Sabtu, 23 Agustus 2014

Kebun Raya Bogor: Liburan para Bunda dan Anak-anaknya

Terkadang berteman itu terjalin ketika kedua anak kita saling berkawan di sekolah. Untuk kasus saya, kebetulan pula teman anak saya itu juga tetangga. Yah, beda tower di komplek Kalibata City ini. Dan ketika liburan sekolah (playgroup) datang, maka itu artinya PR tambahan bagi pemilik dua anak balita. Termasuk kami berdua, saya dan Farah (atau biasa saya panggil Bunda). Oleh karena itu, kami mulai merancang jadwal outing bersama. Ke tempat yang jauh dari Kalibata. Bertema piknik. Dan terpilih satu tempat. Kebun Raya Bogor.

Rasanya sudah lebih dari satu dasawarsa saya tidak pernah masuk Kebun Raya Bogor. Paling gres ya waktu SMU (sekitar berapa belas tahun yang lalu ya itu ^^’), itu pun ga greget karena terpaksa bete lihat yang bawa pacar. Dan memang Kebun Raya Bogor seperti menjadi pilihan bagi tujuan wisata keluarga, tur studi anak-anak SD, dan lokasi pre-wed. Lokasi pacaran? Huehehe ... mitosnya kan bakal putus.

Sabtu menjadi hari pilihan karena memutuskan akan menggunakan mobil Bunda dan tentu disopiri sang suami. Kami sekeluarga sih nebeng, paket hemat. Sengaja dipilih hari Sabtu, karena hari Minggu itu mobil dilarang masuk. Repot ya kalau bawa anak kecil jalan jauh. Mereka main sih kuat lama-lama, tapi kalau disuruh jalan kaki terlalu jauh ya jiper juga. Belum lagi kalau tiba-tiba hujan.

Pagi itu ambil rapor dulu baru berangkat. Namun, karena kedua anak saya itu lama moodnya untuk sarapan akhirnya ga makan apa-apa deh. Hasilnya? Safir, si kecil, muntah-muntah saat mengemil makanan kecil di mobil. Baju cadangan habis, terpaksa pakai baju kakaknya. Dilalah, saya tidak bawa baju biseksual. Jadilah Safir menggunakan kaos bertuliskan, “Sorry, I Only Date Superhero”. Pink pula. Hadeuh. Safir memang sering dibilang anak perempuan sih, tapi kaaan ... Saya pun berpesan pada ayahnya untuk memotret sedemikian hingga agar tulisannya tidak terlihat. Biarin deh dilihat orang sekitar dan salah kaprah, asal jangan sampai terdokumentasi. Bisa jadi dosa seumur hidup.

Begitu keluar tol Bogor barulah kami ketemu macet. Dan macet yang teramat lama sehingga perut pun sudah keroncongan. Apalagi Bunda yang terus menerus ditagih tangki susu oleh si bayi, Fia. Malika, anak pertama saya, sudah mulai mual dan duduk dengan posisi ga jelas sama ayahnya di depan. Memang melanggar peraturan, toh mobilnya ga bergerak ini.

Akhirnya sampai di lokasi. Tadinya mau ke taman air, tapi akhirnya kami memutuskan untuk mengambil posisi di jantung Kebun Raya Bogor sejak dulu kala, lokasi dengan tanah lapang paling luas. Setibanya di sana, anak-anak seolah lupa dengan segala mual, lapar, dan lain sebagainya. Nasi hanya ditelan beberapa suap sudah jumpalitan ke sana ke mari. Malika lapar lihat pohon-pohon besar, dia ingin memanjatnya. Akhirnya saya tempatkan dia di salah satu cabang pohon dan dia berperan sebagai Bageera si macan kumbang di serial Jungle Book. 


Bagi kami, para ibu, ini saatnya sedikit ‘me time’. Anak-anak sibuk berlarian ke sana kemari, kami cari posisi untuk difoto. Iyalah, dengan lanskap sebagus dan sehijau ini masa sih kita ga bisa foto-foto? Masa sih Cuma anak-anak yang difoto? Lagipula anak-anak itu ga betah difoto terlalu sering, ya sudahlah, kebetulan. Inginnya foto pascawedding sama suami di salah satu bangku taman, tapi yah agak ga kesampean kalau yang itu. Para ayah kan jagain anak-anak. Kami juga bisa ngobrol sana situ tanpa kena intervensi dari anak-anak yang merasa kurang diperhatikan hehehe ....


