Kamis, 09 April 2015
KAMYStory: Misi (Belum Berhasil) Memisahkan Kamar Tidur
Sejak ketahuan hamil, misi untuk segera memisahkan tempat tidur anak-anak dengan saya pun muncul. Misi itu kian mendesak ketika bayi di dalam perut sudah tahu menendang. Jadi tidur malam itu rasanya seperti ditendangi dari berbagai penjuru, kiri-kanan, luar-dalam, dan saya mulai senewen.
Lalu dibuatlah tempat tidur untuk anak-anak di kamar sebelah. Bagi yang tahu ukuran unit di kalibata city pasti ngerti dong, gede banget ruangannya. Kami pasang exhaust supaya bisa menyerap langsung udara AC yang terpatri di kamar saya. Dan sejak akhir Januari, kamar siap diujicoba.
Hasilnya? Ya jarang menetap sampai pagi siy, seringnya jam 3 satu per satu masuk ke kamar. Bilangnya sih gerah-emang gerah ternyata. Entah apa yang salah. Lucunya ketika pindah ke kamar saya dan langsung saya matikan ACnya, mereka tetap aja lanjut tidur sampai bangun keringatan. Lha jadi masalah ne opo?
Awalnya, Saya biarkan saja, toh aslinya penganut bahwa biarkan anak tidur sama kita sampai si anak siap. Cuma karena ga nyaman terus Malika sudah mau lima tahun, yang sudah dekat dengan batas usia boleh tidur bareng orangtua dalam agama. Lagian, saya waktu kecil juga gitu, ngincer pegang tangan mama. So ya sudahlah yaaa ...
Tapi lama-lama jam migrasinya kian maju, paling bete kalau saya sendiri pun belum terpejam sudah ada yang masuk. Biasanya Safir duluan memang. Akhirnya beberapa kali jadi ada drama tengah malam ^^'
Lha begimane niy, adeknya dah mau lahir, tapi masih ada yang nguntit?
Terkadang terpikir sih, jangan-jangan Safir ini merasa kalau adiknya akan lahir jadilah dia kumat galaunya. Yaah, alamat kudu stok bonus kasih sayang. Taela kasih sayang aja kudu jadi bonus. Hehehe ga, inget Malika dulu. Waktu Safir lahir, dua bulan pertama ya urusannya entertain Malika yang galau. Biar ga bangun tengah malam trus ajak main bapaknya sampe jelang subuh. Dulu solusinya ya itu, diboboin bareng-bareng satu kasur (bapaknya ga ikutan ya, ga muat). Kayanya ga bosen-bosen mereka nyiumin ketek Amynya ^_^'
Oh apakah ini akan berakhir menjadi sekasur berempat? Ngek ngoook. Ataukah menjadi tidur yang kemudian migrasi pada dini hari? Ah pusing pala Barbie. Gimana kalau punya rumah baru aja? Yang kamar anaknya bisa dipasangin AC. haiyah, anak Indonesia kok ya ga mau panas.
Jadi intinya, saya masih berusaha. Harus diterusin karena dah ada tempat tidurnya. Soal standar naaah itu yang kudu dibicarakan ulang (sama diri saya sendiri). Solusi pengaturan ruangan, yah masih menunggu rezekinya hehehe ...
Minggu, 05 April 2015
hoMYNGGU: (Review Sekolah) Multiple Intelligence di Gen Cerdik
Akhirnya si Amy menyerah juga. Ga sanggup deh lagi hamil
begini tapi juga harus ngehomeschooling anak-anak. Dan pencarian tempat
berkegiatan untuk Malika dan Safir pun
dimulai. Awalnya cari yang dekat-dekat dengan tower tempat tinggal, ada
beberapa tempat kursus calistung tapi kok ya sebel dengar penjelasannya. Lalu
sudut mata melihat di sebuah sudut, ada promo tempat edukasi baru, tapi baru
saja saya akhirnya punya tenaga untuk menghampiri stan promo tersebut, eh sudah
ga ada. Jadilah saya ke tower Sakura, dengan plang nama besar bertuliskan Gen
Cerdik.
Begitu masuk ke ruangan yang memang hanya satu itu,
anak-anak langsung menghambur ke arah rak-rak yang isinya mainan. Sementara
saya duduk di meja penerimaan. Waktu itu memang sepi, hanya ada dua tiga orang
di dalam sana. Mungkin belum ada kegiatan belajar mengajar.
“Kegiatannya, bermain.”
Jelas si mba-mba. Pendek sangat. Alis mata saya naik
sebelah. Oookeee ... Lalu dia pun menjelaskan satu per satu program yang
diusungnya, ada: art, spatial, literacy, english club, iqro, fun science, role
play, dan logic & math. Beberapa program baru saya pahami belakangan.
