Rabu, 18 November 2015

RABUku: Teman Perjalanan (Kurnia Efendi)

Kurnia Effendi atau biasa dipanggil (Mas) Kef akhirnya menerbitkan lagi karyanya. Suatu hari saya tertarik menanggapi timeline salah satu sahabat (Mas) Kef. Rupanya dalam rangka memulai masa pensiun usai mengabdi lebih dari 20 tahun di perusahaan otomotif, Suzuki, Mas Kef menghadiahi dirinya dengan menerbitkan Teman Perjalanan, lagi-lagi kumpulan cerita pendeknya dari masa ke masa.



Saya mengenal sosok Mas Kef saat masih bekerja sebagai editor di salah satu penerbitan. Kebetulan karya beliau diterbitkan di sini. Saya memang tidak berhubungan langsung dengan dirinya. Hanya sesekali melihatnya wara wiri saat proses produksi dan ketika peluncuran bukunya. Selebihnya saya justru lebih banyak 'melihat'nya dari tag-tag salah seorang sahabatnya yang kebetulan salah satu kontak saya di FB, Endah Sulwesi. Another famous people in books community hehehe ...



Jadi sejujurnya, saya bahkan belum pernah membaca karya-karyanya. Sekalipun. Dan ketika timeline berisi pengumuman open PO buku ini, saya merasa, sudah saatnya.



Buku ini diterbitkan atas dana sponsor didukung oleh penerbit Exchange, milik salah satu kawan saya juga hehehe ... Makanya saya semangat mau beli, selain karena sudah lamaaaa banget ga beli buku untuk diri sendiri, tetapi juga buku ini istimewa karena dicetak terbatas. Lagian, sudah saatnya saya mengenal seorang Kurnia Efendi lebih banyak lagi.


Oke, kembali ke buku Teman Perjalanan karena ini kumpulan cerita pendek kayanya ga seru diceritain ringkasannya, spoiler banget nanti hihihiy .. Hanya mau menandai beberapa hal yang menarik bagi saya.


Kef dan Suzuki
Mengabdi selama dua puluh memang bukan main-main dan hal itu sedikit banyak menjadi garis merah dalam unsur properti penulisan. Kalau kata dosen saya, Pak Ismail Marahimin, latar waktu. Dan itu terlihat dari tipe mobil Suzuki yang disebut. Mas Kef orang yang cukup kekinian, jadi ketika dia menyebut sebuah tipe mobil Suzuki, itu artinya tipe yang paling laris di masanya. Ya, cerpennya tersebar mulai dari karya-karyanya yang terbit pada tahun 80-an. Jadi, bukan karena dirinya tengah bicara tentang masa lalu atau tentang orang yang old fashioned.


Kef dan Perjalanan
Hampir di setiap ceritanya menceritakan adegan perjalanan keluar kota atau keluar negeri. Jadi sepertinya judul Teman Perjalanan ada benarnya juga. Setelah dibaca seluruhnya dan jika Anda memang tengah membacanya di perjalanan, you might actually changr your point of view about the other passenger and start to create your own character for your own book. Seperti tengah menonton film yang menampilkan sekian kisah dari berbagai karakter dan ternyata kesemuanya pernah berada dalam satu pesawat atau satu kereta. Semacam itulah.


Kef dan Seni
Salah satu latar yang menarik adalah salah satu hobi yang disebutkan Kef sendiri pada bab pengantarnya. Dunia tulisan, seni pentas, seni lukis, ... seorang kurator, seorang penulis, seorang reporter ... He definitely wrote what he really know into it.


Kef dan Pinky Love in the Dark
OK, sekarang tentang isinya. Aroma perselingkuhan, cinta bertepuk sebelah tangan, atau cinta yang singkat bertebaran di sini. Seperti tengah membaca cerpen salah satu majalah wanita. Saya harus matikan dulu mode Drama Korea. Lupakan dulu sejenak hehehe ... Karena hampir semua tidak happy ending, maka saya sebut Pinky Love in the Dark. Seperti menikmati merah muda dalam kegelapan.

