngurus dua balita, nah bayangkan ketika ada dua bocah di dalam perut seperti pengalaman kehamilan kedua mba Dyotami ... ga mau bayangin ah, linu perutkuuuh. Hamilnya pe er. Melahirkannya pe er. Ngurusnya apalagiiiih ....

Dan kalau menyimak komik hasil ga sengaja dengar dari ruang bersalin di sebelah Mba Ani usai melahirkan dengan segala kehebohan saat mengedan, lagi-lagi saya berucap alhamdulillah Cuma perlu satu kali buka jalan selebihnya menggelosor dengan sendirinya. Mulas? Ya iyalah. Mau hanya setengah jam seperti saya atau semalaman, yang namanya mulas mau melahirkan ya sakit.

Setelah melahirkan beberapa kali, saya suka ingat-ingat dulu ketika masih lajang apakah saya sudah sebijak Neng  Lia Hartati dalam memandang kehamilan dan ibu hamil secara umum? Ah, mungkin belum. Waktu itu saya belum banyak bergaul sama ibu-ibu sih, jadi bawaannya ingin komentar, “ah, ibu hamil lemes itu Cuma perasaan aja” dan bla bla bla omong kosong penuh kesombongan. Yak, sampai saya ketemu  hamil payah tanpa bisa saya hindari.

Akhir kata saya tak habis terkagum-kagum dengan ibu-ibu pengomik ini. Nemu di mana sih waktu ekstranya? Ngiri euy bisa gambar bagus ^^ Ada yang sederhana, ada yang detail, semuanya istimewa .... selanjutnya kira-kira temanya apa ya?

(eh beli dulu yang seri pertama hehehe ...)


Senin, 16 November 2015

Tema Minggu Ini: Kawan

Dua minggu belakangan, saat saya menerima buku pesanan berjudul Teman Perjalanan karya Kurnia Efendi dan kemudian melihat di toko buku KCS sudah ada buku-buku dari penerbit tempat dua kawan saya bekerja dan menelurkan karyanya, saya terpikir untuk mengisi rubrik RABUku dengan buku-buku karya kawan-kawan saya.


Lalu Jumat lalu seorang kawan meninggal dunia. Melihat tribut dari kawan-kawan lain, saya jadi menyadari bahwa sudah lama saya tidak 'melayani' kawan-kawan saya. Sebuah hubungan seolah dapat digantikan dengan mengumbar jempol di setiap postingan. Dan kini rasanya saya perlu berbuat lebih, semampu kaki saya yang pendek ini.  Bukan, saya tidak hendak membeli perkawanan. Saya hanya ingin mencelupkan diri dalam hubungan itu karena rasanya sudah terlalu lama saya menikmati matahari dan hampir lupa menghargai masa lalu ketika banyak kawan-kawan berkumpul di sana.


Makadariituuuu ... Minggu ini saya mau angkat segala hal tentang kawan. Entah itu karya-karya teman saya, toko-toko online milik teman saya, tempat-tempat nongkrong bersama kawan dulu, dan lain-lain ... Pokoknya tentang kawan yang disesuaikan dengan tema harian. Yah, mumpung belum sibuk dengan urusan lomba blog hehehe ....


Bagi para pembaca lain, saya jamin tidak akan mengalami roaming. Syukur alhamdulillah, saya dikelilingi kawan-kawan yang hebat. Like you.


Thank you.


Kamis, 05 Maret 2015

KAMYStory: ‘Kadocholic’

Banyak dari kita yang memiliki hobi belanja, baik wanita maupun pria. Variannya pun berbeda-beda, khusus wanita biasanya terkait dengan fashion, entah itu bagcholic, shoecholic atau yang bebas gender seperti bookcholic. Ada yang bisa mengatur ke’cholic’annya itu, ada yang tidak. Nah, saya termasuk yang nyaris tidak bisa mengatur (agak denial sebenarnya pernyataan ini hehehe). Tapi sub varian saya agak berbeda, karena tidak bisa diukur dari tingkat kebutuhannya, yaitu ‘kadocholic’. Okelah ini pemerkosaan kata memang, tapi ga enak kalau bilang ‘presentcholic’.


