Rabu, 25 Mei 2016

Ulang Tahun yang Canggung




 Masa kecil saya tidak banyak dihiasi dengan perayaan ulangtahun, malah tidak pernah. Hal ini karena keluarga saya bukan penganut yang merayakan ulangtahun dan harus undang-undang teman sekelas, tetangga sekampung dan lain-lain. Tapi bukan berarti tidak diistimewakan, karena biasanya jika ada yang ulangtahun, pada akhir pekan mama akan memasak ayam goreng ala KFC dengan potongan besar dan boleh makan semampunya, kentang goreng, dan salada. Mohon maklum, kami ga boleh jajan. Jadi dibuatkan yang begini ya senang banget. Apalagi mama juga wanita bekerja jadi masakan di rumah biasanya sudah rutin dari hari ke hari. Sampai hapal hehehe ....

Dan yang membuat saya agak nyesek adalah hari ulang tahun saya jatuh pada pertengahan yang artinya sekolah libur. Jadi sudahlah ga ada perayaan, ga ada yang ucapin pula. Biasa lah, anak umur segitu lagi perlu pengakuan dari peergroup hehehe. Hingga suatu hari, ketika saya sedang bengong-bengong di hari ulangtahun saya, saya mendadak bangun dan beride, “saya mau buat pesta ulangtahun.”

Tanpa pikir panjang saya keluar rumah dan keliling Tebet Timur, menghampiri rumah kawan-kawan saya dan mengatakan bahwa saya mengadakan pesta ulang tahun. Yah, ga banyak yang berhasil karena mayoritas pada liburan. Setelah lelah, saya kembali ke rumah dan kemudian akal sehat saya kembali. “Ya  Allah, what have I done? Kalau beneran pada datang gimana?”
Siang hingga jelang sore itu saya gelisah. Ga berani bilang siapa-siapa di rumah. Orangtua saya belum pulang kerja. Entahlah, yang saya ingat saya banyak mondar-mandir saat itu.
Lalu suara yang bikin deg-degan itu terdengar. “Ati... “ kawan saya datang. Oh my Goood. Gue musti ngapain?
Kalau saya tidak salah ingat kakak saya yang bukakan pagar dan bengong-bengong ketika teman saya bilang kalau disuruh saya datang ke pesta ulang tahunnya. Alhasil satu rumah gempar, tamu sudah datang di pesta yang bahkan tidak dibicarakan sama sekali. Tiba-tiba keluar kue kaleng. Tiba-tiba ada yang masak mie instan (di rumah tidak stok mie, jadi kayanya ada yang pergi beli, entah siapa). Papa yang baru pulang juga iseng mengabadikannya dalam satu foto. Ah tapi sayang fotonya di rumah orangtua hehehe ... Saya? Saya Cuma cengar-cengir, bersyukur yang datang hanya dua kawan. Gimana kalau beneran banyak? Bisa di-bully setelah masuk sekolah hahaha ....
Pesta ulang tahun yang canggung itu mengganjal di hati saya cukup lama sehingga saya berinisiatif mengadakan pesta ulangtahun lagi. Waktu itu saya sudah lulus kuliah dan ingin kawan-kawan kampus berkumpul lagi di sela laju mereka menapaki awal karier. This time I’m going to do it right. Itu niat saya. Alhamdulillah, banyak kawan yang datang. Keluarga dan kawan berkerumun di sekitar saya. It was fun. Dan cukup untuk mengobati rasa malu pada pesta ulang tahun yang canggung sewaktu kecil itu.

Ulang tahun, sebenarnya lebih terasa istimewa bagi orangtua saya yang setiap tahun akan menceritakan bagaimana perjuangan mama di hari itu. Dan karena momen itu saya merasa bersyukur dan ingin berbagi. Tapi karena bukan orang yang kebanyakan duit, momen berbaginya dikumpulin dalam satu hari, di hari ulang tahun. Atau di bulan ulang tahun hehehe apa saja deh, itu pun kalau memang ada rezekinya. Kalau tidak ya saya berbagi senyum sajalah ... kan senyum adalah sedekah.

Selamat berbahagia bagi yang berulangtahun, bagi yang akan berulangtahun karena itu artinya that you were born. Kalian juara. Juara dari sekian ribu sperma. So make your life worthed in every single day.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke lima Warung Blogger.

