Minggu, 24 Agustus 2014

VENUE REVIEW: Menghadiri Pernikahan di The Centrum, Bandung

Beberapa waktu lalu suami mendapat undangan pernikahan rekan kantornya di Bandung. Ini sudah kesekian kalinya sih ke Bandung dalam rangka menghadiri pernikahan teman suami, maklum dulunya kuliah di negeri kembang ini. Namun, baru yang satu ini bisa ditulis reviewnya, hehehe baru sadar blog.

Seperti kebanyakan pernikahan di Bandung,  mereka sering sekali mengadakannya di kafe atau restoran atau yah di rumah sekalian, yah setidaknya teman-temannya suami banyak memilih di situ. Tidak seperti kebanyakan pernikahan di Jakarta yang menggunakan gedung-gedung khusus untuk itu. Mungkin juga karena terkait jumlah tamu dan area parkir.

The Centrum ini terletak di Jl. Belitung no. 10 Jawa Barat. Posisinya menghadap taman musik (kebetulan saat digelar, bersamaan dengan peresmian taman ini) dan di samping Taman Lalu Lintas. Yang artinya kawasan ini sebenarnya cukup sepi kalau malam, mungkin karena taman musiknya belum jadi titik temu kali ya ...



Para penerima tamu seperti biasa ditempatkan setelah pintu masuk, tetapi kami tidak serta merta dapat melihat pengantinnya karena ada tembok. Khas kafe privat lah. Kami digiring melewati jalur kiri untuk bisa melihat ada apa di balik tembok itu. Ternyata sebuah area terbuka dengan kolom-kolom di tepian dan kolam di tengahnya. Pelaminan itu sendiri terletak di antara kolam.
Saya terbayang, mungkin kolom-kolom itu sebenarnya sejenis gazebo beton pada fungsi awalnya. Sedangkan hanya beberapa sofa yang akan bercokol di bagian sekitar tepi kolam. Pikir saya, wah pe er nih jagain anak-anak. Maklum, tepian kolam hanya dibatasi dengan tali tambang dua tingkat.

Dekorasi sih kayanya minimalis yang manis, tidak ada unsur kedaerahan tertentu yang ditonjolkan. Buffet di gelar di seberang kolam, sedangkan ada masing-masing 2 ‘gubuk’ di kolom kiri dan kanan. Suasananya agak santai ya, karena para tamu jadi melepaskan sepatunya saat berkumpul di kolom-kolom tersebut. Untunglah saya ga pakai songket, hehehe. Meuni rempong.

Kalau dilihat dari luas tempat ini sih kayanya ga cocok ya untuk 500 undangan. Ngeri kesenggol ke kolam. Namun, rupanya saya melupakan sisi lain, bagian atas. Bagian atas ini dicapai melalui tangga di dua sisi setelah pintu masuk, jadi yah saya agak keluar lagi dari area pengantin baru bisa naik. Mungkin si pengantin juga tidak menyebar 500 undangan karena bagian atas ini praktis sepi. Bisa jadi karena tidak ada konter makanan di sini. Tapi bagian atas ini terasa lapang karena setara dengan kolom-kolom di bawahnya, tapi yah ga pakai kolom melainkan meja dan kursi biasa. Mungkin buat yang merokok lebih leluasa secara lebih berangin dan lebih dekat melihat pesawat berseliweran. Letaknya lebih dekat ke bandara kali ya, kok ya gede banget itu pesawat bolak balik?


Anyway, kayanya memang tempatnya ga cocok buat yang tema tradisional yang pakai penari, nanti orang berebut lihat, eh nyemplung hehehe.... Dan saya sebenarnya agak terganggu dengan fakta pada buka sepatu saat lesehan, kesannya gimana gitu. Mix n match konsepnya agak ga match (halah). Bisa jadi karena sayanya saja yang tidak terbiasa. ^^



Sabtu, 23 Agustus 2014

Amy’s Story: Edukasi Finansial Sejak Dini

Bicara soal edukasi finansial sejak dini, saya memiliki perbedaan pendapat dengan ibu saya, walau reputasinya sebagai pengelola keuangan rumah tangga belum ada tandingannya. Bagi ibu saya, yang terpenting adalah makan, agama, kesehatan, dan pendidikan. Hiburan tidak termasuk di dalamnya.
Ini mungkin sedikit curahan hati saya sewaktu kecil. Pada zaman saya dulu, saya lah anak pertama yang akhirnya diberi uang jajan. Padahal saya bungsu loh. Kok bisa begitu? Soalnya sering kejadian saya menggunakan uang untuk membeli buku pelajaran untuk jajan dan akhirnya ketahuan saat pembagian rapor.

