Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 April 2017

KAMYStory: Memelihara Binatang di Unit Apartemen




"Ami ... lihat niy" seru Safir saat baru keluar dari pintu kelasnya di Gen Cerdik. 
Saya melihat sebungkusan plastik bening dengan air ... Itu kaan ... 
"Aku dapat ikan." Safir menuntaskan kalimat di pikiran saya. 
Waduh, mau ditaruh di mana lagi nih ikan.

Ikan pertama yang didapat Safir

Rumah kami atau lebih tepatnya unit kami di Kalibata City memang sangat selektif memilih apa yang berhak menetap di dalamnya. Saking 'luasnya' kami memilih tidak memiliki sofa, rak terbuka, dan meja. Jadi ketika si anak laki-laki satu-satunya dari tiga bersaudara ini mengusung kantong ikan dengan hati gembira, saya gundah.

Bagi saya, memelihara binatang adalah sebuah komitmen. Seperti yang ditekankan ibu saya setiap kali mengingatkan anak-anaknya terkait keengganannya memelihara kucing yang senantiasa datang silih berganti ke rumah. "Kalau binatang itu mati karena kita lalai, kita berdosa."

Maka saya pun bergidik. Ikan bukanlah keahlian saya. Dan ikan, lebih mudah mati ketimbang kucing. Bagaimana kalau ikan itu mati?

Namun saya bergeming. Saya tempatkan ikan hasil 'tangkapan' Safir di toples bekas selai, dan terenyuh saat Safir tak henti-hentinya memandangi ikan itu. Dibawanya toples itu di samping kasurnya yang tanpa rangka agar bisa dipandangnya sebelum tidur.

Esok harinya saya belikan makanan ikan. Malamnya, ikan itu mati. Duka pertama untuk anak itu. 

Kenangan dan keinginan untuk memiliki ikan tak kunjung padam walau sudah berulangkali saya katakan bahwa kami tidak memiliki prasarana yang memadai untuk itu. 

"Tunggulah ... Nanti... kalau kita sudah punya rumah di tanah. Barulah kita pelihara binatang...."
Namun, entah karena tren atau apa, tanpa dibeli pun, Safir tetap saja mendapatkan kantung-kantung berisi ikan. Dan walau telah berganti-ganti wadah, ikan-ikan itu singkat saja usianya. 

Kemudian, hari itu datang. TK nya melakukan outbond dan Safir sudah melihat anak-anak dari TK lain menenteng ikan sebelum pulang. Rasa kasihan melanda saya,  dan memberinya izin membeli ikan cupang dengan anggapan, setidaknya daya tahan ikan itu lebih lama. Eh ternyata, menjelang naik bus, Safir diberi tanda mata ikan mas. Tiga ekor ikan sekaligus. Dan saya pun pusing. Apalagi si ikan mas ukurannya cukup besar. Saya lalu mengeluarkan satu-satunya toples kue kering.

Saya gelisah. Bagaimana caranya agar ikan-ikan dapat bertahan hidup? 

Kegelisahan saya baru sirna setelah dua hari. Ketika suami berkesempatan membawa anak laki-laki saya itu ke ACE Hardware. Berdua saja. Ah ya, terkadang saya lupa, ketika sedang galau soal aksesoris rumah, jawabannya hanya satu, datang saja ke ACE Hardware. Saya sering terkejut melihat alat yang saya pikir hanya dalam bayangan, ternyata sudah diciptakan. Seperti penyedia puzzle pelengkap di setiap gambar yang belum sempurna. Apalagi letaknya tak jauh dari Kalibata City, hanya satu kali angkot, 15 menit. Benar-benar helpful place bagi kami.

Salah satu hasil perburuan di ACE Hardware. 

Tak butuh waktu lama, kedua lelaki di rumah saya itu pun pulang membawa dua fish bowl dan alat pencipta gelembung dengan bangga. Memang si ikan mas tidak bertahan lama, karena sempat salah asuhan. Tetapi kemudian, kami segera membeli ikan pengganti dan bertahan hingga sekarang. Sudah hampir 4 bulan. Tiga ikan ini menjadi penghuni tambahan di rumah kami. Walau tak bisa dielus, walau tak diberi nama, semoga cukup nyaman ya 'rumahnya'. Apalagi ACE Hardware tengah bersiap membuka gerai di Kalibata City Square, so excited to wait till June 2017.