Kamis, 19 Mei 2016

KAMYStory: Asyik Mewarnai bersama Anak


Tren mewarnai kini sedang mewabah. Para illustrator Indonesia kebanjiran ide dan order untuk buku-buku mewarnai yang semakin menjamur. Ada yang dalam bentuk buku ukuran besar atau kecil bahkan kini menjual dalam bentuk poster siap dibingkai. Yang awalnya berjudul Colouring for adults, jadi ada versi anak-anak atau segala usia. Tak hanya mewarnai, sekarang ada pula yang namanya Doodle, alias coret-coret ala saya waktu sekolah dulu ^^. Terutama untuk pelajaran yang banyak cerita atau hapalannya.


Memang sudah lama sekali sejak saya rutin coret-coret, karena memang tidak ada waktunya lagi sejak berhenti kerja. Sampai kemudian si sulung mengajak saya turut mewarnai bersamanya. Biasanya, kami menggambar atau mewarnai masing-masing. Makanya saya sebenarnya agak enggan menurutinya karena buku mewarnainya kecil, ya ga nyamanlah buat mewarnai bersama. Dan lagian masih ada anak nomor dua, mau taruh di mana tuh tangan n krayon?

But then again, saat bermain dengan anak memang sejatinya menyingkirkan pikiran-pikiran rumit seperti itu. Just do it. And, it turned out to be Fun ^^


Saat menghadiri #playdateStaedtler di twin house, Sabtu lalu, saya jadi bersemangat karena ini akan jadi playdate yang tenang. Hehehe tenang tapi berantakannya tingkat tinggi. Itu yang biasanya terjadi di rumah kami saat anak-anak memutuskan untuk mewarnai dan hal lain di sekitarnya. Well, bagi anak kedua dan ketiga saya peralatan mewarnai lebih menarik dijadikan alat bermain yang lain seperti memilah warna, bongkar-bongkar untuk si bayi, membuat bentuk-bentuk dari pensil warna atau spidol, dan lain-lain. Eh rupanya mba Danesya alias Mama Dio yang menjadi pembicara di playdatestaedtler baru saja mengadakan giveaway tentang aktivitas anak dengan pensil warna yang ternyata membuahkan banyak ide-ide bermain yang menarik dengan pensil warna selain untuk mewarnai.


Pensil warna sekaligus cat air staedtler sendiri pun juga memiliki multi kebiasaan. Selain berfungsi sebagai pensil warna dan bisa berubah menjadi cat air-waktu saya SD hal ini ajaib sekali ^^ tapi juga bisa digunakan di berbagai media seperti Kanvas dan tas blacu. Seperti yang kami lakukan kemarin.


Saya dan Safir memilih tas blacu sebagai media. Tapi akhirnya lebih memilih menggunakan spidol ketimbang pensil warna. Kakaknya malah yang kemudian sibuk mewarnai dengan pensil di buku gambar yang juga termasuk dalam goodie bag. Serasa dapat harta Karun gitu mereka.




Biasanya kalau lagi tandem mewarnai sama anak, mereka suka sambil cerita macam-macam. Maklum, anak saya kadang ga mau jawab kalau ditanya model interogasi gitu. Jadi sebenarnya ga tenang-tenang amat hehehe .. Begitu juga para emak-emak pun sharing tentang membagi waktu antara kegiatan anak dengan me time. Bagi ibu bekerja, me time-nya ya pas meeting. Bagi ibu rumah tangga, me time-nya tentu saja ketika anak tidur hehehe ....


 Dari sini pula saya mendapat informasi baru bahwa pensil berbentuk segi tiga yang juga dikeluarkan staedtler menjadi salah satu alat yang tepat dalam membantu anak-anak yang terlambat bicara untuk mengasah motorik halusnya. Bentuk segitiga ini memang pas dengan lekuk jari saat memegang pensil sehingga tidak membuat tangan cepat lelah.




Matahari semakin tinggi. Kami yang mewarnai di halaman twin house pun mulai merasa lapar. Walau hanya tangan yang bergerak, tapi mewarnai itu bisa bikin lapar banget hehehe ...