Spatial adalah kegiatan yang terkait dengan bentuk, sehingga
banyak menggunakan permainan balok. Di sini ga semata-mata diajarkan cara
membuat sesuatu yang keren dari balok sih, karena setiap minggu ada satu tema
besar yang diajarkan di Gen Cerdik, maka disesuaikanlah dengan temanya
masing-masing. Kalau sedang diintip kesannya memang nih anak main-main doang
terus fasilitatornya foto-foto, padahal itulah bagian dari pembelajarannya.
Jika seorang anak setidaknya mengambil 4 program wajib, maka terjadi simulasi
dari berbagai sisi, sehingga kemampuan spatialnya pun turut berkembang. Dari
yang awalnya mengurutkan balok-balok, membuat bentuk dalam kurva terbuka,
tertutup dan bahkan kemudian bisa merencanakan sejak awal hendak membuat apa.
Dalam perkembangannya, ini mendorong anak menjadi pribadi yang lebih terencana
alias tidak gegabah.
Literacy sesuai namanya banyak terkait dengan buku. Lucunya
di sini malah tidak diajarkan membaca. Perkenalan huruf ada tapi tidak
menonjol. Saya ingat betapa Malika tidak suka dengan work sheet tracing di
sekolah sebelumnya (itulah alasan saya tidak memasukkannya ke les calistung).
Konsepnya adalah pemahaman. Biasanya diawali dengan membacakan buku sesuai
tema, lalu kemudian mulai ke kegiatan yang terkait dengan buku itu entah dengan
prakarya atau bermain peran. Ini sih Malika sama Safir banget. Secara mereka
cerewet tapi masih harus belajar menyimak dengan baik. Jadi di kelas ini bukan
mendorong anak bisa membaca, melainkan suka membaca, bisa memahami, bisa
menceritakan kembali dan akhirnya mengemukakan pendapat. Menurut sumber yang
pernah saya baca, kegiatan membacakan cerita di rumah itu lebih terkait dengan
kemampuan berhitung alih-alih kemampuan baca dan tulis. Saya teringat dengan
penjelasan salah seorang pengelola kursus calistung bahwa ada anak usia SD yang
mengerjakan PR di tempat itu dikarenakan mereka tidak paham dengan soal
matematika. Jadi bisa baca belum tentu bisa paham loh ya. Saya pikir, oh pantas
kok Malika senang banget hitung-hitungan padahal jarang saya stimulasi ke arah
itu. Dan itu membawa saya ke penjelasan selanjutnya.
Logic & Math. Naah, di sini saya merasa pas, ketika
matematika disandingkan dengan logika. Pada pertemuan orangtua murid dengan
para pengajar sempat dijelaskan step by step kurikulumnya. Ada proses yang
panjang sebelum akhirnya mencapai angka dan penjumlahan. Seperti konsep ruang,
volume, waktu, arah, dan kawan-kawan. Tahukah Anda bahwa anak-anak itu pada
usia dini itu penglihatannya seperti dunia imajinasi, kalau di film kartun tuh
yang berbagai objek itu masih ga karu-karuan bentuknya. Rumah miring, jalan
bergelombang, dan lain sebagainya. Masih bercampur-campur antara nyata dan
tidak nyata. Makanya konsep seperti ini harus diajarkan. Terdengar sepele? Well,
saya sangat suka memanfaatkannya untuk membuat anak mandiri terutama ketika
saya hanya mampu tiduran di kasur. Saya jadi tidak perlu mengambilkan segala
sesuatu untuk anak, dengan instruksi dari saya mereka bisa mengambil sendiri
sesuatu yang mereka butuhkan. Walau masih ada yang belum bisa, yaitu seni
mencari. Mencari barang tersembunyi bukan Cuma sulit dilakukan anak-anak tapi
juga orang dewasa. Ayahnya anak-anak contohnya hehehehe ... Singkat kata
belajar pemetaan. Setelah bisa memetakan sesuatu barulah ketemu matematika.
Jadi ingat waktu SMA ga sih ketika belajar logika, saya sempat bingung, ini
bidang apaan sih kok masuk ke matematika. Rupanya itu sangat berguna dalam
memetakan sebuah masalah. Mudah-mudahan sih anak-anak jadi terstimulasi
logikanya jadi ga sebentar-sebentar kebawa emosi.
Itulah penjelasan di antaranya, nanti saya kepanjangan
nulisnya.
Kadang saya merasa lucu, ketika di tempat yang bangga dengan
kurikulum mencetak anak yang bisa calistung di usia dini, saya sebal. Ketika ke
tempat yang dengan entengnya bilang tempat edukasi yang fun alias banyak
mainnya, saya agak error. Harusnya kan saya klop banget dengan metode itu.
Namun, rupanya saya masih terpengaruh dengan apa kata dunia. Bagaimana saya
menjelaskan pada orangtua saya terkait di manakah anak-anak mengemban ilmu? Jangankan
orangtua, ketika saya memutuskan menunda TK Malika, suami menganggapnya sebagai
penghematan uang pendidikan padahal kegiatan di rumah kan ga Cuma main.