Uang jajan saja tidak cukup, kebutuhan pergaulan saya menuntut uang jajan lebih banyak. Dan itulah yang membuat saya menggunakan uang milik sekolah yang saya simpan sebagai bendahara saat duduk di bangku menengah. Jika sudah saatnya pengumpulan uang ke guru, saya biasanya akan men’catut’ nominal uang yang saya minta dari orangtua saya dengan dalih kegiatan sekolah. Parah, kan. Saya sudah korupsi sejak dini.

Ketika saya menginjak usia 17 tahun, barulah saya mendapat akses untuk mengambil uang di tabungan saya. Sebelumnya hanya mama saya yang bisa melakukannya. Setiap bulan, beliau mengisi tabungan anak-anaknya selama bertahun-tahun. Hebat betul ibu  saya ini. Namun itu ternyata tidak cukup menggugah hati saya. Tabungan bertahun-tahun itu ludes dalam waktu sebulan.

Beranjak dewasa, saya mempelajari beberapa hal bahwa kebutuhan setiap anak berbeda-beda dan bisa jadi belum ketahuan bentuknya jika tidak mendapatkan pengalaman yang kaya. Sebagai generasi kelahiran ’80-an, saya hidup ketika pergaulan termasuk kebutuhan utama. Sekilas memang tidak penting, tetapi sekali lagi kebutuhan anak berbeda-beda. Berkawan meningkatkan kepercayaan diri saya di tengah dominasi orangtua dan kakak-kakak saya. Dan berkawan, pada awalnya membutuhkan uang. Dan menguasai uang itu bukan hal yang mudah.

Hal itulah yang mendorong saya mengajarkan anak tentang mengurus uang sejak dini. Saya sendiri masih banyak kekurangannya. Saya beralasan, saya tidak pernah benar-benar mengurus uang di usia dini. Oleh sebab itu, saya ingin anak-anak saya tidak norak saat dewasa dan memiliki penghasilan sendiri. Ibu saya memang menjelaskan sejak dini soal pentingnya menabung, investasi, dan lain-lain, yang tidak beliau ajarkan adalah praktik langsungnya. Ya, teori tanpa praktik itu akan memberi hasil yang tidak sempurna.  Godaan uang di tangan itu sangat .... silahkan isi sendiri deh.

Anak-anak saya kini berusia di bawah lima tahun. Pada si kakak yang berusia 4 tahun, sedikit-sedikit saya ajarkan konsep uang dan belanja. Dia sih sangat bersemangat menabung, belum memiliki ketertarikan khusus soal konsep nilai uang. Uang baru terasa bernilai baginya saat saya ajak dia ke arena bermain yang menggunakan koin. Arena bermain yang bising ini biasa ada di mal. Kenapa lebih mudah di sini, karena fisik koinnya mudah dihitung bagi anak yang baru mengenal angka.

Awalnya saya yang membeli sendiri koin tersebut. Tentu saja koin itu habis dalam sekejap. Dan si anak akan merengek minta lagi dan lagi. Kesal dengan perilaku tersebut, akhirnya saat hendak membeli koin, saya keluarkan lembaran uang saya dari dompet.

“Lihat, ini Amy keluarin uang Rp10000,-. Nih, uang Amy jadi tinggal dua lembar, rp10000,- dan Rp20000,- Coba kamu lihat dapat berapa koin.” Saat itu anak saya sudah tahu angka, belum tahu nilai, tapi dia yakin bahwa yang huruf depannya 1 itu jumlahnya lebih sedikit dari yang huruf depannya 2. Kebetulan saya tidak ada lembaran Rp100000,-

Setelah menukar uang dengan koin, saya perlihatkan jumlah koinnya. Saya suruh dia menghitung dan menghitung kembali usai dibagi dua dengan adiknya. Saya biarkan dia memegang koinnya dan memilih permainan yang dia suka. Dan ketika koinnya habis, saya selalu biasakan hanya mendapat satu kali jatah nambah alias beli koin lagi. Kalau masih penasaran dan Amynya sedang malas, boleh tambah lagi tapi diambil dari uang tabungannya.

Awalnya dia masih rungsing karena cepat sekali koin bergelontor. Terlebih jika jumlah tiket yang didapat tidak cukup untuk ditukar dengan apa pun.

“Ya, kamu sih kebanyakan pilih mainan yang ga dapat tiket.”

Anak saya itu memang lebih suka menaiki mobil-mobilan goyang-goyang ketimbang atraksi yang lain. Saya pun tidak selalu menggiring ke permainan yang mirip dengan judi.