Sambil makan ya sambil ngobrol sama perwakilan staedtler Indonesia. Rupanya ini kali pertama membuat playdate karena ingin menampilkan pensil warna selain dalam wujud lomba. Staedtler juga rutin mengunjungi sekolah-sekolah untuk sesi mewarnai, bisa juga memberikan pelatihan bagi para guru TK. Perkantoran juga bisa kok. Katanya, kalau untuk perkantoran mereka akan berikan lembar mewarnai yang sangat besar sehingga bisa dikerjakan oleh kelompok berisi empat orang. Hmm semacam no gadget activity. Untuk membentuk hubungan yang real ^^ Cocok kan buat kantor yang banyak berkomunikasi via media digital.


 Begitu perut terisi dan memutuskan untuk pulang, anak-anak malah enggan. "Asyik banget di sini," katanya.

Iya deh yang baru dapat pensil warna dan spidol baru ^^

Lain kali buat lagi yaa staedtler Indonesia.

Selasa, 10 Mei 2016

KAMYStory: Membuang Kenangan


Hidup di unit rusun yang mungil dengan jumlah penduduk yang padat membuat saya sehari-hari berpikir barang apa yang bisa disingkirkan atau dipindahtangankan. Begitu sudah memilah-milah barang tapi masih penuh maka barang-barang kenangan pun kena bagian.

Bedanya, menyingkirkan barang kenangan berarti turut menyingkirkan kenangan. Well, ga sepenuhnya tapi rasa keterikatan pada benda kenangan itu setidaknya hilang pula. Lumayan lah untuk menyegarkan kepala dan menata hati atau malah baper? Dan beberapa waktu lalu saya menyisihkan waktu menyingkirkan barang kenangan itu dan mengubahnya menjadi file blog hihihiy ... Rasanya? Hmm ..

1. DVD BAJAKAN
Hahaha DVD memang tidak terlalu makan tempat tapi siapa sangka ketika hendak dibuang ada rasa sedih gimana gitu. Hanya tiga judul DVD siy yang saya buang. Meteor Garden 1 dan 2 dan Beautiful Life. Betapa tidak, seri Meteor Garden saya beli dalam tergesa, ditonton semua dalam dua hari padahal saya sedang UTS di kampus. Dan sangat tidak disarankan untuk menonton film-film berbahasa Mandarin jika kamu kuliah bahasa asing lain, seperti Belanda (itu saya). Seri Meteor Garden 2 juga tidak kalah memorablenya. Pasalnya itu hasil copy sendiri. Zaman belum booming nonton streaming atau mantengin Drakor di YouTube demi subtitle, zaman itu andalannya adalah tempat penyewaan DVD. Nah, tempat sewanya hanya ada di Kelapa Gading, beda beberapa hari dari negeri asalnya. Yang kebetulan dekat dengan rumah parner in crime saya ha-ha-ha. Jadilah saya selama liburan kuliah bolak balik Tebet – Gading untuk ambil dvd yang disewa kawan saya dan mengcopynya di rumah saya di Tebet. Ah, kenangan itu epik lah bagi saya ha-ha-ha ... Jadi sedih juga melihat puluhan keping itu bertebaran di lantai sebelum akhirnya masuk ke kantung sampah.


2. BUKU HARIAN
Nah, kalau ini semacam langkah  penting sih. Tadinya buku harian itu mau saya simpan, siapa tahu buat warisan untuk anak-anak kaya di film-film. Tapi semakin banyak anak saya, semakin saya mempertanyakan manfaatnya buku harian yang sudah numpuk sejak SD itu. Apalagi isinya saya marah-marah sama ortu, atau sibuk ngegebet adik kelas di sekolah dan di kampus. Apa gunanya mewariskan track recordnya saya yang cupu dan pathetic itu ha-ha-ha ...
Dan buku harian, kartu, segala tiket, saya buang ke tempat sampah sebagai penegasan bahwa saya sudah sepenuhnya move on. Ga kaya Cinta dong, udah dibuang ke tempat sampah eh masih balik lagi hehehe ... Dan cukuplah kenangan itu ada di kepala walau kayanya ga perlu juga diingat-ingat apalagi diceritakan ke anak. Plus tata bahasa saya di buku harian itu kacrut banget ha-ha-ha ga tahan ingin saya edit.