Sebenarnya saya jadi penasaran bagaimana Mas Kef membuat novel secara utuh. Dengan latar yang kompleks, adegan yang kompleks, karakter yang penuh, dan sebagainya. Entah kenapa bagi saya membaca cerpen secara umum terasa seperti one night stand hehehe ... Dan jika melihat kumpulan cerpen yang dari masa ke masa ini, mas Kef menunjukkan kepiawaian menulisnya belum lagi menurun. Masih ada banyak ruang untuk karya-karya Kurnia Efendi selanjutnya.

Saya kan menanti.


Senin, 16 November 2015

Tema Minggu Ini: Kawan

Dua minggu belakangan, saat saya menerima buku pesanan berjudul Teman Perjalanan karya Kurnia Efendi dan kemudian melihat di toko buku KCS sudah ada buku-buku dari penerbit tempat dua kawan saya bekerja dan menelurkan karyanya, saya terpikir untuk mengisi rubrik RABUku dengan buku-buku karya kawan-kawan saya.


Lalu Jumat lalu seorang kawan meninggal dunia. Melihat tribut dari kawan-kawan lain, saya jadi menyadari bahwa sudah lama saya tidak 'melayani' kawan-kawan saya. Sebuah hubungan seolah dapat digantikan dengan mengumbar jempol di setiap postingan. Dan kini rasanya saya perlu berbuat lebih, semampu kaki saya yang pendek ini.  Bukan, saya tidak hendak membeli perkawanan. Saya hanya ingin mencelupkan diri dalam hubungan itu karena rasanya sudah terlalu lama saya menikmati matahari dan hampir lupa menghargai masa lalu ketika banyak kawan-kawan berkumpul di sana.


Makadariituuuu ... Minggu ini saya mau angkat segala hal tentang kawan. Entah itu karya-karya teman saya, toko-toko online milik teman saya, tempat-tempat nongkrong bersama kawan dulu, dan lain-lain ... Pokoknya tentang kawan yang disesuaikan dengan tema harian. Yah, mumpung belum sibuk dengan urusan lomba blog hehehe ....


Bagi para pembaca lain, saya jamin tidak akan mengalami roaming. Syukur alhamdulillah, saya dikelilingi kawan-kawan yang hebat. Like you.


Thank you.


Kamis, 12 November 2015

KAMYStory: ‘Membaca’ Bersama Malika



Tanggal 12 november rupanya adalah Hari Membaca Nasional. Hmmm karena temanya KAMYStory, saya mau cerita tentang pengalaman membaca dengan anak pertama saya, Malika. Kenapa hanya anak pertama? Ya, karena dia yang paling lengkap fase-fasenya, sedangkan adik-adiknya cenderung mengikuti. ‘Membaca’ bersama Malika memiliki kenangan tersendiri, entah karena dia anak sulung atau karena dia Malika. Entahlah. Saya urutkan berdasarkan umur ya, mungkin ada juga yang mau  berbagi pengalaman membacanya bersama anak.

1.       0-1 tahun: Dari Nyanyian hingga Flash Card
Well, sebenarnya pas hamil pun saya sudah sering membacakan buku untuknya. Saya gunakan corong dari koran karena katanya suara saya jadi lebih bisa terdengar. Berbeda dengan suami yang bisa langsung ngomong di perut saya hehehe ... Setelah lahir, kebetulan saya dihadiahi boneka yang ada buku kainnya. Saya pikir kayanya tidak menarik jika hanya membacakan datar, akhirnya saya gunakan nyanyian. Malika termasuk anak yang cepat terhubung jika ada musik (lagi-lagi jangan-jangan karena saya perdengarkan Maxim dan Vanessa Mae saat hamil) dan dia suka pengulangan. Jadi tidak perlu punya banyak cerita, hanya cerita dari si boneka itu saja sudah membuat dia senang. Lembar angka-angka pun saya buat nyanyiannya.