Dan setelah beberapa kali, dia pun kemudian memilih mainan dengan kesadaran penuh berapa koin yang akan habis dan tidak merengek saat koin itu habis pun setelah ditambah. Dia pun tidak terlalu peduli dengan tiket, malah lebih bersemangat kala mengumpulkan tiket itu ke dalam tas saya. Opsi kedua yang melibatkan uang tabungannya pun nyaris tidak pernah dia ungkit.

Atau ketika harus memilih antara permainan koin dengan softplay area berbayar. Biasanya saya akan jelaskan, jika ingin berada di wahana permainan koin berarti hanya sebentar waktu yang dihabiskan. Berbeda jika bermain di softplay area berbayar. Dan itu pun dikorelasikan dengan jumlah waktu yang sejatinya hendak kita habiskan di mal. Jangan ketika akan segera pulang dalam 15 menit, malah memilih softplay area berbayar. Rugi, dong. Biasanya perundingannya agak alot.

Permainan atau hiburan memang boleh dinikmati sesekali, tetapi tidak jarang orang yang menyadari bahwa itu hanya perlu dilakukan sesekali setelah mengalami kesulitan finansial usai kecanduan hiburan. Bagi saya, lebih dini proses terperangkapnya lebih awal pula fase merangkak naiknya. Tahu kan, pengalaman adalah guru terbaik. Intinya yang hendak saya sampaikan adalah, orangtua akan berusaha memfasilitasi kebutuhan pergaulan anak-anak (dengan prioritas yang nyaris sama dengan kebutuhan utama) tentu dalam jumlah dan batas usia yang disepakati. Namun, pada akhirnya tingkat kesenangan itu bukan diukur dari jumlah uang yang dihabiskan melainkan seoptimal apa uang yang ada berubah menjadi keriaan. Dan itu didapat dari pengalaman dan kedewasaan. Untuk yang satu ini, beda orangtua beda pendapat yaa ....


Toh, jika umur masih panjang, pendidikan soal finansial pada anak-anak ini akan terus berambah dan berubah bentuk seiring waktu. Anak-anak sejatinya akan semakin kritis dan bisa jadi mereka akan memprotes pilihan metode saya. I guess, PR saya masih banyak. 

Kebun Raya Bogor: Liburan para Bunda dan Anak-anaknya

Terkadang berteman itu terjalin ketika kedua anak kita saling berkawan di sekolah. Untuk kasus saya, kebetulan pula teman anak saya itu juga tetangga. Yah, beda tower di komplek Kalibata City ini. Dan ketika liburan sekolah (playgroup) datang, maka itu artinya PR tambahan bagi pemilik dua anak balita. Termasuk kami berdua, saya dan Farah (atau biasa saya panggil Bunda). Oleh karena itu, kami mulai merancang jadwal outing bersama. Ke tempat yang jauh dari Kalibata. Bertema piknik. Dan terpilih satu tempat. Kebun Raya Bogor.

Rasanya sudah lebih dari satu dasawarsa saya tidak pernah masuk Kebun Raya Bogor. Paling gres ya waktu SMU (sekitar berapa belas tahun yang lalu ya itu ^^’), itu pun ga greget karena terpaksa bete lihat yang bawa pacar. Dan memang Kebun Raya Bogor seperti menjadi pilihan bagi tujuan wisata keluarga, tur studi anak-anak SD, dan lokasi pre-wed. Lokasi pacaran? Huehehe ... mitosnya kan bakal putus.

Sabtu menjadi hari pilihan karena memutuskan akan menggunakan mobil Bunda dan tentu disopiri sang suami. Kami sekeluarga sih nebeng, paket hemat. Sengaja dipilih hari Sabtu, karena hari Minggu itu mobil dilarang masuk. Repot ya kalau bawa anak kecil jalan jauh. Mereka main sih kuat lama-lama, tapi kalau disuruh jalan kaki terlalu jauh ya jiper juga. Belum lagi kalau tiba-tiba hujan.

Pagi itu ambil rapor dulu baru berangkat. Namun, karena kedua anak saya itu lama moodnya untuk sarapan akhirnya ga makan apa-apa deh. Hasilnya? Safir, si kecil, muntah-muntah saat mengemil makanan kecil di mobil. Baju cadangan habis, terpaksa pakai baju kakaknya. Dilalah, saya tidak bawa baju biseksual. Jadilah Safir menggunakan kaos bertuliskan, “Sorry, I Only Date Superhero”. Pink pula. Hadeuh. Safir memang sering dibilang anak perempuan sih, tapi kaaan ... Saya pun berpesan pada ayahnya untuk memotret sedemikian hingga agar tulisannya tidak terlihat. Biarin deh dilihat orang sekitar dan salah kaprah, asal jangan sampai terdokumentasi. Bisa jadi dosa seumur hidup.