Rencana kami ingin mengunjungi beberapa spot di Kebun Raya Bogor pun kami anulir karena yah namanya anak-anak ga mau terlalu banyak naik turun mobil. Mau ke museum zoologi juga ga jadi, karena sudah keburu laparrrr. Jangan biarkan emak-emak kelaparan.  Jadi, silahkan puas-puasin deh, bocah.

Setelah beberapa jam di sana (beneran!), sebelum pulang kami menyempatkan diri ke spot yang menghadap ke Istana Bogor. Sebenarnya hari itu Istana dibuka untuk umum tetapi jalan masuknya beda. Ya suds lah, foto-foto saja dulu dengan latar istana yang pernah dicoret-coret nenek Malika & Safir saat demonstrasi penggulingan Soekarno.

Lalu tujuan terakhir untuk anak-anak adalah ... memberi makan rusa. Kegiatan ini dilakukan di bagian luar Kebun Raya Bogor. Ini juga pause time buat Bunda, lumayan istirahat. Saya yang supervisi anak-anak.

Usai beli oleh-oleh, hujan pun turun. Alhamdulillah semua sudah selamat di mobil dan anak-anak tidur dengan lelap sampai tujuan.


Kapan-kapan jalan-jalan lagi yuuuk, Bunda .... 

Sabtu, 16 Agustus 2014

Hobiku Tak Lagi di Atas Kertas

Dalam suatu pertemuan, seorang pengajar memberi perintah, "bangun dan temukan orang yang telapak tangannya sama besar dengan Anda. Beri salam lalu katakan nama dan hobi Anda." PRIIIT.
Saya pun bangkit dan mulai mencari, "Halo, nama saya Melati dan hobi saya menulis."
"Halo, saya ****. Hobi saya jalan-jalan."
"Eh, saya juga suka jalan-jalan ... " mata lawan bicara saya berbinar "tapi ga pernah ..." lawan bicara saya pun kemudian terlihat seolah ketiban seember air mata.

"Gaji lo pasti gede ya, jalan-jalan ke luar negeri melulu." tukas saya suatu hari pada sahabat saya yang update statusnya selalu share foto di luar negeri. Dalam hati ingin menambahkan, kok gue ga pernah ditraktir sih?
"yah, elo, itu paket murah kali. Makanya sering-sering lihat situs AirAsia, suka ada promo. Ke Thailand bisa cuma dengan ratusan ribu."
Eh? Iya ya? Kok ga beda jauh sama harga tiket terbang domestik?

Saya memang bukan orang yang suka memantau harga tiket karena ga selalu terkoneksi internet. Lagi-lagi ini hanya alasan saya. Karena ketika saya akhirnya mem-follow twitter AirAsiaID, saya  disodorkan dengan berbagai tawaran menggiurkan. Aiiih ... Pantesan ajaaa ... Sekarang yang susah bukan cari tiket murah, tapi cari jadwal cuti =P


Mama saya pun turut kecipratan informasi ini. Maklum sejak tak lagi bisa menggunakan armada bus pilihannya menuju kampung kelahirannya di Lintau, Sumatera Barat, kondisi mama mirip seperti saya. Terkurung dalam stigma bahwa tiket pesawat itu mahal dan tiba-tiba bengong sendiri melihat adik-adiknya mondar-mandir Padang-Jakarta-Padang.

Bagi saya bisa mudik dengan harga promo AirAsia mah bukan sekadar penghematan, melainkan banyak hal yang tidak bisa diukur dengan uang. Pertama, tidak ketemu jalanan rusak khas lintas Sumatra. Kedua, ga was-was saat melewati perkebunan karet terutama saat menjelang magrib. Ketiga, saya tidak perlu membawa obat anti mual saat menghadapi rute penuh kelok dan konsisten ngebut. Penting banget itu. Apa enaknya berada dalam perjalanan yang ingatannya timbul tenggelam akibat efek mengantuk dari obat tersebut?

Ya, saya tidak pernah mabuk udara. Saya sangat menikmati terbang dengan segala turbulensinya. Merasakan keriuhan lalu lintas udara. Bergaul lebih dekat dengan awan dan alam mimpi. Tidak sabar untuk membawa anak-anak menikmati perjalanan dengan pesawat terbang untuk pertama kalinya. AirAsia yang akan jadi saksi bisunya =) Seperti seorang kakak (hanya beda 6 tahun dengan usia si sulung).