Mainannya pun dipilih. Outingnya dijadwalkan. Pakai duit semua itu hehehe.
Toh, akhirnya pada Februari si ayah setuju memasukkan
anak-anak ke Gen Cerdik. Kalau anak-anak mah semangat banget ke sana, karena
kami bilangnya Kelas Bermain. Program yang diambil adalah spatial, literacy,
english club, fun science, dan logic & math. Dalam satu sesi ada dua
program masing-masing satu jam. Jadi setiap hari anak-anak ngendon di Gen
Cerdik selama dua jam. Saya yang awalnya membatin akhirnya mau tak mau harus
menentukan pilihan agar tidak galau. Sudah jelas bahwa ini sejalan dengan
konsep yang hendak saya jalankan di rumah, yaitu menambah pengalaman sekaligus
wawasan. Namun, kondisi hamil yang suka semaput sendiri ini membuat saya harus
merelakan mencari support system lain yang mendukung visi misi saya. Untuk
Malika, visi misi saya adalah menyelamatkan hubungan ibu dan anak. Saya yang
jadi (lebih) mudah senewen ini merasa bahwa semangat Malika yang sedang
kembang-kembangnya harus diselamatkan, biar saya ada waktu untuk tenang dan
kemudian bisa menyokong segala kegiatan
dia di Gen Cerdik. Sedangkan untuk Safir, yang pertama adalah membentuk
lingkungan yang permanen sehingga dia juga punya teman permanen. Anak-anak
memang main di taman, tapi karena jadwalnya berubah-ubah, ya temannya
ganti-ganti. Kedua, mandiri. Biar dia ga ngelendotin kakaknya terus. Kakak ga
ada dicariiin, kakak ada jadi berantem. Bah. Misi ke dua ini masih bertahap
dilakukannya, targetnya ya ketika Malika masuk TK di awal ajaran baru nanti. Sekarang
baru satu program saja yang dilakoni Safir sendirian.
Namun, bukan berarti tempat ini tidak memiliki kekurangan.
Ketika minat warga Kalibata City meningkat terhadap Gen Cerdik, maka mulailah
terlihat kekurangannya. Misal, kurang ruangan. Gen Cerdik memang hanya terdiri
dari satu ruangan luas. Sehingga hanya bisa menampung satu program dalam satu
waktu. Tapi karena orangtua pun dibebaskan memilih program dan harinya maka
terjadilah penumpukan di beberapa program di waktu tertentu. 15 anak dalam satu
ruangan ituuuu riuh banget loh, walau tenaga fasilitatornya sedang
perlahan-lahan ditambah. Beberapa fasilitator baru pun ada yang masih kurang
sreg dirasa oleh para orangtua. Yeah, it’s a process.
Ide menambah ruang sounds like a great idea, tapi itu
menimbulkan biaya baru bagi orangtua. Dan lagi mungkin juga secara
hitung-hitungan belum sampai level mendesak menambah ruangan baru karena di
program lain malah cenderung sepi alias di bawah 8 orang. Again, ini proses semoga ketemu jalan keluar
lain.
Oleh karena terjadi pertambahan murid dan fasilitator, maka
fasilitator senior pun mulai terlihat kewalahan. Laporan siswa yang awalnya
dijanjikan tiap bulan, belum saya dapatkan. Setidaknya untuk saya. Jadi saya
lebih memilih konsultasi langsung ke fasilitator anak-anak sebelum menentukan
apakah akan meneruskan, menghentikan, atau menambah sebuah program di bulan
baru atau tidak. Saya memang lebih senang bicara langsung karena lebih real
time jadi saya bisa langsung menyokong pertambahan wawasan anak-anak di rumah.
Bagusnya tim Gen Cerdik ini terbuka dengan segala masukan.
Grup whatsapp orangtua siswanya juga aktif karena kerap di-share tentang
parenting dan kecerdasan anak. Pada bulan pertama Malika dan Safir masuk Gen
Cerdik lucunya dua kali pula mereka disyuting stasiun televisi. Haiyah. Tapi
bukan karena disyuting loh makanya ditulis di sini.
Info lebih lengkap silahkan follow twitternya di @gencerdik
Atau datang langsung ke Gen Cerdik yang terletak di kawasan
KCS Walk tower Sakura Kalibata City.
Sabtu, 04 April 2015
Fasilitas Lain-lain RSIA Idaman
Menunggu SPOG berjam-jam itu bikin mau nulis seandainya di RSIA itu ada fasilitas-fasilitas berikut:
1. Salon dan Spa
Pegal duduk di ruang tunggu membawa khayalan ke salah satu ruang salon dan spa. Nunggu sambil dikrimbat kayanya enak apalagi sudah tahu nomor antriannya masih panjang, dokter baru datang. Buat bumil dengan dua anak kan kesempatan nyalon jarang bangget. Nunggu sambil menikmati pijatan yang menenangkan atau pijat payudara biar ASI lancar.