3. BUNGA PALSU
Yap, bunga palsu. Pada suatu hari di perayaan ultah kantor saya, saya jadi panitia dan ketika hendak pulang saya mengamati rangkaian bunga yang berbaris di pojokan. Tak sedikit yang menggunakan bunga palsu. Karena merasa sayang maka saya cabutin lah bunga-bunga itu. It was more than 6 years ago.
Lalu, beberapa waktu lalu saat sedang rapat komite TK dan menyebut soal mendekor ruangan perpisahan, bunga itu terlintas di kenangan saya. Dan begitu saya ke Tebet, masuklah bunga-bunga palsu yang sudah lama berada di lemari itu ke dalam kantung plastik besar, untuk kemudian dipindahtangankan ke sekolah Malika itu.

Kalau ini perasaannya senang, sama seperti ketika memberikan seluruh koleksi bungkus permen saya ke kawan kuliah untuk tugas desain fashionnya. Akhirnya berguna juga itu barang ^^



Nah, baru tiga hal itu yang saya singkirkan. Rumah masih penuh, ha-ha-ha. Berarti saya masih harus merapikan folder lemari, kepala, dan hati saya hihihiy ... Mari beberes ^^

Rabu, 04 Mei 2016

RABUku: Liburan ke Museum itu Keren




“Kalau kamu jadi penjaga museum di Solo, kamu mau pilih museum apa?”

Itulah kira-kira pertanyaan yang diajukan saat mengikuti giveaway dari blogtour 3 Emak Gaul Keliling Kota: Catatan Tiga Emak Menjelajahi Museum di  Yogyakarta, Solo, dan Semarang karya emak blogger keren Fenny Ferawati, Ika Koentjoro,  dan Muna Sungkar.

Wisata ke museum mungkin ga hits seperti wisata kuliner atau wisata atraksi yang lebih modern bahkan wisata alam yang lebih kelihatan naturalnya. Mungkin datang ke museum terlalu lekat kaitannya dengan tour study sewaktu SD hehehe ...
Saya ingat suatu kali datang ke Semarang bersama kawan, dan ditanya mau ke mana, saya bilang mau ke museum. Kawan saya selaku tuan rumah di Semarang mengernyitkan dahinya ^^.

Saat pengumuman giveaway menyatakan saya pemenangnya dengan beberapa alasan salah satunya adalah terkait saya yang tidak pilih-pilih mau menjaga museum apa, hehehe. Ya, buat saya museum itu cara singkat untuk memahami sebuah daerah. Biar terasa gitu hawa kulturnya. Tak kenal maka tak sayang, kan?

Nah, buat kalian yang hendak liburan ke tiga kota besar di Jawa Tengah ini, ga ada salahnya loh memasukkan museum dalam daftar perjalanan kalian. Museum Afandi di Jogja, kah? Museum Keraton Surakarta di Solo, kah? Atau Museum Rekor Dunia di Semarang? Hayoo ... sudah pernah ke sana belum?

Buku ini menjadi prolog yang tepat sebelum memutuskan memasuki museum apa. Ya, kalau tidak biasa ke museum kan bisa disesuaikan dengan kesukaan. Tiga emak keren ini keliling kota untuk memberikan review singkat tentang museum-museum di daerahnya. Tidak hanya review melainkan juga sedikit perasaan alias tips tertera di sana. Pula ditambah informasi harga tiket masuk yang pada umumnya di Indonesia murahnya ampun deh. Bingung cara ke sananya? Pilihan transportasi juga ditulis di sana. Silahkan buktikan sendiri kalau datang ke museum itu keren.

Nanti kalau sudah ke sana, foto dan lapor di twitter, jangan lupa tag mak @fennyferawati, @momtravelerblog, dan @ikakoentjoro yaa ... siapa tahu mereka jadi tambah semangat buat buku keliling kota lain lagi ^^

Dapatkan buku ini pastinya di toko buku Gramedia terdekat karena diterbitkan oleh BIP dengan harga Rp80750,-  Selamat liburan.



RABUku: Belajar Seks sejak Dini tanpa Heboh


Kalau baca berita akhir-akhir ini sedang ngeri-ngerinya ya, jangan-jangan memang betul bahwa Indonesia sudah darurat keamanan terutama untuk anak-anak dan wanita dengan banyaknya kasus perkosaan yang terjadi. Bagi mereka yang paham kondisi ini, berbagai cara dilakukan para orangtua untuk melindungi anak-anaknya, salah satunya adalah mengajari seks pada anak sejak dini.