AirAsia sudah membuat sebuah kemewahan terasa kian wajib dengan harga murahnya. Kini, saya bisa patungan dengan beberapa teman untuk sebuah hadiah perkawinan seorang sahabat berupa tiket liburan ke negara tetangga. Sering terjadi, sebelum tiket gratis di tangan maka what so called continuously travelling tidak akan pernah terjadi. AirAsia menjadi pemikat sekaligus candu pun kemudian sahabat sejati saat hendak melakukan petualangan baru atau sekadar pulang.

Kini tidak ada lagi momen 'bokis' ketika SD terulang. Saat kita mengisi kolom favorit, misalnya makanan favorit, saya yakin banyak dari kita yang menuliskan berbagai jenis makanan aneh dengan selera internasional. "makanan favoritku, spageti, pizza dan burger." Ini yang lagi hits waktu saya duduk di bangku sekolah dasar. Halah, ketahuan jadulnya. Padahal sehari-hari makan semur ayam dan bayam, hehehe ... Gimana mau jadi favorit kalau hanya dimakan setahun sekali? 

Begitu pula dengan hobi. Dan bersyukur AirAsia telah menyadarkan saya bahwa jika mengaku hobi jalan-jalan ya harus sering jalan-jalan dong ^.^ Ada AirAsia ini. Ke mana-mana jadi lebih muraaah. Dan setelah sekian puluh tahun berlalu kini hobi saya tak lagi sekadar keterangan profil di atas kertas tetapi sudah mewujud menjadi cerita-cerita perjalanan dan petualangan yang mengiringinya.



Kamis, 14 Agustus 2014

Generasi Muda Bisa Apa? Apa Aja Bisa ^^


Bicara muda, rasanya ingin lihat KTP. Masih muda ga sih, gue? Baiklah, status menikah dan punya dua anak. Sounds, ibu-ibu to me ^^. Tapi kalau ukurannya umur Daniel Mananta? Ah, masih mudalah gue. Dan karena ‘memaksa’ diri masuk dalam kategori generasi muda, terus di akhir masa kemudaanmu ini (ngomong sendiri), lo bisa apa?

Banyak yang mengatakan bahwa generasi muda itu adalah generasi yang dinamis. Dinamis minatnya. Tidak tahan berada dalam satu perusahaan terlalu lama. Haus akan hal baru. Mirip dengan sifat gadget. Negatif? Bisa iya, bisa tidak. (lagi-lagi) seperti Daniel Mananta, dia adalah salah satu yang suka sekali eksplor hal baru. Dari agen MLM menjadi host televisi musik bertaraf internasional. Eh sekarang bisnis kaos pulak, desain bajaj buat hotel, tapi setia jadi pembawa acara di sebuah acara adu bakat menyanyi. Tentu saja, dia hanya bermain di taraf internasional dengan cita rasa Indonesia. Apa pun, saya rasa seharusnya banyak anggota generasi muda meniru cara kerja mantan pacar Agnes Monica ini. Berbicara Indonesia dalam bahasa internasional untuk melestarikan akar budaya Indonesia. Mungkin Daniel Mananta bukan contoh sempurna untuk hal ini, tapi saya yakin di luar sana past ada anak muda yang seperti itu. Kenapa itu bukan kamu? *nunjuk diri sendiri.

Generasi muda itu, dengan bakat bajing loncatnya seharusnya menjadi kelebihan dan misi. Misinya yaitu, ke mana pun dia melompat, semua yang dipijaknya akan sejahtera walau sudah ditinggal pergi. Bahasa anehnya, down to earth digitalization. Misalnya, bagaimana caranya mendigitalisasi batik tetapi hasilnya tidak hanya mampu menyejahterakan para pelaku batik tulis tapi juga memperbanyak populasi pekerjanya. Generasi muda itu bisa merancang masa depan sekaligus menghormati mereka yang pernah merancang masa depan di masa lalu. Generasi yang walau pandai melompat menuju cahaya tetapi tidak sungkan menyelam dalam kegelapan dengan energi yang sama besarnya untuk kembali berenang ke permukaan dan bersyukur atas semua keindahan. Jadi, merasa muda? Let’s do something good! Bigger and bigger.

 

#PatriotIsMe #Advan #damniloveindonesia

Selasa, 12 Agustus 2014

Robin Williams dan Inspirasi

Pagi ini saya terpaku pada update status salah satu teman saya yang menuliskan "RIP Robin Williams". Rasanya tak percaya. Lalu di tengah lambatnya internet pagi itu, samar-samar saya baca, "apparent suicide". Entah kenapa saya tidak terkejut. Rasanya hanya hal tragis yang mampu meredam lebar senyumnya yang membuat matanya kian menyipit, terlebih di usianya yang semakin lanjut.

