Tampilkan postingan dengan label emak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label emak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Februari 2016

What Big Momma Needs in 2016


Tahun baru, tantangan baru ^^ Khusus tahun 2016 insya Allah akan menjadi perdana saya sebagai ibu-ibu yang sibuk antar-jemput anak-anak. Dengan catatan kaki, tanpa kendaraan pribadi. Yap, dan dari sekarang selain mencari lokasi TK dan SD untuk anak pertama dan kedua saya yang lebih mudah dijangkau sambil bawa bayi tapi tetap bagus (teteup ...) saya juga memikirkan perlengkapan perang saya agar tidak rempong sana-sini. Selain menguasai jalanan sekitar rumah, pertengahan tahun ini saja saya sudah dihadapkan dengan empat rencana pernikahan sepupu. Thinking about looking pretty with breastfeeding gown while carrying three curious kids. Hmm ..sounds like a lots of homework. Tapi tenang ibu-ibu sekalian, lazada menyediakan banyak hal untuk dipertimbangkan.



1. Diapers Bag in a Wedding Party? Why Not?
Well, make sure you have this one gorgeous bag, Jujube Bff The Queen Be. Penting bagi saya untuk dipertimbangkan karena alasan terpenting adalah itu ransel. Satu tangan sudah pasti untuk si bayi, satunya lagi adalah untuk menangani dua bocah pecicilan lainnya. Tak mungkin kan saya pilih tas jinjing. Alasan terpenting kedua adalah it should be pretty. Terlihat cantik bahkan untuk dibawa ke tengah ruangan pesta pernikahan. Berhubung tidak pakai tenaga pengasuh, jadi mau tak mau tas popoknya harus tenteng ke sana-sini dong. Kalau pakai model tas popok kebanyakan, saya takut orang-orang akan mengira suami saya digoda pengasuh anak yang cantik ^.~

Terbuat dari 100% poliester dengan empat kantong kecil untuk berbagai kompartemen, tas ini mudah dibersihkan dan bahkan aman masuk ke mesin cuci. Harganya. IDR3000000,- Mahal? Eh, orang-orang kan ga perlu tahu kalau itu tas popok. Kalau sudah tidak bawa popok juga masih pantes banget dibawa ke mana-mana.


2. Shoes that Strong Enough to Catch Your Kids but Still Looks Good in a Gown
Sepatu oh sepatu. Setelah berulangkali hamil dan melahirkan, ukuran kaki saya semakin tidak jelas. Memang sudah saatnya ganti sepatu dan sepatu yang sesuai dengan kriteria di atas adalah Sneakers. Cocok buat ibu-ibu cantik nan lincah hehehe .... Dan walau modelnya tertutup tapi tidak terlihat seperti sepatu orang sakit dan ga kalah gaya walau dipadu dengan gamis sekalipun. Plus model ini sedang diskon loh dari IDR600ribuan jadi IDR250000,-


3. Make Sure Your Lunch is Ready before You Go
First thing first setelah beribadah di pagi hari ya urusan dapurrr ... Saya sudah punya cukup panci dan perlengkapan makan lainnya. Yang saya tak punya adalah ... set spatula. Entahlah, ketika tahun berakhir, set spatula yang saya miliki berguguran satu per satu. Kebayang dong saya masaknya gimana ^^ Kalau mau lebih gesit di dapur ya peralatannya harus mumpuni seperti Oxone OX 953 Kitchen Stool Spatula. Lagi-lagi sedang diskon 40%  dan harganya jadi di bawah IDR 100000,- OMG

4. Reading while Waiting
Kadang-kadang ada saja kan yang membuat anak keluar dari sekolah lebih lambat dari biasanya. Ya pelajaran tambahan, ya ada yang ulangtahun ... Jadi deh, ibu-ibu bengong cantik. Nungguin anak sambil main ponsel? Ah, biasa. Baca buku dooong ^^ buku-buku parenting seperti Ayah Edy Punya Cerita dan Sekolah Berawal dari Rumah adalah cara tepat untuk mengisi baterai saya dalam menghadapi anak-anak.  Harganya mulai IDR30000,- paket internet bulanan saja lebih mahal hehehe ...


5. Let’s Play
Saat-saat akur antara tiga bocah adalah membiarkan mereka larut dalam lautan lego. Jadi, ibunya bisa lurusin kaki sejenak sambil curi-curi bobo siang. Ga bakal berebutan karena satu kotak ini banyak banget isinya.


Nah, lumayan kan amunisi ibu-ibu? Siapa bilang ibu rumah tangga itu lebih murah meriah hehehe ... Ayo terus semangat ibu-ibu! Akhir tahun masih lama, tapi liburan panjang kan selalu menanti dan dekat di kalender hehehe ... have a great day in lazada, always, friends ^^


Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X Lazada Indonesia. Yang diselenggarakan oleh ShopCouponsVoucher Lazada disponsori oleh Lazada Indonesia.