Kamis, 30 Maret 2017

KAMYStory: Ikatan Kakak-kakak Perfect tapi Saya Adiknya

Kakak beradik. Serupa tapi tak sama. 

Si penulis itu bertanya dalam status FB-nya. Persoalan terbesar apa yang dialami dengan saudara kandung?
Saya menulis, "merasa terdeterminasi oleh kakak yang kebangetan hebatnya"

Dan voila, saya tidak sendiri. Hingga kemudian terucaplah kata-kata di atas oleh salah seorang pemberi komentar, "Ikatan Kakak-kakak Perfect tapi Saya Adiknya" 

Saya geli setengah mati membacanya. Rasanya ngenes tapi bagaimana gitu. 
Saya punya tiga kakak. Lebih tepatnya dua abang dan satu kakak. Ketika saya bicara tentang kakak yang membuat saya terdeterminasi itu biasanya merujuk ke kakak saya, yang berada persis di atas saya. 

Sulitnya adalah, dia itu hebat segala-segalanya. Orangtua selalu memasang standar yang telah diraih kakak saya, untuk saya capai pula. Dan lama-lama aku lelah, karena memang tak kunjung bisa mencapainya.
Di kalangan ninik mamak saya lebih sering dikenal sebagai, "Ooooh, adiknya Dara,ya?"

Saya baru bisa terlihat setelah kakak saya kuliah s2 di luar negeri. Bayangin, perginya kudu keluar negeri lagi. Sedangkan gue ngedeprok aja di mari. ^^

Tidak hanya keluarga, teman-temannya pun begitu. Ketika saya berjalan, saya tak kaget lagi jika ada yang memanggil, "Dara!" dan saya jawab sambil terus berjalan, "Adiknya!"
Ironisnya, kakak saya selama ini malah merasa tumbuh tanpa pujian dari orangtua. Well, lebih tepatnya pujian orangtua itu ada, hanya saja tertuju semua ke saya. Dengan kata lain, salah alamat. Jadi, kepribadian dan prestasi kakak saya dipuja-puji di luar sana hingga saya sesak napas, kakak saya malah merasa rendah diri karena pujian dari orangtua sendiri tak pernah sampai padanya. 

Nah loh. Pelik lah hidup ini hehehe .... 

Jadi bagaimana kabar saya sekarang? Hmm ... yah lebih baik hahaha ... Mungkin setelah saya menetapkan bahwa "adikNYA" bukanlah kata milik, melainkan sebatas kata keterangan dalam silsilah keluarga bukan silsilah jalan kehidupan saya secara pribadi.

Apalagi setelah membaca  tentang cara kerja otak masing-masing individu. Kakak saya (dan juga ibu saya) adalah orang yang menjadikan prestasi sebagai mesin bahagianya. Orang-orang seperti ini senang mencapai sesuatu yang terbaik dan berharap diapresiasi, terutama oleh orang-orang terdekatnya. Sedangkan saya banyak menggunakan otak tengah, alias bisa semuanya tapi tidak jagoan. So, terimalah nasibmu, naaak. Cara kerja saya terbalik, apa pun hasilnya, yang penting progresnya membuat saya bahagia. Jadi menyandingkan kakak saya dalam sisi mana pun, apalagi dengan kacamata orang kebanyakan, tentulah saya kalah di mana-mana. Udah kalah, tidak bahagia pula. 

But it doesn't mean I hate her. Wong dia yang ngasuh saya.  Saya hanya perlu menerima diri saya apa adanya. Dan berbahagia atas apa pun yang diraih kakak (dan abang-abang) saya.  

Bagaimana dengan anak-anak?
Hmm, saya suka bingung sebenarnya. Misalnya: ga mau si bungsu dapat baju lungsuran terus (pengalaman pribadi), tapi baju kakak-kakaknya banyak yang masih bagus (mak irit lah). Ga pernah membandingkan, tapi anaknya minta disama-samain melulu, kalau ga disamakan dibilang ga adil. Hadooooh. Ini masih mending si bungsu belum bisa ngomong bener. 

Saya jarang kasih pujian but I said thank you karena saya merasa semua anak itu terlahir hebat. 