Persisnya ga pernah tahu siy, tapi mungkin sejak kuliah ketika saya dapat uang jajan lebih. Saya menemukan hal yang sangat menyenangkan ketika bisa membelikan kado untuk teman-teman saya. Well, sejak SMP sebenarnya sering diajak teman-teman cowo untuk memilihkan kado buat pacar mereka. Mulai dari pacar yang memang teman sendiri, hingga pacar yang ga pernah dengar profilnya sama sekali kecuali di hari itu. Biasanya pas valentine tuh. Ah, saya lupa, waktu SMP kan juga nyari kado buat pacar (halah) sedangkansejak SMA sibuk cari kado buat kecengan yang ga ada satupun jadi suami hihihiy. ..  Emang ya, lawan jenis bikin kita konsumtif.


Saya sendiri termasuk jarang kasih kado ke teman pada saat itu, maklum tak punya duit. Biasanya saya kasih kartu buatan sendiri-dan dari bahan daur ulang. Rasanya dulu memang ingin memberkan yang sesuai profilnya. Apalagi kalau ketemu teman dengan kesukaan spesifik, senang banget nyari kadonya. Makanya pas kerja saya jadi royal banget.


Nah karena itulah saya jadi tidak bisa ukur berapa sebenarnya bujet untuk kado. Tidak bisa ukur kebutuhannya, karena rasanya ingin kasih ke semua orang setiap hari. Berasa sinterklas ya gue. Apalagi begitu sudah punya anak dan masuk sekolah, jadi ada kebutuhan untuk menyetok kado dari berbagai usia, jenis, dan warna hahaha.... Soalnya gimana ya? Saya kan jarang bawa uang tunai, jadi kalau tiba-tiba ketemu teman atau saudara yang jarang bersua terus bawa anak rasanya ingin kasih buah tangan atau tetiba anak pulang dengan goodie bag, hiya ada yang ultah, masa kita ga ngadoin balik? Yah, kalo kepepet kasih uang. Cuma berasa nenek-nenek gue, hehehe ....


Sasarannya pun suka tidak pandang bulu. Ga harus teman dekat, teman dekat itu membantu saya dalam pengelompokan profil, sukanya apa, tapi ada juga yang ga teman dekat tapi terkenal dengan kesukaan spesifiknya, ya biasanya saya kasih juga. Momennya juga ga harus selalu ultah karena terkadang ketemu barangnya ga pas jelang ultah. Seringnya aji mumpung, mumpung ada hepengnya. Makanya sering kejadian tagihan kartu kredit gede tapi barang yang ada di rumah ya itu-itu aja, ga ada bekasnya selain plastik pembungkus hahaha ... maafkeeun suami, kan bayar sendiri kok tagihannya.


Saya malah pada dasarnya tidak suka kasih kado uang, kok kaya ga kreatif. Kaya ga meluangkan waktu. Memang, ketika menerima kado saya lebih suka mendengar cerita di balik itu ketimbang kado itu sendiri. Semakin susah payah, semakin saya apresiasi. Yang ga bersusah payah tapi tepat pun juga saya apresiasi. Pokoknya keliatan deh mana yang asal-asalan. Tapi ga papa, sudah ada niat baik ... saya apresiasi juga. Toh, saya juga ga berharap apresiasi juga sih, kan pasti ga selalu kado saya pas buat keinginan para ‘korban’. Biasanya terlihat dari rautnya sih dan kalau saya tidak puas , jadi penasaran untuk cari kado yang lebih baik.


Yang lucu adalah ketika mengaku diri agak terobsesi membelikan kado, saya malah merasa belum pernah memberikan kado yang tepat gunjreng ke orang-orang terdekat saya. Semisal orang tua, my siblings, even suami. Kasih yang ecek-ecek kayanya ga maknyus. Level mereka dan kedekatan saya harusnya yang kasih kado semacam tiket inggris-jakarta pp, tur mudik padang-aceh bareng cucu dan menantu, nonton n masuk langsung ke stadion Anfield, bawa ketemu Michael Jordan, atau sekadar menyusuri jalan legendaris Sherlock Holmes. Banyak ya bo !