Rabu, 18 November 2015

RABUku: Mamomics part 2 – 9 Bulan Menanti Keajaiban


Ini adalah bentuk bayar utang setelah sebelumnya membuat review Papomics karena ada abang saya sebagai salah satu kontributornya, sedangkan di saat yang hampir bersamaan, Mamomics 2 pun terbit dan ada nama-nama yang merupakan sahabat abang saya dalam dunia perkomikan lagi-lagi menjadi kontributornya.


Dari dua seri Mamomics yang terpajang di rak toko buku, saya pilih yang kedua karena tema yang lebih spesifik juga terbitan yang lebih baru daaan saya yang juga baru lahiran anak ketiga #uhuk

Cerita kehamilan dan melahirkan selalu luar biasa bahkan dalam keadaan biasa-biasa saja. Namanya juga berpartisipasi langsung dalam proses penciptaan, itu kan sesuatu yang luar biasa, sehingga jika badan pun bereaksi luar biasa, itu wajar. Sebagai ibu beranak tiga, rasanya malu banget mau membanggakan diri. I mean, hamil dan melahirkan itu kan bukan prestasi. Walau perasaannya memang fantastis. Membaca cerita dari empat ibu dan satu lajang yang keibu-ibuan ini sebenarnya lebih menekankan betapa kita harus saling berempati dan bertoleransi setidaknya antarsesama perempuan. Jadi, ini bukan ajang pamer siapa yang paling menderita atau siapa yang paling gampang. Semuanya ada porsinya.

Setidaknya itu bagi saya pribadi.

Saat hamil anak ketiga, saya rasanya payah banget karena keluhan fisik yang tak kunjung usai. Namun, ketika baca cerita kehamilan Mba Harley yang ga hanya mual-mual dkk tapi juga sebentar-sebentar pingsan, i guess semua ada kesulitan dan kemudahan. Untuk mba Harley yang suka pingsang, senantiasa ada suami yang baik hati dan sigap menangkap. (eh iya tak?). Coba kalau saya yang begitu? Kebayang dong pingsan di antara dua bocah pecicilan di apartemen. >.< btw, abang saya jadi cameo di komiknya Bu Harley ini hihihiy ... telat banget ya.

Ketika saya agak sombong bercerita pergi ke RS naik ojek sendiri jelang melahirkan, rasanya saya mau edit ucapan saya ketika membaca kisah Dydy yang tidak hanya naik kereta tapi juga jalan kaki menuju RS sambil mules dan melahirkan sendiri karena sang suami menemani anak pertama yang sedang sakit. Maklum, tengah merantau di negeri orang. Kalau bagi sebagian orang, melahirkan ditemani suami itu rasanya ingin mencakar-cakar mukanya, bagi saya melahirkan ditemani suami itu ekstra kekuatan—ini kata seorang ibu di bus ketika saya hamil anak pertama. Jadi kalau ada yang melahirkan sendirian itu ...  hadeeeuh ...

Jika saya merasa beraaat hamil sambil ngurus dua balita, nah bayangkan ketika ada dua bocah di dalam perut seperti pengalaman kehamilan kedua mba Dyotami ... ga mau bayangin ah, linu perutkuuuh. Hamilnya pe er. Melahirkannya pe er. Ngurusnya apalagiiiih ....

Dan kalau menyimak komik hasil ga sengaja dengar dari ruang bersalin di sebelah Mba Ani usai melahirkan dengan segala kehebohan saat mengedan, lagi-lagi saya berucap alhamdulillah Cuma perlu satu kali buka jalan selebihnya menggelosor dengan sendirinya. Mulas? Ya iyalah. Mau hanya setengah jam seperti saya atau semalaman, yang namanya mulas mau melahirkan ya sakit.

Setelah melahirkan beberapa kali, saya suka ingat-ingat dulu ketika masih lajang apakah saya sudah sebijak Neng  Lia Hartati dalam memandang kehamilan dan ibu hamil secara umum? Ah, mungkin belum. Waktu itu saya belum banyak bergaul sama ibu-ibu sih, jadi bawaannya ingin komentar, “ah, ibu hamil lemes itu Cuma perasaan aja” dan bla bla bla omong kosong penuh kesombongan. Yak, sampai saya ketemu  hamil payah tanpa bisa saya hindari.

Akhir kata saya tak habis terkagum-kagum dengan ibu-ibu pengomik ini. Nemu di mana sih waktu ekstranya? Ngiri euy bisa gambar bagus ^^ Ada yang sederhana, ada yang detail, semuanya istimewa .... selanjutnya kira-kira temanya apa ya?

(eh beli dulu yang seri pertama hehehe ...)


Sabtu, 23 Agustus 2014

Kebun Raya Bogor: Liburan para Bunda dan Anak-anaknya

Terkadang berteman itu terjalin ketika kedua anak kita saling berkawan di sekolah. Untuk kasus saya, kebetulan pula teman anak saya itu juga tetangga. Yah, beda tower di komplek Kalibata City ini. Dan ketika liburan sekolah (playgroup) datang, maka itu artinya PR tambahan bagi pemilik dua anak balita. Termasuk kami berdua, saya dan Farah (atau biasa saya panggil Bunda). Oleh karena itu, kami mulai merancang jadwal outing bersama. Ke tempat yang jauh dari Kalibata. Bertema piknik. Dan terpilih satu tempat. Kebun Raya Bogor.