Hah, kecil-kecil diajari seks? Seks itu alamiah. Itu yang saya pernah dengar terucap dari salah satu tokoh. Hehehe ... mungkin banyak yang tidak tahu bahwa kata ‘seks’ tidak melulu berarti ‘hubungan intim’. Seks itu adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan tubuh pada umumnya dan alat kelamin pada khususnya.

Bahkan dalam agama pun sebenarnya juga sudah ada semacam pendidikan seks sejak dini. Seperti memisahkan tempat tidur anak dari orangtua paling lambat di usia 7 tahun, memisahkan ranjang anak perempuan dan anak laki-laki bahkan sesama anak perempuan tidak boleh tidur dalam satu selimut. Dan masih banyak lagi.

Dr. Boyke Dian Nugraha dan Dr. Sonia termasuk dari mereka yang peduli bahwa sudah saatnya bagi masyarakat Indonesia untuk menyadari pentingnya pendidikan seks bagi anak. Jika seorang anak memahami arti tubuhnya maka dia pun akan menghargai tubuh orang lain sehingga masing-masing pihak saling menjaga. Mulai dari mengenali tubuhnya sendiri, hingga bisa melindungi dan menghargai tubuhnya. Hal itu niscaya akan mengurangi drastis tingkat pelecehan bahkan perkosaan.

Oleh sebab itu beberapa waktu lalu, buku “Adik Bayi Datang dari Mana?” diluncurkan. Dengan mengundang Maia Estianty sebagai endorser, Dr. Boyke dan Dr. Sonia ingin ke depannya anak-anak ini akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan menghargai satu sama lain.


Sejak kapan sih pendidikan seks harus diajarkan? Begitu si anak bisa berbicara, menurut Dr. Boyke, sewaktu saya bertanya dalam proses penulisan bukunya . Bagi para orangtua pasti mengalami kan ketika si anak mulai bertanya yang ‘aneh-aneh’ seperti “dari mana adik bayi berasal?”. Nah pada tahap ini sangat tidak disarankan berbohong tetapi juga bukan berarti vulgar. Nah, gimana caranya? Itulah gunanya buku ini.

Buku ini bisa digunakan baik untuk orangtua pun untuk anak karena memiliki lembar khusus di tiap bagian. Lembar orangtua dan lembar anak. Hal-hal yang dibahas dapat dikonsumsi untuk balita hingga remaja, mulai dari perihal mandi bareng, hingga menstruasi pertama. Bisa digunakan untuk anak laki-laki dan perempuan, mulai dari apakah anak laki-laki boleh main boneka hingga tumbuhnya jakun. Semuanya dibahas dengan pendekatan pengalaman pribadi alih-alih teori semata.

Sungguh menyenangkan saat saya diajak terlibat dalam penulisannya. Waktu itu saya tengah hamil besar anak ketiga dan banyak dari pertanyaan yang saya ajukan berasal dari pengalaman pribadi karena saya sudah punya sepasang anak laki-laki dan perempuan. Walau saya termasuk orangtua yang terbuka tapi ketika melihat anak-anak mau ciuman karena hendak meniru adegan Anna dan Kristoff di Frozen, saya pusing juga. Dan hal-hal lain yang mungkin kelihatannya sepele atau lucu ternyata bisa menjadi cikal bakal pelecehan jika tidak ditangani sejak dini.
Buku ini akan sangat bermanfaat untuk para orangtua yang peduli pada masa depan anak-anak dan untuk Indonesia yang lebih aman bagi semua.

Buku yang diterbitkan oleh Noura Books Publishing ini bisa didapatkan secara online di toko buku terdekat dengan harga Rp.59000,-. Selamat membaca ^^


Kamis, 31 Maret 2016

Percakapan Kematian antara Aku dan Aku


Halo, aku. Iya, kamu. Kamu adalah aku. Yang tengah menatap laptop begitu lama. Terpaku pada sebuah judul yang aku ketik sendiri.

In My Last 8 Days
Masih tidak tahu harus menulis apa tentang delapan hari terakhir kita? Apa yang begitu sulit? Bukankah kita dulu pernah merasa akan meninggal sebelum usia 30? Walau toh ketika usia itu lewat, kita justru berdoa agar diberi umur panjang. Life begins at 30. Kata orang.