2.       1-2 tahun: Satu Kalimat Satu Halaman
Saat saya hamil anak kedua, Malika baru saja lulus satu tahun. Dan saat itu dia sudah tidak lagi tidur di boksnya melainkan di kasur bersama kami. Mengulang rutinitas mama saya sewaktu kami kecil, saya bacakan surah-surah. Dan untuk ‘bacaan’nya saya gunakan flash card. Pilihan yang agak aneh sebenarnya hehehe ... well itu karena saya punya buku kecil untuk anak-anak berisi jenis-jenis serangga dkk. Jadi yah agak mirip flash card. Malam menjelang tidur adalah saat saya berulang-ulang menyebutkan nama-nama serangga dan bunga hehehe ... kayanya saat itu saya yang lebih sering tidur duluan.

Ketika hamil saya semakin besar, sehari-hari Malika sudah minta dibacakan buku. Waktu itu saya gunakan buku Seri Balitanya Dar! Mizan atau buku Noddy yang bahasa Inggris. Teksnya belum saya baca benar karena daya tahan Malika per halaman masih sangat rendah. Hanya bisa satu kalimat untuk satu halaman. Improvisasi sangat bermain di sini. Membuat nada baca naik turun. Yang pegal adalah, setiap buku harus diulang lima kali.


3.       2-3 tahun: Improvisasi Ala ala
Ada saatnya dia mulai mengeksplor sumber bacaan. Pernah dia minta dibacakan buku Pooh tapi saya hanya boleh bilang ‘kotak’. Dia hanya ingin nadanya. Kebayang ga, setelah baca buku 80 halaman dan hanya bilang ‘kotak’? Rasanya sulit banget move on dari kotak ketika diulang lagi bacanya tapi diganti dengan ‘bulat’.

Tidak hanya itu, dia juga minta dibacakan untuk buku aktivitas. Tentu tahu kan, kalau tulisan di buku aktivitas itu hanya berisi kalimat perintah yang sama di setiap halamannya? Nah, saya ga baca itu, saya jadikanlah itu sebuah cerita yang berkesinambungan antara satu gambar dengan gambar yang lain. Itu baru buku aktivitas, masih ada gambar anak-anak. Nah di hari lain, dia bawakan saya buku kreasi kue dengan fondant. Oalah, piye nyeritainnya.


4.       3-4 tahun: Kelihatan Hapalannya
Metode pengulangan masih dia terapkan hingga di usia ini, dan karena saya improvisasi dia suka protes jika ada yang salah atau berbeda. Dan karena improvisasi dan mau tidur itu bukan sahabat baik, saya selalu ketiduran dan kesulitan berpikir harus melanjutkan cerita dari mana, saya pun mulai membacakan cerita sesuai dengan tulisannya. Dan rupanya Malika memang kuat di hapalan. Dia bahkan bisa membacakan beberapa buku sendirian tanpa ada yang keliru kalimatnya.


5.       4-sekarang: Tak Ingin Berhenti
Malika masih belum bisa membaca tapi kosakatanya buanyak dan dia pun cerewet luar biasa. Kalau saya tidak membacakan buku sebelum tidur, nangisnya kaya apa ... Yah memang momen membaca buku selalu saya kondisikan sebagai momen netral. Mana bisa juga bacain buku sambil marah?

Pada usia ini, Malika memang jadi lebih spesifik bertanya. Kalau dulu baca cerita kami diinterupsi dengan dagelan dan tiba-tiba berkhayal ke mana-mana, sekarang dia benar-benar bertanya untuk setiap kata di setiap kalimat. Setelah dijelaskan dan ditanya lagi, dijelaskan lagi, ditanya lagi, dijelaskan lagi, akhirnya dia hapal. Daya tahan tiap halama lebih lama dan menuntut halaman yang lebih banyak. Apalagi saya baca untuk dua anak (yang satu lagi masih bayi, belum bisa minta) yang artinya setidaknya ada dua bacaan, kalau lagi senang bisa ada empat bacaan. Dan keluar kamar, biasanya tenggorokan saya kering. Belum lagi hapalan surah yang baginya menjadi lebih menarik kalau saya bacakan artinya. Ga bisa tiap hari sih saya bacain artinya, bisa gempor, karena ada sekitar 70an ayat yang dibaca. Lumayan juga ya punya anak, bisa baca juz ‘amma tiap hari ^^

Saya sebenarnya agak gimana gitu, membayangkan dia bisa baca sendiri nanti. Pasti akan ada lebih banyak pertanyaan. Dan mungkin dia akan mengurangi sangat mendekati saya dengan buku-buku barunya. Kok saya jadi sedih yak hehehe .... yah, walaupun sering bilang capek bacain buat anak sepanjang hari, tapi jika membayangkan momen itu tidak ada lagi, saya jadi merasa sunyi. ... Ternyata momen membaca itu bisa membawa efek romantis ya. Hmmm, Kira-kira dia mau gantian bacain buat saya ga ya?