Yah sudahlah, maksud hati memeluk gunung apa daya tangan belum sampai. Hal semacam inilah yang menjadi booster saya ketika memerlakukan uang. Emang ga selalu punya waktu untuk cari uang sih, uang yang ada saja habis terus hahahaha ... Konon, jangan tunggu punya uang banyak atau tunggu hari ultahnya tiba baru dikasih kado, whenever you like whenever you have something, it will always taste better when you share it. Tapi ingat ya, jangan kebablasan ... you can’t buy friendship anyway.


Jadi, beli kado apa bulan ini? (dipelototin suami)




Selasa, 02 September 2014

KEPO: Perlu Ga, Sih?




Satu hal yang saya perlukan sebelum bertemu teman lama adalah KEPO. Awalnya saya tidak peduli, tapi kemudian saya kok jadi sering bring out a topic on a wrong table. Sering pula baru sadar ketika sudah ketemu faktanya.

Seperti wartawan infotainmen, setiap hari selalu ada pertanyaan lanjutan. Waktu kelar kuliah, pertanyannya gawe di mana? Setelah itu berlanjut, status apa? Single? Double? Triple?

Begitu semua sudah diketahui menikah, kayanya yang perlu diam-diam diketahui, masih nikah ga?

Nah, ga mungkin dong tanya langsung ke orangnya.

Pernah suatu kali saya bertemu teman SD (cewek), lalu pembicaraan kami ngalor ngidul membicarakan teman-teman SD yang lain. Begitu tercetus satu nama temen cowok yang tinggal di luar negeri dan katanya beberapa kali bertemu, saya lempeng saja. Setahu saya si temen cowok ini sudah menikah memang. Jadilah saya tanya, “si anu sudah punya anak blum?” Teman saya itu menggeleng. Eh rupanya beberapa bulan kemudian saya dapat undangan dari mereka berdua. Oalah rupanya teman saya yang tinggal di luar negeri itu sudah lama bercerai dan akhirnya malah nyangkut sama teman saya yang cewek itu.

Atau ada lagi keadaan canggung. Melihat teman saya yang diketahui sudah menikah datang bareng teman saya yang cowo ketika buka puasa bersama. Saya juga lempeng aja, toh kami memang akrab kalau berteman. Apalagi kalau masih teman sekolah (sebelum kuliah), pasti tinggalnya tidak jauh satu sama lain. Eh rupanya teman saya yang cewek itu sudah cerai juga dan lagi ‘dekat’ sama teman saya yang cowo—walau akhirnya ga jadi sih.

Atau ketika kita rajin nengokin FB. Suka ada pertanyaan, “perasaan kemarin unggah foto honeymoon sama orang yang begini-begini, eh tapi kok pas ketemu yang digandeng dan dikenalin kok beda ya?” Nah, loh.

Apalagi kalau punya penyakit hapal nama ga hapal orang, jeeeng! Bisa kejadian tuh sebut nama mantan pacar tahunan di depan suami yang sekarang. Haiyah.

Namun, ngulik-ngulik profl FB teman sebelum ketemu juga suka menimbulkan pertanyaan lain. Nah ini rada gosip karena suka nyentil SARA. Pertanyaan iseng “orang mana?” bisa merembet ke “agamanya apa?”. Nah yang terakhir ini biasanya saya tanya kalau emang mencurigai sesuatu. Bukannya mau diskriminasi, Cuma nanti kan ga enak kalau lagi ketemu saya ajak-ajak shalat terus orangnya ga mau karena emang beda kan jadi aneh. Belum kalau saya lagi keluar cerewetnya tiba-tiba ceramah pentingnya shalat berjamaah.

Ada pula pertanyaan yang maksudnya basa basi malah jadi bahan gosip. Misalnya ketika bertemu kenalan dengan anaknya untuk pertama kali, apa coba pertanyaan yang biasa muncul? “Mirip siapa ya?”