2. Tempat Bermain Anak
Suka kasihan lihat anak-anak yang terpaksa ikut menunggui orangtuanya ke SPOG. Ciyee, curhat? Ga, khusus anak-anak saya, saya kasihan sama bumil-bumil yang lalu lalang, anaknya suka berlarian sih.
Mungkin kelihatannya ga penting ya, karena kalo antrian ke dokter anak kan berarti anaknya sakit nanti malah mainannya jadi penyaluran penularan. Well, tapi kalau diem juga bakal nular. Makanya malas ke dokter kalau keluhan bapil doang. Nyari-nyari penyakit.
Tapi ya satu meja kecil dengan empat bangku dan seember lego itu sebenarnya dah cukup. Lumayanlah buat anak tenang beberapa menit. Ga harus mainan yang agresif macam perosotan.
3. Bacaan
Bacaan yang disediakan untuk segala kalangan. Ruang tunggu yang ada kebanyakan ya ruang tunggu membosankan gitu. Isinya majalah out of date. Masih mending ada majalah or koran, banyak pula yang ga ada.
Apalagi buat anak-anak. At least kaya rice bowl gitu loh, dikasih selembar kertas dan sepotong krayon buat mewarnai.
4. Kantin yang Cihuy
Kenapa ya kantin di RSIA itu jarang yang enak, bikin saya kepengen jadi suppliernya aja (sok enak masakannya). Ada yang menunya snack doang, ada yang mahal banget. Yang nunggu kan ada orang normal juga, mbok ya ga usah berat di penampilan gitu loh. Yang penting bersih, banyak tempat duduk, dan ga gerah, pakai model warteg juga ga papa. Malah enak ada menu anak-anak. Daripada dijajanin eskrim melulu.
5. Taman
Sayang atas nama optimalisasi ruang gedung, taman semakin belakangan dalam prioritas. Taman itu bagus untuk mengurai rasa jenuh, daripada terperangkap dalam gedung berlampu remang-remang. Belum lagi bisa buat anak sekadar berlarian tanpa mengganggu yang lain. Asal ga ada nyamuknya aja.
6. Musik Latar
Saya ga suka dengan fasilitas televisi di RS karena biasanya terpaksa nonton tayangan
yang ga kita suka. Maklum rada ketat seleksinya.
Saya lebih memilih musik latar yang menenangkan, kaya di spa-spa gitu. Jadi ga mumet pikiran. Ah inget spa lagi.
7. Warnet or Pojok Wifi
Emang siy di mana-mana orang dah pada nenteng smartphone, tapi buat orang kaya saya perlu banget punya meja dan wifi buat ngejar deadline editan or tulisan dan terutama punya stasiun colokan. Hahaha emangnya bandara.
Yah segitu aja dulu. Masih mengantri di ruang tunggu. Baru nomor belasan dan saya nomor 39. OMG.
1. Salon dan Spa
Pegal duduk di ruang tunggu membawa khayalan ke salah satu ruang salon dan spa. Nunggu sambil dikrimbat kayanya enak apalagi sudah tahu nomor antriannya masih panjang, dokter baru datang. Buat bumil dengan dua anak kan kesempatan nyalon jarang bangget. Nunggu sambil menikmati pijatan yang menenangkan atau pijat payudara biar ASI lancar.
2. Tempat Bermain Anak
Suka kasihan lihat anak-anak yang terpaksa ikut menunggui orangtuanya ke SPOG. Ciyee, curhat? Ga, khusus anak-anak saya, saya kasihan sama bumil-bumil yang lalu lalang, anaknya suka berlarian sih.
Mungkin kelihatannya ga penting ya, karena kalo antrian ke dokter anak kan berarti anaknya sakit nanti malah mainannya jadi penyaluran penularan. Well, tapi kalau diem juga bakal nular. Makanya malas ke dokter kalau keluhan bapil doang. Nyari-nyari penyakit.
Tapi ya satu meja kecil dengan empat bangku dan seember lego itu sebenarnya dah cukup. Lumayanlah buat anak tenang beberapa menit. Ga harus mainan yang agresif macam perosotan.
3. Bacaan
Bacaan yang disediakan untuk segala kalangan. Ruang tunggu yang ada kebanyakan ya ruang tunggu membosankan gitu. Isinya majalah out of date. Masih mending ada majalah or koran, banyak pula yang ga ada.
Apalagi buat anak-anak. At least kaya rice bowl gitu loh, dikasih selembar kertas dan sepotong krayon buat mewarnai.
4. Kantin yang Cihuy
Kenapa ya kantin di RSIA itu jarang yang enak, bikin saya kepengen jadi suppliernya aja (sok enak masakannya). Ada yang menunya snack doang, ada yang mahal banget. Yang nunggu kan ada orang normal juga, mbok ya ga usah berat di penampilan gitu loh. Yang penting bersih, banyak tempat duduk, dan ga gerah, pakai model warteg juga ga papa. Malah enak ada menu anak-anak. Daripada dijajanin eskrim melulu.