Begitu keluar tol Bogor barulah kami ketemu macet. Dan macet yang teramat lama sehingga perut pun sudah keroncongan. Apalagi Bunda yang terus menerus ditagih tangki susu oleh si bayi, Fia. Malika, anak pertama saya, sudah mulai mual dan duduk dengan posisi ga jelas sama ayahnya di depan. Memang melanggar peraturan, toh mobilnya ga bergerak ini.

Akhirnya sampai di lokasi. Tadinya mau ke taman air, tapi akhirnya kami memutuskan untuk mengambil posisi di jantung Kebun Raya Bogor sejak dulu kala, lokasi dengan tanah lapang paling luas. Setibanya di sana, anak-anak seolah lupa dengan segala mual, lapar, dan lain sebagainya. Nasi hanya ditelan beberapa suap sudah jumpalitan ke sana ke mari. Malika lapar lihat pohon-pohon besar, dia ingin memanjatnya. Akhirnya saya tempatkan dia di salah satu cabang pohon dan dia berperan sebagai Bageera si macan kumbang di serial Jungle Book. 


Bagi kami, para ibu, ini saatnya sedikit ‘me time’. Anak-anak sibuk berlarian ke sana kemari, kami cari posisi untuk difoto. Iyalah, dengan lanskap sebagus dan sehijau ini masa sih kita ga bisa foto-foto? Masa sih Cuma anak-anak yang difoto? Lagipula anak-anak itu ga betah difoto terlalu sering, ya sudahlah, kebetulan. Inginnya foto pascawedding sama suami di salah satu bangku taman, tapi yah agak ga kesampean kalau yang itu. Para ayah kan jagain anak-anak. Kami juga bisa ngobrol sana situ tanpa kena intervensi dari anak-anak yang merasa kurang diperhatikan hehehe ....


Rencana kami ingin mengunjungi beberapa spot di Kebun Raya Bogor pun kami anulir karena yah namanya anak-anak ga mau terlalu banyak naik turun mobil. Mau ke museum zoologi juga ga jadi, karena sudah keburu laparrrr. Jangan biarkan emak-emak kelaparan.  Jadi, silahkan puas-puasin deh, bocah.

Setelah beberapa jam di sana (beneran!), sebelum pulang kami menyempatkan diri ke spot yang menghadap ke Istana Bogor. Sebenarnya hari itu Istana dibuka untuk umum tetapi jalan masuknya beda. Ya suds lah, foto-foto saja dulu dengan latar istana yang pernah dicoret-coret nenek Malika & Safir saat demonstrasi penggulingan Soekarno.

Lalu tujuan terakhir untuk anak-anak adalah ... memberi makan rusa. Kegiatan ini dilakukan di bagian luar Kebun Raya Bogor. Ini juga pause time buat Bunda, lumayan istirahat. Saya yang supervisi anak-anak.

Usai beli oleh-oleh, hujan pun turun. Alhamdulillah semua sudah selamat di mobil dan anak-anak tidur dengan lelap sampai tujuan.


Kapan-kapan jalan-jalan lagi yuuuk, Bunda .... 

Sabtu, 16 Agustus 2014

Hobiku Tak Lagi di Atas Kertas

Dalam suatu pertemuan, seorang pengajar memberi perintah, "bangun dan temukan orang yang telapak tangannya sama besar dengan Anda. Beri salam lalu katakan nama dan hobi Anda." PRIIIT.
Saya pun bangkit dan mulai mencari, "Halo, nama saya Melati dan hobi saya menulis."
"Halo, saya ****. Hobi saya jalan-jalan."
"Eh, saya juga suka jalan-jalan ... " mata lawan bicara saya berbinar "tapi ga pernah ..." lawan bicara saya pun kemudian terlihat seolah ketiban seember air mata.

"Gaji lo pasti gede ya, jalan-jalan ke luar negeri melulu." tukas saya suatu hari pada sahabat saya yang update statusnya selalu share foto di luar negeri. Dalam hati ingin menambahkan, kok gue ga pernah ditraktir sih?
"yah, elo, itu paket murah kali. Makanya sering-sering lihat situs AirAsia, suka ada promo. Ke Thailand bisa cuma dengan ratusan ribu."
Eh? Iya ya? Kok ga beda jauh sama harga tiket terbang domestik?