Padahal beberapa bulan lalu, saya baru menuliskan review The Crazy Ones untuk serial komedi televisi yang dia produseri setelah sekian puluh tahun meninggalkan dunia televisi. Saya merasa kematiannya ada hubungannya dengan proyek terakhirnya. Saya bersabar menunggu aliran sinyal untuk mencari tahu tentang motif kematian Robin Williams. Ya, istrinya memang menekankan bahwa keluarga lebih mementingkan apa yang telah Robin Williams lakukan selama hidupnya. Toh, rupanya rekam jejak hidupnya menunjukkan soal depresi dan ketergantungan obat-obatan yang dialaminya. Saya teringat karakter Robins di The Crazy Ones adalah seorang ayah yang dulunya seorang kreator iklan genius tapi kemudian terlarut dalam kegeniusannya sehingga menenggelamkan dirinya sebagai seorang alkoholik dan pengkonsumsi obat-obatan gangguan syaraf. Yang kalau lupa makan obat, pasti kumat. Hal yang mengingatkan pada artis lokal yang sedang hits beritanya.

Mengingat The Crazy Ones adalah proyek pribadinya, saya bertanya pada diri sendiri, apakah dia tengah merefleksikan dirinya sendiri? Saya jadi sedih. Sedih pada para penderita depresi yang tak kunjung tahu bagaimana cara menyembuhkan dirinya sendiri. Padahal pekerjaannya selama puluhan tahun adalah menghibur dunia dengan karakternya yang kocak tapi juga bisa sangat serius menghanyutkan. Saya jadi merasa sebagai obyek penerima, tak mampu membalas kembali.


INSPIRASI
Jika bicara tentang inspirasi, banyak teman mengungkapkan inspirasi yang didapatkan dari Robin Williams dari berbagai filmnya. Banyak film bagus tersebutkan di sana. Tapi belum ada yang menyebutkan film favoritku dari Robin Williams. Mungkin akibat banyak kontak yang saya unfollow hehehe ....

Namun, walau tidak ada yang bertanya, saya akan bilang Patch Adams sebagai inspirasi saya. Ini ada hubungannya dengan cara saya menghadapi anak-anak. Tahu kan, ini cerita tentang seorang dokter yang melakukan pendekatan humanis pada pasiennya. Si dokter dengan hidung merah ala badut. Walau diproduksi pada 1998, saya merasa sulitnya melakukan yang dia lakukan adalah ketika saya berhadapan dengan para pasien anak penderita kanker. Waktu itu saya masih aktif di Kelompok Pencinta Bacaan Anak dan saat itu adalah giliran saya mendongeng bagi mereka. Dan saya yakin, walau Robin Williams tidak tengah berakting sebagai dokter pun, dia mampu melakukannya jauh lebih baik dari saya. Ya iyalah, saya demam panggung gitu.

Rasanya saya masih harus belajar banyak dari karakter Robin Williams. Yak, baiklah, mari cari filmnya :)

Setelah 10 Tahun Tsunami Aceh


Mata saya terpaku pada satu berita. Berita yang berbeda di antara tajuk-tajuk utama lainnya. Bahkan nyaris saya lewati demi mencari berita gosip terkini, sedang bosan dengan berita politik.

Berpisah 10 tahun, Seorang Anak Korban Tsunami Bertemu Kembali dengan Keluarganya.

Ada semacam gelembung-gelembung aneh bersahutan di dada saya. Hendak memunculkan sesuatu, sebuah kotak Pandora.

Saya bahagia membaca kabar itu, tetapi di lain sisi berita ini juga turut memberikan reaksi campur aduk bagi para orangtua korban tsunami lainnya. Harapan yang telah mereka akhirnya sepakati untuk dikubur. Mimpi para orangtua yang kehilangan anak (anak)nya pascatsunami.

Saya teringat kakak sepupu saya. Saat berita tsunami sampai di telinganya, dia segera memicu mobilnya dari Lho Sukon menuju Ulhe Lhee. Menuju tempat adik beserta suami dan anak-anaknya. Terlebih lagi, menuju tempat yang sama dengan tempat anak perempuannya dititipkan untuk sekolah. Saya tidak bisa membayangkan mana yang lebih dipikirkannya, adiknya atau anaknya. Semuanya adalah keluarga tercinta.