Rasanya sudah lebih dari satu dasawarsa saya tidak pernah masuk Kebun Raya Bogor. Paling gres ya waktu SMU (sekitar berapa belas tahun yang lalu ya itu ^^’), itu pun ga greget karena terpaksa bete lihat yang bawa pacar. Dan memang Kebun Raya Bogor seperti menjadi pilihan bagi tujuan wisata keluarga, tur studi anak-anak SD, dan lokasi pre-wed. Lokasi pacaran? Huehehe ... mitosnya kan bakal putus.

Sabtu menjadi hari pilihan karena memutuskan akan menggunakan mobil Bunda dan tentu disopiri sang suami. Kami sekeluarga sih nebeng, paket hemat. Sengaja dipilih hari Sabtu, karena hari Minggu itu mobil dilarang masuk. Repot ya kalau bawa anak kecil jalan jauh. Mereka main sih kuat lama-lama, tapi kalau disuruh jalan kaki terlalu jauh ya jiper juga. Belum lagi kalau tiba-tiba hujan.

Pagi itu ambil rapor dulu baru berangkat. Namun, karena kedua anak saya itu lama moodnya untuk sarapan akhirnya ga makan apa-apa deh. Hasilnya? Safir, si kecil, muntah-muntah saat mengemil makanan kecil di mobil. Baju cadangan habis, terpaksa pakai baju kakaknya. Dilalah, saya tidak bawa baju biseksual. Jadilah Safir menggunakan kaos bertuliskan, “Sorry, I Only Date Superhero”. Pink pula. Hadeuh. Safir memang sering dibilang anak perempuan sih, tapi kaaan ... Saya pun berpesan pada ayahnya untuk memotret sedemikian hingga agar tulisannya tidak terlihat. Biarin deh dilihat orang sekitar dan salah kaprah, asal jangan sampai terdokumentasi. Bisa jadi dosa seumur hidup.

Begitu keluar tol Bogor barulah kami ketemu macet. Dan macet yang teramat lama sehingga perut pun sudah keroncongan. Apalagi Bunda yang terus menerus ditagih tangki susu oleh si bayi, Fia. Malika, anak pertama saya, sudah mulai mual dan duduk dengan posisi ga jelas sama ayahnya di depan. Memang melanggar peraturan, toh mobilnya ga bergerak ini.

Akhirnya sampai di lokasi. Tadinya mau ke taman air, tapi akhirnya kami memutuskan untuk mengambil posisi di jantung Kebun Raya Bogor sejak dulu kala, lokasi dengan tanah lapang paling luas. Setibanya di sana, anak-anak seolah lupa dengan segala mual, lapar, dan lain sebagainya. Nasi hanya ditelan beberapa suap sudah jumpalitan ke sana ke mari. Malika lapar lihat pohon-pohon besar, dia ingin memanjatnya. Akhirnya saya tempatkan dia di salah satu cabang pohon dan dia berperan sebagai Bageera si macan kumbang di serial Jungle Book. 


Bagi kami, para ibu, ini saatnya sedikit ‘me time’. Anak-anak sibuk berlarian ke sana kemari, kami cari posisi untuk difoto. Iyalah, dengan lanskap sebagus dan sehijau ini masa sih kita ga bisa foto-foto? Masa sih Cuma anak-anak yang difoto? Lagipula anak-anak itu ga betah difoto terlalu sering, ya sudahlah, kebetulan. Inginnya foto pascawedding sama suami di salah satu bangku taman, tapi yah agak ga kesampean kalau yang itu. Para ayah kan jagain anak-anak. Kami juga bisa ngobrol sana situ tanpa kena intervensi dari anak-anak yang merasa kurang diperhatikan hehehe ....


Rencana kami ingin mengunjungi beberapa spot di Kebun Raya Bogor pun kami anulir karena yah namanya anak-anak ga mau terlalu banyak naik turun mobil. Mau ke museum zoologi juga ga jadi, karena sudah keburu laparrrr. Jangan biarkan emak-emak kelaparan.  Jadi, silahkan puas-puasin deh, bocah.

Setelah beberapa jam di sana (beneran!), sebelum pulang kami menyempatkan diri ke spot yang menghadap ke Istana Bogor. Sebenarnya hari itu Istana dibuka untuk umum tetapi jalan masuknya beda. Ya suds lah, foto-foto saja dulu dengan latar istana yang pernah dicoret-coret nenek Malika & Safir saat demonstrasi penggulingan Soekarno.

Lalu tujuan terakhir untuk anak-anak adalah ... memberi makan rusa. Kegiatan ini dilakukan di bagian luar Kebun Raya Bogor. Ini juga pause time buat Bunda, lumayan istirahat. Saya yang supervisi anak-anak.

Usai beli oleh-oleh, hujan pun turun. Alhamdulillah semua sudah selamat di mobil dan anak-anak tidur dengan lelap sampai tujuan.


Kapan-kapan jalan-jalan lagi yuuuk, Bunda ....