Saya memang bukan orang yang suka memantau harga tiket karena ga selalu terkoneksi internet. Lagi-lagi ini hanya alasan saya. Karena ketika saya akhirnya mem-follow twitter AirAsiaID, saya  disodorkan dengan berbagai tawaran menggiurkan. Aiiih ... Pantesan ajaaa ... Sekarang yang susah bukan cari tiket murah, tapi cari jadwal cuti =P


Mama saya pun turut kecipratan informasi ini. Maklum sejak tak lagi bisa menggunakan armada bus pilihannya menuju kampung kelahirannya di Lintau, Sumatera Barat, kondisi mama mirip seperti saya. Terkurung dalam stigma bahwa tiket pesawat itu mahal dan tiba-tiba bengong sendiri melihat adik-adiknya mondar-mandir Padang-Jakarta-Padang.

Bagi saya bisa mudik dengan harga promo AirAsia mah bukan sekadar penghematan, melainkan banyak hal yang tidak bisa diukur dengan uang. Pertama, tidak ketemu jalanan rusak khas lintas Sumatra. Kedua, ga was-was saat melewati perkebunan karet terutama saat menjelang magrib. Ketiga, saya tidak perlu membawa obat anti mual saat menghadapi rute penuh kelok dan konsisten ngebut. Penting banget itu. Apa enaknya berada dalam perjalanan yang ingatannya timbul tenggelam akibat efek mengantuk dari obat tersebut?

Ya, saya tidak pernah mabuk udara. Saya sangat menikmati terbang dengan segala turbulensinya. Merasakan keriuhan lalu lintas udara. Bergaul lebih dekat dengan awan dan alam mimpi. Tidak sabar untuk membawa anak-anak menikmati perjalanan dengan pesawat terbang untuk pertama kalinya. AirAsia yang akan jadi saksi bisunya =) Seperti seorang kakak (hanya beda 6 tahun dengan usia si sulung).

AirAsia sudah membuat sebuah kemewahan terasa kian wajib dengan harga murahnya. Kini, saya bisa patungan dengan beberapa teman untuk sebuah hadiah perkawinan seorang sahabat berupa tiket liburan ke negara tetangga. Sering terjadi, sebelum tiket gratis di tangan maka what so called continuously travelling tidak akan pernah terjadi. AirAsia menjadi pemikat sekaligus candu pun kemudian sahabat sejati saat hendak melakukan petualangan baru atau sekadar pulang.

Kini tidak ada lagi momen 'bokis' ketika SD terulang. Saat kita mengisi kolom favorit, misalnya makanan favorit, saya yakin banyak dari kita yang menuliskan berbagai jenis makanan aneh dengan selera internasional. "makanan favoritku, spageti, pizza dan burger." Ini yang lagi hits waktu saya duduk di bangku sekolah dasar. Halah, ketahuan jadulnya. Padahal sehari-hari makan semur ayam dan bayam, hehehe ... Gimana mau jadi favorit kalau hanya dimakan setahun sekali? 

Begitu pula dengan hobi. Dan bersyukur AirAsia telah menyadarkan saya bahwa jika mengaku hobi jalan-jalan ya harus sering jalan-jalan dong ^.^ Ada AirAsia ini. Ke mana-mana jadi lebih muraaah. Dan setelah sekian puluh tahun berlalu kini hobi saya tak lagi sekadar keterangan profil di atas kertas tetapi sudah mewujud menjadi cerita-cerita perjalanan dan petualangan yang mengiringinya.



Kamis, 14 Agustus 2014

Generasi Muda Bisa Apa? Apa Aja Bisa ^^


Bicara muda, rasanya ingin lihat KTP. Masih muda ga sih, gue? Baiklah, status menikah dan punya dua anak. Sounds, ibu-ibu to me ^^. Tapi kalau ukurannya umur Daniel Mananta? Ah, masih mudalah gue. Dan karena ‘memaksa’ diri masuk dalam kategori generasi muda, terus di akhir masa kemudaanmu ini (ngomong sendiri), lo bisa apa?