5. Taman
Sayang atas nama optimalisasi ruang gedung, taman semakin belakangan dalam prioritas. Taman itu bagus untuk mengurai rasa jenuh, daripada terperangkap dalam gedung berlampu remang-remang. Belum lagi bisa buat anak sekadar berlarian tanpa mengganggu yang lain. Asal ga ada nyamuknya aja.
6. Musik Latar
Saya ga suka dengan fasilitas televisi di RS karena biasanya terpaksa nonton tayangan
yang ga kita suka. Maklum rada ketat seleksinya.
Saya lebih memilih musik latar yang menenangkan, kaya di spa-spa gitu. Jadi ga mumet pikiran. Ah inget spa lagi.
7. Warnet or Pojok Wifi
Emang siy di mana-mana orang dah pada nenteng smartphone, tapi buat orang kaya saya perlu banget punya meja dan wifi buat ngejar deadline editan or tulisan dan terutama punya stasiun colokan. Hahaha emangnya bandara.
Yah segitu aja dulu. Masih mengantri di ruang tunggu. Baru nomor belasan dan saya nomor 39. OMG.
Jumat, 03 April 2015
JJS: Ulang Tahun di Domino’s Pizza
Tanggal 21 Maret lalu, Malika berulangtahun yang ke-5. Usia
yang dijanjikan sendiri oleh ayahnya bahwa setidaknya sekali dalam hidup si
anak mengalami yang namanya perayaan. Saya sih sudah persiapan saja, tapi
berhubung sedang hamil besar malah jadi ga terlalu ambisius. Dalam bayangan
saya adalah apa yang harus saya persiapkan agar anak-anak yang menjadi undangan
ulang tahun Malika dapat terhibur. Saya harus menyediakan aktivitas apa. Saya
juga ga mau kesannya bikin perayaan biar dapat kado-walau dulu waktu kecil
memang itu modus saya, tapi ga pernah kesampaian. Maklum saya sebenarnya tidak
suka dengan konsep di mana tiup lilin dan potong kue jadi bintang utamanya,
kayanya kurang seru. Buat saya itu hanya alasan agar bisa berkumpul bersama
teman-teman.
Eh tumben si ayah punya ide yang sejalan sama pikiran saya.
Dia yang usulkan bagaimana kalau ulang tahun Malika sekalian aktivitas membuat
pizza di Domino’s. Saya sudah lama melihat poster tersebut, hanya saja dari
fotonya saya pikir untuk usia SD, bocah-bocah macam Malika belum boleh. Setelah
ditanyakan, rupanya di atas 3 tahun sudah boleh ikut dengan maksimal peserta 20
orang. Biayanya sekitar Rp40 ribuan sudah termasuk pajak. Cucok dong, ketika di
tempat lain justru minimal adalah 20 orang, ini malah maksimal. Kebetulan tempatnya
di Kalibata City juga kecil.
Program ini sebenarnya lebih sering digunakan sebagai tujuan
outing sekolah-sekolah ketimbang sebagai tempat perayaan ulang tahun. Makanya
ga ada embel-embel khusus ulangtahun.
Sebenarnya teman Malika banyak, kebetulan sudah beberapa
kali sekolah, jadi tamunya ya yang jarang-jarang ketemu saja. Semisal eks
teman-teman sekelasnya di Twinkers, anaknya teman-teman saya (itu juga ga semua)
dan saudara sepupu. Itu pun tidak semua saudara, karena saya perhitungkan
terkait jarak dan waktu acara dimulai.
Kami sengaja pilih pagi sebelum Domino buka secara resmi,
yaitu jam 9 pagi. Terkait tempat dan biar tidak bercampur dengan pelanggan
lain. Kalau teman-temannya Malika kan tetangga juga, jadi bisalah datang
pagi-pagi. Maklum, sayang kalau sudah didaftarkan tapi ternyat tidak jadi.
Sayang pengalamannya. Yah, kalau sudah sering ke Kidzania mungkin ga masalah
kali yaaa ...
Akhirnya fix di angka 18 orang. Saya pikir sudahlah ga perlu
juga tambah banyak-banyak. Nanti
Malika bingung juga ini yang datang siapa
saja.
Dan alhamdulillah acara berjalan cukup lancar. Walau si Amy
datang belakangan karena masih sibuk sama kue hingga menit-menit terakhir dan
sapu-sapu rumah dulu. Walau ada juga yang ga bisa datang. visi misi
tersampaikanlah. Cuma saya jadi bingung, nanti Safir gimana ya?
Acara dimulai pukul 09.30, dengan Amy yang belum datang tapi
kuenya sudah, Kue dino permintaan Malika. Ga bikin yang aneh-aneh, ga ada
tenaganya. Jadi prosesi dululah. Tadinya sudah bingung siapa yang mau buka
acara, eh langsung diambil alih oleh tim Dominonya rupanya. Setelah itu segera
dipasangkan apron dan topi, di sini anak-anak mulai semangat. Setelah mendengarkan
tentang sejarah dan menu di Domino’s, anak-anak dibariskan lagi untuk cuci
tangan lalu kemudian masuk dapur. Wajarlah yang maksimal 20 orang, dapurnya
kecil ajah. Kalau berdasarkan cerita Malika sih bisa lihat kulkas yang gede dan
dingin banget, tapi baunya aneh.