Ketika si sulung memberikan hasil ulangannya, yang saya cari letak kesalahannya. Coba ya, Amiiiii ....
Ketika saya tanya, "kok ini bisa salah?" 
"Iya, lupa" Jawabnya
"Kok bisa lupa?" Si Ami mulai nyebelin.
"Ya namanya juga orang, emang ga boleh salah?" Nah loh. 

Saya pusing deh. Saya sih pasrah lah kalau suatu hari anak3 saya pada komplain tentang berbagai kesalahan saya dalam pengasuhan. Eh, sekarang juga sudah sih. Hehehe .... Namun, dengan segala kekurangan saya, selalu berharap bahwa Tuhan selalu memberi perlindungan dan berkah pada anak-anak saya dan seluruh anak-anak di bumi. Untuk menjadi yang terbaik dari diri mereka, bagaimana pun orangtuanya. 

You don't have to be the best, but do your best and be happy.

Selasa, 10 Mei 2016

KAMYStory: Membuang Kenangan


Hidup di unit rusun yang mungil dengan jumlah penduduk yang padat membuat saya sehari-hari berpikir barang apa yang bisa disingkirkan atau dipindahtangankan. Begitu sudah memilah-milah barang tapi masih penuh maka barang-barang kenangan pun kena bagian.

Bedanya, menyingkirkan barang kenangan berarti turut menyingkirkan kenangan. Well, ga sepenuhnya tapi rasa keterikatan pada benda kenangan itu setidaknya hilang pula. Lumayan lah untuk menyegarkan kepala dan menata hati atau malah baper? Dan beberapa waktu lalu saya menyisihkan waktu menyingkirkan barang kenangan itu dan mengubahnya menjadi file blog hihihiy ... Rasanya? Hmm ..

1. DVD BAJAKAN
Hahaha DVD memang tidak terlalu makan tempat tapi siapa sangka ketika hendak dibuang ada rasa sedih gimana gitu. Hanya tiga judul DVD siy yang saya buang. Meteor Garden 1 dan 2 dan Beautiful Life. Betapa tidak, seri Meteor Garden saya beli dalam tergesa, ditonton semua dalam dua hari padahal saya sedang UTS di kampus. Dan sangat tidak disarankan untuk menonton film-film berbahasa Mandarin jika kamu kuliah bahasa asing lain, seperti Belanda (itu saya). Seri Meteor Garden 2 juga tidak kalah memorablenya. Pasalnya itu hasil copy sendiri. Zaman belum booming nonton streaming atau mantengin Drakor di YouTube demi subtitle, zaman itu andalannya adalah tempat penyewaan DVD. Nah, tempat sewanya hanya ada di Kelapa Gading, beda beberapa hari dari negeri asalnya. Yang kebetulan dekat dengan rumah parner in crime saya ha-ha-ha. Jadilah saya selama liburan kuliah bolak balik Tebet – Gading untuk ambil dvd yang disewa kawan saya dan mengcopynya di rumah saya di Tebet. Ah, kenangan itu epik lah bagi saya ha-ha-ha ... Jadi sedih juga melihat puluhan keping itu bertebaran di lantai sebelum akhirnya masuk ke kantung sampah.


2. BUKU HARIAN
Nah, kalau ini semacam langkah  penting sih. Tadinya buku harian itu mau saya simpan, siapa tahu buat warisan untuk anak-anak kaya di film-film. Tapi semakin banyak anak saya, semakin saya mempertanyakan manfaatnya buku harian yang sudah numpuk sejak SD itu. Apalagi isinya saya marah-marah sama ortu, atau sibuk ngegebet adik kelas di sekolah dan di kampus. Apa gunanya mewariskan track recordnya saya yang cupu dan pathetic itu ha-ha-ha ...
Dan buku harian, kartu, segala tiket, saya buang ke tempat sampah sebagai penegasan bahwa saya sudah sepenuhnya move on. Ga kaya Cinta dong, udah dibuang ke tempat sampah eh masih balik lagi hehehe ... Dan cukuplah kenangan itu ada di kepala walau kayanya ga perlu juga diingat-ingat apalagi diceritakan ke anak. Plus tata bahasa saya di buku harian itu kacrut banget ha-ha-ha ga tahan ingin saya edit.