Seingatku, kita dulu pernah bercita-cita meninggal dengan diiringi tangis oleh ribuan bahkan jutaan orang. Ya, dulu kita berharap menjadi orang terkenal. Bagaimana dengan sekarang? Can you imagine? Your last 8 days?

1. Jujur pada Suami
Akhirnya kau ketik juga poin pertama kita. Tapi kenapa jujur pada suami? Kita kan tidak pernah bohong pada dirinya? Unless ... oh aku tahu. Ini tentang jumlah utang kita, kan. Aku sarankan kita banyak-banyak cium tangannya agar dia mau melunasi utang kita dengan lapang dada. ^^  Bolehlah harta tak tersisa saat mati, tapi jangan sampai ada utang yang masih belum terlunasi.

2. Mohon Maaf
Ah, ini penting sangat. Kita tahu bahwa kita bukanlah orang sempurna. Sangat jauh dari sempurna. Bahkan perkataan dengan niat baik pun dapat menimbulkan sakit bagi orang lain. Aku setuju dengan poin ini. Kita akan minta maaf besar-besaran , pada mama papa karena hingga kini belum kesampaian memberi uang bulanan.  Pada kakak-kakak yang selalu dimintai tolong dan belum pernah membalas (dasar bungsu). Pada suami yang suka dicemberuti istri. Dan pada anak-anak yang ... sering dikecewakan Aminya.

What about the other? All friends and relatives?

Kita mungkin bisa gunakan sosial media. Buat permohonan maaf terbuka dan terbuka pula dengan segala balasan. Ingatkah kamu tentang isi khutbah terakhir Rasulullah?
"Barangsiapa yang punggungnya pernah aku pukul, maka ini punggungku, silahkan membalasnya."
 
Beranikah kita menghadapi semua komplenan orang tentang kita? Well, kebenaran itu seringkali menyakitkan, bukan?

We deserve it, anyway.

Aku setuju.

3. Surat untuk Anak-anakku
Ada senyum terukir di bibirmu. Pasti karena kamu ingat film India itu, Kuch Kuch Hota Hai. Surat untuk Anjani itu memang inspiratif sekali. Menulis surat untuk anak-anak pada tiap-tiap tahun istimewanya. Pada datang bulan pertama si sulung. Pada sunatan si anak tengah. Pada hari pertama sekolah si bungsu. Dan masih banyak lagi. Berapa banyak yang hendak kita tulis?

I don't know. As much as we could.

Surat untuk suami?
Eh, kamu malah nyengir. Ingat pertanyaan kita waktu itu ya? Saat kita bertanya pada suami apakah sekiranya kita boleh menikah lagi saat dia sudah meninggal. Dia menjawab, "Ya terserah kamu. Lha aku sudah meninggal ini." Dan itulah yang akan kita lakukan. Kita tak bisa mendikte pilihan kehidupan percintaannya. Hanya bisa berharap doa yang terbaik untuk dirinya dan anak-anak.

4. Foto dan Album Keluarga
Mungkin kalau sudah injury time begini, suami kita akan terdorong untuk membuat foto keluarga dengan seragam Liverpool. Agar bisa dibingkai dan dipajang di rumah. Tak hanya itu, kita harus cetak foto-foto sejak si sulung lahir. Dan menempelkannya bersama-sama anak-anak. Sambil saling berbagi cerita. Cerita yang mungkin tak akan mereka dengar lagi.

5.   Mengosongkan Lemari
Aku tahu maksudmu. Kita sama-sama tidak tega membayangkan raut sedih suami, kan. Walau pembawaannya cuek tapi dia mudah mellow. Jangan sampai dia lama mellow di hadapan lemari baju. Menatapi baju-baju kita. Nanti dia akan simpan semua lagi. Mari sedikit mengurangi momen sedihnya dengan mengosongkan lemari baju. Sisakan tiga baju saja, sepertinya cukup. Biarkan kerudung disimpan, bisa dipakai anak-anak nanti.