The fun part adalah menaruh topping pizza. Itu dilakukan
setelah dari dapur. Setiap anak diberi dough pizza yang sudah diolesi tomat dan
beberapa mangkuk pizza. Jadi deh kita bikin berantakan. Setelah itu dipanggang
di oven. Gara-gara lihat makanan, jadi keburu laper dah Malika hahaha .. .Ga
mau makan sih tadi pagi. Safir yang overexcited sejak pagi, malah kalem-kalem
gitu di acara. Halah.
Pizza mini datang begitu juga pizza besar bagi para orangtua
yang juga laper nungguinnya haha .. Pizza besar tambahan yang sengaja kami
pesan memang ga bisa keluarin lebih cepat karena kan ada kunjungan anak-anak ke
dapur jadi semua oven mati. Oleh karena ukuran botol minuman yang dijual rada
ga friendly, saya jadi menyediakan gelas-gelas kecil lagi, itu pun yang beliin
teman saya hahaha. Pada ga tega lihat bumil jalan-jalan. (thank you, xoxo). Ga Cuma
dapat pizza tapi juga dapat sebotol greentea, sertifikat, apron dan topi boleh dibawa pulang.
Suvenirnya kurang cihuy menurutku, tempat pinsil dan penggaris, tahu gitu saya
tambah lagi hehehe .... yah maap deh teman-teman, next time yaaa ....
Eh belakangan saya baru tahu, karena saya tanya pada teman
apakah anaknya sakit karena sepanjang acara dia terlihat pucat. Rupanya dia
eneg liat pizza. Oh my God. Si Hery sih juga eneg liat roti berdaging tapi ga
masalah sama pizza jadi saya pikir ini pilihan yang aman. Aduuuh ... maafkeun
ya, Naaak ...
Nah sekian kunjungan ke tempat pizza, next? Ga tahu deh. Mari
kita cari ide seru lainnya.
Kamis, 02 April 2015
KAMYStory: Insting Bersarang
Konon pada masa kehamilan ada sebuah insting yang muncul, yaitu insting bersarang alias nesting. Insting dimiliki pula oleh hewan. Saya jadi ingat kucing-kucing hamil yang suka berkeliaran di berbagai sudut rumah masa kecil saya, mencari spot terbaik untuk melahirkan. Pada saat-saat seperti itu, lemari baju adalah yang pertama yang harus diamankan. Jangan sampai lupa dikunci hehehe ...
Insting ini tidak pernah
muncul di kehamilan pertama dan kedua, memang apa bedanya? Satu yang
beda, saya di rumah sendiri. Sebelumnya kan di rumah orangtua, jadi yah secara
tertulis bukan sebenar-benarnya sarang bagi saya.
Nah, di semester awal saya belum merasakan insting ini. Iya,
rumah berantakan karena saya secara fisik tidak sanggup ngapa-ngapain. Semester
kedua masih belum bisa ngapa-ngapain tapi saya mulai frustasi lihat rumah.
Sampah dan cucian piring yang teronggok sampai pagi hingga mengundang kecoak
kecil-kecil. Setrikaan menggunung, beneran kaya gunung karena nyaris mencapai
atap. Serius. Saya pikir, ok i have enough. Sejak awal semester saya sudah
mengiba pada suami agar dia mau mencuci piring karena saya tidak tahan baunya.
Lumayan lah. Walau sekarang sudah jarang dia lakukan karena sudah keduluan sama
saya. Bosen kali dia hehehe.
Lalu saya pun mengajak bicara salah satu bibi teman Malika
yang kebetulan satu tower. Saya tahu setiap Sabtu dan Minggu dia libur tapi
masih tetap di Kalibata City. Jadi saya tawarkan untuk ke unit saya di salah
satu hari liburnya. Jobdesknya? Menyetrika yang utama, lalu menyapu dan
mengepel. Bagi saya yang anti ART, ini langkah besar, bukan buat kemudian
menjadi terbiasa dengan ART loh ya. Saya harus realistis sama kondisi saya dan
kebersihan rumah. Ga perlu bersih-bersih amat, tapi kalau tidak ada yang
menyapu dan mengepel setidaknya seminggu sekali, lantai rumah tuh bisa licin
karena minyak dan mengundang serangga-serangga lain. Itu yang bikin sebal.