Tiba di Ulhee Lhee langit Aceh gelap gulita. Dengan berbekal senter, kakak sepupu saya itu meninggalkan suaminya yang terpukul, ditemani abangnya yang turut menitipkan anaknya di rumah adiknya, mencari ke lokasi. Melewati puluhan bahkan ratusan anak yang terlihat linglung. Menggenggam satu foto anaknya. Setibanya di sana, rumah sang adik sudah terkubur. Rumah yang tak jauh dari tepian pantai itu, rata dengan tanah. Si abang menemukan sebuah mayit wanita dalam keadaan tersangkut. Hanya kakinya yang terlihat. Dan dalam perihnya dia merasa itulah kaki sang adik. Dibersihkan kaki itu dan berdoa. Dia tengah melepaskan keterikatannya dan ikhlas.

Sementara kakak sepupu saya masih mencari. Ada sebutir asa mengganjal di relungnya ketika beberapa orang mengatakan melihat anaknya dalam keadaan kaki terluka di pinggir sungai. Namun, ketika dicari ke sepanjang sungai, tidak ada yang dicari. Hilang adalah sebuah keambiguan ketika harus bertemu dengan kata kematian. Kematian berkaitan dengan aktivitas mandi jenazah, menshalatkan, dan kemudian menguburkan. Tetapi kini, apalah yang harus dilakukan? Anaknya hilang seperti jasad ampuneknya  yang hilang usai diculik saat konflik kemerdekaan. Tak ada kuburan yang dapat diziarahi. Semuanya gaib.

Entah berapa lama, malam-malam sunyi kakak sepupu saya berkecamuk . “Masih hidup kah anak saya?” Imajinasinya tak mampu membayangkan jika anaknya termasuk dari anak-anak yang digiring orang-orang jahat. Hingga akhirnya terucaplah kalimat yang tak kalah mengoyak, “Lebih baik anakku mati daripada hidup dalam kesengsaraan.”  

Bagi para ibu, kehilangan anak adalah kehilangan hampir seluruh organ tubuhnya. Toh, dia harus bangkit, karena masih ada dua anak yang masih hidup. Dan mengubur harapan bahwa anaknya masih hidup adalah salah satunya.

Dia tidak sendirian. Ratusan ribu orang mengalami hal yang sama. ‘Bangkit’ adalah satu-satunya pilihan bagi masyarakat Aceh. Puluhan tahun menjadi wilayah konflik, daerah istimewa ini semakin terlihat tidak istimewa. Suatu daerah ketika tak ada perkembangan di segala aspek. Kata ‘berkembang’ mungkin terdengar asing untuk sebuah ‘kata kerja’ bagi mereka. Puluhan tahun, mereka hanya bergulat dengan kata ‘bertahan’ dan ‘berjuang’.

Sejarah peperangan di Aceh masih sangat dekat dengan keadaan saat ini. Maklum, Aceh adalah salah satu daerah terakhir yang berhasil diduduki Belanda. Kami ‘hanya’ mengalami beberapa puluh tahun penjajahan. Konflik yang terus ada sejak kemerdekaan Indonesia pun membuat masyarakat Aceh sejatinya tidak takut mati jika harus berhadapan dengan bedil. Namun ketika bencana alam menghantam mereka, mereka pun bingung bagaimana harus bertahan.

 Bagi masyarakat Aceh, daerah pesisir adalah pusat peradabannya. Dan ketika alam turut menghabisi pusat peradaban itu secara harfiah, jadilah Aceh bak sebatang kayu yang kehilangan akar. Akankah ia mampu tumbuh lagi?


Bencana datang bak ‘bencana’ kecil bagi saya ketika tiba-tiba kehilangan seluruh data di komputer akibat virus. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengumpulkan yang tercecer dan mulai merakit kembali. Mungkin tidak seperti rencana awal, tetapi menuju hasil yang lebih baik.


Ketika orang-orang dari berbagai daerah hingga negara berlomba-lomba datang ke Aceh, saya hanya termangu. Apa yang dapat saya lakukan? Seseorang yang memiliki darah Aceh tetapi tak sekalipun pernah menginjak tanah Serambi Mekah itu. Seseorang yang hanya mendengar Aceh dalam cerita-cerita kepahlawanan buyut saya. Toh turut lemas seluruh badan saat melihat foto udara daerah pesisir Aceh pascatsunami. Saat titik-titik seperti semut itu adalah sebagian kecil dari ribuan mayit yang terhampar di tanah Aceh dan sejak saat itu saya menolak segala pemberitaan tentang hal itu. Saya merasa tengah menjadi tabulasa hampa berlabel Aceh. Anak Aceh gadungan. Ucapan terima kasih saya pada kawan-kawan yang sempat menjadi relawan di Aceh menjadi tamparan bagi saya sendiri. Apa yang sudah saya lakukan?