Ini kan pertanyaan iseng. Tapi bisa loh jadi bisik-bisik karena rupanya bukan anak kandung. Kalau di luar negeri mah biasa. Di sini? Padahal saya salut loh sama yang asuh anak.

Tapi kalau dalam kehidupan bertetangga, saya pikir perlu loh kepo. Apalagi saya yang tinggal di apartemen. Orang-orang yang tinggal di sini kan kadung berpikiran bahwa apartemen adalah area privat, padahal kenyataannya, kita hanya terpisah oleh dinding. Jadi ketika ada yang bertengkar, pasti terdengar. Dan bersikap acuh tak acuh malah bahaya. Siapa bilang karena yang bertengkar suami istri, kita ga boleh lerai atas nama urusan pribadi. Siapa yang tahu kalau ada kekerasan dalam rumah tangga? Makanya jika terdengar pertengkaran , terkadang saya pasang k uping. Ada yang pecah ga? Ada raungan kesakitan ga?

Kalau tidak berani ketok sendiri, telepon satpam. Menghindari hal-hal buruk. Kalau sudah bertengkar kan sahabatan sama setan, mana tahu ditutup matanya.

Saya malah pengen ada yang ketokin pintu kalau lagi cerewet banget sama anak. Biar ingat diri.

Well, anyway masih trial and error soal kepo ini. Terkadang memang suka lupa menahan diri ketika tahu salah teman bercerai, masih tanya lagi, “kenapa?”

Nah yang itu dah gosip deh.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Kebun Raya Bogor: Liburan para Bunda dan Anak-anaknya

Terkadang berteman itu terjalin ketika kedua anak kita saling berkawan di sekolah. Untuk kasus saya, kebetulan pula teman anak saya itu juga tetangga. Yah, beda tower di komplek Kalibata City ini. Dan ketika liburan sekolah (playgroup) datang, maka itu artinya PR tambahan bagi pemilik dua anak balita. Termasuk kami berdua, saya dan Farah (atau biasa saya panggil Bunda). Oleh karena itu, kami mulai merancang jadwal outing bersama. Ke tempat yang jauh dari Kalibata. Bertema piknik. Dan terpilih satu tempat. Kebun Raya Bogor.

Rasanya sudah lebih dari satu dasawarsa saya tidak pernah masuk Kebun Raya Bogor. Paling gres ya waktu SMU (sekitar berapa belas tahun yang lalu ya itu ^^’), itu pun ga greget karena terpaksa bete lihat yang bawa pacar. Dan memang Kebun Raya Bogor seperti menjadi pilihan bagi tujuan wisata keluarga, tur studi anak-anak SD, dan lokasi pre-wed. Lokasi pacaran? Huehehe ... mitosnya kan bakal putus.

Sabtu menjadi hari pilihan karena memutuskan akan menggunakan mobil Bunda dan tentu disopiri sang suami. Kami sekeluarga sih nebeng, paket hemat. Sengaja dipilih hari Sabtu, karena hari Minggu itu mobil dilarang masuk. Repot ya kalau bawa anak kecil jalan jauh. Mereka main sih kuat lama-lama, tapi kalau disuruh jalan kaki terlalu jauh ya jiper juga. Belum lagi kalau tiba-tiba hujan.

Pagi itu ambil rapor dulu baru berangkat. Namun, karena kedua anak saya itu lama moodnya untuk sarapan akhirnya ga makan apa-apa deh. Hasilnya? Safir, si kecil, muntah-muntah saat mengemil makanan kecil di mobil. Baju cadangan habis, terpaksa pakai baju kakaknya. Dilalah, saya tidak bawa baju biseksual. Jadilah Safir menggunakan kaos bertuliskan, “Sorry, I Only Date Superhero”. Pink pula. Hadeuh. Safir memang sering dibilang anak perempuan sih, tapi kaaan ... Saya pun berpesan pada ayahnya untuk memotret sedemikian hingga agar tulisannya tidak terlihat. Biarin deh dilihat orang sekitar dan salah kaprah, asal jangan sampai terdokumentasi. Bisa jadi dosa seumur hidup.