Banyak yang mengatakan bahwa generasi muda itu adalah generasi yang dinamis. Dinamis minatnya. Tidak tahan berada dalam satu perusahaan terlalu lama. Haus akan hal baru. Mirip dengan sifat gadget. Negatif? Bisa iya, bisa tidak. (lagi-lagi) seperti Daniel Mananta, dia adalah salah satu yang suka sekali eksplor hal baru. Dari agen MLM menjadi host televisi musik bertaraf internasional. Eh sekarang bisnis kaos pulak, desain bajaj buat hotel, tapi setia jadi pembawa acara di sebuah acara adu bakat menyanyi. Tentu saja, dia hanya bermain di taraf internasional dengan cita rasa Indonesia. Apa pun, saya rasa seharusnya banyak anggota generasi muda meniru cara kerja mantan pacar Agnes Monica ini. Berbicara Indonesia dalam bahasa internasional untuk melestarikan akar budaya Indonesia. Mungkin Daniel Mananta bukan contoh sempurna untuk hal ini, tapi saya yakin di luar sana past ada anak muda yang seperti itu. Kenapa itu bukan kamu? *nunjuk diri sendiri.

Generasi muda itu, dengan bakat bajing loncatnya seharusnya menjadi kelebihan dan misi. Misinya yaitu, ke mana pun dia melompat, semua yang dipijaknya akan sejahtera walau sudah ditinggal pergi. Bahasa anehnya, down to earth digitalization. Misalnya, bagaimana caranya mendigitalisasi batik tetapi hasilnya tidak hanya mampu menyejahterakan para pelaku batik tulis tapi juga memperbanyak populasi pekerjanya. Generasi muda itu bisa merancang masa depan sekaligus menghormati mereka yang pernah merancang masa depan di masa lalu. Generasi yang walau pandai melompat menuju cahaya tetapi tidak sungkan menyelam dalam kegelapan dengan energi yang sama besarnya untuk kembali berenang ke permukaan dan bersyukur atas semua keindahan. Jadi, merasa muda? Let’s do something good! Bigger and bigger.

 

#PatriotIsMe #Advan #damniloveindonesia

Selasa, 12 Agustus 2014

Robin Williams dan Inspirasi

Pagi ini saya terpaku pada update status salah satu teman saya yang menuliskan "RIP Robin Williams". Rasanya tak percaya. Lalu di tengah lambatnya internet pagi itu, samar-samar saya baca, "apparent suicide". Entah kenapa saya tidak terkejut. Rasanya hanya hal tragis yang mampu meredam lebar senyumnya yang membuat matanya kian menyipit, terlebih di usianya yang semakin lanjut.

Padahal beberapa bulan lalu, saya baru menuliskan review The Crazy Ones untuk serial komedi televisi yang dia produseri setelah sekian puluh tahun meninggalkan dunia televisi. Saya merasa kematiannya ada hubungannya dengan proyek terakhirnya. Saya bersabar menunggu aliran sinyal untuk mencari tahu tentang motif kematian Robin Williams. Ya, istrinya memang menekankan bahwa keluarga lebih mementingkan apa yang telah Robin Williams lakukan selama hidupnya. Toh, rupanya rekam jejak hidupnya menunjukkan soal depresi dan ketergantungan obat-obatan yang dialaminya. Saya teringat karakter Robins di The Crazy Ones adalah seorang ayah yang dulunya seorang kreator iklan genius tapi kemudian terlarut dalam kegeniusannya sehingga menenggelamkan dirinya sebagai seorang alkoholik dan pengkonsumsi obat-obatan gangguan syaraf. Yang kalau lupa makan obat, pasti kumat. Hal yang mengingatkan pada artis lokal yang sedang hits beritanya.

Mengingat The Crazy Ones adalah proyek pribadinya, saya bertanya pada diri sendiri, apakah dia tengah merefleksikan dirinya sendiri? Saya jadi sedih. Sedih pada para penderita depresi yang tak kunjung tahu bagaimana cara menyembuhkan dirinya sendiri. Padahal pekerjaannya selama puluhan tahun adalah menghibur dunia dengan karakternya yang kocak tapi juga bisa sangat serius menghanyutkan. Saya jadi merasa sebagai obyek penerima, tak mampu membalas kembali.


INSPIRASI
Jika bicara tentang inspirasi, banyak teman mengungkapkan inspirasi yang didapatkan dari Robin Williams dari berbagai filmnya. Banyak film bagus tersebutkan di sana. Tapi belum ada yang menyebutkan film favoritku dari Robin Williams. Mungkin akibat banyak kontak yang saya unfollow hehehe ....

Namun, walau tidak ada yang bertanya, saya akan bilang Patch Adams sebagai inspirasi saya. Ini ada hubungannya dengan cara saya menghadapi anak-anak. Tahu kan, ini cerita tentang seorang dokter yang melakukan pendekatan humanis pada pasiennya. Si dokter dengan hidung merah ala badut. Walau diproduksi pada 1998, saya merasa sulitnya melakukan yang dia lakukan adalah ketika saya berhadapan dengan para pasien anak penderita kanker. Waktu itu saya masih aktif di Kelompok Pencinta Bacaan Anak dan saat itu adalah giliran saya mendongeng bagi mereka. Dan saya yakin, walau Robin Williams tidak tengah berakting sebagai dokter pun, dia mampu melakukannya jauh lebih baik dari saya. Ya iyalah, saya demam panggung gitu.