Tetiba saya teringat sesuatu. Kuraih secarik foto dari laci saya. Foto seorang gadis remaja tengah memetik buah. Saya teringat pernah memegang foto keponakan saya yang hilang itu. Di belakang foto ada secarik kertas lain, sebuah surat. Konon dikirim oleh si anak itu. “Terima kasih telah memberikan dana ke *** Children’s Village.” Adalah satu dari kalimat lain yang tertera di sana. Rupanya dia adalah salah satu anak yang mendapat bantuan program perlindungan anak pascabencana. Program yang turut didukung secara global oleh Angelina Jolie. Kini, menjuarai kejuaraan taekwondo dan masih menggantung banyak cita-cita lain.


Saat menerima surat ini, awalnya saya hanya biarkan di pojok lemari rias saya. Tidak terbuka, karena saya tahu itu adalah pelaporan terkait ke mana dana yang saya alirkan setiap bulan. Saya pikir, yah sudahlah, toh waktu itu juga karena tidak tega menolak relawannya di mal. Setelah sekian lama dan tiba waktunya merapikan lemari rias saya itu, saya iseng membuka surat itu. Dan ketika membacanya saya merasa tengah terhubung dengan sesuatu. Tak pernah terbayangkan jika dana kecil itu akan tiba di Aceh. Dan surat itu seolah mengatakan, “hei, kamu bisa melakukan sesuatu untuk Aceh. Tempat sebagian darahmu mengalir.”  

Bencana memang telah meninggalkan sebuah luka di hati saya, memang tidak sedalam mereka yang mengalaminya secara langsung, tetapi ternyata luka itu membuka sebuah lubang yang berisi sebuah mandat. Mandat yang sudah ada sejak saya lahir ke dunia,  bahwasebagai salah satu anak Aceh bahwa saya turut bertanggungjawab berperan serta dalam pembangunan masyarakat Aceh sebagai daerah yang kental keagamaan dan kebudayaannya, daerah yang maju sumber daya manusia juga alamnya. Mandat yang sudah hampir saya lupakan karena sempat merasa tak pernah benar-benar terikat dengan Aceh. Saya sejatinya tidak boleh menyerah. Seperti kakak sepupu saya yang tidak menyerah dengan hidupnya. Saya yang tidak kehilangan apa pun seharusnya mampu melakukan lebih dari itu. Dan tulisan ini adalah salah satunya....


#10ThnTsunamiAceh

Sabtu, 09 Agustus 2014

TRIP REVIEW: Tepat Akhirnya Naik Bus City Tour


Sejak mama cerita (iya, mama saya yang konon ga update berita itu) bahwa ada sebuah bus wisata gratis yang bisa dinaiki di halte Bundaran HI, saya sudah penasaran. Ga pernah terlalu tahu namanya, memang. Namun ketika Malika mulai jadi ‘freelance’, ide untuk keliling Jakarta naik bus wisata ini mengemuka. Hanya saja, waktunya tak pernah tepat.


Oleh karena niatnya untuk outdoor education trip buat anak-anak, saya merasa hari yang paling tepat adalah di hari kerja. Tapiiiii .... daerah HI, Thamrin dan teman-temannya itu kan macet yak. Maklumlah kawasan bisnis. Sedangkan kalau akhir pekan, kok ya ga pede bilangnya ke suami :p. Akhirnya niatan itu mundur terus. Hingga kemudian datanglah momen libur lebaran.


Itu pun diingatkan oleh berita di salah satu portal. Usai menghabiskan beberapa hari untuk bersilaturahmi, rasanya bagi kami yang di Jakarta ini juga ingin liburan. Again, tapiiiiii .... seperti yang kami ketahui pula, tujuan seperti Ragunan, Ancol, dan TMII pasti membludak. So, berita bus city tour atau dijuluki Mpok Siti ini, mengingatkan saya tentang kondisi ideal naik Mpok Siti. Mumpung jalanan Jakarta masih sepi. Eh ternyata di hari yang sama, keponakan saya memposting foto naik Mpok Siti. Duh, serasa didului. Hei, tungguin doooong.

 

Hery yang masih ragu dengan tata tertibnya pun menelepon kakaknya. Dan kesannya adalah, “ngantrinya ya ampuuun”. Hmmm, ternyata jadi inceran juga pas liburan begini. Yaaah, sepertinya akan menikmatinya di hari kerja yang macet.