Begitu keluar tol Bogor barulah kami ketemu macet. Dan macet yang teramat lama sehingga perut pun sudah keroncongan. Apalagi Bunda yang terus menerus ditagih tangki susu oleh si bayi, Fia. Malika, anak pertama saya, sudah mulai mual dan duduk dengan posisi ga jelas sama ayahnya di depan. Memang melanggar peraturan, toh mobilnya ga bergerak ini.

Akhirnya sampai di lokasi. Tadinya mau ke taman air, tapi akhirnya kami memutuskan untuk mengambil posisi di jantung Kebun Raya Bogor sejak dulu kala, lokasi dengan tanah lapang paling luas. Setibanya di sana, anak-anak seolah lupa dengan segala mual, lapar, dan lain sebagainya. Nasi hanya ditelan beberapa suap sudah jumpalitan ke sana ke mari. Malika lapar lihat pohon-pohon besar, dia ingin memanjatnya. Akhirnya saya tempatkan dia di salah satu cabang pohon dan dia berperan sebagai Bageera si macan kumbang di serial Jungle Book. 


Bagi kami, para ibu, ini saatnya sedikit ‘me time’. Anak-anak sibuk berlarian ke sana kemari, kami cari posisi untuk difoto. Iyalah, dengan lanskap sebagus dan sehijau ini masa sih kita ga bisa foto-foto? Masa sih Cuma anak-anak yang difoto? Lagipula anak-anak itu ga betah difoto terlalu sering, ya sudahlah, kebetulan. Inginnya foto pascawedding sama suami di salah satu bangku taman, tapi yah agak ga kesampean kalau yang itu. Para ayah kan jagain anak-anak. Kami juga bisa ngobrol sana situ tanpa kena intervensi dari anak-anak yang merasa kurang diperhatikan hehehe ....


Rencana kami ingin mengunjungi beberapa spot di Kebun Raya Bogor pun kami anulir karena yah namanya anak-anak ga mau terlalu banyak naik turun mobil. Mau ke museum zoologi juga ga jadi, karena sudah keburu laparrrr. Jangan biarkan emak-emak kelaparan.  Jadi, silahkan puas-puasin deh, bocah.

Setelah beberapa jam di sana (beneran!), sebelum pulang kami menyempatkan diri ke spot yang menghadap ke Istana Bogor. Sebenarnya hari itu Istana dibuka untuk umum tetapi jalan masuknya beda. Ya suds lah, foto-foto saja dulu dengan latar istana yang pernah dicoret-coret nenek Malika & Safir saat demonstrasi penggulingan Soekarno.

Lalu tujuan terakhir untuk anak-anak adalah ... memberi makan rusa. Kegiatan ini dilakukan di bagian luar Kebun Raya Bogor. Ini juga pause time buat Bunda, lumayan istirahat. Saya yang supervisi anak-anak.

Usai beli oleh-oleh, hujan pun turun. Alhamdulillah semua sudah selamat di mobil dan anak-anak tidur dengan lelap sampai tujuan.


Kapan-kapan jalan-jalan lagi yuuuk, Bunda .... 

Senin, 07 Juli 2014

Amy's Story: Ternyata Dia Rindu Teman-temannya

Sudah hampir sebulan sejak Malika bagi rapor kelulusan playgroupnya dan kemudian memasuki masa postpone sekolah formal. Oleh karena kebetulan juga masa liburan sekolah, jadi ya Amy belum pakai jadwal belajar di rumah alias emang belum bikin. Homeschooling memang menuntut ibu yang rajin nan aktif juga gesit dan tetap ceria-kenapa juga gue milih yang susah gue aplikasiin ya?