Selamat Hari Membaca Nasional ^^ 

KAMYStory: Hari Ayah untuk Papa dan Suami

Banyak yang mengatakan bahwa sosok ayah bagi anak perempuan adalah semacam kata kunci saat si gadis memilih pasangan hidupnya. Papa saya adalah ampunek, datuk, dan bapak mertua bagi saya. Mengingat saya memang tidak pernah merasakan memiliki laki-laki tua bahkan mertua laki-laki pun saya tak pernah kenal.

Saat kecil, saya bukan penggemar papa saya. Eh dilalah ketika pilih suami, suami dan papa ternyata memiliki banyak persamaan. Pergaulan luas, suka jalan-jalan, suka motret, suka kerja, banyak kesendirian dari masa kecilnya, dan sama-sama bontott ... Dan lebih pentingnya lagi, masa kecil suami saya pernah diisi dengan banyak pengajian dan habib, walau setelah itu dia jadi bandeeeeeel banget. So, i think ... yah bolehlah. Setidaknya sudah punya dasar agama.



Papa memang bukan orang yang hangat. Adat keras memang sudah menjadi wataknya. Tapi  beliaulah yang menulari virus suka membaca. Koleksi bukunya belum bisa saya kalahkan.
Papa yang mengajari saya mengaji dengan metode hafidz sebelum metode ini nge-tren sekarang, namun karena sibuk, jadwal ini tidak selalu dilaksanakan. Saya curiga papa adalah hafidz karena terbiasa. Karena surah apa pun yang sedang saya baca, dia selalu menkoreksinya dari seberang ruangan, hingga saya memutuskan untuk mengecilkan suara tadarus. Dia bisa mengaji dengan merdu sambil mencuci baju hehehe ...

Dulu papa suka membawa kami ke tempat yang jauh untuk makan. Perut kami sampai keroncongan sangat setibanya di sana. Terkadang saya merasa berutang membawanya ke tempat-tempat yang makanannya enak.

Papa adalah yang tangannya dingin saat saya genggam ketika kecil, tidak seperti tangan mama yang hangat. Tangannya dingin karena air wudhu seolah mengendap di kulitnya karena seringnya beliau shalat. Dan cahaya fosfor dari jam tangannya, walau mengganggu tidur saya saat itu, tapi ingatan tentang itu tak pernah hilang.

Papa adalah orang yang sengaja mengeraskan suara mengajinya agar anak-anaknya dengar. Sempat saya merasa dilema saat subuh atau tidur siang. Rasanya masih ingin tidur tapi ada suara lantang papa mengaji. Ingin menutupi kepala dengan bantal tapi kok rasanya salah.

Ah padahal saya bukan penggemar dirinya, tapi ketika usia saya bertambah, entah kenapa banyak tentang dirinya yang muncul dalam ingatan saya.

Lalu bagaimana dengan suami? Rasanya saya harus menahan diri. Menahan diri tidak membandingkan dirinya dengan papa, sebanyak apa pun persamaannya, mereka berdua adalah orang yang berbeda. Yah, memang masih suka keceplosan hehehe ... Namun jika dibandingkan dengan saya, suami adalah orang yang cocok memberikan ilmu pada anak-anak. Saya hanya berharap, ketika anak-anak dewasa nanti, mereka akan mengambil banyak hal positif dari warisan ayah mereka. Mereka akan punya banyak cerita jika ditanya, apa yang kamu lakukan bersama ayahmu sewaktu kecil dulu. Bagi saya ini sebuah warisan.Warisan yang sedikit demi sedikit diberikan di masa-masa kanak-kanak mereka. Dan semoga suami akan selalu menjadi ayah mereka yang tangguh, hangat, lucu, pintar, baik hati, wawasan luas, dan terlebih lagi dekat dengan Allah SWT. Selamat hari ayah ^^