3. BUNGA PALSU
Yap, bunga palsu. Pada suatu hari di perayaan ultah kantor saya, saya jadi panitia dan ketika hendak pulang saya mengamati rangkaian bunga yang berbaris di pojokan. Tak sedikit yang menggunakan bunga palsu. Karena merasa sayang maka saya cabutin lah bunga-bunga itu. It was more than 6 years ago.
Lalu, beberapa waktu lalu saat sedang rapat komite TK dan menyebut soal mendekor ruangan perpisahan, bunga itu terlintas di kenangan saya. Dan begitu saya ke Tebet, masuklah bunga-bunga palsu yang sudah lama berada di lemari itu ke dalam kantung plastik besar, untuk kemudian dipindahtangankan ke sekolah Malika itu.

Kalau ini perasaannya senang, sama seperti ketika memberikan seluruh koleksi bungkus permen saya ke kawan kuliah untuk tugas desain fashionnya. Akhirnya berguna juga itu barang ^^



Nah, baru tiga hal itu yang saya singkirkan. Rumah masih penuh, ha-ha-ha. Berarti saya masih harus merapikan folder lemari, kepala, dan hati saya hihihiy ... Mari beberes ^^

Kamis, 02 April 2015

KAMYStory: Insting Bersarang

Konon pada masa kehamilan ada sebuah insting yang muncul, yaitu insting bersarang alias nesting. Insting dimiliki pula oleh hewan. Saya jadi ingat kucing-kucing hamil yang suka berkeliaran di berbagai sudut rumah masa kecil saya, mencari spot terbaik untuk melahirkan. Pada saat-saat seperti itu, lemari baju adalah yang pertama yang harus diamankan. Jangan sampai lupa dikunci hehehe ... 


Insting ini tidak pernah  muncul di kehamilan pertama dan kedua, memang apa bedanya? Satu yang beda, saya di rumah sendiri. Sebelumnya kan di rumah orangtua, jadi yah secara tertulis bukan sebenar-benarnya sarang bagi saya.


Nah, di semester awal saya belum merasakan insting ini. Iya, rumah berantakan karena saya secara fisik tidak sanggup ngapa-ngapain. Semester kedua masih belum bisa ngapa-ngapain tapi saya mulai frustasi lihat rumah. Sampah dan cucian piring yang teronggok sampai pagi hingga mengundang kecoak kecil-kecil. Setrikaan menggunung, beneran kaya gunung karena nyaris mencapai atap. Serius. Saya pikir, ok i have enough. Sejak awal semester saya sudah mengiba pada suami agar dia mau mencuci piring karena saya tidak tahan baunya. Lumayan lah. Walau sekarang sudah jarang dia lakukan karena sudah keduluan sama saya. Bosen kali dia hehehe.


Lalu saya pun mengajak bicara salah satu bibi teman Malika yang kebetulan satu tower. Saya tahu setiap Sabtu dan Minggu dia libur tapi masih tetap di Kalibata City. Jadi saya tawarkan untuk ke unit saya di salah satu hari liburnya. Jobdesknya? Menyetrika yang utama, lalu menyapu dan mengepel. Bagi saya yang anti ART, ini langkah besar, bukan buat kemudian menjadi terbiasa dengan ART loh ya. Saya harus realistis sama kondisi saya dan kebersihan rumah. Ga perlu bersih-bersih amat, tapi kalau tidak ada yang menyapu dan mengepel setidaknya seminggu sekali, lantai rumah tuh bisa licin karena minyak dan mengundang serangga-serangga lain. Itu yang bikin sebal.


PR selanjutnya adalah tata ruang. Oleh karena akan ada makhluk baru penghuni unit kami, maka saya harus memikir ulang tentang susunannya. Maklum, tiap orang punya minimal ruang yang harus dimiliki dan itu perlu trik untuk mengaturnya di unit kami yang ‘gede’ banget ini. Dan karena saya pribadi yang berantakan, pe er ini jelas bukan pe er yang mudah. Lemari baju, kitchen set, dan rak yang ga seberapa ini menjadi tantangan bagi saya setiap minggunya. Ketika berhadapan dengan lemari baju, saya menghubungi teman sekaligus tetangga yang sudah diketahui tingkat neat freaknya. Via whatsapp saya foto lemari baju dan komentarnya, “kenapa ada panci di lemari baju, Amy?”


Wakaka malu deh. Jadi poin pertama dari membereskan adalah, mulai menaruh segala sesuatu di tempat yang sesuai dengan visi misinya. Misal, lemari baju ya buat tempat baju. Rak buku ya buat buku, bukan buat stok susu literan. Saya keluarkan dulu deh yang tidak berhubungan dengan tempatnya lalu menyusun hanya yang memang pantas dimasukkan ke sana.