6. Membagi Harta
Hehehe kita kan tidak punya harta. Oh, harta pusaka maksudnya. Yah namanya juga orang minang. Harus segera dibagi ke kedua anak perempuan kita, jadi hibah. Sedangkan mas kawin bolehlah dibagi sesuai hak waris nantinya. Kita percaya dua lelaki itu akan menggunakannya untuk kebaikan gadis-gadis yang menjadi tanggungjawab mereka dunia akhirat.

7.  Puasa
Eh. Puasa? Puasa bayar?
 
No. To clean ourself.

Oooh, sepertinya ada segelintir ingatan tentang ini. Tentang orang yang berpuasa menjelang meninggal, agar tidak banyak kotoran yang harus dibersihkan saat dimandikan terakhir kali. Ya, baiklah. Puasa sepertinya cara terbaik untuk tidak menambah-nambah dosa di saat-saat terakhir.

8. Menghabiskan Hari di Rumah Orangtua
Bukannya tidak cinta dengan rumah sendiri, kan? Awalnya lebih karena alasan teknis. Unit Kalibata city yang tini mini biti ini terlalu sempit untuk menampung orangtua dan kakak-kakak saya beserta anak-anaknya. Which is itulah cara kita menghabiskan hari. Dikelilingi keluarga tercinta. Makan masakan mama. Mendengar wejangan agama dari papa. Menyimak informasi terkini dari kakak-kakak. Dan menikmati keriuhan anak-anak dan keponakan yang bermain.
Nah, sudah delapan. Selesai.
Hei, tapi kenapa jadi sedih?

Do we really have to wait untill the last 8 days to do this? We could do this now. Everyday. Because we never know. Never ever know. When the angel of death will come for us.

But the question is, how bad do we want to do it? People say if we don't try the hardest then our dream might be not the biggest one.

Our first name is Hasanah. It means "good thing". Then let's make it good, shall we? For us, for them, for the loved ones. And may God give us His bless . And give us a peaceful death. Someday.

Amin.

Tulisan Ini Diikutkan dalam Giveaway Dnamora



























Jumat, 04 Maret 2016

JJS Jumat Jelang Sabtu: Nyemplung di Kandank Jurank Doank


Pada Februari lalu, anak-anak ikut outbound. Sebenarnya sih itu acara dari TKnya Malika tapi karena saya sebagai pendamping juga bawa dua anak yang lain, jadi Safir pun saya daftarkan ikut biar ga bengong-bengong. Lagipula usianya bisa gabung dengan anak-anak playgroup dari TK nya Malika. Saat itu saya diminta menambah bayaran Rp135000,- untuk Safir dan sudah termasuk makan siang. Sedangkan saya hanya bayar Rp100000,- untuk HTM dan makan siang.

Outbond kali ini mengambil tempat di Kandank Jurank Doank Ciputat. Pagi yang hujan sudah menyambut kami saat kumpul di sekolah. Anak-anak diminta membawa jas hujan, makanan ringan tambahan, dan sepatu boot. Khusus untuk sepatu boot, saya tanya lagi ke gurunya wajib atau tidak. Maklum, saya harus beli dua pasang nih, dan harga boot kan ga murah. Karena kata gurunya itu hanya bersifat menyarankan, saya tanya ke anak-anak sekiranya mereka mau ga si opsi sepatu boot diganti sepatu karet yang murah meriah itu. Lagipula saya sudah tahu di tempat-tempat seperti itu, anak-anak saya lebih suka ga pakai apa-apa. Dan mereka setuju dengan sepatu karet murah meriah, yes!

Pagi yang hujan sudah menyambut kami di sekolah. Saat perjalanan saya khawatir juga dengan cuaca. Begitu sampai di sana, dengan jalur akhir yang sempit banget buat bus segede gambreng itu, hujan berhenti.

Sebagai pemanasan, tiga fasilitator memimpin permainan dalam satu kelompok besar. Setelah 15 menit baru dikelompokkan sesuai kelas; TK B, TK A2, dan PG. Safir yang sedari awal nempelin kakaknya melulu jadi terpisah deh hehehe ... Tak hanya itu, anak-anak diminta melepaskan alas kaki. Nah, kaaan ... Ga perlu-perlu amat kan boot-nya. 

Begitu anak-anak dibawa ke arena outbound, para ibu dan pendamping melakukan kegiatan outbound ringan dipandu oleh salah satu instruktur. Nah, karena ga bisa memonitor anak-anak jadi reportasenya berdasarkan laporan ibu guru dan anaknya ya ...