Selasa, 10 November 2015

Rossi Memang Jawara

Biar kekinian mau nulis tentang Rossi juga aaah ^_^ Saya bukan penggemar Rossi, tapi juga bukan hater. Bicara tentang Valentino Rossi membuat saya melayangkan kenangan kembali ke masa-masa SMU dulu. Saat saya mulai gandrung-gandrungnya nonton GP motor. Tahun 1997, tahun yang sama juga tengah kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan. Tahun terakhir Sentul menyelenggarakan GP Internasional dan saya datang ke sana. Masa Mick Doohan merajai kelas 500 cc dan Valentino Rossi merajai kelas 125 cc. Sedangkan idola saya saat itu, Tetsuya Harada, bersaing dengan dua pembalap lain seperti Max Biaggi. Persaingan mereka bertiga paling seru di antara dua kelas lain. Namun, di musim selanjutnya Rossi masuk kelas 250 cc dan memorakporandakan pertengkaran tiga pembalap itu dengan mudahnya. Ya, si bocah ABG dengan baju hijau menyala dan gambar cicak di helmnya.



1. Rossi Sayang Penggemar
Salah satu keunggulan Rossi adalah cara dia meraih dan memelihara penggemar. Sejak awal, dia dikenal sebagai pembalap yang sering memberikan aksi tambahan pasca finish lap. Dia membawa aura pemain sepak bola usai mencetak gol ke sirkuit balap. Dia sengaja berhenti di depan kerumunan paling banyak dan memanggil kerumunan yang biasanya akan memberikan bendera. Waktu di Sentul itu, ada lebih dari 5 orang turun dari pagar setinggi dua meter lebih.


Dan ketika insiden di Sepang beberapa minggu lalu, adalah penggemar yang solid itu yang terus memberikan dukungan. Dan penggemarlah yang memutuskan bahwa tahun ini Rossi adalah juara di hati orang-orang.



2. Rossi Memang Jagoan
Sebagai anak muda yang tak perlu berlama-lama di satu kelas dan menjadi juara dunia, Rossi memang menunjukkan kalau dia memang jagoan. Jika pertandingan kemarin dia disebut telah melewati 21 pembalap, dia sebenarnya juga sudah pernah begitu dulu. Yah, memang ga sampai 21, tapi dia dapat podium. Waktu itu dia start di nomor belasan (maafkan ingatan yang pendek ini), dan pelan-pelan melewati pembalap demi pembalap. Kamera dan komentator pun lebih senang menyoroti aksi Rossi di belakang ketimbang persaingan dua motor di depan. Barisan depan baru terekam kamera ketika sudah ada Rossi yang merangsek. Sepanjang balapan, saya ga berhenti bilang sendiri, "anjrit niy orang, jago betulan."


Rossi juga membuktikan bahwa apa pun motornya, yang membedakan adalah yang menaikinya. Dia pernah juara dengan motor Repsol Honda yang pernah dipakai Mick Doohan, pernah juga dengan Aprilia- si Tetsuya Harada aja ga pernah jadi juara dunia pakai Aprilia. Yang paling mengejutkan adalah ketika dia memutuskan masuk tim Yamaha. Padahal tim Yamaha itu punya tiga pembalap yang entah kenapa selalu gak pernah mencapai finish. Jatuh melulu. Yah, namanya juga Rossi, keluar dari zona nyaman itu memang hobinya.


Kalau ga salah, Pernah pula Rossi balapan dengan kondisi jari patah. Dan hasil akhirnya ga main-main loh, pembalap lain kayanya ga bisa leha-leha balapan kalau Rossi masih ada di motornya. Kayanya kalau soal motor dia itu insane.



3. Rossi Rawan Insiden
Saat insiden Marques dan Rossi kejadian, saya jadi ingat insiden serupa di F1. Siapa ya yang waktu itu kena penalti karena menghalang-halangi? Ralf Schumaker kayanya. Bedanya, ini Rossi yang kena penalti.