Nah kemudian poin kedua adalah klasifikasi. Misal, mana baju kasual mana baju formal. Mana botol bumbu, mana kotak kontainer makanan, mana panci. Mana buku bacaan, mana buku aktivitas. Semua ini menghabiskan waktu hingga berbulan-bulan. Merapikan satu baris rak saja bisa satu hari sendiri dan kemudian ngos-ngosan hingga beberapa hari mendatang. Hasilnya, lumayaaan.


Poin ketiga, mempertahankan. Nah ini yang sulit hahaha. Apalagi setelah itu baju-baju bayi mulai eksis dan semua mulai terasa nyata. Belum lagi, kami kan masih beraktivitas sebagai manusia hidup, jadi yaaah, gitu deh. Sekarang saya pusing lagi, bagaimana mengaturnya hehehehe .... cuma satu efek sampingnya, saya jadi tambah galak. Hadeeeuh ...


Moral of the story? Pindah rumah aja yuuuk :D


Senin, 24 November 2014

Ketika si Kidal Terkunci di Kamar Mandi

Suatu hari Safir tengah dimandikan Amy, tapi kemudian dia lebih banyak rewelnya sehingga menghambat mandinya. Akhirnya, Amy tinggalkan di kamar mandi agar dia bisa terserah melakukan apa saja yang dari tadi dia ributkan. Pintu ditutup supaya ga becek-becek keluar. Eh, si bocah malah tambah rewel, berusaha membuka pintu tapi gagal dan akhirnya terkunci.

Kenop kamar mandi kami yang bulat dan tidak pernah ada kuncinya sejak awal kami serah terima. Kalau terkunci dari dalam sebenarnya ga masalah kalau ada orang, tapi kalau Safir yang di dalam kayanya sama juga bohong. Biasanya saya gunakan obeng untuk membuka pintu yang terkunci dari dalam, tetapi kali ini taktik tersebut tidak berhasil. Kunciannya dol.
Sudah keringetan, Safir di dalam yang tadinya gedor-gedor dengan semangat pun kini hanya terdengar tangis pelan-pelan. Saya menyerah dan akhirnya memanggil teknisi ke customer service.

Butuh beberapa saat juga bagi teknisi itu untuk membuka pintunya. Dan ketika terbuka, Safir sudah duduk sedih di kloset.

Usai kejadian tersebut, saya bertanya-tanya sendiri kenapa Safir sulit sekali membuka pintu kamar mandi. Padahal kamar yang lain juga menggunakan kenop bulat dan ketinggiannya pun sama, apa yang membedakan?

Setelah beberapa kali ujicoba, saya akhirnya mengerti. Sesuatu yang sudah lama saya pindahkan dari otak sadar saya, kenop di kamar mandi memiliki perputaran berbeda untuk membuka dan menutup ketimbang kenop di kamar lain. Penting, ya? Buat para kidal ini penting. Tidak ada buku panduannya, tetapi kami mengalami banyak sekali penyesuaian untuk bisa hidup di dunia 'kadal' ini.

Safir memang punya kecenderungan kidal. Saat mewarnai, dia pernah sesekali menggunakan tangan kanan tetapi kemudian cepat lelah. Dan di usianya yang tiga tahun, konsep ruang masih menjadi pe-er baginya. Sehingga wajarlah untuk mampu membuka pintu kamar mandi sepertinya dia masih harus berusaha lebih keras lagi.

Para kidal memang memiliki konsep atau definisi soal ruang dan arah. Titik kemiringan kami berbeda, sudut pandang kami berbeda. Kami lebih suka keluar lift dari arah kanan dan masuk dari arah kiri. Kami lebih suka berputar berlawanan arah jarum jam, dsb. Ini jika kami membiarkan otak bawah sadar kami yang bekerja. Jangan tanya soal mouse komputer, kursi kuliah, atau sekadar memilih ujung bangku sekolah jika berbagi meja kala SD. Tapi seringkali, kami harus menyesuaikan. Yah mau bagaimana lagi =P.


Yah dan sepertinya Safir baru mengalami beberapa hal baru ini. Bertahanlah, nak, kita pasti bisa =D