Rasanya saya masih harus belajar banyak dari karakter Robin Williams. Yak, baiklah, mari cari filmnya :)

Setelah 10 Tahun Tsunami Aceh


Mata saya terpaku pada satu berita. Berita yang berbeda di antara tajuk-tajuk utama lainnya. Bahkan nyaris saya lewati demi mencari berita gosip terkini, sedang bosan dengan berita politik.

Berpisah 10 tahun, Seorang Anak Korban Tsunami Bertemu Kembali dengan Keluarganya.

Ada semacam gelembung-gelembung aneh bersahutan di dada saya. Hendak memunculkan sesuatu, sebuah kotak Pandora.

Saya bahagia membaca kabar itu, tetapi di lain sisi berita ini juga turut memberikan reaksi campur aduk bagi para orangtua korban tsunami lainnya. Harapan yang telah mereka akhirnya sepakati untuk dikubur. Mimpi para orangtua yang kehilangan anak (anak)nya pascatsunami.

Saya teringat kakak sepupu saya. Saat berita tsunami sampai di telinganya, dia segera memicu mobilnya dari Lho Sukon menuju Ulhe Lhee. Menuju tempat adik beserta suami dan anak-anaknya. Terlebih lagi, menuju tempat yang sama dengan tempat anak perempuannya dititipkan untuk sekolah. Saya tidak bisa membayangkan mana yang lebih dipikirkannya, adiknya atau anaknya. Semuanya adalah keluarga tercinta.

Tiba di Ulhee Lhee langit Aceh gelap gulita. Dengan berbekal senter, kakak sepupu saya itu meninggalkan suaminya yang terpukul, ditemani abangnya yang turut menitipkan anaknya di rumah adiknya, mencari ke lokasi. Melewati puluhan bahkan ratusan anak yang terlihat linglung. Menggenggam satu foto anaknya. Setibanya di sana, rumah sang adik sudah terkubur. Rumah yang tak jauh dari tepian pantai itu, rata dengan tanah. Si abang menemukan sebuah mayit wanita dalam keadaan tersangkut. Hanya kakinya yang terlihat. Dan dalam perihnya dia merasa itulah kaki sang adik. Dibersihkan kaki itu dan berdoa. Dia tengah melepaskan keterikatannya dan ikhlas.

Sementara kakak sepupu saya masih mencari. Ada sebutir asa mengganjal di relungnya ketika beberapa orang mengatakan melihat anaknya dalam keadaan kaki terluka di pinggir sungai. Namun, ketika dicari ke sepanjang sungai, tidak ada yang dicari. Hilang adalah sebuah keambiguan ketika harus bertemu dengan kata kematian. Kematian berkaitan dengan aktivitas mandi jenazah, menshalatkan, dan kemudian menguburkan. Tetapi kini, apalah yang harus dilakukan? Anaknya hilang seperti jasad ampuneknya  yang hilang usai diculik saat konflik kemerdekaan. Tak ada kuburan yang dapat diziarahi. Semuanya gaib.

Entah berapa lama, malam-malam sunyi kakak sepupu saya berkecamuk . “Masih hidup kah anak saya?” Imajinasinya tak mampu membayangkan jika anaknya termasuk dari anak-anak yang digiring orang-orang jahat. Hingga akhirnya terucaplah kalimat yang tak kalah mengoyak, “Lebih baik anakku mati daripada hidup dalam kesengsaraan.”  

Bagi para ibu, kehilangan anak adalah kehilangan hampir seluruh organ tubuhnya. Toh, dia harus bangkit, karena masih ada dua anak yang masih hidup. Dan mengubur harapan bahwa anaknya masih hidup adalah salah satunya.

Dia tidak sendirian. Ratusan ribu orang mengalami hal yang sama. ‘Bangkit’ adalah satu-satunya pilihan bagi masyarakat Aceh. Puluhan tahun menjadi wilayah konflik, daerah istimewa ini semakin terlihat tidak istimewa. Suatu daerah ketika tak ada perkembangan di segala aspek. Kata ‘berkembang’ mungkin terdengar asing untuk sebuah ‘kata kerja’ bagi mereka. Puluhan tahun, mereka hanya bergulat dengan kata ‘bertahan’ dan ‘berjuang’.