Lalu bel berbunyi di hari Selasa. Salah satu teman saya bertanya soal halte city tour. Saya minta nimbrung saja. Apalagi kemarin, teman saya ini baru memposting foto jalanan Jakarta yang masih sepi. Mungkin karena anak sekolah baru masuk di hari Rabu. Inilah kesempatan saya. Now or never. *lebay


Dan buru-burulah saya menyiapkan makan. Ga sempat buat makan siang yang layak, karena hanya menghangatkan bihun. Ya suds, siapin dana buat jajan kalau begitu. Lumayan tuh bihun buat ganjel. Dan jangan lupa, air minum.


Titik temu di stasiun Gondangdia. Baguslah, saya tinggal naik kereta. Sengaja ga masuk gerbong khusus wanita, karena biasanya di gerbong itu semuanya ‘berkebutuhan khusus’. Lagi menunggu pintu terbuka, saya dipanggil oleh satpam wanita di dalam gerbong yang sudah lewat. Jadilah saya penghuni priority seat. Alhamdulillah.


Sempat cari-carian dengan teman saya itu, akhirnya ketemu juga. FYI, menggiring dua bocah petualang di sekitar stasiun Gondangdia itu pe-er deh. Ya kopaja ngetem, mobil mewah klakson terus ga diangkat-angkat, motor yang menggal menggol, belum lagi tiba-tiba disembur bajaj yang lagi manasin mesin, dan acungan tangan para tukang ojek (tukang ojeknya rada agresif). Pokoknya graham saya jadi ngilu deh karena harus serius.


Dari stasiun Gondangdia, saya dan teman saya yang juga membawa dua anaknya memutuskan naik bajaj menuju balaikota. Salah satu halte  city tour. Safir yang sudah menunjukkan tanda-tanda pegal muter-muter, akhirnya tertidur dalam posisi berdiri melongok ke arah sopir bajaj. Kebiasaan nih anak, main tidur aja.

Sempat mutar-mutar karena dikira mau ke walikota, akhirnya sampai juga. Belum juga kelar keluarin kamera, eh Bus City Tournya datang. Syukurnya lagi, di halte itu banyak yang turun, terlebih yang di bagian atas. Malika yang senang banget saat menempati posisi kursi paling belakang. “Wah, bisnya tinggi.” “Wah, serem banget.” Saya jadi rada terpasung karena dengan hawa AC yang dingin, Safir tidur semakin semena-mena di pangkuan saya.


Dan busnya pun melaju. Malika sibuk tanya, “kenapa yang di atas ga ada sopirnya?” “Itu suara dari mana?” “Kok ada polisi di bus?” Yang beda memang ada suara tur guide. Namun setelah keseluruhan rute kami lewati, saya mulai mencatat beberapa hal yang bisa ditambah.

  1. Menambah objek penjelasan. Mungkin juga tur guidenya sudah lelah sehingga tidak semua sifatnya bersejarah bisa diceritakan. Semisal, ketika patung Husni Thamrin dibacakan tapi kok patung kereta kencana yang berada tepat di seberangnya ga diceritain? Saya gak tahu loh itu. Apalagi patung itu lebih dulu ada. Atau terkait penggunaan pot-pot besar di bilangan Thamrin hingga Sudirman itu kebijakan wagub siapa. Yang konon wagub nonmuslim pertama di Jakarta. Bahkan dia yang rancang logo yang dipakai Grand Indonesia. Kalau yang baru bolehlah sebut bangku-bangku taman usulan Jokowi-mungkin bisa disebut juga asal kayunya dari mana. Asal muasal jalur Thamrin-Sudirman, siapa itu Sarinah. Berapa usia DjakartaTheater.
  2. Berkorelasi dengan si objek penjelasan. Contohnya, di museum nasional itu sekarang rutin ada pekan dongeng setiap Sabtu. Nah, informasi ini sejatinya turut disampaikan oleh tur guide. Anggap saja promosi. Orang kita kan walau dah banyak poster tetap saja nanya, nah apalagi kalau tidak diworo-woro. Atau jika monas ada acara. Atau mungkin Mahkamah Konstitusi menyediakan hari khusus untuk kunjungan wisata? Siapa yang tahu? Saling berintegrasi lah.
  3. Perpanjang rute. Sebenarnya rute terasa pendek. Ibaratnya kalau saya naik taksi ke HI, Cuma nambah beberapa ribu untuk melakukan rute bus city tour. Saya pikir sampai Kota Tua hehehe .... Katanya arah Pasar Baru, tapi kok ga merasa melewati Pasar Baru, ya?
  4. Bilingual? Ini mungkin berguna bagi wisatawan mancanegara kali ya.