Seminggu berlalu, Malika senang bisa libur. Ga usah sekolah lagi. Saya masih rutin bawa anak-anak main di taman. Pernah juga iseng bertiga pergi ke taman Honda, sekalian beli bahan kue. Lalu ikut Amynya antar kue ke Ampera, yah walau jadi muntah-muntah karena naik mobil AC pagi-pagi. Kebetulan di penghujung minggu itu, alias hari Jumatnya, teman sekolah Malika berulangtahun. Ambil spot di taman Green Palace, divisi apartemen betulan di Kalibata City. Jadi saya memang sejatinya tidak punya akses resmi ke sana. Berhubung ada yang ultah jadi bisa masuk deh. Area taman ini ada kolam renangnya. Oleh karena Malika dan Safir baru saja muntah-muntah di taksi, saya tidak bawa set nyemplung. Lagipula ada teman kuliah saya datang dari Belgia, masa saya sibuk pegangin anak-anak di kolam?

Toh, akhirnya pada main air juga. Ketika acara ulang tahun selesai, saya mengajak Malika pulang, ada banyak alasan selain supaya saya bisa punya waktu bersama teman saya, Malika dan Safir sudah biru bibirnya. Jadi yah emang harus pulang. Eh, rupanya si eneng protes. "Aku  kan mau main sama teman-temanku. Masa ga boleh? Aku kan sudah lama ga main sama teman-teman. Amy niy, masa Malika disuruh main sama adek terus?"

Yaaah, ada yang curcol niy. Dan saya tiba-tiba terlihat seperti ibu yang mengisolasi anaknya. Habis gimana dong, di lorong tempat kami tinggal tidak ada yang punya anak kecil. Mau main ke tempat temannya ada di tower sebelah, yang artinya harus janjian dulu. Dan kebetulan orangtuanya baru ngurus anak kedua jadi yah ga enak sebenarnya menambah kerepotan. Kalaupun main di taman, entah kenapa pilihan waktunya selalu pas taman sedang sepi. Jadi yah faktanya, Malika emang cuma main sama Safir. Tapi emang itu ga cukup?

"Safir itu bukan temanku. Dia adikku. Safir kan tinggal di rumah aku. Kalau teman itu yang tinggal di rumah lain." begitu protesnya suatu kali saya hendak memisahkan dia dan temannya yang tak sengaja bertemu di taman.

Ya baiklah ratu cerewet, sepertinya kamu memang suka sekolah. Tapi sekolah main. Memang tepatnya saya bergabung di komunitas tertentu supaya anak-anak bisa bersosialisasi. Melakukan hubungan riil dengan orang lain. Eh tapi datang bulan puasa, semua klub kegiatan anak mungkin jadi berkurang. Sabar deh ya ... Sebulan lagi deeeh. Self reminder buat diri sendiri supaya lebih giat cari komunitas. Sementara itu, saya bikin daftar korban kunjungan. Cari tempat teman atau kerabat yang punya anak dan bisa dikunjungi di hari kerja. Baru satu sih, maklumlah kalau puasa itu Amy harus reschedule banyak hal (jadwal masak n ngantuk juga berubah) realisasi schedule main anak masuk prioritas ketiga. Akibatnya mereka jadi makin susah tidur dan makin aneh-aneh mainnya.

Saat beberapa hari lalu ketemu temannya lagi, saya traktirlah main di mal. Ga papa lah, asal jangan tiap hari. Bangkrut.

Akhir pekan lalu, karena kebetulan ayahnya ada pekerjaan tambahan di hari Sabtu, saya bisa mengunjungi salah satu teman saya. Oh, Malika senang banget. Ngoceh melulu sepanjang perjalanan naik kereta dan angkot. Dan kalimat yang terus dia ucapkan dari berangkat hingga pulang adalah, "Malika ga nyebelin, jadi Amy ga marah." "Kok Amy bisa ganti-ganti gitu ya? Bisa marah. Bisa baik." "kalau Malika ga nyebelin, Amy jadi baik deh."

Ok deh, kenapa gue terdengar buruk gitu ya reputasinya. Hadoooh. Anyway, masih ada setahun lagi yang harus saya jalani sendirian. Mudah-mudahan Amynya bisa terus semakin baik.