Saya sih ga lihat rekamannya juga. Namun, kalau Rossi bilang kakinya terpeleset, saya percaya. Walau bukan penggemar. Sering saya lihat karena Rossi selalu menyalip di bagian terdalam dia harus lebih miring ketimbang pembalap lain sehingga dia sering harus sedikit mengangkat lututnya agar tidak bersentuhan dengan pembalap di sebelahnya. Ini penglihatan saya loh ya, soalnya dia sering kakinya terlepas gitu terus motornya jadi goyang-goyang sebentar sebelum berubah haluan. Jadi yah memang dari dulu dia rawan insiden.  Kalaupun Rossi memang menendang, ya biarin aja hahahaha ... Kok satu tim malah menghalang-halangi?



4. Rossi Selalu Muda
Ada meme yang berkeliaran soal Rossi yang batal jadi juara dunia, salah satunya menuliskan "3 pembalap muda Spanyol vs 1 Pembalap tua Itali" But the fact is, Valentino Rossi never gets old once he rides his bike. Mau dia botak, mau gondrong, Rossi ya Rossi. Gairahnya ga pernah surut sama sekali and it shows. Makanya siapa pun senang lihat dia balapan. Ga ada lo, ga rame. Bukan rame kontroversi loh tapi  emang kelihatan banget jagonya. So, tak heran-mengutip status salah seorang kawan-Lorenzo Juara, Rossi Jawara.

Respect for Rossi.

Dari saya yang bukan penggemar ^.^


Minggu, 08 November 2015

Review Camilan: Ngemil Keripik Pisang Berbumbunya Gorilla

Suatu hari dapat titipan oleh-oleh Bandung, keripik pisang berbumbu. Awalnya, saya pikir yah standar lah. Paling pisang dan vanilla. Pisang dan coklat. Eh kemudian saya lihat varian pisang dan BBQ, juga pisang dan sambalado. Hmmm sepertinya lumayan niy jelajah lidah hehehe ....



Sebelum bicara rasa, saya mau ceritain soal kemasannya. Bagi saya yang tahunya jajanan lokal itu hanya dibungkus plastik tebal trus disegel kaya pakai lilin itu (emangnya kripik singkong), begitu melihat kemasan Gorilla ini, ga tahan ingin mengapresiasi. Pertama, menggunakan kemasan seal. Jadi kalau mau ada episode bersambung saat ngemil Gorilla, ga perlu nyari karet, ga perlu takut tumpah, tinggal di sealed aja. Kedua, mimik si Gorilla di kemasan berubah-ubah. Begitu juga dengan mottonya pada setiap varian rasa. Orang yang bikin kayanya suka detail deh (ga kaya saya). Biasanya kan orang-orang disamakan saja warna dan segala macamnya, yang berbeda hanya tulisan keterangan rasa. Nah ini tuw membawa tema tersendiri di setiap rasa. ... Bagooooes!!!







Yang pertama saya coba adalah BBQ. Waktu mau nyoba, sambil membayangkan pisang dicelup ke saos steak. Kira-kira rasanya gimana ya? Racikan bumbunya enak, ga terlalu gurih, tapiiii seperti kata Gordon Ramsay, rasa si bintang nyaris tak terasa. Bukan karena rasa bumbunya yang terlalu menonjol tapi kayanya terlalu banyak deh porsi si bumbu. Jadi pisangnya baru terasa tipiiiis di belakang. Malu-malu kayanya dia. ...


Rupanya hal yang sama berlaku untuk varian vanilla dan coklat. Saya ga beli yang green tea, masih parno dengan produk-produk Jepang yang pakai embel-embel green tea rupanya ada gelatin babinya. Eh tapi ini sudah ada sertifikat halal loh ya, sayanya saja yang masih parno.


Saat beralih ke rasa sambalado, eeh ga pedes. Manis malah. Jadi deh habis dimakan anak saya yang belum tahan rasa pedas. Yah, rezeki dia lah kalau begitu.


Rupanya yang memberikan titipan ini, punya hubungan baik dengan produsennya. Katanya sih akan disampaikan keluhan saya terkait terlalu banyak bumbu. Keputusan mah tergantung produsennya bukan? Saya mah apa atuh. Kali aja lidah saya yang kudet hehehe ...