PR selanjutnya adalah tata ruang. Oleh karena akan ada
makhluk baru penghuni unit kami, maka saya harus memikir ulang tentang
susunannya. Maklum, tiap orang punya minimal ruang yang harus dimiliki dan itu
perlu trik untuk mengaturnya di unit kami yang ‘gede’ banget ini. Dan karena
saya pribadi yang berantakan, pe er ini jelas bukan pe er yang mudah. Lemari
baju, kitchen set, dan rak yang ga seberapa ini menjadi tantangan bagi saya
setiap minggunya. Ketika berhadapan dengan lemari baju, saya menghubungi teman
sekaligus tetangga yang sudah diketahui tingkat neat freaknya. Via whatsapp
saya foto lemari baju dan komentarnya, “kenapa ada panci di lemari baju, Amy?”
Wakaka malu deh. Jadi poin pertama dari membereskan adalah,
mulai menaruh segala sesuatu di tempat yang sesuai dengan visi misinya. Misal,
lemari baju ya buat tempat baju. Rak buku ya buat buku, bukan buat stok susu
literan. Saya keluarkan dulu deh yang tidak berhubungan dengan tempatnya lalu
menyusun hanya yang memang pantas dimasukkan ke sana.
Nah kemudian poin kedua adalah klasifikasi. Misal, mana baju
kasual mana baju formal. Mana botol bumbu, mana kotak kontainer makanan, mana
panci. Mana buku bacaan, mana buku aktivitas. Semua ini menghabiskan waktu
hingga berbulan-bulan. Merapikan satu baris rak saja bisa satu hari sendiri dan
kemudian ngos-ngosan hingga beberapa hari mendatang. Hasilnya, lumayaaan.
Poin ketiga, mempertahankan. Nah ini yang sulit hahaha. Apalagi
setelah itu baju-baju bayi mulai eksis dan semua mulai terasa nyata. Belum
lagi, kami kan masih beraktivitas sebagai manusia hidup, jadi yaaah, gitu deh.
Sekarang saya pusing lagi, bagaimana mengaturnya hehehehe .... cuma satu efek sampingnya, saya jadi tambah galak. Hadeeeuh ...
Moral of the story? Pindah rumah aja yuuuk :D
KAMYStory: Early Baby Blues
Hamil pertama dan kedua, yang namanya baby blues baru hinggap
di minggu pertama pascamelahirkan. Eh, dilalah, di hamil ketiga, gejala baby
blues itu datang lebih awal. Lebih tepatnya ketika usia kandungan menuju 8
bulan.
Awalnya saya bingung sendiri, kenapa ketika saya lagi galak
sama anak-anak air mata juga turut berjatuhan. Lalu saya pikir dengan logika
sok-sok an Fisika. Oleh karena ketika galak, perut menegang sehingga juga
menekan kantung air mata. Well, agak jauh ya rutenya hehehe ... Kalau ada
ketidaksepahaman sama suami lalu jadi ngomel-ngomel, langsung banjir deh
matanya. Saya ingat-ingat lagi, kok kaya lagi baby blues ya? Emang ada ya baby
blues sebelum melahirkan? Semacam early baby blues gitu?
Rupanya, menurut www.beyondblue.au , baby blues adalah
gejala depresi yang bisa dialami selama masa kehamilan dan pada awal menjadi
orangtua. Oalah, ternyata memang ada yang terjadi selama hamil. Obatnya apa, ya?
Belajar dari kehamilan satu dan dua, ga pakai obat apa-apa sih
selain jalanin aja. Menjalani sambil terbingung-bingung, ternyata saya depresi
juga ya, kirain sayanya saja yang aneh.
Sementara ini, yang lagi di depan mata sih adalah betapa banyaknya hal
yang harus saya kerjakan selagi menunggu kelahiran (yang in sya Allah sehat
walafiat dan lancar semua) di luar pekerjaan rumah tangga. Mulai buat to do
list lagi, berharap segera mencentrang satu per satu. Keep myself busy. As if I
have nothing else to do, hehehe .... Saya kaget juga ketika membuat to do list,
ternyata tugasnya sebanyak ini? Dengan berbagai subjek pula. Jangan-jangan saya
depresi karena mengabaikan tugas-tugas itu dan larut dalam lamunan-lamunan
emosional.
Baiklah kalau begitu, sepertinya saya juga harus mulai
pemanasan, pemanasan untuk rempong ketika mengurus tiga anak, biar ga
kebawa-bawa rasa ingin bobonya .... Semangat!!
Kamis, 05 Maret 2015
KAMYStory: ‘Kadocholic’
Banyak dari kita yang memiliki hobi belanja, baik wanita
maupun pria. Variannya pun berbeda-beda, khusus wanita biasanya terkait dengan
fashion, entah itu bagcholic, shoecholic atau yang bebas gender seperti
bookcholic. Ada yang bisa mengatur ke’cholic’annya itu, ada yang tidak. Nah, saya
termasuk yang nyaris tidak bisa mengatur (agak denial sebenarnya pernyataan ini
hehehe). Tapi sub varian saya agak berbeda, karena tidak bisa diukur dari
tingkat kebutuhannya, yaitu ‘kadocholic’. Okelah ini pemerkosaan kata memang,
tapi ga enak kalau bilang ‘presentcholic’.