MALIKA 


"Malika, bu ... Ya ampuuun ..." kalimat pertama yang dilontarkan gurunya saat melihat saya.
Saya sudah terbayang apa yang sudah dia lakukannya. 

"Ga ada takutnya. Masuk sawah langsung ciprat-cipratin kaki." 

Sesi pertama Malika adalah memandikan kerbau, memberi makan, lalu menanam padi. Semua dalam satu area yang berdekatan. Setelah itu mereka lanjut naik perahu ban.
"Waktu di perahu, aku cemplungin aja kaki ke air." 

Lalu beranjak ke kolam ikan kecil, disuruh ambil ikan dari kolam.
"Ikannya ga keliatan, jadi aku ambil aja yang di ember. Katanya disuruh masukin lagi ke kolam." Pas di sini, ini anak sudah kuyup dari atas sampai bawah.
 
Sesi terakhir adalah flying fox.
"Wah pas meluncur seru banget. Aku teriak kenceng-kenceng. Aaaaaaaa!!!"

Lain kakak lain adik.


SAFIR
"Bu, Safirnya takut, bu." Lapor seorang ibu guru pada saya. 

"Dia dieeem aja. Pas flying fox. Saya tanya, 'Safir takut?'. Dia angguk-angguk, terus tandem deh sama saya. Pas mandiin kerbau juga begitu." 

Kebetulan saya sudah menghampiri Safir saat sesi di kolam ikan dan benar saja dia jadi tidak mau naik perahu, minta ditemani. Padahal di saat yang bersamaan, kakaknya mau flying fox. Emaknya perlu motret niy ^^ jadi yah suds saya tinggal saja, biarlah dia marah daripada jadi kumat manjanya. 

"Waktu di flying fox, aku liat sungai di bawah. Aku pikir mau mati. Langsung aku lecek baju ibu guru (pegang erat-erat maksudnya)." 

"katanya tadi Safir diam saja karena takut," pancing saya.
"Aku bengong-bengong aja tadi. Nyari-nyari 'mana kakak, mana kakak'" Maklumlah ya, dia ga kenal siapa-siapa di kelompoknya.
Rupanya kelompok PG ini rada apes, sesi pertamanya justru flying fox. Ya iyalah pada jiper ^^' 

"Tadi pas nyari ikan aku bingung nangkepnya. Makanya aku buang-buangin air keluar kolam, biar kering." Eaaa mau sampai kapan? 

"Trus pas naik perahu aku lecek bajunya Pak Ali. Aku kira ada buaya." 

"Safir naik kerbau juga, ga?" tanya saya.
"He eh, tapi aku cium bau pup."
"Memang kamu duduk di depan, di tengah, atau di belakang?"
"Paling belakang." Ya iyalaaaaah ^^

Setelah semua sesi selesai dijalani, giliran saya yang dilatih. Pas memandikan anak-anak, pancurannya banyak. Ada yang di dalam ruangan, ada yang di luar ruangan. Saya pilih di luar biar ga kepleset, berhubung saya sambil bawa bayi di gendongan. Anak pertama selesai mandi, cus ganti baju. Eh pas ganti baju, hujan turun sederas-derasnya. Safir yang dah kuyup juga lagi di pancuran. Kedinginan pula. Akhirnya sambil tutupin kepala si bayi, saya sabuni Safir dan menyuruh Malika mengikuti para ibu-ibu ke tempat istirahat. Hujan-hujanan memakaikan bajunya Safir, lalu hujan-hujanan pula ke tempat istirahat. Mantap nih pilek baru mau sembuh, alamat kumat lagi. Tapi saya masih bertahan. Setidaknya hingga acara selesai, anak-anak diberi suvenir sekantung ikan mas kecil yang mati dua hari kemudian. 

Well, it was fun, right? Bahkan dua minggu setelahnya ada cerita baru. Saya sakit hahaha ...

Jadi yang mau ke Kandank Jurank Doank ga rugi loh. Bayar Rp135000,- bahkan sudah termasuk donasi untuk kelas menggambar di sana yang diadakan setiap hari Minggu pagi. Tuh, kaaan. Ga sia-sia kan saya kehujanan hehehe