Sejarah peperangan di Aceh masih sangat dekat dengan keadaan saat ini. Maklum, Aceh adalah salah satu daerah terakhir yang berhasil diduduki Belanda. Kami ‘hanya’ mengalami beberapa puluh tahun penjajahan. Konflik yang terus ada sejak kemerdekaan Indonesia pun membuat masyarakat Aceh sejatinya tidak takut mati jika harus berhadapan dengan bedil. Namun ketika bencana alam menghantam mereka, mereka pun bingung bagaimana harus bertahan.

 Bagi masyarakat Aceh, daerah pesisir adalah pusat peradabannya. Dan ketika alam turut menghabisi pusat peradaban itu secara harfiah, jadilah Aceh bak sebatang kayu yang kehilangan akar. Akankah ia mampu tumbuh lagi?


Bencana datang bak ‘bencana’ kecil bagi saya ketika tiba-tiba kehilangan seluruh data di komputer akibat virus. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengumpulkan yang tercecer dan mulai merakit kembali. Mungkin tidak seperti rencana awal, tetapi menuju hasil yang lebih baik.


Ketika orang-orang dari berbagai daerah hingga negara berlomba-lomba datang ke Aceh, saya hanya termangu. Apa yang dapat saya lakukan? Seseorang yang memiliki darah Aceh tetapi tak sekalipun pernah menginjak tanah Serambi Mekah itu. Seseorang yang hanya mendengar Aceh dalam cerita-cerita kepahlawanan buyut saya. Toh turut lemas seluruh badan saat melihat foto udara daerah pesisir Aceh pascatsunami. Saat titik-titik seperti semut itu adalah sebagian kecil dari ribuan mayit yang terhampar di tanah Aceh dan sejak saat itu saya menolak segala pemberitaan tentang hal itu. Saya merasa tengah menjadi tabulasa hampa berlabel Aceh. Anak Aceh gadungan. Ucapan terima kasih saya pada kawan-kawan yang sempat menjadi relawan di Aceh menjadi tamparan bagi saya sendiri. Apa yang sudah saya lakukan?

Tetiba saya teringat sesuatu. Kuraih secarik foto dari laci saya. Foto seorang gadis remaja tengah memetik buah. Saya teringat pernah memegang foto keponakan saya yang hilang itu. Di belakang foto ada secarik kertas lain, sebuah surat. Konon dikirim oleh si anak itu. “Terima kasih telah memberikan dana ke *** Children’s Village.” Adalah satu dari kalimat lain yang tertera di sana. Rupanya dia adalah salah satu anak yang mendapat bantuan program perlindungan anak pascabencana. Program yang turut didukung secara global oleh Angelina Jolie. Kini, menjuarai kejuaraan taekwondo dan masih menggantung banyak cita-cita lain.


Saat menerima surat ini, awalnya saya hanya biarkan di pojok lemari rias saya. Tidak terbuka, karena saya tahu itu adalah pelaporan terkait ke mana dana yang saya alirkan setiap bulan. Saya pikir, yah sudahlah, toh waktu itu juga karena tidak tega menolak relawannya di mal. Setelah sekian lama dan tiba waktunya merapikan lemari rias saya itu, saya iseng membuka surat itu. Dan ketika membacanya saya merasa tengah terhubung dengan sesuatu. Tak pernah terbayangkan jika dana kecil itu akan tiba di Aceh. Dan surat itu seolah mengatakan, “hei, kamu bisa melakukan sesuatu untuk Aceh. Tempat sebagian darahmu mengalir.”  

Bencana memang telah meninggalkan sebuah luka di hati saya, memang tidak sedalam mereka yang mengalaminya secara langsung, tetapi ternyata luka itu membuka sebuah lubang yang berisi sebuah mandat. Mandat yang sudah ada sejak saya lahir ke dunia,  bahwasebagai salah satu anak Aceh bahwa saya turut bertanggungjawab berperan serta dalam pembangunan masyarakat Aceh sebagai daerah yang kental keagamaan dan kebudayaannya, daerah yang maju sumber daya manusia juga alamnya. Mandat yang sudah hampir saya lupakan karena sempat merasa tak pernah benar-benar terikat dengan Aceh. Saya sejatinya tidak boleh menyerah. Seperti kakak sepupu saya yang tidak menyerah dengan hidupnya. Saya yang tidak kehilangan apa pun seharusnya mampu melakukan lebih dari itu. Dan tulisan ini adalah salah satunya....


#10ThnTsunamiAceh