Akhirnya kami berhenti di Sarinah untuk makan fastfood penyumbang Israel (belinya sambil mengutuk ^^). Safir akhirnya bangun ketika kami mencapai halte balaikota sekali lagi. Lumayan deh, daripada ga. Yah, pengalaman buat mereka. Kalau saya dulu kan pernah mengalami bus tingkat. Bus Mayasari. Memang sih, waktu itu horor naik ke atas, banyak om-om, gelap, panas. Hehehehe kayanya Jakarta ga cocok punya bus tingkat macam Double Deckernya London hihihiy...

Anyway, bagi Malika yang menyenangkan adalah ketika seharian itu dia mencoba ragam transportasi umum. "Amy, tadi kita awalnya naik apa?" Yak, silahkan hitung: kereta, bajaj biru, bis tingkat, metro mini, dan mikrolet. Kalau Jakarta lengang kaya begini mah emang enak naik transportasi umum biar dah reyot dan ga pakai AC :)

Rabu, 06 Agustus 2014

Amy's Story: Mentil, Pascasapih

Saya kira napas lega itu akan benar-benar terhembus saat akhirnya Safir tidak menyusu selama 24 jam. Melakukan proses sapih ke anak yang 24 jam di hadapan itu ternyata tidak mudah. Awalnya dengan dalih sudah besar, proses menyusu itu diberi jarak. "Bambanya (nyusunya) nanti kalau malam" lalu "kalau ada ayah, ga bamba"--ayahnya selalu pulang saat anak-anak sudah tertidur jadi ini hanya berlaku saat akhir pekan. Hingga akhirnya proses 'bamba' itu tidak ada sama sekali.




Safir pun bukannya tanpa proses adaptasi. Saat hendak tidur siang karena hanya boleh 'bamba' saat malam, dia pun mencari cara. Tidur di dada hingga posisi andalan adalah memposisikan bibir saya tepat di pipi atasnya. Jadilah saya tidur dengan seonggok kepala keras nan berat (kepala Safir memang lebih besar dari Malika).




Setelah akhirnya seharian tidak menyusu, saya menantikan gelagat aneh. Saat proses sapih Malika memang lebih mudah. Hanya satu dua kali dia terbangun di tengah malam hanya untuk melihat puting sekejap dan kemudian tidur lagi. Sedangkan Safir? hmm ...




Sejak awal menyusu, Safir memang saya larang mentil. Tangannya tidak boleh sambil gerepe-gerepe puting lain. Jujur saja, badan saya cenderung bereaksi galak kalau digerepe-gerepe, apalagi sama ayahnya anak-anak :p. Jadi, saya sun saja tangannya. Eh, rupanya dia anggap itu pengganti aktivitas mentil. Dan sekarang saya menghadapi bocah yang ga bisa lihat Amynya duduk sama tinggi atau tidur-tiduran. Bawaannya mau pegang bibir. Dipencet-pencet kaya adonan klepon. Kalau ketemu komeda di sekitar bibir, dia akan serius mengoreknya. Terasa kulit bibir kering? Dia akan cabut semua hingga mulus a.k.a bibir saya perih semua. Kebayang kan pas puasa kemarin.




Dan bagi saya yang tangki cintanya bukan sentuhan, rasanya gatal seluruh kepala ketika harus lip service selama satu jam karena anaknya tidak kunjung bisa tidur. Hadooooh.




Pernah suatu malam saya marah. "Udah, jangan pegang-pegang lagi kenapa sih?" Safir nangisnya sedih banget (mungkin juga aksi manipulatif), "terus pegang apa, dong?" tanyanya sambil terus menangis. Aksi manipulatif berhasil. Ya suds, pegang pipi aja. Iya, pegang pipi, lama-lama merosot ke bibir juga.




Saat tertidur pun dia ternyata suka cari pegangan. Oleh karena biasanya saya sudah kabur dari sisinya, kakaknya kena ulah pula. Kalau sama ayahnya ga asik karena ada jenggot.




Tahu sih, kalau dia sudah mulai pegang-pegang artinya dia lagi bosan atau sedang ga enak hati. Cuma ya bete aja, lagi masak ditodong lip service. Emang gue cewe apaan?




Ah, sudahlah. setidaknya proses toilet trainingnya lumayan lancar dalam dua bulan ini. Guess, ga bisa dipaksakan semua berjalan baik, kan?




Meanwhile, harus berpikir cara lain untuk mengalihkan ketertarikannya itu. Semoga Amy yang malas ini diberi petunjuk