Yang penasaran dengan rasanya, benar atau ga penilaian saya? Silahkan hubungi nomor ini ya ... (Teh Dewi: 082130509048)

catatan: semua foto bukan hak milik saya ya, milik produsennya. ^^


Minggu, 01 November 2015

Pak Raden dalam Ingatan Saya

Meninggalnya Drs Suyadi atau lebih dikenal sebagai Pak Raden menggugah hati banyak orang. Seniman yang tinggal sendirian itu, dihantar ke pemakaman oleh begitu banyak doa. Doa dari  Jutaan mantan anak-anak yang menikmati tontonan yang sama, "Unyil". Saya pun dulu termasuk penonton setia, walau harus diakui saya juga termasuk yang meninggalkan Unyil ketika saluran televisi swasta bermunculan.


Belakangan saya baru tahu kalau Pak Raden lah yang menciptakan Si Unyil, padahal peran beliau di serial itu malah menjadi seorang Pak Raden yang pelit banget bin galak. Lucunya, walau perannya semi antagonis, ketika muncul di panggung-panggung, Pak Raden adalah sosok yang ramah pada anak-anak, pandai mendongeng dan jago menggambar. Jika di televisi tawanya yang menggelegar itu muncul ketika anak-anak lari terbirit-birit menjauhi rumah Pak Raden, sedangkan di panggung tawa itu ada di antara kerumunan anak-anak. Saat mendongeng, kami semua tahu bagaimana sebenarnya Pak Raden. Dia yang hangat, imajinatif, penuh kejutan dalam cerita dan gambarnya.


Saya berkesempatan bertemu dengan Drs Suyadi saat bergabung dengan Kelompok Pencinta Bacaan Anak garapan Ibu Murti Bunanta sekitar tahun 2003. Ini efek samping ambil mata kuliah Bacaan Anak. Saat sesi kumpul rutin, saya suka diam-diam memerhatikan beliau yang duduk melihat kami latihan pentas dongeng. Pak Raden itu rupanya sudah tua. Tanpa kostumnya, terlihatlah dia sebagai sosok eyang biasa. Dirindukan.


Masa-masa di KPBA saya tetap memanggil beliau dengan Pak Suyadi, tetapi ketika sudah mengenakan kostum Pak Raden saat kami menggelar semacam Pekan Dongeng di Bentara Budaya ada yang tergetar dalam hati. Kenangan masa kecil saya membuncah, ingin menjadi anak-anak yang duduk mengelilinginya, mendengarkannya bercerita. Saya bahkan harus menahan diri saya sendiri agak tidak terlalu bersemangat. Menahan diri tidak berfoto bersamanya, menatapnya selama mungkin, agar ingatan ini tak pernah hilang. Begitu siang mulai menjelang sore, beliau benar-benar memanfaatkan tongkatnya sebagi tumpuan. Pak Raden sudah tua. Kepanasan sangat di balik beskapnya, rasanya ingin kupeluk. Tapi dia menegakkan kembali badannya saat ada anak-anak yang mendekat didampingi orangtua yang memiliki binar yang sama dengan hati saya. Saya yakin, kami pasti berbagi kenangan masa kecil yang sama.


Dan baru dua tahun ini saya tahu bahwa Pak Suyadi yang menjadi ilustrator di buku-buku pelajaran saya. "ini budi. Ini ibu budi. ... " Ternyata Pak Suyadi turut serta pada masa-masa awal penguntaian huruf-huruf di kepala saya. Dan sebagai orang yang mencintai tulisan juga cerita, itu sangat berarti.


Selamat jalan, Pak Raden. Semangat berceritamu tak akan pernah usai. Mari mendongeng untuk anak-anak kita, dan biarkan ikatan yang terjalin saat tengah berhimpitan di kasur, menyatukan kepala-kepala agar masuk dalam satu kepakan buku yang dibaca, menjadi  kenangan indah bagi anak-anak.


Bagi yang belum ada jadwal hari Minggu ini, mampir di Museum Nasional ya. Ada Festival Mendongeng Indonesia, ada banyak dongeng gratis dan pendongeng dari mancanegara. Mari mendongeng untuk generasi yang lebih baik.