Persisnya ga pernah tahu siy, tapi mungkin sejak kuliah
ketika saya dapat uang jajan lebih. Saya menemukan hal yang sangat menyenangkan
ketika bisa membelikan kado untuk teman-teman saya. Well, sejak SMP sebenarnya
sering diajak teman-teman cowo untuk memilihkan kado buat pacar mereka. Mulai
dari pacar yang memang teman sendiri, hingga pacar yang ga pernah dengar
profilnya sama sekali kecuali di hari itu. Biasanya pas valentine tuh. Ah, saya
lupa, waktu SMP kan juga nyari kado buat pacar (halah) sedangkansejak SMA sibuk
cari kado buat kecengan yang ga ada satupun jadi suami hihihiy. .. Emang ya, lawan jenis bikin kita konsumtif.
Saya sendiri termasuk jarang kasih kado ke teman pada saat
itu, maklum tak punya duit. Biasanya saya kasih kartu buatan sendiri-dan dari
bahan daur ulang. Rasanya dulu memang ingin memberkan yang sesuai profilnya.
Apalagi kalau ketemu teman dengan kesukaan spesifik, senang banget nyari
kadonya. Makanya pas kerja saya jadi royal banget.
Nah karena itulah saya jadi tidak bisa ukur berapa
sebenarnya bujet untuk kado. Tidak bisa ukur kebutuhannya, karena rasanya ingin
kasih ke semua orang setiap hari. Berasa sinterklas ya gue. Apalagi begitu
sudah punya anak dan masuk sekolah, jadi ada kebutuhan untuk menyetok kado dari
berbagai usia, jenis, dan warna hahaha.... Soalnya gimana ya? Saya kan jarang
bawa uang tunai, jadi kalau tiba-tiba ketemu teman atau saudara yang jarang bersua
terus bawa anak rasanya ingin kasih buah tangan atau tetiba anak pulang dengan
goodie bag, hiya ada yang ultah, masa kita ga ngadoin balik? Yah, kalo kepepet
kasih uang. Cuma berasa nenek-nenek gue, hehehe ....
Sasarannya pun suka tidak pandang bulu. Ga harus teman
dekat, teman dekat itu membantu saya dalam pengelompokan profil, sukanya apa,
tapi ada juga yang ga teman dekat tapi terkenal dengan kesukaan spesifiknya, ya
biasanya saya kasih juga. Momennya juga ga harus selalu ultah karena terkadang
ketemu barangnya ga pas jelang ultah. Seringnya aji mumpung, mumpung ada
hepengnya. Makanya sering kejadian tagihan kartu kredit gede tapi barang yang
ada di rumah ya itu-itu aja, ga ada bekasnya selain plastik pembungkus hahaha
... maafkeeun suami, kan bayar sendiri kok tagihannya.
Saya malah pada dasarnya tidak suka kasih kado uang, kok
kaya ga kreatif. Kaya ga meluangkan waktu. Memang, ketika menerima kado saya
lebih suka mendengar cerita di balik itu ketimbang kado itu sendiri. Semakin susah
payah, semakin saya apresiasi. Yang ga bersusah payah tapi tepat pun juga saya
apresiasi. Pokoknya keliatan deh mana yang asal-asalan. Tapi ga papa, sudah ada
niat baik ... saya apresiasi juga. Toh, saya juga ga berharap apresiasi juga
sih, kan pasti ga selalu kado saya pas buat keinginan para ‘korban’. Biasanya
terlihat dari rautnya sih dan kalau saya tidak puas , jadi penasaran untuk cari
kado yang lebih baik.
Yang lucu adalah ketika mengaku diri agak terobsesi
membelikan kado, saya malah merasa belum pernah memberikan kado yang tepat
gunjreng ke orang-orang terdekat saya. Semisal orang tua, my siblings, even
suami. Kasih yang ecek-ecek kayanya ga maknyus. Level mereka dan kedekatan saya
harusnya yang kasih kado semacam tiket inggris-jakarta pp, tur mudik
padang-aceh bareng cucu dan menantu, nonton n masuk langsung ke stadion
Anfield, bawa ketemu Michael Jordan, atau sekadar menyusuri jalan legendaris
Sherlock Holmes. Banyak ya bo !
Yah sudahlah, maksud hati memeluk gunung apa daya tangan
belum sampai. Hal semacam inilah yang menjadi booster saya ketika memerlakukan
uang. Emang ga selalu punya waktu untuk cari uang sih, uang yang ada saja habis
terus hahahaha ... Konon, jangan tunggu punya uang banyak atau tunggu hari
ultahnya tiba baru dikasih kado, whenever you like whenever you have something,
it will always taste better when you share it. Tapi ingat ya, jangan kebablasan
... you can’t buy friendship anyway.
Jadi, beli kado apa bulan ini? (dipelototin suami)
Langganan:
Postingan (Atom)



